
Mira memasuki ruangan kerja dengan membanting pintu padahal Rizal masih berada diluar.
Rizal hanya bisa menghela nafas panjang, melihat ke belakang dimana karyawan yang lain menatap ke arah pintu.
Rizal hanya perlu sedikit melotot agar karyawannya itu tidak kepo dengan urusan pribadinya.
Dan benar saja, para karyawan yang tadi sempat melihat ke arah pintu kini menunduk ke bawah, takut dengan Rizal.
Rizal memasuki ruangannya, menutup pintunya pelan. Melihat wanita yang Ia cintai tengah duduk disofa sambil memanyunkan bibirnya.
"Aku tidak akan mengganti posisimu sayang." ucap Rizal duduk disamping Mira lalu mengelus lembut kepala Mira.
"Lalu bagaimana kau mengatasi pria tua itu?" Sentak Mira.
"Kita biarkan saja, lagipula sebentar lagi aku dan Vanes akan berpisah jadi tidak perlu takut dengannya lagi."
Mira berdecak, "Aku benar benar kesal dengan pria tua itu, bisa bisanya dia mau menyingkirkan aku!" omel Mira lagi.
"Sudahlah jangan marah lagi, kita hanya perlu bersabar sedikit lagi hmm." kata Rizal yang akhirnya diangguki oleh Mira.
Rizal segera memeluk Mira agar gadis itu kembali tenang dan tidak marah lagi.
Sementara itu Faris juga sudah kembali keruangannya bersama Nisa. Ia terlihat senang jika mengingat saat diruang pertemuan tadi. Wajah panik dan kesal Mira juga Rizal membuatnya ingin tertawa keras.
Faris berharap hubungan Rizal dan Mira bisa diketahui lebih dalam oleh Pak Wira agar saham yang menopang perusahaan Rizal bisa diambil dan membuat perusahaan bangkrut. Faris benar benar ingin melihat Rizal hancur.
Tak terasa waktu cepat berlalu, jam kerja sudah berakhir setelah ada tambahan jam lembur, kini semua orang bersiap untuk pulang kerumah.
Namun sepertinya ada yang tidak pulang malam ini. Rizal, pria itu masih belum bisa meninggalkan Mira yang masih badmood jadi Rizal memutuskan untuk menginap dikantor bersama Mira.
Tak lupa Rizal memberitahu Faris jika Ia tak pulang hari ini karena tahu Faris pasti sudah menunggunya.
"Nggak pulang lagi mas?" Faris tampak terkejut.
"Iya, soalnya si Mira lagi badmood. mau nemenin disini."
Faris mengangguk paham meskipun dalam hatinya Ia kesal mengingat Vanes mungkin sudah menunggu kepulangan mereka dan pasti Vanes akan kecewa lagi jika tahu Rizal tak pulang.
Faris akhirnya pulang sendiri. saat sampai dirumah, Ia melihat ada sedan mewah terparkir disana.
__ADS_1
Faris mengerutkan keningnya, bertanya dalam hati, mobil mewah milik siapa ini?
Dan akhirnya pertanyaan Faris terjawab saat Ia masuk ke dalam dan melihat ada Wira duduk diruang tengah bersama Vanes.
"Lho kamu siapa?" tanya Wira tampak terkejut menatap Faris.
Faris terlihat sungkan, beruntung Vanes mau membantunya menjawab pertanyaan Pak Wira, "Mas Faris ini sepupunya Mas Rizal yang aku ceritain sama Ayah."
Wira tampak berohh ria dan Faris memberanikan diri untuk menyalami tangan Wira, "Lha si Rizal mana? Pulangnya nggak bareng?"
Faris begitu sumringah mendengar pertanyaan Wira, Ia ingin menjawab yang sebenarnya agar Wira curiga kalau perlu menyusul ke kantor supaya melihat perselingkuhan Rizal namun kedipan mata Vanes mengurungkan niatnya.
Melalui kedipan mata Vanes seolah memberitahu Faris untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Faris tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Vanes.
"Mas Rizal masih lembur dikantor, mungkin sebentar lagi pulang pak." bohong Faris.
Wira terlihat mengangguk percaya, "Aku tidak salah menjadikan dia menantu karena dia sangat pekerja keras." kata Wira yang membuat Faris semakin kesal saja.
Faris memasuki kamarnya, Ia terlihat sangat kesal dengan Vanes karena sudah memintanya untuk bohong. Padahal jika Ia jujur dan Pak Wira tahu, Vanes bisa lepas dari Rizal tanpa menunggu lagi namun Vanes sepertinya mencintai Rizal hingga membantu Rizal menutupi pengkhianatan Rizal pikir Faris.
Selesai mandi, Faris keluar untuk makan malam. Pak Wira baru saja pulang, kini hanya ada Vanes dan Faris dimeja makan.
Vanes tampak menghentikan kunyahannya, "Kamu pasti berpikir aku sangat mencintai Rizal hingga mau membantu Rizal sampai sejauh ini ya?" tanya Vanes mencoba menebak pikiran Faris.
Faris mengangguk jujur, Ia memang menerka jika Vanes takut kehilangan Rizal hingga membantu menutupi kebusukan Rizal.
"Ayah punya penyakit jantung. Jika Ayah tahu Kalau mas Rizal sering tidak pulang kerumah, pasti Ayah akan menyelidikinya diam diam. Aku hanya tidak mau Ayah kecewa karena mengetahui kebenaran yang menyakitkan ini karena Ayah sangat menyukai Mas Rizal."
Sontak ucapan Vanes membuat Faris merasa bersalah karena sudah berpikiran buruk tentang Vanes.
Faris bisa mengerti posisi Vanes saat ini dan merasakan betapa sakitnya hati gadis itu.
"Mbak habis makan mau dibikin coklat hangat lagi?" tawar Faris seolah ingin menebus rasa bersalahnya.
"Boleh, tapi temenin duduk ditaman belakang ya?"
Faris tersenyum lalu mengangguk.
Selesai makan malam, keduanya kini sudah berada ditaman belakang dengan membawa masing masing secangkir coklat hangat.
__ADS_1
Vanes menyeruput coklat hangat berkali kali, menikmati legitnya coklat hangat buatan Faris.
"Setelah menikah, aku memiliki penyakit imsomnia." cerita Vanes.
Faris menatap Vanes, "Bahaya mbak kalau dibiarin lama lama. Harusnya mbak periksa ke dokter." saran Faris namun langsung digelengi oleh Vanes.
"Aku tahu penyebab penyakit ini, mungkin aku terlalu kecewa."
Faris tampak diam, Ia tak ingin banyak komentar, Ia hanya ingin mendengarkan cerita Vanes.
"Mas Rizal adalah cinta pertamaku. Setelah Ayah membawa pulang kerumah dan mengenalkan padaku, aku langsung jatuh cinta waktu itu karena ketampanan mas Rizal." kata Vanes lalu tersenyum seolah tengah mengingat awal Ia bersama Rizal dulu berbeda dengan Faris yang terlihat langsung murung karena merasa cemburu.
"Waktu itu aku semakin senang saat tahu Ayah ingin menjodohkan aku dengan Mas Rizal. Aku selalu membayangkan indahnya pernikahan seperti pernikahan Ayah dan Mendiang Bunda."
"Bundamu sudah meninggal?" tanya Faris tampak terkejut.
Vanes mengangguk, "Wakti itu aku baru saja wisuda dan Bunda meninggal karena penyakit asam lambung."
Faris semakin kasihan dengan kehidupan Vanes. Pastilah Vanes merasa kesepian dan tidak memiliki tempat keluh kesah karena Bundanya sudah tiada.
Vanes kembali melanjutkan ceritanya, "Sebelum menikah aku mempersiapkan banyak hal, merawat diri agar lebih menarik, mengikuti banyak kursus memasak agar aku bisa membuatkan makanan yang lezat untuk suamiku namun ternyata..." Vanes tersenyum, bibirnya bahkan bergetar.
"Jangan dilanjutkan cerita jika memang menyakitkan." kata Faris menepuk pelan bahu Vanes.
"Setelah pesta pernikahan, Mas Rizal mengatakan yang sejujurnya jika Ia tidak mencintaiku dan terpaksa menikahiku bahkan Mas Rizal mengakui jika Ia sangat mencintai kekasihnya dan tidak bisa meninggalkan kekasihnya. Aku sangat terkejut dan kecewa saat itu namun tidak bisa melakukan pilihan lain selain bertahan.
Rasa kecewa ku yang berlebihan itu akhirnya membuatku tidak bisa tidur nyenyak setiap malam.
Dan mungkin itu alasan ku tak menceritakan ini pada Ayah.
Aku hanya tidak mau Ayah kecewa hingga membuatku kehilangan Ayah, hanya Ayah satu satunya yang masih ku punya saat ini, aku benar benar belum siap kehilangan Ayah." ungkap Vanes terlihat menahan tangis.
Mendengar cerita Vanes membuat Faris bisa mengerti betapa sakitnya posisi Vanes saat ini.
Tanpa sadar, Faris menarik tubuh Vanes lalu memeluknya.
Faris memeluk Vanes.
Bersambung...
__ADS_1