
Mira masih tersungkur dilantai, ditinggalkan oleh Rizal dan gadisnya yang kini sudah masuk ke kamarnya.
Kamar yang sengaja Ia hias dan rapikan namun malah digunakan Rizal bercinta dengan gadis lain.
Suara kenikmatan pun terdengar jelas ditelinga Mira membuatnya semakin sakit hati.
Mira benar benar hancur saat ini dan Ia pun sadar apa yang dikatakan Nathan memang benar. dirinya akan menyesal, menyesal karena sudah mempercayai Rizal lagi.
Nathan benar, Rizal kembali hanya ingin menguasai perusahaan bukan karena mencintainya.
Cukup lama Rizal dan gadisnya berada didalam kamar hingga akhirnya mereka keluar dan Mira masih duduk dilantai.
"Aku sangat puas dengan pelayananmu. besok pagi datanglah kesini dan bawa barangmu, mulai sekarang tinggal lah disini." ucap Rizal pada Gadisnya yang sontak membuat Mira tak terima.
"Apa kau gila? Kau memintanya tinggal disini?" tanya Mira menatap Rizal tak percaya.
"Tentu saja, kenapa tidak? Ini apartemenku jadi aku bebas meminta siapapun tinggal disini, jika kau keberatan kau bisa pergi." balas Rizal dengan santai.
Mira tak tahan lagi, Ia akhirnya berdiri dan menjambak rambut gadis yang dibawa oleh Rizal, "Dasar pelacur sialan, bagaimana bisa kau merebut calon suamiku!" umpat Mira terus menjambak rambut gadis itu hingga Rizal menolong gadis itu, melepaskan tangan Mira dan mendorong Mira hingga kembali jatuh ke lantai.
"Jangan pernah menyakiti siapapun yang ku ajak kesini. Jika kau tidak suka, pergi!" usir Rizal menatap Mira marah.
"Tidak, aku tidak akan pernah pergi dari apartemen ini, kau sudah berjanji akan menikahiku!"
Rizal tersenyum, "Menikah ya? Aku rasa akan memikirkan lagi tentang pernikahan kita."
Mira tak tahan lagi, tangis yang Ia tahan sedari tadi pun akhirnya keluar juga, "Apa yang kau katakan itu? Aku benar benar tidak paham."
"Aku sudah berencana membatalkan pernikahan kita. jika kau ingin tetap tinggal disini silahkan saja tapi kau tidak bisa melarangku untuk tidak membawa gadis lain kesini."
"Kau gila, kau gila!" teriak Mira histeris.
Rizal tertawa, "Ya aku memang gila dan kau bodoh." ejek Rizal kembali merangkul gadisnya, "Ayo sayang ku antar kau pulang."
"Aaarrrghhhhh..." teriakan Mira mengema membuat Rizal kembali tertawa.
Rizal merasa puas karena berhasil membalaskan dendamnya pada Mira.
Mira mencintainya dan sangat mudah menaklukan Mira tanpa perlu mengeluarkan banyak uangnya.
Didalam apartemen, Mira menangis sejadi jadinya. Ia kecewa dengan kebodohannya sendiri. Ia terlalu dibutakan oleh cinta hingga tak bisa berpikir jernih dan sekarang Ia sudah kehilangan segalanya.
__ADS_1
Harta, cinta akhirnya hilang semuanya, tidak ada satupun yang Mira miliki saat ini.
Kerja kerasnya, harga dirinya yang Ia berikan untuk Rizal pun seolah tak terlihat. Pria itu benar benar kejam padanya.
Mira beranjak dari duduknya, Ia berjalan memasuki kamar dimana kamar yang tadinya rapi kini berantakan oleh ulah Rizal dan wanitanya.
Mira kembali menangis, Ia mengambil kopernya dan memasukan bajunya satu persatu.
Apartemen ini dulu dibelikan oleh Rizal untuknya dan karena sekarang kembali menjadi milik Rizal, Mira memutuskan pergi saja. Ia tak akan tahan jika tinggal disini sementara Rizal juga mengizinkan wanita lain tinggal disini, lebih baik Ia yang mengalah.
Selesai mengemasi barangnya, Mira menyeret kopernya keluar dari kamar. Saat membuka pintu Mira terkejut melihat Rizal sudah kembali dan Ia tak sendiri melainkan bersama gadis yang berbeda.
Rizal tersenyum penuh mengejek menatap Mira, "Aku pikir kau tidak akan pergi."
Mira tersenyum sinis, "Kau benar benar menjijikan!"
"Jika aku menjijikan lalu bagaimana denganmu? Hamil dengan pria lain!" balas Rizal.
"Ini anak mu! Bagaimana bisa kau mengatakan aku hamil dengan pria lain!" Mira masih tak terima.
"Selama ini aku bermain aman, kau pikir aku bodoh."
"Jadi itu alasanmu meninggalkan aku?" tanya Mira.
Mira yang merasa geram ingin menampar pipi Rizal namun sayang, tangannya lebih dulu dicekal oleh Rizal.
"Setelah ini aku ingin mengejar cinta istriku dan membuatnya kembali. kau, enyahlah dari hidupku jangan pernah menganggu hidupku lagi." ucap Rizal.
Mira menarik tangannya, sekali lagi Ia menatap Rizal penuh kecewa sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rizal.
Mira menyeret kopernya menuju basement apartemen dimana mobilnya terparkir disana. Hanya mobil ini satu satunya harta yang di miliki oleh Mira saat ini.
Mira memasukan kopernya ke dalam bagasi, setelah menutup kopernya Mira berbalik dan terkejut melihat Nathan berdiri dibelakangnya.
"Nathan..." seketika tangis Mira pecah, Ia pun langsung memeluk Nathan dan menangis didalam dekapan Nathan.
"Sudah cukup jangan menangis lagi." ucap Nathan sambil mengelus punggung Mira.
"Kau benar, aku menyesal. Aku sangat menyesal saat ini." ungkap Mira.
"Sudahlah, jangan katakan apapun. lebih baik sekarang ikut aku. Mulai sekarang tinggalah di apartemen ku." pinta Nathan yang langsung diangguki oleh Mira.
__ADS_1
Nathan mengajak Mira memasuki mobil lalu Ia mulai melajukan mobilnya menuju gedung apartemen yang tak jauh dari sana.
"Kau tinggal disini?" tanya Mira tak menyangka jika Nathan memiliki apartemen semewah ini.
"Ya, aku sudah lama tinggal disini. Masuklah." ajak Nathan.
Keduanya memasuki apartemen mewah milik Nathan. Mira terlihat masih tak percaya dan kagum dengan seisi apartemen Nathan yang bisa dibilang mewah padahal jika dilihat penampilan Nathan begitu sederhana, Mira pikir Nathan orang dari kalangan biasa.
"Aku harap kau betah tinggal disini." ucap Nathan.
Mira berbalik menatap Nathan, "Selama ini aku selalu bersikap jahat padamu tapi kenapa kau masih baik padaku?"
"Karena aku mencintaimu. Aku hanya ingin bersamamu."
Mira terharu dengan ucapan Nathan. Ia banyak sekali bersyukur karena saat Ia dibuang seperti sampah oleh Rizal, Nathan masih mau menerimanya, bahkan bersabar atas sikap buruknya selama ini.
"Setelah kita menikah, kau cukup dirumah, aku akan menguasahan apapun yang terbaik untuk keluarga kecil kita."
Mira kembali memeluk Nathan.
"Terima kasih, terima kasih atas cintamu ini."
Sementara itu,
jam 9 malam, Ken baru saja sampai di istana Wira, beberapa hari mengurus surat cerai Vanes akhirnya berhasil dapatkan.
Ken ingin melaporkan pada Wira jika tugasnya sudah selesai.
"Putriku kini sudah menjadi janda." ucap Wira setelah membaca surat cerai dari pengadilan.
"Apakah Anda kecewa Tuan?"
Wira mengangguk, "Aku kecewa karena sudah memberikan putriku pada pria seperti Rizal. Aku menyesal."
"Semua sudah terjadi Tuan, tidak perlu disesali."
"Ya kau benar, tadi aku sempat mendengar dari salah satu pemegang saham jika Rizal sudah kembali menguasai perusahan." ungkap Wira.
"Saya siap menerima tugas Tuan."
"Lakukan seperti biasa."
__ADS_1
Ken tersenyum licik, "Baik Tuan."
Bersambung....