
Siti menatap ke arah pria yang bernama Dylan dengan tatapan tak suka. Entah mengapa firasatnya sedikit tidak enak dengan kedekatan Rani dan Dylan.
Siti bahkan tidak mengulurkan tangannya padahal Dylan sudah bersiap menyambut uluran tangan Siti.
"Bu... ini Mas Dylan." ucap Rani mengulang ucapan Dylan.
"Kamu kerja dikota baru berapa bulan aja udah berani pulang bawa cowok!" omel Siti lalu masuk ke dalam rumah.
Dylan sangat terkejut dengan ucapan Siti berbeda dengan Rani yang seolah sudah tahu hal seperti ini akan terjadi padanya jika Ia membawa pulang Dylan, sama seperti apa yang dikhawatirkan oleh Faris saat makan malam tadi malam.
"Maaf ya mas, Ibuku memang agak susah nerima orang baru dirumah." kata Rani merasa tak enak dengan Dylan mengingat Rani disambut baik oleh Ibu Dylan saat kerumah Dylan berbeda dengan Dylan saat ini yang sama sekali tidak mendapatkan sambutan baik dari Siti Ibunya.
"Nggak apa apa sih, aku jadi sungkan mau masuk." akui Dylan.
"Kalau nggak masuk mau kemana mas?" tanya Rani semakin tidak enak.
"Aku jalan jalan dulu deh ke sekitar sini, nanti aku balik lagi kalau kamu udah ngobrol enak sama Ibu kamu." kata Dylan.
Raut wajah Rani berubah sedih, "Apa nggak apa apa kalau gitu mas?"
Dylan mengangguk dan tersenyum seolah menyiratkan jika semua baik baik saja, "Nggak apa apa sayang, udah santai aja." ucap Dylan mengelus kepala Rani lalu berjalan pergi meninggalkan Rani.
Rani kembali menghela nafas panjang sambil memandangi Dylan yang kini sudah pergi meninggalkan pekarangan rumahnya dengan motor Dylan.
Rani masuk kerumah, tersenyum melihat Raka di bayi gembul yang kini tertidur di ayunan selendang buatan Bapak.
Rani berjalan mendekati Raka, baru ingin menyentuh pipi gembul Raka, suara deheman Siti membuat Rani mengurungkan niatnya.
"Ngapain kamu bawa cowok kerumah?" tanya Siti mulai mengintrogasi Rani.
"Kok ngapain Bu? Mas Dylan itu punya niat baik datang kesini buat silaturahmi." balas Rani.
"Dia pacar kamu?" tebak Siti.
__ADS_1
Rani mengangguk,
"Gila kamu Ran, kamu mau nikah muda?" protes Siti seolah tak terima jika Rani menikah muda.
"Lebih baik gitu kan Bu dari pada pacaran lama lama!" Rani membela diri.
"Baik dari mana Ran? Ibu itu kuliahin kamu biar bisa kerja enak, jadi orang sukses, bisa banggain Ibu sama bapak, eee ini belum juga sukses udah nikah aja!" protes Siti, "Tau gitu kemarin nggak usah kuliah aja, nghabisin duit!" tambah Siti yang membuat Rani tak percaya jika Siti bisa mengatakan itu padanya.
"Apa Ibu mau aku jadi kayak Mbak Rina?" tanya Rani yang akhirnya membuat Siti terdiam, "Hamil diluar nikah, Pacarnya nggak tanggung jawab dan sekarang Mbak Rina minggat ninggalin Raka sama kita, jadi tanggung jawab kita padahal itu anak mbak Rina, apa ibu mau Rani seperti itu juga?" tanya Rani dengan mata berair.
Siti masih diam dan tak mampu menjawab hingga Romli, suaminya pulang dari ladang dan terkejut melihat ada Rani dirumah.
"Kamu pulang Nduk." ucap Romli sambil tersenyum senang melihat putri keduanya pulang kerumah.
"Syukur Bapak sudah pulang jadi bisa nasehati Rani!" ucap Siti beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar.
Romli menatap Rani, Ia bisa ikut merasakan jika Rani sedang sedih saat ini, "Ada apa to nduk?"
Rani akhirnya mengeluarkan tangisnya yang Ia tahan sedari tadi. Romli bapak Rani sangat sabar dan penyayang, berbeda dengan Siti yang memang sedikit tegas dan galak.
"Rani pulang bawa temen Pak, namanya Dylan." ungkap Rani membuat Roni celinggukan.
"Mana? Nggak ada orang lain dirumah kita." kata Romli.
"Dia pergi pak, soalnya sejak datang tanggapan Ibu nggak suka sama Dia." ungkap Rani.
Romli menghela nafas panjang, "Jadi dia pacar kamu?"
Rani mengangguk, "Apa Rani nggak boleh punya teman dekat laki laki? Dia baik dan serius sama Rani bahkan dia datang kerumah karena ingin menjalin hubungan serius sama Rani tapi Ibu malah..." Rani tak melanjutkan ceritanya dan kembali menangis.
Romli kembali menepuk bahu Rani, "Sudah sudah, jangan menangis lagi. Biar nanti Bapak yang ngomong sama Ibu kamu. Sekarang hubungi teman kamu itu, Bapak mau ngomong sama dia." pinta Romli yang langsung diangguki oleh Rani.
Romli beranjak dari duduknya, berjalan ke belakang untuk mandi dan bersiap menemui kekasih putrinya itu.
__ADS_1
"Bangun Bune..." ucap Romli selesai mandi, pergi ke kamar untuk bicara dengan Siti.
"Bapak mau membela Ibu apa Rani?" tanya Siti dengan bibir cemberut.
Romli menghela nafas panjang lalu duduk disamping istrinya yang masih berbaring, "Kesalahan kita pada Rina dulu karena kita terlalu mengekang Rina, tidak memberi kebebasan sama sekali hingga akhirnya hidup Rina hancur seperti itu Bu." cerita Romli.
Siti berdecak, "Makanya itu Ibu khawatir Rani bernasib sama kaya Rina, Ibu nggak mau Pak, Ibu nggak mau Rani punya teman dekat laki laki seperti itu!"
"Bune... Rani itu sudah dewasa, kita tidak bisa mengatur hidup Rani sepenuhnya jadi biarkan saja jika memang ada laki laki yang serius sama Rani, kita berikan restu selama dia orang baik."
"Tidak Pak! Tidak!" sentak Siti tak setuju dengan ucapan Romli.
"Kalau Rani nikah otomatis Rani tidak akan mengirim uang untuk kita, gimana biaya hidup kita, biaya sekolah Rara sama biaya susu Raka pak?"
Romli kembali menghela nafas panjang, "Bapak masih kerja Bu, masih bisa nafkahi Ibu sama Rara dan Raka."
Siti tersenyum sinis, "Kalau cuma ngandelin uang dari Bapak, kita hanya bisa makan nggak bisa beli ini beli itu!"
Romli menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar ucapan Siti, "Sadar Bu, istigfar, jangan jadi orang yang kurang bersyukur." Romli mengingatkan.
"Sudahlah Pak, pokoknya Ibu tetap nggak setuju kalau Rani nikah sekarang, Rani masih harus mikirin biaya sekolah adik adiknya. percuma kuliahnya kalau ujung ujungnya langsung nikah seperti ini!" kata Siti.
Romli menatap Siti kecewa, Ia segera keluar dari kamar karena merasa percuma berbicara dengan Siti yang sangat kolot.
Romli kembali ke ruang tamu dimana sudah ada Pria tampan yang duduk di sofa, disamping Rani.
Pria itu berdiri dan langsung mencium punggung tangan Romli, "Saya Dylan Om... Temannya Rani."
Romli tersenyum, dalam hatinya Ia memuji Dylan yang tidak hanya tampan namun juga sangat sopan.
"Teman atau pacar?" goda Romli membuat Dylan tersenyum malu.
"Maaf kalau sambutan dari ibunya Rani tidak baik, Dia hanya masih belum rela kalau putrinya memiliki kekasih." ungkap Romli jujur.
__ADS_1
"Saya mengerti Om dan saya akan menunggu sampai Tante memperbolehkan saya meminang Rani." kata Dylan mantap.
Bersambung...