TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
45


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan Rizal, Wira segera keluar dari ruangan inap Rizal dan kembali ke mobilnya.


Didalam mobil ada beberapa anak buahnya yang berjaga, termasuk Ken yang baru saja datang.


Wira menatap Ken, meminta pria itu duduk disampingnya.


"Bagaimana? Apa kau mendapatkan informasinya?" tanya Wira tampak tak sabar.


"YaTuan, dari keterangan polisi, penyebab kecelakaan adalah rem blong dan saya menyelidiki itu bukan rem blong biasa. Ada yang sengaja memutus alur rem hingga menyebabkan remnya blong." ungkap Ken.


"Apa mungkin Rizal memiliki musuh?"


Ken mengangguk, "Musuhnya adalah orang dari kantor Rizal sendiri Tuan."


Wira berdecak, "Kita ke kantor Rizal sekarang karena Rizal meminta aku mengurus kantornya dan aku juga ingin tahu siapa pengkhianat itu."


Ken terdiam lalu kembali berbicara, "Tuan akan terkejut saat sampai disana nanti."


"Apa maksudmu?"


Benar saja kata Ken, saat sampai disana Wira terkejut karena ruangan Rizal kini sudah dikuasai oleh Mira dan satu pria yang tak dikenali oleh Wira.


"Kau ini hanya asisten, tempat dudukmu disebelah sana jadi kenapa kau duduk disini?" tanya Wira menatap Mira sinis.


"Karena sekarang perusahaan ini sudah menjadi milik ku, semua orang dikantor ini dan para pemilik saham juga sudah tahu itu." balas Mira santai.


"Apa kau gila?" Wira menatap Mira tak percaya.


Nathan yang berada disana pun segera membantu Mira dengan mengeluarkan bukti bukti jika saat ini Mira pemilik perusahaan.


"Wanita ular, sudah ku duga sejak awal kau hanya ingin mengincar perusahaan ini!" kata Wira.


Mira tersenyum, "Sejujurnya aku tak tertarik dengan perusahaan ini tapi Rizal sudah keterlaluan jadi aku terpaksa melakukan ini."


"Kau merasa Rizal sudah tidak bisa digoda huh?" ejek Wira.


"Anda salah, saat ini saya sedang hamil dan Rizal tidak mau tanggung jawab jadi saya terpaksa melakukan ini. Saya harus tetap hidup dengan calon anak saya." ungkap Mira yang langsung membuat Wira terkejut dan Dadanya sesak.


Tak ingin terjadi sesuatu pada Tuannya, Ken yang sedari tadi mendampingi Wira pun meminta Wira pergi saja dari sini.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Wira berbalik dan segera pergi dari ruangan Itu.


"Dasar tua bangka." ucap Mira saat Wira sudah keluar.


Sementara itu Wira kembali masuk ke dalam mobil dan segera diberikan obat oleh anak buahnya.


"Maafkan saya Tuan, bukan saya tidak mau mengatakan pada Tuan, saya hanya takut salah tentang kehamilan Mira jadi saya meminta Tuan datang sendiri untuk mendengar pengakuan Mira." ucap Ken merasa bersalah karena membuat penyakit Tuan nya kambuh.


"Bukan salahmu, kau sudah bekerja dengan benar mungkin memang ini sudah saatnya Rizal hancur. Rizal sudah menghancurkan hati putriku kini semua terbalaskan dengan ini."

__ADS_1


"Apa rencana Tuan setelah ini?" tanya Ken.


Wira tak menjawab, Hanya diam lalu tersenyum.


...****************...


Setengah hari berada dikantor dan menjadi Bos, Mira baru mendengar kabar tentang kecelakaan yang terjadi pada Rizal.


Mira terkejut namun tidak ada sedikit rasa khawatir. Ia justru senang karena bisa mengambil alih perusahaan hingga tak lagi tersisa ruang untuk Rizal saat kembali.


"Apa kau tak ingin menjenguknya?" tanya Nathan yang kini duduk disofa bersama Mira, tangannya tak berhenti mengelusi perut Mira.


"Tidak, untuk apa aku kesana."


Nathan tersenyum puas melihat Mira sudah membenci Rizal, "Apa kau yakin sayang? Dia mungkin sudah sekarat sekarang." kata Nathan lagi.


Giliran Mira yang tersenyum, "Jadi apa kita sebaiknya kesana dan mengatakn jika sudah mengambil alih perusahaan agar dia shock dan semakin cepat untuk mati?"


Nathan tertawa, "Kau sangat kejam sayang."


"Dia yang sudah membuatku seperti ini." kata Mira dengan tegas.


"Sebaiknya kita pergi makan dari pada membahas orang yang tidak penting." kata Nathan yang langsung diangguki oleh Mira.


Nathan keluar dari ruangan dengan merangkul Mira membuat semua orang yang ada dikantor pun mulai mengosipkan mereka.


"Nggak kaget sih, obralan emang gitu." kata karyawan lain lagi saling menyahuti.


Nisa yang berada disana awalnya hanya diam dan menyimak hingga akhirnya Ia pun ikut mengeluarkan suara, "Guys, gimana kalau pulang kerja kita jenguk Pak Rizal, biar bagaimanapun Pak Rizal pernah jadi bos kita." ajak Nisa.


"Setuju banget nih sama Nisa, fix pulang kantor kita kesana ya."


Semua orang yang berada disana akhirnya setuju untuk datang kerumah sakit sore ini.


Nisa beranjak dari duduknya, sedikit menjauh dari teman temannya karena Ia ingin menghubungi seseorang.


"Mas Faris, ada berita baru dan pasti bikin Mas kaget." ucap Nisa yang ternyata menelepon Faris.


Ya meskipun sudah tak bekerja ditempat yang sama, mereka masih sering berkomunikasi melalui ponsel.


"Berita apa Nis?"


"Pak Rizal kecelakaan."


"Hah, serius Nis!" Faris terdengar kaget.


"Iya mas semalam pulang kerja Pak Rizal kecelakaan trus ada lagi yang lebih heboh."


"Ada apa lagi Nis? Mas Rizal cerai?" tanya Faris seolah berharap Rizal menceraikan Vanes.

__ADS_1


Nisa berdecak, "Bukan itu mas, selingkuhan Pak Rizal si Mira itu kini sudah menguasai perusahaan."


"Diambil alih apa gimana?" Faris masih tak paham.


"Ya pokoknya sekarang Mira udah jadi pemilik perusahaan Mas, bukan lagi Pak Rizal."


"Gila." ucap Faris.


"Sekantor heboh banget mas."


"Ya pasti itu, aku juga nggak nyangka. Trus gimana keadaan Mas Rizal? Kecelakaannya parah nggak?"


"Nggak tahu mas, nanti sore pulang kerja anak anak mau pada kesana. Mas nggak ada niatan kesini biat jenguk?"


Faris terdiam cukup lama sebelum akhirnya kembali menjawab, "Aku belum tahu Nis."


"Kalau kesini kabarin aku ya mas, nanti kita ketemu trus makan bareng lagi."


Terdengar gelak taws Faris, "Iya deh Nis."


Nisa mengakhiri panggilannya selesai berbicara dengan Faris.


Sore harinya saat jam pulang kantor tiba, ada 10 orang karyawan kantor yang bersiap pergi menjenguk Rizal dirumah sakit termasuk Nisa.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh Tantri dan Vanes istri Rizal.


Sesekali para pria menatap kagum melihat kecantikan Vanes yang tak hanya cantik namun juga ramah.


"Kami ikut prihatin atas kecelakaan yang menimpa Bapak, semoga Bapak segera diberikan kesembuhan." kata Nisa mewakili teman temannya.


Rizal tersenyum, merasa senang karena para karyawannya banyak yang peduli padanya.


"Terima kasih kalian sudah datang, aku akan memastikan saat sudah kembali bekerja aku akan memberikan bonus untuk kalian karena tetap bekerja keras meskipun aku belum bisa ke kantor."


Semua orang tampak saling memandang mendengar ucapan Rizal.


"Ada apa? Apa ucapanku salah?" tanya Rizal bingung.


"Bukankah Bapak sudah memberikan perusahaan pada Mira?"


Rizal mengerutkan keningnya tak mengerti, "Apa yang kalian katakan itu? Sementara ini perusahaan diambil alih oleh Papa mertuaku."


"Tapi pak, saat ini yang memegang kendali perusahaan adalah Mira, dia bahkan sudah mengadakan rapat dengan para pemegang saham tadi pagi."


"APA!"


Tak hanya Rizal yang terkejut, Tantri yang ada disana pun nampak terkejut sementara Vanes, dia terlihat biasa saja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2