
Ken dan sara berlari memasuki dirumah sakit. Sampai di UGD semua anak buah Wira tampak berdiri disana termasuk Bik Sri dengan wajah khawatirnya.
Ken menghampiri Bik Sri, "Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini?"
"Sepertinya Tuan ingin pergi ke kamar mandi tapi malah pingsan, aku menemukan Tuan sudah tergeletak dipintu kamar mandi."
"Bukankah aku sudah memintanya untuk kerumah sakit?" omel Sara.
"Tuan merasa baik baik saja, jadi Tuan tidak pergi."
"Dasar keras kepala!" omel Sara.
Tangan Ken terulur untuk mengelus punggung Sara agar gadis itu lebih tenang.
"Nona apa boleh saya menghubungi Non Vanes?" tanya Bik Sri terlihat takut.
"Tidak, biar aku saja yang menghubunginya."
"Tuan Wira melarang." Ken mengingatkan.
Sara melotot, menatap Ken tajam, "Apa kau gila? Vanes putrinya disaat seperti ini kita harus menghubunginya!" omel Sara.
Ken menghela nafas panjang, "Ya sudah terserah kau saja." kata Ken pasrah.
Sejujurnya Ken sedang tidak ingin bertemu dengan Vanes apalagi suaminya.
Bukan karena Ken membenci Vanes, bukan. Ken hanya ingin bisa cepat melupakan Sara dan jika Sara datang otomatis Ken jadi sulit lagi melupakan gadis itu.
Dokter keluar dari UGD, semua orang berlari menghampiri dokter yang baru saja memeriksa Wira.
"Apakah istri anak atau mungkin-"
"Kami keluarganya, bagaimana keadaannya?" tanya Sara tak sabar hingga memotong ucapan Dokter itu.
Dokter itu menghela nafas panjang, "Pasien koma dan harus di rawat di ICU."
Semua orang tampak terkejut, "Tidak mungkin, tidak mungkin dok, pagi tadi masih baik baik saja!" protes Sara.
"Bukan hal yang mengejutkan jika pasien menderita jantung, bisa sewaktu waktu koma dan meninggal." kata Dokter itu.
"Berapa lama akan sadar Dok?" tanya Sara yang kini sudah mulai menangis.
__ADS_1
"Kami belum bisa memastikan, yang jelas saat ini pasien harus dirawat di ICU." kata Dokter itu lalu pergi meninggalkan Sara dan yang lainnya.
Tubuh Sara seketika ambruk dan Ia menangis disana. Baru saja Sara merasakan kehangatan memiliki seorang Ayah, kini Ia sudah kehilangan sosok Ayah itu.
Meskipun Wira hanya koma namun tetap saja, Sara merasa sangat kehilangan.
Ken mengangkat tubuh Sara lalu membawanya ke dalam pelukannya membuat tangis Sara semakin pecah, "Aku harus apa sekarang? Aku tidak memiliki siapapun sekarang." ucap Sara sambil menangis.
"Tidak Nona... Nona masih memiliki saya." kata Ken semakin mempererat pelukannya.
...****************...
Sejak pagi tadi perasaan Vanes gelisah dan sedih tanpa sebab. Vanes tak tahu apa yang membuatnya merasakan seperti ini mengingat hubungan dengan Faris baik baik saja.
Vanes bahkan memecahkan 2 gelas pagi tadi karena tak sengaja menjatuhkannya.
"Sebenarnya ada apa? Apa kau sakit?" tanya Faris menatap Vanes khawatir saat Vanes berada diruangan Faris untuk makan siang.
"Aku juga tidak tahu, tiba tiba aku merasa gelisah dan takut."
Faris membawa Vanes ke dalam pelukannya agar gadis itu merasa lebih tenang, "Istriku pasti merindukan Papa." gumam Faris yang langsung membuat tangis Vanes pecah.
"Jangan menangis sayang, besok kita ke kota okey." ucap Faris sambil menyeka air mata Vanes.
Ia hanya ingin mengeluarkan tangisnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Setelah membersihkan sisa air matanya, Vanes bersiap kembali ke kelas namun langkahnya terhenti saat ponselnya berdering.
"Siapa?" tanya Faris.
"Sara." kata Vanes lalu menerima panggilan dari sepupunya itu.
"Halo Sara, ada apa tumben sekali kamu telepon." ucap Vanes namun tak berapa lama Ia menjatuhkan ponselnya bersamaan dengan tubuhnya yang ikut ambruk.
Faris yang tadinya masih duduk dikursi pun segera beranjak dan menghampiri Vanes.
"Ada apa sayang? Apa yang terjadi?" tanya Faris kembali memeluk Vanes yang kembali menangis.
"Papa mas... Papa koma." ucap Vanes dengan bibir bergetar.
Faris terkejut, sangat terkejut. Terakhir mereka bertemu sebulan yang lalu dan Wira tampak terlihat sehat.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apapun, Faris segera keluar pergi ke kantor kepala untuk mengurus izin pulang dan cuti.
Selesai mengurus izin, Faris segera mengajak Vanes pulang kerumah untuk bersiap sembari menunggu jemputan mobil mereka datang.
"Maaf ibu nggak bisa ikut kalian ke kota," ucap Asih karena besok malam ada acara pengajian peringatan 40 hari kematian Slamet jadi Asih harus tetap dirumah.
"Nggak apa apa Bu, harusnya Vanes yang minta maaf karena tak bisa ikut mempersiapkan acara pengajian Bapak." kata Vanes yang kini sudah tak menangis namun raut wajahnya masih terlihat sedih.
"Nggak apa apa Nduk, Papa Wira sedang membutuhkan kamu sama Faris. Yang sabar ya, jangan sedih tetap semangat." ucap Asih lalu memeluk Vanes membuat tangis Vanes kembali pecah.
Setelah mobil jemputan dari kota sudah datang, Faris dan Vanes langsung memasuki mobil dan mobil segera melaju meninggalkan rumah Faris.
Didalam mobil, Faris memeluk Vanes, memberi kekuatan pada gadis itu agar tak lagi sedih dan khawatir hingga mereka sampai dirumah sakit tengah malam.
Vanes segera berlari masuk kerumah sakit diikuti oleh Faris.
Ken, Sara dan Bik Sri menunggu kedatangan Vanes didepan ruang ICU dengan mata yang sudah mengantuk.
Vanes berlari mendekat dan langsung memeluk Sara bergantian memeluk Bik Sri.
"Hanya satu orang yang boleh masuk, itupun harus pakai baju khusus dan tidak boleh lebih dari 30 menit." jelas Sara.
"Nona masuklah untuk melihat keadaan Tuan." pinta Ken pada Vanes.
Vanes sempat menatap ke arah Faris untuk meminta persetujuan dan Faris langsung mengangguk, mengizinkan Vanes masuk ke dalam ruang ICU.
Vanes segera masuk ke dalam ICU. Ia kembali menangis didalam ICU melihat Papanya terbaring lemas dengan mata terpejam dan banyak sekali alat yang dipasang di tubuh Papanya.
"Kenapa bisa seperti ini Pa... apa yang membuat Papa sakit? Vanes sudah baik baik saja, Vanes sudah bahagia sekarang." ucap Vanes masih sesenggukan menangis.
Setelah puas, bercerita dan menatap tubuh lemas tak berdaya Wira, Vanes segera keluar dari ruangan Wira.
Vanes menatap ke arah Bik Sri yang masih ada disana, "Kenapa semua ini bisa terjadi Bi? kenapa penyakit Papa bisa kambuh?" tanya Vanes mengejutkan Sara karena Vanes tahu penyakit yang diderita oleh Wira padahal Sara pikir Vanes tidak tahu.
Vanes berbalik menatap Ken, "Kau juga pasti tahu sesuatu? Kau orang kepercayaan Papa pasti tahu apa yang membuat penyakit Papa kambuh?" Tebak Vanes namun Ken sama saja diam tak menjawab.
"Maafkan saya Non, saya hanya tahu Tuan sering mengonsumsi obat dari dokter untuk penyakit jantungnya dan masalah penyebab kambuhnya, saya tidak tahu Non." kata Bik Sri.
Tangis Vanes kembali pecah, Ia sedih karena disaat seperti ini tidak berada disamping Papanya.
Faris menghampiri Vanes dan kembali memeluk tubuh istrinya itu.
__ADS_1
"Saranku, lebih baik kalian tinggal disini saja." kata Sara yang langsung membuat Faris menatap ke arah Sara.
Bersambung...