
Faris mengantar Vanes pulang setelah mereka puas bermain dipasar malam. keduanya sampai dikosan pukul 11 malam. Vanes sudah ditunggu oleh Nani, wanita bertubuh gemuk yang menjadi penjaga kos. Wajah Nani tampak kesal menatap Faris.
"Aku hampir saja mengunci gerbang jika kau tidak segera pulang." ucap Nani sinis.
Faris tersenyum, "Jika kau mengunci gerbangnya lalu aku akan mengajaknya menginap dirumahku." balas Faris dengan nada mengejek.
Mata Nani membulat, semakin kesal dengan ucapan Faris.
"Apa kau gila? aku yang bertanggung jawab atas Vanes, jika terjadi sesuatu padanya, bisa bisa aku dibunuh oleh Tuan Wira." protes Nani dengan sengit karena memang dirinya diperintahkan oleh Tuan Wira untuk mengawasi sekaligus menjaga Vanes.
Vanes dan Faris tertawa bersamaan, menertawakan Nani yang sangat percaya dengan ucapan Faris padahal Faris hanya bercanda.
"Berhenti menggodanya, sebaiknya kau pulang." pinta Vanes pada Faris.
"Ya Vanes benar, Ini asrama perempuan dan kau tidak boleh berlama lama disini!" tambah Nani.
"Baiklah baiklah, aku akan pergi sekarang. Tolong jaga kekasihku, jangan sampai terjadi sesuatu padanya." kata Faris lalu menyalakan motornya dan langsung pergi tanpa mendengar omelan Nani.
"Dasar menyebalkan, bagaimana bisa kau menyukai pria seperti itu." omel Nani, "Kau bahkan sudah menjadi kekasihnya."
"Dia belum pernah menyatakan cinta tapi jika dia menganggapku kekasihnya, aku juga tidak masalah." balas Vanes sambil tersenyum lebar.
Mata Nani semakin melotot menatap Vanes, "Kalian akan menjadi pasangan menyebalkan."
Vanes tertawa, "Sudah jangan marah, sebaiknya kita masuk. Lihat aku bawa martabak manis dan juga martabak telur untukmu." Vanes memperlihatkan bungkusan plastik berisi 2 kotak martabak.
Nani tersenyum lebar "Wah ini yang ku suka."
Nani mengajak Vanes masuk ke dalam agar bisa segera menikmati martabaknya.
Sementara itu, Faris baru akan memasuki area kampung namun motornya mendadak macet dan berhenti dipinggir jalan.
Faris akhirnya ingat jika Ia belum mengisi bensin sore tadi dan sudah jelas jika motornya kehabisan bensin.
Faris akhirnya mendorong motor bututnya menuju warung terdekat. Saat Ia sedang mengisi bensin, tak sengaja melihat Keluarga pak Kades keluar menggunakan mobilnya karena memang warung bensin dekat dengan rumah Pak Kades.
"Mau kemana mereka padahal ini sudah hampir tengah malam." gumam Faris dan ternyata pemilik warung mendengar gumaman Faris.
"Akhir akhir ini mereka memang sering pergi tengah malam mas Faris, nggak tahu mau kemana."
Faris tersenyum, "Mungkin mau kerumah keluarganya Bu."
__ADS_1
Ibu pemilik warung berdecak, "Sejak ada keributan besar dirumah itu, mereka sering keluar tengah malam."
"Keributan apa bu?" Faris tampak penasaran.
"Itu anak ceweknya lagi dimarahin sama Pak Kades."
"Dik Ani?" tanya Faris memastikan karena memang Ani satu satunya anak Pak Kades.
"Iya, beberapa hari setelah Neng Ani pulang dari kota langsung ribut besar, nggak tahu masalahnya apa yang jelas setelah ribut itu mereka sering pergi tengah malam begini dan jarang keluar rumah." jelas Ibu pemilik warung yang membuat Faris kembali bertanya tanya.
"Apa yang terjadi pada Ani?" batin Faris.
"Ya sudah Bu, makasih ya." ucap Faris mengulurkan uang pas untuk membayar bensin yang Ia beli.
Faris melajukan motornya, bukan pulang kerumah namun malah berbalik mengikuti mobil Pak Kades.
Dan Faris dibuat terkejut saat mobil Pak Kades memasuki sebuah klinik 24 jam.
"Sepertinya apa yang ku curigai memang benar." gumam Faris ikut menghentikan motornya namun diluar klinik.
Diam diam Faris ikut masuk ke dalam klinik dimana Pak kades, Bu Kades dan Ani sudah berada didalam.
Faris pikir Ani masuk keruang perawatan umum namun ternyata Faris salah karena ruangan yang dimasuki oleh Ani adalah ruang Obgyn.
Mata Faris langsung saja melotot menatap ruangan itu tak percaya.
"Bukankah itu tempat pemeriksaan orang hamil? Apa jangan jangan..."
Faris menggelengkan kepalanya, sempat tak ingin mempercayai namun akhirnya Ia ingat jika Ibu pemilik warung mengatakan jika sempat terjadi pertengkaran hebat dikeluarga Pak Kades, Faris menebak jika pertengkaran itu disebabkan oleh Ani yang pulang dalam keadaan hamil.
"Tidak, aku tidak boleh menuduh sembarangan, aku harus memastikan kebenaran ini dulu." gumam Faris keluar dari klinik.
Tak berapa lama, mobil Pak Kades keluar dari klinik. Faris yang ternyata belum pulang pun kembali masuk ke dalam klinik.
Tak ingin basa basi, Faris langsung pergi keruang pendaftaran, Ia bertanya pada petugas administrasi yang berjaga disana.
"Apa disini ada pasien yang bernama Ani?" tanya Faris.
Petugas itu tampak melihat daftar pasien yang tertulis dikomputernya.
"Ya, baru saja dia datang periksa namun sekarang sudah pulang." balas petugas itu.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu kenapa dia periksa diruang obygn, apakah dia hamil?"
Petugas Administrasi itu langsung menatap Faris curiga, "Maaf anda siapa?"
Seketika Faris gugup, "Saya saya hanya teman."
Petugas itu terlihat tak percaya, "Kalau begitu silahkan tanya pada Nona Ani secara langsung. Kami disini menjaga informasi semua pasien kami jadi kami tidak bisa mengatakan. Maaf." ucap petugas itu membuat Faris menghela nafas panjang.
Karena tak mendapatkan informasi dari klinik itu, Faris akhirnya memilih untuk pulang.
"Jika benar Ani hamil tapi kenapa perutnya masih rata?" gumam Faris saat dalam perjalanan pulang, "Bukankah orang hamil perutnya buncit?"
Sampai dirumah pun Faris masih memikirkan tentang Ani.
Jika Ani hamil, itu bisa menjadi senjatanya untuk melawan Pak Kades, ya Faris pikir begitu.
"Asyik ya main di pasar malam sampai pulang tengah malam begini." protes Slamet yang ternyata menunggu kepulangan Faris.
"Pak, duduk dulu, ada yang mau Faris bicarakan." ajak Faris yang langsung dituruti oleh Slamet.
"Mau bicara apa?"
"Masalah Ani pak, barusan Faris ngeliat Pak Kades dan Bu Kades bawa Ani ke klinik. Faris iseng iseng ngikutin dan ternyata Ani masuk keruang Obgyn."
Slamet mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan maksud Faris.
"Ruang obgyn itu biasanya untuk orang hamil."
Slamet terkejut, "Jangan jangan Ani..."
"Nah itu pak, Faris juga mengira Ani hamil makanya Pak Kades buru buru mau nikahin Ani sama Faris." ucap Faris berpikiran sama dengan Slamet.
"Nggak bisa dibiarin ini Ris, kalau benar begitu, Pak Kades sudah keterlaluan!" Slamet tampak emosi.
"Sabar dulu pak, kita cari kebenarannya dulu gimana, kalau memang Ani hamil malah bagus untuk kita jadi kita bisa melawan Pak Kades."
"Bener Ris, kebetulan besok ada kumpulan dirumah Pak Kades, Bapak akan bantu cari tahu. Lebih cepat lebih baik." ucap Slamet mantap yang langsung diangguki oleh Faris.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn yaaa
__ADS_1