TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
128


__ADS_3

Ken tersenyum menatap istrinya yang berdiri didepan pintu. Ia berjalan menghampiri istrinya agar Sara tidak tahu apa yang sedang Ia lihat.


"Aku tidak bisa tidur." keluh Ken merangkul Sara lalu mengajaknya kembali masuk ke kamar.


"Matikan rokokmu, aku tidak tahan dengan asap rokok." protes Sara.


Ken tersenyum dan langsung menggerus rokoknya di asbak yang ada dikamar. Ia kembali merangkul istrinya dan kali ini ditambah kecupan di kening Sara.


"Aku jadi tidak bisa tidur." keluh Sara kala keduanya kembali berbaring.


"Seharusnya kau tidak bangun."


Sara berdecak, "Kau tidak ada disampingku jadi aku mencarimu."


Ken kembali tersenyum, "Maafkan aku sayang, aku tidak bisa tidur dan ingin merokok, kau tidak suka asap rokok jadi aku merokok diluar."


Sara ikut tersenyum, "Kau sangat pengertian mas."


Keduanya terlelap bersama setelah puas mengobrol.


Sementara itu ditempat lain, Vanes dan Faris sampai divilla tujuan pukul 3 dini hari. Mereka tidak sempat melakukan apapun karena terlalu lelah diperjalanan hingga memutuskan segera tidur.


Pukul 6 pagi, barulah mereka bangun untuk mandi dan segera pergi sarapan.


"Kita akan bermain dipantai seharian?" tanya Vanes terlihat tak sabar.


"Ya sayang, kita akan bermain di pantai seharian."


Mendadak raut wajah Vanes berubah murung.


"Tapi aku tidak suka dipantai Bali."


"Kenapa?" heran Faris melihat perubahan sikap Vanes.


"Ya karena disini banyak Bule yang tak tahu malu, hanya mengenakan bra dan ****** ***** saja. aku khawatir kau akan tergoda melihat mereka."


Faris tertawa, "Mana mungkin aku tergoda, melihat milikmu saja sudah cukup untuk ku." ucap Faris dengan tatapan menggoda.


"Dasar perayu." cibir Vanes dan Faris kembali terbahak.


Selesai sarapan, mereka segera menuju pantai kuta, salah satu destinasi wisata bali yang disukai banyak orang.


Vanes memakai dress floral dibawah lutut, Ia terlihat cantik dan anggun.


"Kau lihat, mereka benar benar menggodamu bukan?" cibir Vanes saat ada bule seksi yang melewati mereka berdua.


Faris berdecak, "Tapi sepertinya milik mereka sangat kecil, tidak sebesar milik istriku." ucap Faris yang langsung membuat Vanes tersenyum sumringah.


Vanes berdiri, mendekat ke air lalu menciprati Faris dengan air, "Dasar perayu perayu!" ucap Vanes masih terus menciprati Faris dengan air.


Faris tertawa lalu membalas Vanes, keduanya bermain air hingga baju yang mereka kenakan basah kuyup.

__ADS_1


"Ayo kembali ke villa." ajak Vanes.


"Katanya ingin bermain disini seharian?" tanya Faris seolah masih enggan kembali ke villa.


"Kita basah kuyup mas, jika disini seharian bisa bisa kita masuk angin."


Faris tersenyum, mengiyakan ucapan Vanes yang memang benar, jika mereka disini seharian dalam keadaaan basah kuyup, mereka bisa masuk angin dan rencana bulan madu mereka tentu saja akan gagal.


Faris mengenggam tangan Vanes, mereka berjalan kembali ke villa yang letaknya tak jauh dari pantai kuta.


"Mandilah lebih dulu, aku ingin berenang." kata Faris melihat kolam renang yang menggodanya untuk masuk ke dalam.


Vanes tersenyum nakal melihat Faris, "Aku juga ingin ikut berenang."


"Baiklah, mari kita berenang bersama." ajak Faris menceburkan diri ke kolam renang disusul oleh Vanes.


Keduanya tak hanya berenang namun juga bercinta didalam sana hingga kelelahan.


Tak puas bercinta dikolam renang, keduanya kembali melakukan diranjang hingga malam hari dan akhirnya mereka terlelap bersama.


Tengah malam Vanes terbangun, melihat istrinya tidak ada diranjang, Vanes beranjak dari ranjang untuk mencari istrinya.


Vanes menghentikan langkahnya saat melihat Faris duduk dipinggir kolam renang.


Pelan pelan Vanes berjalan maju dan.... Baaaa.... Vanes mengejutkan Faris dari belakang.


"Mas melamun ya?" tebak Vanes melihat Faris sangat terkejut hingga hampir terjatuh ke kolam renang.


"Kamu nakal." ucap Faris menoel pipi Vanes.


"kebangun gara gara haus."


"Kebiasaan mas, jadi inget pertama kita serumah, papasan pas Mas ke dapur tengah malam buat minum." cerita Vanes sambil tersenyum mengingat malam itu.


Faris tersenyum, ikut mengingat malam pertama Ia dibuat jatuh cinta pada iparnya sendiri.


Faris merangkul Vanes, "Nggak nyangka sekarang malah jadi istrinya."


Vanes tertawa, "Kadang takdir memang selucu itu ya mas."


Faris mengangguk, "Kadang aku juga masih nggak nyangka kalau kehidupan aku berubah 180 derajat. Dari orang miskin jadi menantu orang kaya."


Vanes memukul lengan Faris, "Ngomongnya gitu!"


Faris tertawa, "Ya kan memang gitu sayang."


"Tapi mas Faris kan memang pintar, baru beberapa bulan ngurus perusahaan Papa sudah bisa menghandle segalanya." puji Vanes.


Faris mengelus rambut Vanes, "Jangan muji berlebihan sayang."


"Aku ngomong fakta mas, fakta."

__ADS_1


Faris tersenyum lalu mencium bibir istrinya.


"Terima kasih sudah menjadi istriku." ucap Faris.


"Terima kasih juga mas sudah mau jadi suamiku, menerima status ku sebagai jan-" belum sempat Vanes menyelesaikan ucapannya, Ia sudah dicium oleh Faris.


Ciuman Faris sangat panas dan mengebu, hampir membuat Vanes tak bisa bernafas.


"Gila kamu mas." omel Vanes saat Faris melepaskan ciuman mautnya.


"Gila karena mencintaimu." Balas Faris sambil tertawa, "Jangan katakan tentang janda lagi, aku tidak suka."


Vanes tersenyum, "Lalu kenapa menikahiku jika tidak suka."


Faris kembali menoel pipi Vanes dengan gemas, "Aku tidak suka dengan kata janda jadi jangan menyebutnya lagi!"


"Baiklah baiklah pak presdir, saya tidak akan melakukannya lagi."


Vanes dan Faris tertawa bersama lalu kembali berpelukan.


Kantuk kembali menyerang keduanya setelah cukup lama berada luar. Faris mengajak Vanes masuk agar mereka bisa kembali tidur.


Rasanya baru sebentar mereka terlelap namun suara kicau burung menganggu tidur keduanya hingga mereka bangun.


"Sudah pagi." gumam Vanes yang entah sejak kapan Ia sudah berada dibawah ketiak Faris.


"Aku bau, berbaringlah disini." pinta Faris menepuk lengannya agar Vanes pindah dari bawak ketiaknya.


Vanes malah tersenyum, "Tidak mau, aku lebih suka disini." Vanes malah mengendus endus ketiak Faris dan tak merasakan bau sama sekali, justru sangat harum.


"Kau bisa mual sayang." ucap Faris merasa tak nyaman.


"Tidak, baunya sangat wangi jadi aku suka."


Faris tertawa, "Mana ada ketiak wangi."


Vanes beranjak dari ranjang, "Aku ingin mandi dan setelah sarapan kita harus jalan jalan lagi, kita harus menikmati honeymoon ini dengan banyak jalan jalan."


Faris tersenyum, "Baiklah Tuan putri, mari kita lakukan apapun yang membuatmu senang.


"Lalu kau tidak senang mas?"


"Apapun yang membuatmu senang, aku juga senang sayang."


"Dasar perayu." omel Vanes lalu memasuki kamar mandi.


Faris tertawa melihat tingkah istrinya yang begitu mengemaskan itu.


Ia ikut beranjak dari ranjang, menyusul Vanes masuk ke kamar mandi.


Sepertinya olahraga pagi cukup menyenangkan.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa gaissss


__ADS_2