
Vanes pergi ke perpustakaan ditemani oleh Rio. Setelah tahu jika Vanes hamil, Rio selalu menemani kemanapun Vanes pergi. Rio tak ingin terjadi sesuatu pada Vanes seperti waktu itu.
"Haus nggak cyin?" suara centil Rio terdengar bersamaan dengan tangan Rio menyodorkan sebotol air mineral untuk Vanes.
"Makasih Rio, kamu perhatian sekali." Vanes menerima uluran air mineral dan segera meneguknya.
"Kalau dirumah tugas suami Lo yang jagain tapi kalau dikampus, aku yang akan jagain. Nggak akan ku biarin kamu lecet sedikit pun."
Vanes tersenyum, "Kok bisa sih baik sekali sama aku?"
"Karena aku naksir suami kamu." balas Rio lalu tertawa.
Vanes memanyunkan bibirnya, "Aku nggak niat cari madu Rio..."
Rio masih tertawa, "Canda Neng, mana tega aku nyakitin kamu yang lagi hamil."
Vanes menggelengkan kepalanya, "Lagian Mas Faris paling juga nggak mau sama kamu." ejek Vanes.
Raut wajah Rio pura pura sedih, "Nah itu yang aku maksud, aku tahu kalau Faris nggak suka sama aku jadi aku jagain istrinya aja sebagai tanda cinta aku sama Faris." ucap Rio yang langsung membuat Vanes tertawa.
Selesai mengerjakan tugas diperpustakaan, Vanes merasakan perutnya lapar. Vanes memutuskan untuk keluar dan saat ini Ia ingin sekali makan cilok bumbu kacang.
"Mau ke kantin?"
Vanes menggelengkan kepalanya, "Enggak, mau ke depan aja. Lagi pengen cilok."
Rio mengangguk dan menemani Vanes berjalan ke depan kampus untuk membeli cilok. Sesampainya didepan, Sara dibuat kecewa karena tidak ada satupun penjual cilok didepan kampus.
"Pada libur cyin." ucap Rio yang baru saja menanyakan pada penjual es coklat yang biasanya berdampingan dengan penjual cilok.
Raut wajah Vanes berubah kecewa karena Ia sangat ingin makan cilok saat ini.
"Pengen banget ya?" tanya Rio yang langsung diangguki oleh Vanes.
"Jangan jangan kamu ngidam beb." tebak Rio, "Telepon suami Lo gih, minta di beliin dari pada anaknya nanti ileran."
"Emangnya bener bisa ileran kalau nggak keturutan?"
Rio mengangguk, "Katanya gitu beb."
Karena takut, Vanes akhirnya menelepon nomor Faris, "Mas sibuk nggak?" tanya Vanes.
__ADS_1
"Enggak sayang, ada apa? Mau dijemput?" tawar Faris dari telepon.
"Enggak jemput, aku mau minta tolong belikan sesuatu." ucap Vanes.
"Mau belikan apa? 10 menit aku sampai sana." kata Faris langsung mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban Vanes.
"Mau kesini." ucap Vanes pada Rio lalu memasukan ponselnya ke dalam tasnya.
"Gercep banget deh cyin suami Elo, idaman gue." kata Rio dengan suara centilnya.
Belum sampai 10 menit menunggu, Vanes melihat mobil Faris sudah terparkir didepan kampus.
Faris keluar dari mobil dan langsung menghampiri Vanes.
"Mau cilok mas." pinta Vanes dengan suara manja membuat Faris tersenyum geli karena jarang sekali istrinya itu bersikap manja padanya.
"Yang biasa jual disini lagi nggak jualan." tambah Vanes.
"Ya udah ayo kita cari penjual ciloknya, biasanya dipinggir taman kota banyak yang jual." ajak Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
"Gue nggak diajak nih cyin?" tanya Rio mengedipkan mata ke arah Faris membuat Faris bergindik takut.
"Mau ikut nggak apa apa kok." kata Vanes.
"Ya udah deh Bang, nggak apa apa tapi lain kali diajak ya?" ucap Rio kembali mengedipkan mata pada Faris lalu pergi meninggalkan Faris dan Vanes.
"Kamu bisa nggak ganti temen aja?" tanya Faris saat sudah memasuki mobil bersama Vanes.
Vanes tertawa, "Kenapa sih mas? Orang Rio itu baik banget sama aku dan kalau di kampus dia itu suka jagain aku."
"Iya sih tapi aku takut kalau dia naksir sama aku." ungkap Faris dengan raut wajah yang benar benar takut.
"Aman kok mas, aman. Nggak bakal di apa apain sama Rio."
Faris menghela nafas panjang lalu melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Mobil Faris berhenti ditaman kota namun disana tidak ada satupun penjual cilok.
Faris akhirnya memutar balik mobilnya, sesekali matanya menatap ke pinggir jalan, berharap ada penjual cilok disana.
"Pada demo apa gimana sih? Tumben susah banget nyari orang jualan cilok." celetuk Faris.
"Coba di toko sejuta umat depan itu mas, kali aja ada yang mangkal." Vanes menunjuk ke arah toko sejuta umat yang tak jauh dari sana.
__ADS_1
Dan beruntungnya Vanes, saat mobil Faris sudah sampai didepan toko sejuta umat itu memang ada penjual cilok disana.
"Kamu tunggu disini, biar aku yang beli." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
Faris keluar dari mobil, membeli 2 porsi cilok. 1 porsi berbumbu dan 1 porsinya lagi tidak berbumbu.
Faris tersenyum lebar saat Ia berhasil membawa 2 porsi cilok untuk Vanes.
"Buat istriku yang lagi ngidam." ucap Faris memberikan 2 porsi cilok untuk Vanes.
Vanes yang sudah tak sabar, mulai mencicipi ciloknya namun baru mencicipi 1 buah cilok, perut Vanes terasa begah dan sudah tidak ingin makan lagi.
"Buat mas Faris semua." Vanes memberikan pada suaminya, "Habisin mas..."
Faris melonggo tak percaya menatap Vanes, "Kan kamu yang minta, harusnya kamu juga yang habisin." Faris menolak karena perutnya masih kenyang.
"Nggak mau tahu pokoknya mas Faris harus habisin ciloknya." protes Vanes.
Mau tak mau Faris makan semua cilok yang sudah Ia beli dan beruntung rasa ciloknya enak jadi Faris masih bisa makan semua cilok meskipun Ia benar benar sangat kenyang saat ini.
"Ampun deh, kenyang banget sayang." keluh Faris.
Vanes hanya tersenyum geli, "Ya gimana dong Mas, si Adek nggak mau makan ciloknya."
Faris ikut tersenyum lalu mengelus perut Vanes yang masih rata, "Adek sudah mulai nakal ya sama Ayah."
Vanes masih tersenyum geli dengan tingkah Faris.
Setelah berhasil menuruti ngidam Vanes, Faris mengantar Vanes pulang kerumah. Faris ingin Vanes segera pulang dan istirahat dirumah meskipun masih ada 1 kelas lagi yang belum Vanes selesaikan.
"Aku balik ke kantor ya sayang." pamit Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
Vanes keluar dari mobil dan langsung memasuki rumah. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Vanes turun ke bawah untuk minum.
"Lho kok Bik Tri yang didapur? Bik Sri mana?" tanya Vanes saat Ia ke dapur dan melihat Bik Tri disana padahal biasanya Bik Tri berada di bagian laundry.
"Iya Non, Bik Sri mau pulang kampung jadi saya yang gantikan disini." ucap Bik Tri membuat Vanes terkejut.
Tak mengatakan apapun lagi, Vanes berlari ke kamar Bik Sri dan lagi lagi Ia dibuat terkejut saat melihat Bik Sri memasukan baju bajunya ke dalam koper.
"Jangan pergi Bik..."
__ADS_1
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa