TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
222


__ADS_3

Herman masih duduk ditempatnya, menunggu Asih kembali lewat disampingnya. Dan beberapa menit kemudian Asih kembali lewat dengan wajah basah dan masih mengenakan hijab besarnya.


Sejak pertama bertemu dengan Asih, Herman sama sekali belum pernah melihat Asih melepaskan hijabnya bahkan saat tengah malam begini pun Asih masih mengenakan hijabnya.


Benar benar cerminan istri soleha pikir Herman.


Asih sempat tersenyum tanpa mengatakan apapun pada Herman dan itu langsung membuat hati Herman merasa adem padahal hanya mendapatkan sebuah senyuman.


Herman tak bisa membayangkan jika Asih memberikan cinta, kasih sayang dan jiwanya bisa bisa Herman bahagia sampai akhir hayatnya.


Herman menutup laptopnya, Ia merasa gagal membuat Asih kagum padanya kini justru dirinya yang kagum dengan kepribadian Asih.


Tadinya niat Herman bangun lebih awal dan bekerja diluar karena ingin membuat Asih kagum dengan kerja kerasnya namun sepertinya Asih sama sekali tidak peduli dengan itu semuanya. Asih seperti tidak tertarik dengan gemerlap dunia.


Herman ingin kembali ke kamarnya, Ia malah berpapasan dengan putra menyebalkannya.


"Ayah habis ngapain? Diluar bawa laptop segala." celetuk Arga sambil mengucek matanya yang masih mengantuk, "Harusnya kalau mau nonton blue film dikamar Yah bukan malah diluar." tambah Arga.


Herman langsung menjitak kepala Arga, Ia tak ingin ada yang mendengar dan menganggap ucapan Arga benar, "Kalau ngomong jangan sembarangan!"


Arga tersenyum, "Dahlah mau pipis dulu abis itu lanjut kelonin istri." ucap Arga seolah mengejek Herman lalu melewati Herman begitu saja.


"Dasar anak kurang ajar!"omel Herman.


Herman sudah masuk ke kamarnya, Ia meletakan laptop dimeja lalu kembali berbaring diranjangnya.


Saat ini pikiran Herman dipenuhi dengan Asih, Asih dan Asih.


Awalnya Herman hanya penasaran mendengar cerita Asih dari Wira namun kini Ia malah dibuat jatuh cinta setelah bertemu dengan sosok Asih yang merupakan tipekal calon istri soleha idaman.


"Aku harus mendapatkannya, rugi sekali jika harus menduda seumur hidup." Gumam Herman.


Herman beranjak dari ranjang, Ia kembali keluar dari kamar dan berpapasan dengan Arga lagi.


"Ayah mau ngomong!" ucap Herman menarik putranya masuk ke kamar.


"Ngomong apa sih Yah? Arga masih ngantuk dan Sara nanti kalau bangun nyariin gimana?"


Herman berdecak, "Sebentar saja, jadi gini..." Herman tampak masih ragu ingin mengatakan pada Arga.


"Gini juga nggak apa apa Yah." ucap Arga lalu berbalik ingin keluar dari kamar Herman namun Herman segera menarik baju Arga.


"Ayah belum selesai ngomong!" kesal Herman.


"Ya udah ngomong Yah jangan bertele tele!"


Herman tersenyum, "Menurut kamu gimana kalau Ayah nikah lagi?'


Mata Arga yang tadinya masih mengantuk kini langsung melek mendengar ucapan Herman, "Nikah lagi? Memang ada yang mau sama Ayah?"

__ADS_1


Herman menjitak kepala Arga karena kesal Arga selalu menggodanya, "Ayah masih keliatan seger, muda dan kaya raya gini sudah pasti ada yang mau sama Ayah!"


Arga berdecak, "Ya kalau Ayah nyarinya kayak Yesi gitu pastilah dia mau secara Ayah itu bagaimana atm berjalan tapi kalau nyarinya wanita baik baik kayak Bik Sri gitu, Arga nggak yakin."


Herman menghela nafas panjang, apa yang dikatakan oleh Arga memang benar. Mencari wanita muda dan cantik yang mata duitan pastilah mudah tapi jika wanita baik baik, rasanya akan sulit.


"Tapi kamu merestui Ayah menikah lagi nggak?"


Arga mengangguk, "Arga sih boleh boleh aja tapi coba Ayah tanya sama Bunda, dibolehin nggak?"


Herman kembali menjitak kepala Arga, "Bunda kamu sudah disurga, gimana Ayah bilangnya!"


Arga tertawa, "Arga Izinin kalau Ayah mau nikah lagi asal jangan sekarang, biar Arga dulu yang nikah."


Herman mengangguk, "Sekarang Ayah juga lagi berjuang."


Arga mengerutkan keningnya, "Memang Ayah sudah punya calon?"


Herman kembali mengangguk lalu tersenyum.


"Siapa?"


"Ada lah pokoknya."


Arga berdecak, "Jangan jangan Ibunya Mas Faris." tebak Arga membuat Herman terkejut.


"Tahu dari mana?"


Herman tersenyum sinis, "Kamu jangan meremehkan Ayah!"


"Bukan gitu, kalau dilihat lihat Ibunya Mas Faris itu masih belum bisa move on dari mantan suaminya." kata Arga.


"Tahu dari mana?"


"Sara kemarin cerita kalau Ibunya Mas Faris nggak mau diajak tinggal dikota karena nggak mau meninggalkan rumah peninggalan mantan suaminya, bisa dibayangin gimana bucinnya Yah, yakin mau ngejar?" tanya Arga seolah meragukan Ayahnya.


Arga hanya tidak ingin Herman kecewa jika Asih sampai menolaknya.


"Ayah akan berusaha agar cinta Ayah diterima sama Dik Asih."


"Anjir Dik Asih." ucap Arga seketika tertawa mendengar Herman menggunakan embel embel Dik.


"Ya gimana masa mau dipanggil Asih istriku, la kan belum sah."


"Serah Ayah dah, serah." ucap Arga tak ingin berdebat dengan Herman lagi, "Dah selesai kan Yah? Arga balik kamar ya?"


Herman mengangguk, "Ya udah sana, Ayah juga nggak mau tidur sama kamu!"


Arga berdecak menatap kesal Herman yang kini menertawakannya.

__ADS_1


Arga kembali ke kamar, Ia terkejut saat melihat Sara terbangun dan langsung menatap ke arahnya penuh curiga, "Dari mana Mas?"


"Dari kamar mandi trus diajak ke kamar Ayah."


"Ngapain? Ayah sakit?"


Arga menggelengkan kepalanya, "Enggak sakit, Ayah mau ngomong sama aku."


"Ngomong apa?" Sara penasaran.


"Jangan Kaget ya, jangan kaget tapi." ucap Arga yang langsung diangguki oleh Sara.


"Kenapa sih?"


"Tuh kan kamu udah kaget duluan." ucap Arga membuat Sara kesal lalu memukul lengan Arga.


"Buruan bilang!"


Arga tertawa, "Nungguin ya?" goda Arga dengan wajah menyebalkan.


Sara benar benar kesal, Ia menarik selimut lalu berbalik memunggungi Arga, "Dih ngambek."


Sara diam tak mengubris candaan Arga.


"Ayah minta restu katanya mau nikah lagi." ucap Arga membuat Sara terkejut dan langsung berbalik menatap Arga.


"Serius Mas? Sama Siapa?"


"Jangan kaget ya... Sama Ibunya Mas Faris."


Lagi lagi Sara kembali terkejut mendengar ucapan Arga.


"Bu Asih? Beneran? memang mereka sudah dekat? Bukannya baru bertemu kemarin?"


Arga menghela nafas panjang, "Ayah naksir sama Bu Asih katanya mau diperjuangkan biar mau nikah sama Ayah."


Sara tertawa, "Kamu izinin nggak mas?"


"Ya iyalah sayang, Ayah juga sudah lama duda. di masa tuanya mungkin ingin pendamping seperti Papa Wira." kata Arga.


Sara tersenyum, "Uuu dewasa banget sih suami aku."


"Kalaupun nggak dikasih restu, Ayah paling nekat tetep mau nikah sama Bu Asih." ucap Arga dengan nada kesal.


"Kalau udah cinta kan gitu mas, sama kayak kamu, udah tahu janda masih aja nekat dinikahi." kata Sara yang langsung membuat Arga tertawa.


"Aku cuma takut kalau Bu Asih menolak Ayah." ungkap Arga.


Sara mengangguk, "Sepertinya memang sedikit sulit mas."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa...


__ADS_2