TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
148


__ADS_3

Bibir Alea bergetar, Ia sangat ketakutan saat ini melihat mata Ken memerah seolah sangat marah padanya. Alea tak peduli jika Ken akan membunuhnya saat ini juga, Ia hanya tidak ingin kehilangan Ken. Ia tidak ingin Ken meninggalkannya.


Katakan Alea gila, ya Ia sangat gila karena mencintai Ken.


Perasaan yang seharusnya tidak ada namun Alea juga tidak bisa menahan diri untuk tidak mencintai Ken.


Sentuhan pria itu menumbuhkan cinta dan membuatnya menginginkan lebih dari sekedar teman ranjang.


"Bawa saya bersama Tuan." Kata Alea lagi.


"Apa kau gila? Kau tidak waras?" tanya Ken.


"Saya saya takut jika Tuan pergi dan saya hamil." akui Alea.


"Brengsek! Apa kau bahkan tidak membeli pil itu?"


Alea menggelengkan kepalanya membuat Ken semakin marah dan ingin menghajar gadis itu saat ini juga.


"Apa kau sengaja merusak rumah tanggaku?"


Alea menggelengkan kepalanya, "Nona Sara tahu karena memang sudah mencurigai Tuan, saat Nona Sara bertanya dengan saya, saya tidak mampu berbohong hingga akhirnya..."


"Jangan jangan kau juga yang membuat Sara keguguran?"


Alea menggelengkan kepalanya, "Nona Sara memaksa saya untuk mengakui jadi saya mengakui semuanya dan saya tidak menyangka jika Nona akan shock hingga menyebabkan keguguran."


Plakk... akhirnya Ken tak tahan juga untuk tidak menampar Alea.


"Pergi kau dari sini sebelum aku menghabisimu!"


"Ampun Tuan, biarkan saya pergi bersama Tuan." pinta Alea masih memohon.


"Kubilang pergi!" usir Ken dengan suara kencang membuat Alea benar benar ketakutan dan akhirnya keluar dari kamar Sara.


"Brengsek!" umpat Ken sambil menjambak rambutnya.


Ken merasa frustasi dan tak menyangka jika Alea wanita ular yang memanfaatkan keadaan hanya karena ingin bersamanya.


Dan dikamar Vanes, Sara masih diam belum melanjutkan ceritanya padahal Vanes ingin tahu bagaimana bisa Sara mengetahui perselingkuhan Ken dan Alea.


"Mungkin Mas Ken selingkuh karena salahku."


"Memang apa salahmu?"


"Aku menolak melayani Mas Ken waktu itu."


Vanes berdecak, "Kau sedang sakit, seharusnya Ken lebih mengerti."

__ADS_1


Sara tersenyum kecut, "Terkadang pria lebih sulit menahan hawa nafsunya."


Vanes menghela nafas panjang, "Sepertinya memang benar."


"Setiap malam mas Ken keluar, aku pikir Mas Ken hanya merokok dibalkon namun saat aku bangun Mas Ken tidak ada di balkon kamar.


Awalnya aku pikir mas Ken hanya mencari angin ditaman hingga aku melihat tanda merah di leher Mas Ken."


"Mas ken bilang itu karena gigitan serangga tapi aku tidak percaya, aku sangat mengetahui perbedaan gigitan serangga dan manusia."


Vanes mengangguk, "Lalu bagaimana bisa kau curiga pada Alea?"


"Aku memikirkan selama beberapa hari, rasanya tidak mungkin jika Mas Ken keluar rumah untuk ke club malam jadi aku mengira jika orang dirumah yang melayani nafsu mas Ken."


"Saat Alea sedang membersihkan kamarku, aku sempat melihat Alea menatap ke arah foto Mas Ken sangat lama, Ia terlihat kagum dan disitu aku mulai mencurigai Alea."


"Lalu kau menanyakan pada Alea?"


Sara mengangguk, "Kau tahu Alea langsung mengakui segalanya padaku dan ternyata mereka melakukan digudang belakang selama ini." ungkap Sara membuat Vanes terkejut hingga menutup mulutnya. Vanes benar benar tak menyangka jika Alea tega melakukan itu.


"Ken membayar Alea dengan uang." ungkap Sara lagi.


Vanes mulai mengingat tentang cerita Faris dan Bik Sri yang memang mencurigai Alea. dan sekarang semuanya sudah terungkap, jika Faris melihat Alea dari luar bersama Ken itu benar, mereka memang berselingkuh dan lagi Bik Sri mengatakan jika Alea menerima uang dari Ken itu juga benar karena Ken membayar Alea atas apa yang sudah dilakukan oleh Alea.


"Mereka benar benar kejam." ucap Vanes.


"Apa jangan jangan kau keguguran karena ini?" curiga Vanes.


Lagi lagi Sara hanya tersenyum.


"Kini aku malah bersyukur karena bayiku meninggal. Setidaknya aku tidak harus bertahan dengan Ken."


"Tapi tetap saja, mereka sangat jahat."


Sara tersenyum, "Semua terjadi karena aku. Ken merasa kesepian karena aku sakit jadi dia melampiaskan pada wanita lain."


Vanes berdecak, tak setuju dengan ucapan Sara, "Seharusnya Ken lebih mengerti dan bisa menahan diri. Rasanya aku ingin menghajar Ken saat ini juga. Benar benar keterlaluan!" omel Vanes.


Sara malah tertawa, "Aku sudah merasa lebih baik dan sekarang malah kau yang kesal."


"Tentu saja aku kesal, aku sudah mengetahui segalanya sekarang dan lagi Alea, entah apa yang harus ku lakukan pada gadis itu." ucap Vanes merasa dirinya sudah membawa Alea kerumah ini dan sekarang Alea malah membuat masalah dan tentu saja Vanes merasa malu.


"Sudahlah, aku sudah menceritakan semua padamu dan kini aku merasa lega. Aku akan kembali ke kamar ku sekarang."


Vanes mengangguk, "Tenang saja, aku akan menemanimu sampai perceraianmu dengan Ken selesai."


Sara tersenyum, "Terima kasih." ucapnya lalu keluar dari kamar Vanes.

__ADS_1


Sara menghela nafas panjang, Ia sangat sedih saat ini namun Ia juga merasa beruntung karena disaat seperti ini ada banyak orang yang memberi support serta menghiburnya.


Sara membuka pintu kamarnya, melihat Ken tengah mengemasi bajunya ke dalam koper. Entah mengapa hatinya kembali merasa sakit karena Ia benar benar akan kehilangan Ken.


Sara tidak munafik, Ia memang sudah mencintai Ken. Pria yang selalu Ia puji sangat baik dan perhatian padanya kini sudah memberikan luka yang teramat dalam untuk Sara.


"Kau akan pergi?" tanya Sara.


"Ya, aku akan pergi dari rumah ini. Aku tidak mau membuatmu sakit karena melihat ku disini."


Sara menggelengkan kepalanya, "Mungkin Papa masih membutuhkanmu."


Ken tersenyum kecut, "Tapi aku merasa malu karena sudah mengecewakan semua orang disini jadi aku mungkin akan pergi sekarang."


Sara mengangguk, Ia tidak akan memaksa Ken tetap tinggal karena itu sudah menjadi hak Ken.


Ken selesai berkemas, Ia berjalan mendekati Sara. Saat Ken akan mengenggam tangan Sara seketika Sara menolak disentuh oleh Ken.


Ken kembali tersenyum kecut dengan penolakan Sara.


"Sekali lagi aku minta maaf."


Sara mengangguk, "Aku akan memaafkan mu."


Ken menatap Sara yang sama sekali tak menatapnya, "Apa aku benar benar tidak memiliki kesempatan?"


Sara menggeleng, "Aku sudah tidak bisa."


Ken tertawa hambar, "Aku tahu, aku memang tidak punya malu, bagaimana bisa aku meminta kesempatan setelah menyakitimu."


Sara tersenyum, "Tidak ada manusia yang sempurna Ken... Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan."


Ken menunduk, rasanya Ia ingin menangis saat ini juga. Ken bodoh sangat bodoh bagaimana bisa Ia menyianyiakan wanita sebaik Sara.


"Jika nanti aku sudah berubah lebih baik dan kau masih mencintaiku, maukah kau memberi ku kesempatan Sara?"


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komen yaaa


Haloo semuanyaaa. ...


Sekalian mau promo cerita baru aku judulnya Me and mafia...


Kisah Aksa dan Hanum


Jangan lupa mampir ya gaessa yaaa

__ADS_1


__ADS_2