
Setengah hari ini Sara berada diruangannya namun pikiran Sara melayang memikirkan tentang tawaran Faris jika Ia dan Arga harusnya melakukan ijab lebih dulu barulah resepsinya bulan depan.
Sejujurnya Sara juga tidak masalah jika harus seperti itu hanya saja... Entah apa yang membuat Sara bingung seperti ini.
Sara mengambil ponselnya, Ia melihat sudah waktunya untuk makan siang. Sara mendial nomor Arga. Satu kali panggilan tidak dijawab oleh Arga, Ia kembali mendial nomor Arga lagi hingga ketiga kalinya masih belum ada jawaban dari Arga.
"Mungkin dia sedang rapat." gumam Sara meletakan ponselnya, tak lagi menelepon Arga.
Baru beberapa menit, ponsel Sara berdering. Sara melihat layar ponselnya dan ternyata itu Arga.
"Kenapa susah sekali di hubungi?" tanya Sara.
"Aku baru saja selesai rapat."
"Sudah makan siang?" tanya Sara.
"Sudah."
Seketika raut wajah Sara berubah kecewa mendengar Arga sudah makan siang padahal Sara ingin mengajak Arga makan siang.
"Oh baiklah."
"Nanti malam aku ingin pergi ke club, apa kau mau ikut?" tawar Arga.
"Boleh jika kau mengajak ku."
"Baiklah nanti ku jemput sepulang kerja." kata Arga.
"Ya."
Panggilan di akhiri sepihak oleh Arga, "Entah kenapa rasanya menyakitkan sekali melihat sikapnya seperti itu. sebenarnya aku yang kekanakan atau dia yang kekanakan?" gumam Sara dengan raut wajah lesu.
Sara keluar dari ruangannya, Ia kembali bertemu dengan Faris yang juga baru keluar dari ruangannya.
"Apa kau akan menjemput Vanes?" tanya Sara.
Faris menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku akan makan dikantin. Vanes pulang sore hari ini."
Sara tersenyum senang karena Ia memiliki teman untuk makan siang.
"Aku akan ikut makan denganmu." ucap Sara langsung mengandeng lengan Faris.
"Ck, jangan seperti ini jika ada yang melihat bisa bisa kita kena gosip." pinta Faris.
Sara berdecak, "Kau terlalu takut lagipula siapa yang berani mengosipkan kita? Mereka pasti takut padaku." kata Sara penuh percaya diri.
"Ya kau memang menakutkan." ejek Faris.
Sara kesal lalu memukul lengan Faris.
Keduanya sudah berada dimeja makan kantin dengan membawa sepiring menu makan siang yang dibuat oleh pihak kantin.
"Bagaimana? Sudah kau pikirkan tawaran ku tadi?" tanya Faris disela sela makan siang.
__ADS_1
Sara mengangguk, "Jika aku mengatakan itu pada Arga, dia pasti senang hanya saja aku merasa ragu."
"Apa yang membuatmu ragu?"
"Entahlah, aku merasa terlalu cepat saja." kata Sara.
"Jika aku boleh tahu, apa kau sudah menaruh perasaan untuk Arga?" tanya Faris penasaran.
Sara menghela nafas panjang, "Aku sendiri masih bingung dengan perasaanku sendiri hanya saja saat melihatnya marah dan sedih membuatku ikut sedih." ungkap Sara.
Faris tersenyum, "Kau sudah mulai menyukai Arga hanya saja kau masih belum yakin akan perasaanmu."
Sara menatap Faris penuh harap, "Lalu apa yang harus ku lakukan?"
"Kalau saranku lebih baik kau menikah besok."
Sara kembali menghela nafas panjang, "Apa Papa akan setuju?"
"Tentu saja, ini kabar bahagia kenapa Papa harus melarang?"
"Aku hanya merasa tak enak jika berdekatan dengan hari pernikahan Papa."
Faris berdecak, "Jangan terlalu parno dengan hal hal yang tidak akan terjadi, itu hanya akan membuatmu sedih."
Sara akhirnya mengangguk, "Terima kasih untuk saranmu."
Faris tersenyum, "Aku pikir kemarin kalian marah karena bercandaku keterlaluan."
Selesai makan siang keduanya kembali keruangan masing masing untuk melajutkan pekerjaan.
Sementara itu, Arga masih berada diruangannya sejak selesai rapat. Arga merasa tak mood bekerja hari ini dan alasannya masih sama, karena Ia masih kecewa dengan mundurnya pernikahan.
"Tuan tidak pergi makan siang?" tanya Zil yang baru saja memasuki ruangan Arga.
"Tidak, aku sedang tidak nafsu makan!"
"Apa saya harus menjemput Nona kesini agar Tuan bisa makan siang bersama?"
"Tidak perlu, aku sudah mengatakan pada Sara kalau aku sudah makan siang."
Zil menghela nafas panjang, merasa heran dengan sikap Arga yang kekanakan padahal pernikahan mereka hanya di undur tidak dibatalkan tapi Arga harus semarah ini pada Sara.
"Apa saya harus membelikan makan siang Tuan?"
Arga menatap Zil dengan tatapan kesal, "Ku bilang tidak perlu, kenapa kau ngeyel sekali Zil?"
"Jika Tuan tidak makan dan berakhir sakit, nanti saya yang repot belum lagi saya akan kena omel Tuan Herman." keluh Zil.
"bagaimana kalau kau ku pecat saja? Jadi kau tidak akan mendengar omelan lagi." tawar Arga.
"Sama saja Tuan, jika saya dipecat bisa bisa istri saya mengamuk melihat saya menganggur." ungkap Zil.
Arga tersenyum sinis, "Dasar tukang drama."
__ADS_1
"Jadi Tuan ingin makan siang apa?"
"Ku bilang aku tidak mau makan, keluar saja sana!"
"Baiklah Tuan, baiklah." ucap Zil segera keluar dari ruangan Arga karena tak ingin mendapatkan omelan dari Arga lagi.
Pulang kerja, Arga memasuki mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju kantor Sara. Kali ini Ia yang menyetir sendiri karena Ia ingin berdua dengan Sara tanpa gangguan Zil.
Sampai dikantor Wira, Arga segera menuju ruangan Sara. Ia sempat berpapasan dengan Faris yang mencoba menggodanya namun Arga tak mengubris karena jujur Ia sedang malah bercanda saat ini.
Arga memasuki ruangan Sara tanpa mengetuk pintu dan melihat Sara masih sibuk menatap layar laptopnya.
Arga mendekati Sara dan cup... Mencium pipi Sara lalu duduk disofa yang ada di ruangan Sara.
Sara hanya diam saja, tidak marah maupun mengomel hanya saja pipi Sara terlihat memerah seperti orang jatuh cinta yang sedang malu.
"Masih lama?" tanya Arga melihat Sara hanya diam saja sejak Ia datang.
"Sebentar lagi."
Arga berdecak lalu memainkan ponselnya sambil menunggu Sara selesai.
"Kita pulang mandi dulu?" tanya Sara yang kini sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Arga menggelengkan kepalanya, "Langsung saja."
"Pakai baju kantor? Kucel begini?"
"Apa masalahnya? aku hanya ingin menemui Gala sebentar saja."
Sara menghela nafas panjang, "Baiklah kita berangkat sekarang."
Arga mengenggam tangan Sara lalu mengajaknya keluar dari ruangan. Saat sedang marah begini menjadi kesempatan untuk Arga menyentuh Sara karena Sara tak akan mengomel padanya seperti biasa.
Setelah masuk ke mobil, Arga segera melajukan mobilnya menuju club malam.
"Aku merasa tak percaya diri memakai baju kantor untuk datang ke club." ungkap Sara.
"Lalu apa kau ingin pakai lingerie saat datang kesini?"
Sara berdecak, "Bukan itu maksudku."
Arga keluar mobil diikuti oleh Sara. Arga kembali mengenggam tangan Sara menuju bar Gala.
"Wohh brother, baru pulang kerja?" ejek Gala.
Arga tak menjawab, Ia mengambil gelas berisi alkohol yang baru saja dituangkan oleh Gala lalu meneguknya hingga habis.
"Arga..." suara seorang wanita terdengar membuat Arga dan Sara menatap ke arah suara.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaa
__ADS_1