TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
234


__ADS_3

Arka keluar dari club malam dan langsung naik ke dalam taksi. Ia memutuskan untuk pulang tanpa pamit dengan Suci karena jujur Ia takut setelah mendengar cerita dari Genta jika Suci bukanlah gadis baik baik. Arka takut dijebak oleh Suci. Arka pria normal, Ia bisa khilaf kapan saja dan untuk menghindari itu semua Arka ingin menghindari Suci mulai besok, Ia tak mau terlalu dekat dengan Suci.


"Nggak mabuk kan?" tanya Faris yang membuka pintu untuk Arga. Faris tampak menunggu kepulangan adik iparnya itu.


"Nggak lah Mas,"


Faris tersenyum lalu menepuk bahu Arka, "Bagus."


"Belum tidur mas?" tanya Arka.


"Nungguin kamu." ucap Faris lalu tersenyum dan berjalan meninggalkan Arka.


Arka terdiam sambil menatap punggung Faris yang mulai menjauh. Saat ini Ia merasa memiliki keluarga yang sesungguhnya, keluarga yang baik dan peduli padanya.


Arka tersenyum, berlari mengikuti langkah kaki Faris.


"Buruan tidur jangan sampai besok terlambat sekolah." Faris mengingatkan.


"Siap Bos." Arka tertawa lalu masuk ke kamarnya.


Faris tersenyum dan ikut masuk ke kamarnya.


"Kenapa mas senyum senyum? Arka sudah pulang?" tanya Vanes yang masih belum tidur, menunggu Faris masuk kamar.


"Ternyata gini ya rasanya punya saudara." gumam Faris yang kini sudah ikut berbaring disamping Vanes.


"Gimana rasanya?"


"Dulu selalu ingin punya adik laki laki dan sekarang sudah dikabulkan ya meskipun bukan adik kandung tapi entah mengapa aku merasa sayang sekali dengan Arka." ungkap Faris.


Vanes tersenyum lalu memeluk suaminya, "Kalau sama aku sayang nggak?"


Faris menggelengkan kepalanya, "Sayangnya sedikit soalnya udah kebanyakan cintanya." gombal Faris.


"Tuh dek Papa kamu sekarang pinter banget gombal." gerutu Vanes sambil mengelusi perutnya.


Faris ikut mengelusi perut Vanes, "Nggak gombal, orang serius." ucap Faris lalu merasakan sesuatu yang aneh saat mengelus perut Vanes, "Eh kok gerak gerak."


Vanes tersenyum, "Si Adek mau ikut bercanda sama kita."


Faris yang gemas langsung menciumi perut Vanes, "Udah nggak sabar mau keluar ya sayang? Duh Papa juga." ucap Faris.


"Sabar ya sayang, 4 bulan lagi kita bertemu."


Faris tersenyum lalu membawa Vanes ke dalam pelukannya.


...****************...


Pagi ini masih seperti pagi biasanya. Arga dan Sara bangun seperti biasa untuk pergi ke kantor.


"Dasi ku mana?" tanya Arga pada Sara yang masih memakai make up.


"Di lemari, ambil sendiri."


"Ambilin." pinta Arga dengan suara manja.

__ADS_1


Mau tak mau Sara beranjak dari duduknya untuk mengambilkan Dasi Arga.


"Kok alis kamu beda sebelah?" tanya Arga.


Sara berdecak, "Ya kan belum selesai, kamu sih nggak mau ambil dasi sendiri."


Arga tersenyum kecil, "Pakein sekalian dong sayang." pinta Arga lagi masih dengan suara manjanya.


Sara menghela nafas panjang namun tetap memakaikan dasi untuk Arga.


"Kalau menurut aku mendingan alis kamu gini aja." kata Arga.


Sara menatap Arga kesal, "Aku masih waras!" ucap Sara karena saat ini Alis Sara baru digambar sebelah dan sebelahnya lagi masih asli belum digambar.


"Bukan masalah waras kalau kamu aneh gini aku kan jadi nggak was was."


"Was was gimana?" Sara tak mengerti maksud ucapan suaminya.


"Ya kan nggak bakal ada yang naksir kamu." ungkap Arga lalu tertawa.


"Nggak usah aneh aneh deh mas, orang kantor aja pada takut sama aku." ucap Sara selesai memasangkan dasi di kemeja Arga.


"Kok bisa?"


"Soalnya aku galak." ungkap Sara lalu tertawa.


Arga pun ikut tertawa, "Aku juga ngeri ih."


Sara melototi Arga membuat pria itu langsung kabur keluar dari kamar.


"Sara mana?"


"Masih bikin alis." balas Arga membuat Herman berohh ria.


Tak menunggu lama, Sara ikut bergabung di meja makan.


"Zil udah mulai mengurus lagi persiapan pernikahan kalian?" tanya Herman memastikan.


"Udah kok Yah, udah mau selesai juga." balas Sara.


"Besok wekeend kami mau nyebar undangan." tambah Arga.


Herman kembali berohh ria.


"Ayah nggak kerumah Om Wira?" tanya Arga.


"Iya nih Ayah kenapa nggak kerumah papa padahal masih ada Bu Asih disana." goda Sara.


Herman berdecak, "Ayah udah nyatain perasaan sama Dik Asih."


Arga dan Sara yang baru saja menelan makanannya pun langsung tersedak mendengar ucapan Herman.


"Trus ditolak?" tebak Arga.


Herman menatap Arga kesal, "Jangan sembarangan, Dik Asih hanya masih belum bisa ngasih jawaban sekarang!"

__ADS_1


Arga tertawa, "Kirain di tolak."


"Kamu pengen Ayah ditolak?" Herman masih menatap Arga kesal.


"Ya enggak dong Yah, sukanya negatif thinking sama anak sendiri." gerutu Arga.


"Sudah sudah kenapa malah jadi omel omelan." ucap Sara melerai, "Kalau masih belum dikasih jawaban harusnya Ayah sering datang dong, berusaha dan membuktikan kalau Ayah memang serius dengan Bu Asih." saran Sara.


"Kayak Arga dulu juga gitu Yah, kejar terus sampai akhirnya bisa bikin Sara klepek klepek." ucap Arga yang lagi lagi membuat kedua mata Sara melotot ke arahnya.


Herman terdiam sejenak, seolah memikirkan ucapan anak dan mantunya yang cukup masuk akal.


"Jadi Ayah harus sering sering kesana nih?" tanya Herman.


"Iyalah Yah biar Bu Asih luluh dan mau menikah dengan Ayah."


"Oke kalau gitu Ayah berangkat sekarang." ucap Herman langsung beranjak dari duduknya.


"Ayah nggak malu kesana pakai piyama kayak gitu?" Arga mengingatkan Herman yang masih memakai piyama.


"Ohh iya lupa, Ayah belum mandi." Balas Herman tersenyum malu lalu kembali ke kamarnya.


"Udah pikun masih aja ngebet mau nikah." omel Arga yang langsung mendapatkan pukulan dilengannya.


"Sakit Dik Sara." ucap Arga mengelusi lengannya yang baru saja dipukul oleh Sara.


Sontak Sara langsung tertawa mendengar Arga memanggilnya Dik Sara.


Arga dan Sara segera berangkat ke kantor selesai sarapan. keduanya kini sudah berada didalam mobil.


"Nanti mungkin nggak bisa makan siang bareng soalnya aku ada meeting sama pihak Ergo Company." ucap Sara setelah melihat jadwal pekerjaannya yang baru saja dikirim oleh sekretarisnya.


"Ergo company? Suruh Faris atau orang kantormu saja!" pinta Arga.


Sara berdecak, "Ya nggak bisa mas, itu kan kerjaan aku."


"Nggak mau tahu pokoknya kamu nggak boleh pergi." ucap Arga.


"Apa sih mas? nggak usah aneh aneh deh!" omel Sara mulai kesal.


"Ergo itu terkenal ganjen sama cewek, nggak... Pokoknya aku nggak mau kamu ketemu sama dia!"


"Astaga mas, nggak usah kekanakan. Aku juga nggak mungkin mau sama dia."


"Tetap saja nggak boleh." ucap Arga lalu keluar dari mobil dan masuk ke kantor Sara.


"Mau ngapain dia!" Sara langsung mengejar Arga yang masuk keruangan Faris.


Faris yang sudah berada dikantor menatap Arga dan Sara bergantian.


"Kenapa kalian?" heran Faris.


Arga tersenyum manis lalu mendekati Faris, "Mas Faris, sebentar lagi kan kita bakal jadi adik sama Kakak jadi boleh nggak kalau calon adikmu ini minta tolong?''


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2