
Tadinya Herman ingin masuk ke dapur untuk mengambil air putih namun mendengar obrolan para wanita didalam dapur membuat Herman mengurungkan niatnya untuk masuk.
Herman mendengar ucapan Asih dengan jelas, seketika tubuhnya lesu tak berdaya.
Asih tidak ingin menikah lagi itulah yang Herman tangkap dari ucapan Asih.
Kini Herman sedikit ragu apakah Ia harus maju atau mundur.
"Vanes pengennya Ibu mencari pengganti Bapak agar Ibu nggak ngerasa kesepian karena ada teman di masa tua." ucap Vanes.
Herman kembali menguping obrolan penting para Wanita.
"Ibu sama sekali belum terpikir untuk mencari pengganti Bapak, bagi Ibu Bapak adalah sosok yang tidak akan tergantikan." kata Asih yang kembali membuat Herman semakin lesu.
Vanes menghela nafas panjang, dalam hatinya Ia menyemangati Om Herman agar bisa bersabar mengejar Ibu mertuanya itu.
"Sudah sudah, lebih baik jangan dibicarakan lagi." kata Sri menimpali, "Mungkin Bu Asih memang belum siap." tambah Sri.
"Lagian kenapa kamu tiba tiba membicarakan ini Vanes?" heran Asih.
Vanes tersenyum, "Cuma mau godain Ibu aja sih."
Asih menggelengkan kepalanya, tak menyangka jika Vanes akan mengajaknya bercanda tentang perasaannya.
"Ngapain?" Suara Wira terdengar membuat Herman yang sedari tadi menguping langsung terkejut.
Herman memberi kode Wira untuk diam agar Ia tak ketahuan.
"Ngapain juga harus nguping, masuk sana!" omel Wira.
Herman berdecak kesal, suara keras Wira membuat para wanita keluar dari dapur dan langsung menatapnya.
"Mau ambil air minum." ucap Herman tersenyum malu lalu masuk ke dalam melewati para wanita yang masih menatapnya.
"Om Herman nguping ya?" tebak Vanes.
Herman sedikit panik, "Nggak orang Om baru juga masuk."
Vanes berdecak, "Kirain Om Herman nguping."
Herman menggelengkan kepalanya lalu keluar dari dapur. Asih terlihat memandangi punggung Herman yang keluar dari dapur.
"Ada apa?" tanya Wira saat Ia dan Herman kembali ke taman belakang.
"Sepertinya aku harus nyerah."
Wira berdecak, "Apa apaan kau ini? Kau sudah bicara dengan Faris, kenapa malah sekarang ingin menyerah?"
"Aku tadi mendengar jika Dik Asih tidak berminat untuk menikah lagi." ungkap Wira.
"Lalu apa masalahnya?"
Herman berdecak kesal menatap Wira yang tak paham ucapannya, "Jika Asih tak ingin menikah, dia juga tidak mungkin menerima ku kan?"
__ADS_1
Wira menghela nafas panjang, "Dulu Sri juga seperti itu. menolak menikah lagi namun lihatlah sekarang? Kami bahkan sudah menikah." ucap Wira, "Wanita kadang memang seperti itu, hati dan ucapannya suka berbeda." tambah Wira.
"Tapi bagaimana jika-"
"Sudahlah jangan banyak tapi." potong Wira, "Sekarang lebih baik kau menyatakan perasaanmu pada Asih, entah diterima atau ditolak setidaknya dia tahu perasaanmu dan kau juga sudah berusaha." tambah Wira.
Herman terdiam sejenak, apa yang Wira ucapkan memang benar. Setidaknya Ia harus berusaha mengejar Asih lebih dulu.
"Aku akan mencobanya."
Wira menepuk bahu Herman, "Nah seperti itu baru benar."
Sore harinya saat Herman berniat untuk pulang, Herman melihat Asih tengah duduk ditaman sendirian. Kesempatan untuknya mencoba menyatakan perasaan pada Asih. Lebih cepat lebih baik pikirnya.
Herman berjalan mendekat dan langsung duduk disamping Asih.
"Kenapa disini sendirian?" tanya Herman.
Asih tampak bergeser seolah tak nyaman dudul berdekatan dengan Herman.
"Disini lebih tenang."
"Lalu apa di dalam bising?"
Asih tersenyum mendengar candaan Herman, "Bukan seperti itu."
"Lalu seperti apa?"
Asih hanya menggelengkan kepalanya.
Asih mengerutkan keningnya, "Bicara apa Pak?"
Herman berdecak, "Kenapa memanggilku Pak? Bukankah jarak usia kita juga tidak jauh?" protes Herman.
Asih kembali tersenyum, "Maaf mas, jadi ingin bicara apa?"
Herman ikut tersenyum saat Asih memanggilnya Mas, "Begini, memang terdengar agak gila tapi ini jujur dan tulus dari hatiku yang paling dalam." Kata Herman menarik nafas dalam lalu Ia keluarkan dan kembali berbicara, "Aku menyukaimu."
Asih tampak terkejut, Ia menatap ke arah Herman dan saat Herman membalas tatapannya, Asih langsung memalingkan wajah.
"Bagaimana bisa?"
Herman menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu, tiba tiba aku merasa nyaman dan ingin menikahi mu." ungkap Herman dengan jujur.
Asih kembali diam, kali ini Ia terdiam cukup lama.
"Tidak, jangan dijawab sekarang jika kau belum bisa menjawabnya, pikirkan saja dulu dan setelah kau siap kau bisa memberiku jawaban." kata Herman.
"Sejak suami saya meninggal, saya sama sekali tidak berpikir akan menikah lagi." ucap Asih tanpa menatap Herman yang saat ini menatapnya.
"Aku tahu pasti sulit untukmu jadi pikirkan ucapanku baik baik, tidak perlu menjawabnya sekarang." pinta Herman.
Asih mengangguk, "Tapi aku takut jika nanti akan mengecewakan."
__ADS_1
Herman menggelengkan kepalanya, "Aku akan menerima apapun keputusanmu."
"Baiklah aku akan memikirkannya dulu."
Herman tersenyum, meskipun masih belum mendapatkan kepastian jawaban dari Asih namun Ia merasa sangat lega akhirnya Ia bisa mengungkapkan perasaannya pada Asih.
"Kalau begitu aku akan pulang sekarang." kata Herman yang langsung diangguki oleh Asih.
"Baiklah, hati hati dijalan."
Herman tersenyum lalu mengangguk, menatap Asih sejenak sebelum akhirnya Ia pergi meninggalkan Asih.
Asih masih duduk ditaman, Ia menghela nafas panjang, raut wajahnya berubah sedih.
Makan malam pun tiba... Semua orang sudah berkumpul dimeja makan termasuk Faris dan Rani yang juga sudah pulang dari kantor.
"Gimana sekolahnya? Betah kan?" tanya Wira membuka obrolan dengan Arka.
"Betah kok, teman temannya pada baik."
"Syukur kalau begitu," ucap Wira terlihat lega.
"Kalau ada apa apa kamu bilang sama kami Arka, jangan sungkan." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Arka.
"Rani kamu tumben makan nya dikit?" Heran Vanes melihat piring Rani terisi sedikit tidak sebanyak biasanya.
"Aku lagi nggak terlalu laper mbak." Balas Rani yang memang sengaja makan sedikit mengingat siang tadi Ia sempat muntah setelah selesai makan siang. Rani takut jika Ia makan malam seperti biasa akan muntah lagi dan membuat semua orang curiga.
"Pasti tadi jajan dulu sama Dylan kan?" tebak Vanes.
Rani mengangguk, "Iya mbak."
Tanpa disadari oleh Rani, Asih sedari tadi menatap Rani, Asih merasa ada yang aneh dari keponakannya itu.
Selesai makan malam, Faris pergi ke kamar ibunya. Ia ingin berbicara dengan Asih tentang Om Herman.
"Tadi pagi Om Herman ke kantor Faris." ungkap Faris, "Om Herman bilang suka sama Ibu dan berniat menikahi Ibu."
Asih tersenyum lalu mengangguk, "Sore tadi Om Herman juga sudah bilang sama Ibu."
Faris sedikit terkejut, "Gercep amat Om Herman."
Asih kembali tersenyum.
"Jadi gimana Bu? Diterima nggak Om Herman?" tanya Faris.
Asih terdiam,
Faris mengenggam tangan Asih, "Ibu... Faris nggak masalah semisal Ibu mau menikah lagi. Ibu juga butuh teman dimasa tua jadi Faris tidak akan mempermasalahkan jika Ibu akan menikah lagi."
Asih tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Ibu belum tahu harus menjawab apa."
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yaaa