
Sehari sebelum Vanes pulang, Vanes mempersiapkan acara akad nikah untuk Sara dan Ken. Hanya ini yang bisa Vanes lakukan untuk Sara.
"Jika kau ingin mengadakan pesta, persiapkan saja setelah akad, aku hanya bisa membantumu sampai disini." kata Vanes namun tak dijawab oleh Sara.
Semua persiapan selesai, kini Ken sudah menghadap ke arah penghulu, siap mengucapkan ijab kabul didepan semua orang termasuk Wira karena mereka menikah diruangan Wira berbaring koma.
Saya terima nikah dan kawinnya Sara adi wijaya binti Gunarto Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.
***Sah*...**
Sah...
Sah...
Selesai acara ijab kabul ada acara makan makan untuk semua anak buah Wira.
Vanes merasa lega luar biasa setelah kemarin merasa terkejut melihat Sara tidur dengan Ken dalam keadaan polos. kini mereka sudah sah menjadi suami istri, tidak ada lagi yang Vanes takutkan.
"Aku harap setelah kalian menikah bisa mendapatkan kebahagiaan yang abadi." doa Vanes yang tak digubris oleh Sara.
Sara langsung naik ke atas kamarnya meninggalkan Vanes, Ken dan Faris.
"Setelah ini tolong jaga Papa dan Sara ya Ken." pinta Vanes.
"Apa Nona benar benar tidak tinggal disini?" tanya Ken masih tak terima.
Vanes malah tertawa, "Jangan memanggilku Nona karena aku bukan Nona mu lagi. Aku sekarang menjadi iparmu jadi panggil mbak saja." kata Vanes yang langsung diangguki oleh Ken.
Ken akhirnya naik ke atas menyusul Sara ke kamarnya.
"Aku khawatir..." gumam Faris.
"Khawatir kenapa?"
"Khawatir jika nanti dia jatuh cinta padamu seperti aku yang jatuh cinta pada iparku sendiri."
Tawa Vanes membuncah, "Itu tidak akan terjadi sayang, aku merasa cukup walau hanya denganmu." ucap Vanes yang langsung membuat Faris tersenyum.
Sementara itu Ken memasuki kamar Sara, melihat Sara langsung melotot tajam ke arahnya, "Apa kau sekarang puas sudah menikahiku!" omel Sara.
Ken menghela nafas panjang, "Kita tidak punya pilihan lain Nona."
"Tapi aku yakin kau pasti sudah merencakan ini!"
"Sama sekali tidak Nona, kita sama sama mabuk malam itu." ungkap Ken sedikit bohong mengingat Ia masih sadar malam itu namun dirinya saja yang tidak bisa menahan diri.
__ADS_1
"Alasanmu saja!"
"Kenapa harus semarah itu Nona? Ini hari spesial kita, sebaiknya kita melakukan permainan yang menyenangkan." ajak Ken dengan senyuman nakal melihat Sara hanya memakai jubah mandinya sudah pasti didalam sana Sara tidak memakai dalaman.
"Jangan bermimpi bisa menyentuhku!" omel Sara mengambil setelan bajunya lalu masuk ke kamar mandi untuk berganti.
Ken menghela nafas panjang, entah mengapa Ia seperti suami yang tak diharapkan.
Selesai berganti pakaian Sara keluar, melihat Ken masih berada dikamarnya, sedang berbaring diranjang miliknya.
"Kenapa kau tidak keluar?" sentak Sara menatap Ken tak suka.
"Kita sudah menjadi pasangan suami istri, sudah seharusnya kita berada didalam satu kamar." kata Ken santai.
"Kau terlalu percaya diri, aku bahkan tidak mau sekamar denganmu!"
"Aku akan tetap disini meskipun kamu melarang."
"Kamu?" Sara tak terima saat Ken tidak memanggilnya Nona.
Ken menghela nafas panjang lalu menepuk nepuk ranjang kosong yang ada disampingnya, "Kemarilah, aku ingin mengajakmu merasakan terbang ke awan."
"Tidak, keluar dari kamar ku sekarang!"
Ken tidak mengubris malah memejamkan matanya membuat Sara semakin murka dan ingin mendorong Ken agar jatuh namun sayang, Ken malah menarik Sara hingga jatuh ke pelukannya.
"Aku lelah, jika tidak ingin bercinta, jangan mengangguku. Aku ingin tidur." ucap Ken lalu berbalik memunggungi Sara.
Sara memilih duduk disofa dari pada harus satu ranjang bersama Ken.
Hari mulai petang, waktunya semua orang untuk makan malam.
Sebelum makan malam, Vanes sempat membersihkan badan Wira mengenakan kain kompres dan air hangat lalu mengganti pakaian bersih dengan dibantu oleh suster yang berjaga diruangan itu.
"Nona bisa makan malam sekarang." kata Suster itu pada Vanes.
"Baiklah, aku menitipkan Papa padaku, segera panggil aku jika ada perkembangan baik."
Suster itu tersenyum, "Baik Nona, jangan khawatir."
Vanes akhirnya keluar dari ruang rawat Wira. Vanes naik ke kamarnya mencari Faris untuk Ia ajak makan malam bersama.
"Sedang apa mas?" tanya Vanes saat melihat Faris asyik memandangi sesuatu.
"Dari mana kau mendapatkan itu!" Vanes histeris dan langsung merebut album foto masa kecilnya yang dilihat oleh Faris.
__ADS_1
"Aku belum selesai sayang, aku hanya ingin melihatnya." pinta Faris namun tak diberikan oleh Vanes.
Vanes membawa album foto itu ke dalam lemari besar miliknya, tak lupa mengunci lemari dan menyimpan kuncinya agar Faris tak dapat mengambilnya lagi.
"Padahal aku suka melihat foto masa kecilmu, kau terlihat sangat lucu dan mengemaskan."
"Jangan membual, aku sama sekali tidak mengemaskan." ucap Vanes membuat Faris tertawa.
Faris berjalan mendekat lalu mencubit pipi Vanes, "Jika tidak mengemaskan kenapa kau bisa secantik ini hmmm."
"Berhenti merayu mas, sebaiknya kita turun ke bawah untuk makan malam." ajak Vanes.
"Baiklah Tuan putri, aku juga sudah lapar."
Keduanya pun akhirnya turun ke lantai bawah menuju meja makan dimana sudah ada Ken dan Sara disana.
"Maaf kami lama, seharusnya kalian makan lebih dulu." kata Vanes merasa tak enak saat melihat piring Ken dan Sara masih kosong.
"Kami menghargaimu karena kau pemilik istana ini tapi lihat kau sama sekali tidak menghargai kami." protes Sara dengan sengitnya.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." balas Vanes yang benar benar tak mengerti dengan ucapan Sara.
"Jika kau menghargai kami, seharusnya kamu tinggal disini bukannya menyerahkan segalanya pada kami."
"Sara..." ucap Ken meminta Sara berhenti karena tak ingin mendengar perdebatan dimeja makan, satu hal yang paling tak disukai oleh Tuan Wira jika saja Tuan Wira tidak koma.
"Kami sudah membuat keputusan jadi aku pikir sudah cukup, jangan dipermasalahkan lagi." ucap Faris membela Vanes.
"Kalian membuat keputusan gila," omel Sara lalu beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.
"Maaf." ucap Ken mewakili istrinya karena Ia merasa tak enak.
"Tidak apa Ken, aku cukup tahu dia seperti apa. Sudah makan saja, setelah ini jangan lupa bawakan makanan untuk Sara."
"Baiklah."
Kini mereka makan dengan tenang, tak ada lagi keributan dimeja makan.
Selesai makan malam, Ken mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Ken berjalan menuju taman dengan membawa sepiring nasi dan segelas air putih.
"Makan dulu." pinta Ken saat sudah berada didepan Sara.
"Aku tidak mau! Kenapa tadi kau tidak membelaku?"
"Aku tidak berada dipihak siapapun jadi jangan salah paham, sekarang sebaiknya makan ini." kata Ken mengulurkan makanan untuk Sara.
__ADS_1
Sara mengambil piring makan malamnya dari tangan Ken membuat pria itu tersenyum geli, "Tidak mau tapi kenapa dimakan juga."
Bersambung...