
Zildan memberikan beberapa dokumen kerjasama yang sudah ditanda tangani oleh Arga. Ia menyerahkan juga menjelaskan apa yang sudah dilakukan pihaknya untuk kerja sama ini.
"Bagaimana menurut Nona?" tanya Zil menatap ke arah Sara yang tak menatap ke arahnya. Zil merasa Sara banyak melamun dan tak fokus dengan apa yang Ia bicarakan.
"Jika memang itu yang terbaik dan menguntungkan bagi perusahaan, aku tidak masalah." ucap Sara yang akhirnya diangguki oleh Zil.
"Nona sedang ada masalah?"
Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak, hanya saja sedikit aneh melihatmu yang datang, bukan bosmu." kata Sara yang memang sedang memikirkan tentang Arga.
"Untuk itu kami benar benar minta maaf, mendadak bos meminta saya menggantikannya tapi saya bisa pastikan jika pertemuan besok, bos saya yang akan datang menemui Nona." kata Zil.
"Tidak Zil, aku tidak masalah jika kamu yang datang." kata Sara tak ingin Zil salah paham.
"Baiklah Nona, saya pamit untuk kembali ke kantor karena segalanya sudah selesai." kata Zil yang langsung diangguki oleh Sara.
Setelah Zil keluar dari ruang meeting, Sara menghela nafas panjang. Entah mengapa Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Arga. Kemarin Arga mendekatinya bahkan mengatakan pada Faris jika Arga serius dengannya namun sekarang, Arga belum menemui dirinya untuk hari ini.
"Apa semua laki laki memang brengsek seperti itu?" gumam Sara lalu memijat kepalanya yang terasa pusing.
Sementara itu Ken baru saja pulang dari pengadilan, Ia sudah membawa surat cerai resmi dan tinggal menunggu akta cerainya yang belum keluar. Ken benar benar sudah bercerai dari Sara dan sama sekali tidak mendapat kesempatan. Saat Ken meminta pihak pengadilan agar mereka tidak bercerai, pihak pengadilan menolak Ken. Sara membayar pihak pengadilan agar perceraian resmi mereka cepat selesai.
Ken membuka pintu rumahnya, Ia masuk kerumah, mencari Alea namun gadis itu tak terlihat ada dirumah.
"Aleaaaaa..." Ken memanggil berkali kali pun tidak mendapatkan respon dari Alea.
"Kemana dia pergi." gumam Ken.
Ken melepas bajunya, Ia mandi agar tubuhnya terasa segar. Saat Ia membuang bungkus sabun, Ken melihat benda aneh ada ditempat sampah. Ken mengambil benda itu dan Ia meremas benda yang tak lain adalah tespack milik Alea.
"Sialan kau Alea, kau tidak minum pil mu dan memilih hamil." gumam Ken tampak marah.
Ken membawa tespack itu keluar bersamanya, Ia duduk diruang tamu menunggu Alea pulang. hampir 15 menit Ken menunggu akhirnya yang Ia tunggu datang juga.
"Tuan pulang awal?" tanya Alea tampak senang berbeda dengan Ken yang menatap Alea marah.
"Ada apa Tuan?" Alea merasa ada yang aneh dengan tatapan Ken.
"Apa ini milikmu?" tanya Ken memperlihatkan tespack yang Ia temukan di tempat sampah.
Alea terkejut bahkan Ia tidak bisa berkata kata lagi merasa sudah ketahuan oleh Ken jika dirinya hamil.
__ADS_1
"Jelaskan, apa kamu bisu?" tanya Ken.
"Be benar Tuan..." jawab Alea dengan bibir bergetar, "Tapi Tuan tenang saja, saya akan menggugurkan kandungan ini, saya tidak akan melahirkan bayi ini." ucap Alea.
Ken tersenyum sinis, "Memang itu yang seharusnya kau lakukan! Aku tidak sudi memiliki bayi dari rahim pelacur sepertimu!" sentak Ken.
Sakit.... Hati Alea sakit mendengar ucapan Ken.
"Saya akan menggugurkannya Tuan dan saya akan tetap disini untuk melayani Tuan."
Ken kembali tersenyum sinis, "Setelah kau menggugurkan kandungan itu, pergi saja dari sini, aku sudah tidak membutuhkan mu lagi."
Alea serasa dicekik oleh ucapan Ken, Ia berlutut di kaki Ken agar tidak mengusirnya, "Ampuni saya Tuan, jangan usir saya. Kemana saya akan pergi." pinta Alea memohon pada Ken.
"Kemana kamu pergi itu bukan urusanku!"
"Saya mohon Tuan, saya tidak memiliki keluarga disini." pinta Alea lagi.
"Itu juga bukan urusanku! Aku tidak mau berdebat lagi Alea. Aku akan mencari dokter untukmu dan kita selesai." ucap Ken lalu masuk ke dalam kamarnya.
Alea berlari menyusul Ken namun sayang pintu kamar dikunci oleh Ken membuat Alea tidak bisa masuk ke dalam.
Alea menangis didepan kamar Ken sambil terus memohon pada Ken agar pria itu tidak mengusirnya namun sayang Ken tidak memberi respon bahkan membiarkan Alea begitu saja.
Zil baru saja sampai dikantor dan melihat Arga menunggunya.
"Bagaimana?" tanya Arga pada Zil.
Zil mengerutkan keningnya heran, "Bagaimana apanya bos?"
"Ck, tentu saja pertemuanmu dengan Sara."
Zil berohh ria, "Tidak ada masalah bos, semua baik baik saja."
"Apa mungkin dia ehem mencariku?" tanya Arga dengan nada gugup.
Zil menatap Arga aneh namun akhirnya Ia sadar juga apa yang dimaksud oleh Arga, "Apa Tuan merasa Non Sara menyukai Tuan?"
Arga menatap Zil kesal, "Jawab saja pertanyaanku dan jangan malah bertanya!" omel Arga.
Zil tersenyum geli, Ia merasa ada sesuatu diantara Arga dan Sara.
__ADS_1
"Tidak, dia bahkan terlihat senang saat Tuan tidak datang." kata Zil berbohong.
"Sial!" raut wajah Arga berubah kesal.
"Tapi saya berbohong Tuan." ucap Zil lalu tertawa, "Nona Sara sepertinya mengharapkan Tuan untuk datang." ucap Zil akhirnya.
"Jadi dia mencariku?" Kini Arga tersenyum.
"Benar Tuan, sepertinya begitu." kata Zil.
"Ya sudah keluar sana!" usir Arga dan Zil segera keluar dari ruangan Arga.
Arga menghela nafas panjang, Ia kembali mengingat ucapan ayahnya yang mengatakan jika Sara itu janda.
Rasanya sedikit berat untuk Arga menerima status Sara tapi hati Arga mendorong agar menerima apapun status Sara. Membuat Arga bingung harus melakukan apa.
"Sialan, kenapa perasaanku menjadi seperti ini!" umpat Arga lalu keluar dari ruangannya untuk mencari udara segar.
Sementara itu dikampus, Vanes merasa sedikit pusing dan lemas. Ia tak tahu kenapa tiba tiba seperti ini padahal sebelumnya Vanes baik baik saja.
"Aku anterin ke klinik mau?" tanya Rio yang sedari pagi mengikuti Vanes kemanapun Vanes pergi.
"Nggak usah, habis ini kita ada kelas." tolak Vanes tak ingin merepotkan Rio.
"Tapi nanti kalau kamu pingsan aku nggak bisa gendong kamu, nggak kuat." keluh Rio dengan suara centil nan manja ala dirinya.
Vanes tersenyum, "Harus kuat, kamu kan cowok." goda Vanes.
"Setengah cowok setengah cewek." celetuk Rio dan Vanes kembali tertawa.
Keduanya pun bersiap masuk kelas dan baru saja beberapa langkah berjalan, tubuh Vanes ambruk, Vanes pingsan membuat Rio menjerit.
Beberapa mahasiswa membantu menggangkat tubuh Vanes dan membawanya ke klinik.
"Aku harus telepon suaminya, iya harus." ucap Rio mengambil ponsel Vanes dan segera menghubungi Faris.
"Mas eh bang eh suaminya Vanes cepetan ke kampus si Vanes pingsan." ucap Rio terdengar panik.
Faris tak menjawab, langsung mengakhiri panggilan begitu saja.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yaaa