
Faris baru saja memesan bucket mawar merah untuk Vanes secara online. Rencananya Ia ingin menjemput Vanes sekaligus meminta maaf karena sudah salah paham perihal Rio. Faris memasuki mobil, Ia melihat ke arloji baru pukul 3 sore sementara Vanes pulang pukul 5 sore, masih 2 jam dan Ia akan kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
Baru saja ingin melajukan mobilnya, ponsel Faris berdering dan ternyata Vanes memanggilnya. Faris tersenyum lalu menerima panggilan dari kekasih halalnya itu.
Belum sempat mengucapkan Halo, Faris sudah mendengar suara centil seorang pria yang bisa Faris tebak jika itu adalah Rio karena Rio memiliki suara yang khas.
Rio terdengar panik namun Faris masih bisa memahami apa yang Rio bicarakan dan Faris terkejut saat Rio mengatakan jika Vanes pingsan.
Faris menutup panggilan dari Rio, mulai melajukan mobilnya menuju kampus Vanes.
10 menit Faris melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan akhirnya sampai juga dikampus Vanes.
Faris turun dari mobil dan berlari ke arah mahasiswa yang tengah duduk ditaman, "Klinik sebelah mana?"
"Lurus aja bang."
Faris mengangguk tak lupa mengucapkan terima kasih. Ia kembali berlari ke arah yang ditunjuk mahasiswa tadi.
"Abanggggg... Sini." panggil Rio dengan suara genit.
"Mana Vanes?"
"Didalam, aku takut banget Bang jadi nung-"
Rio belum selesai berbicara dan Faris sudah meninggalkannya begitu saja.
"Ih abang, nyebelin!" omel Rio sambil menghentak hentakan kakinya.
Faris masuk dan melihat Vanes yang sudah sadar terbaring lemah diranjang klinik.
"Sayang kamu nggak apa apa?" tanya Faris dengan raut wajah cemas.
"Nggak apa apa mas, masuk angin biasa."
Faris sedikit lega karena Vanes sama sekali tidak terluka.
"Habis ini pulang saja, nanti beli tespack dan besok pagi coba dites." kata perawat yang berjaga di klinik.
Faris dan Vanes tampak terkejut hingga berpandangan satu sama lain, "Beli tespack? Memangnya saya hamil?"
Perawat itu mengangguk, "Kemungkinan dan untuk meyakinkan jika benar hamil, beli saja tespack." kata perawat itu yang langsung diangguki oleh Vanes.
"Alhamdulilah sayang..." bisik Faris sambil menciumi kening dan pipi Vanes.
"Tapi aku nggak mau berharap dulu mas sebelum beli tespacknya." kata Vanes mengingat beberapa kali Ia dibuat kecewa karena belum hamil.
"Iya sayang, aku mengerti, aku mengerti." ucap Faris kembali mencium kening Vanes.
Faris mengajak Vanes untuk pulang kerumah tak lupa Ia juga menelepon Sara jika Ia tak kembali lagi ke kantor.
"Ada apa? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Wira saat melihat Vanes pulang lebih awal dengan raut wajah pucat apalagi Faris juga ikut pulang bersama Vanes.
__ADS_1
"Vanes sakit Pa... Jadi aku ajak pulang."
"Sakit apa? Sudah periksa?"
"Alhamdulilah Vanes ha-"
"Cuma masuk angin biasa Pa..." Vanes memotong ucapan Faris karena tak ingin Wira tahu sebelum Vanes memakai tespacknya.
"Ya sudah sana kamu istirahat." pinta Wira yang langsung diangguki oleh Vanes.
"Kamu takut bikin Papa kecewa?" tanya Faris saat mereka sudah berada dikamar.
"Iya mas, aku nggak mau ada yang tahu tentang ini sebelum aku memastikan kalau aku benar benar hamil Pa."
Faris mengangguk paham lalu memeluk istrinya, "Baiklah sayang, baiklah."
Faris melepaskan pelukannya lalu mengambil 1 tespack yang Ia beli.
"Mau coba sekarang?" tawar Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
"Tapi Mas tunggu diluar saja." pinta Vanes.
Faris mengangguk, Ia menurut menunggu Vanes mencoba tespack yang mereka beli. Menunggu dengan perasaan cemas dan gelisah.
Sudah 5 menit Vanes berada dikamar mandi namun rasanya seperti 5 jam. Faris tak sabar hingga Ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi.
"Apa masih lama sayang?" tanya Faris sambil mengetuk pintu namun tak kunjung mendapat respon dari Vanes.
Hampir 10 menit, baru ingin mendobrak pintu namun akhirnya Vanes keluar dari kamar mandi.
Vanes memberikan tespacknya pada Faris.
"Garis 2? Kamu hamil sayang?"
Vanes mengangguk. Hal yang tak terduga terjadi, Faris langsung mengendong istrinya, membawa ke ranjang lalu menciumi pipi Vanes bertubi tubi hingga Vanes tertawa dan menjerit karena merasa geli.
"Aku senang sekali, rasanya senang sekali sayang." ucap Faris kembali mencium Vanes.
"Aku pun juga begitu mas, tapi besok pagi aku mau tespack lagi dan memastikan jika aku benar benar hamil." kata Vanes seolah masih belum yakin.
"Baiklah, besok pagi kita tespack lagi dan jika hasilnya sama, kita harus pergi ke dokter untuk periksa." kata Faris yang akhirnya diangguki oleh Vanes.
Sementara itu, Sara kembali pulang larut lagi hari ini karena masih banyak pekerjaan yang belum Ia selesaikan hari ini.
Pukul 7 malam, Sara meras perutnya lapar Ia berniat memesan makanan melalui aplikasi. Namun baru ingin memesan seorang tamu tak diundang masuk keruangannya dengan wajah cengegesan.
"Apa kau menungguku?" tanya tamu itu yang tak lain adalah Arga.
"Kenapa kau datang?" Sara masih terlihat terkejut dengan kedatangan Arga.
"Membawakan mu ini." ucap Arga memperlihatkan kantong plastik berlogo restoran fast food yang cukup terkenal.
__ADS_1
"Kebetulan sekali, aku juga lapar." batin Sara.
Arga duduk disofa lalu menepuk sofa yang ada disampingnya, "Duduklah, aku tahu kau lapar." ucap Arga.
"Tidak juga." balas Sara namun berjalan menuju sofa dan duduk disamping Arga.
Sara dan Arga mulai menikmati makanan yang dibawa oleh Arga.
"Kenapa tadi tidak datang?" tanya Sara.
"Aku sibuk, apa kau menungguku?"
Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku hanya bertanya."
Arga berdecak, "Sayang sekali, aku pikir kau menungguku."
"Kenapa aku harus menunggumu?"
"Karena kita bekerja sama seharusnya kita saling bertemu satu sama lain." kata Arga.
"Ohh."
"Hanya oh saja?" Arga terlihat kesal.
"Lalu aku harus mengucapkan apa?" heran Sara melihat perubahan sikap Arga.
"Katakan saja jika kau rindu atau apalah."
Sara berdecak, "Kau terlalu percaya diri!"
"Ya itulah aku." ucap Arga lalu membereskan sampah makanan.
Keduanya beranjak dari sofa untuk mencuci tangan.
"Kau masih harus bekerja?" tanya Arga saat Sara kembali duduk dikursinya.
"Ya, masih banyak yang harus ku selesaikan."
Arga mengangguk paham, "Baiklah, aku akan menunggumu."
"Kenapa harus menunggu? Pulang saja."
"Aku ingin mengantarmu pulang." kata Arga.
Sara menghela nafas panjang, sejak pagi Sara mengharapkan kedatangan Arga namun pria itu tak kunjung datang dan malam ini saat Ia sudah tak berharap lagi, Arga kembali datang dan menumbuhkan harapan harapan kecil pada Arga.
"Aku membawa mobil sendiri." kata Sara.
Arga berdecak, "Tinggal saja mobilmu."
"Tidak mau, aku tetap membawanya pulang."
__ADS_1
"Kalau begitu kau yang mengatarku pulang." kata Arga santai dan Sara melotot tak percaya menatap Arga.
Bersambung...