TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
38


__ADS_3

Nathan berlari memasuki gedung apartemen Mira dengan membawa sesuatu yang Ia beli dari luar.


Senyum Nathan mengembang seolah tak sabar mengetahui sesuatu.


Nathan mempercepat langkah kakinya hingga akhirnya Ia kembali sampai di apartemen Mira.


"Cobalah ini." pinta Nathan memberikan bungkusan plastik yang Ia bawa.


Dengan tubuh lemas, Mira mencoba mengapai plastik itu lalu membuka isinya.


"Apa maksudmu?" tanya Mira dengan nada marah saat mengetahui apa yang baru saja dibeli oleh Nathan "Aku tidak mau!" omel Mira lalu membuang plastik yang ternyata berisi beberapa merek tespack.


"Tubuhmu pusing dan lemas, kau bahkan muntah muntah, bukankah itu tanda hamil?"


Mira terdiam, apa yang dikatakan oleh Nathan memang benar. Ia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya sejak kemarin dan lagi Ia juga ingat jika sudah terlambat haid bulan ini.


Nathan mengambil tespack yang berceceran dilantai lalu memberikan salah satu kepada Mira. "Cobalah 1 saja." pinta Nathan.


"Biasanya lebih efektif saat mencobanya di pagi hari." kata Mira akhirnya.


Nathan tersenyum, "Kalau begitu, istirahatlah. Kita akan mencoba besok pagi."


"Kau tidak pulang?" tanya Mira.


Nathan menggelengkan kepalanya, "Kau sedang sakit jadi aku akan menemanimu disini."


Mira terlihat lega, Ia memang takut sendirian di apartemen saat sakit. Beruntung ada Nathan jadi dirinya tidak harus merasa takut lagi.


"Ayo ku antar ke ranjang mu." Nathan memapah tubuh Mira, membantu Mira berbaring dan menyelimuti tubuh Mira.


"Tidurlah." kata Nathan lalu mengecup kening Mira.


Mira terdiam menatap Nathan, entah mengapa dadanya terasa sesak. Seharusnya Rizal yang berada disini menemaninya namun nyatanya pria itu bahkan sudah tidak peduli dengannya lagi.


"Hey kenapa kau malah menangis?" suara Nathan terdengar lembut saat melihat Mira meneteskan air matanya.


"Kenapa harus kau yang ada disini kenapa bukan Rizal?"


Raut wajah Nathan berubah kecewa, "Bukankah aku sudah sering mengatakan padamu, lupakan pria itu. Dia bahkan akan melupakanmu jika sudah mencintai istrinya."


Mira menggelengkan kepalanya, "Tidak, dia tidak mencintai istrinya!" ucap Mira dengan tegas.


"Lalu jika dia masih mencintaimu, kenapa dia tidak menemanimu disini padahal kau sedang sakit?"

__ADS_1


Jlebb... Pertanyaan Nathan seolah membuat Mira merasa ditusuk pisau tepat di dadanya. Sesak, rasanya semakin sesak nafasnya.


"Dia mengatakan akan selalu mencintaiku, ya dia mengatakan itu padaku." Mira masih berusaha meyakinkan dirinya.


"Baiklah jika kau menganggapnya seperti itu. Aku harap kau tidak kecewa dengan harapanmu sendiri." kata Nathan lalu keluar dari kamar Mira marah, Nathan bahkan menutup pintu kamar dengan kasar hingga menimbulkan suara.


Tangis Mira semakin pecah, Ia benar benar tak bisa berpikir dengan jernih saat ini.


Tengah malam...


Rizal terbangun dari lelapnya. Ia pikir Vanes sudah tidur disampingnya namun ternyata tidak. Sampingnya kosong tidak ada siapapun.


Rizal merasa geram dan keluar untuk mencari keberadaan Vanes karena disofa pun tidak ada. Pertama Rizal mencari dikamarnya, sudah jelas Vanes tidak ada disana. Rizal akhirnya turun ke bawah. Diruang keluarga tidak ada, ruang tamu tidak ada terakhir Ia membuka kamar yang pernah dipakai Faris.


Terkunci... Rizal tidak bisa membuka pintunya.


"Sial, apa dia didalam sana!" Rizal terlihat sangat geram.


Rizal akhirnya pergi ke kamar Bik Sri lalu mengedor pintunya dengan kencang, "Buka pintunya!" teriak Rizal tanpa memperdulikan jika ini sudah tengah malam.


Tak berapa lama pintu kamar Bik Sri terbuka, "Tuan... Ada apa?" Bik Sri terlihat sangat terkejut.


"Berikan aku kunci cadangan kamar Faris!"


"Ta tapi Tuan..." Bik Sri ingin menolak permintaan Rizal namun pelototan mata Rizal membuat Bik Sri takut hingga akhirnya memberikan kunci cadangannya.


Rizal mengepalkan tangannya, dengan kasar Ia menarik guling yang dipeluk oleh Vanes membuat wanita itu terkejut dan akhirnya bangun.


"Kembali ke kamarmu!" sentak Rizal.


Vanes tadinya yang masih mengantuk kini Ia pun sadar setelah mendengar suara Rizal.


Ia menatap ke arah Rizal yang menatapnya marah.


"Ku bilang kembali ke kamarmu!" sentak Rizal lagi.


"Aku tidak mau." tolak Vanes santai lalu kembali memejamkan mata.


Rizal tak kehabisan akal, Ia akhirnya mengedong tubuh Vanes hingga membuat Vanes terkejut dan mencoba memberontak. Vanes akhirnya jatuh ke lantai karena Rizal tak kuat menopang tubuh Vanes yang tidak bisa diam.


"Apa yang kau lakukan! benar benar menyebalkan!" sentak Vanes.


"Beri aku 1 kesempatan!" pinta Rizal membuat Vanes terdiam.

__ADS_1


"Dalam 5 bulan ini jika kau masih belum kembali mencintaiku, kau boleh meninggalkanku." kata Rizal.


Vanes menatap Rizal, Ia sungguh tidak ingin bernegoisasi apapun lagi dengan Rizal namun perlakuan aneh Rizal membuatnya tak nyaman.


"Hanya 5 bulan, kembalilah menjadi Vanes istri terbaik ku. Jika selama 5 bulan aku berselingkuh lagi atau kau tidak bisa mencintaiku lagi, kau boleh menceraikan aku." kata Rizal dengan mantap, "Hanya 5 bulan, beri aku kesempatan."


Vanes menghela nafas panjang, rasanya memang menyakitkan jika mengingat apa yang sudah Rizal lakukan dulu padanya.


"Sangat sulit untuk memberikan mu kesempatan karena kau sudah sangat menyakitiku."


"Aku minta maaf, aku benar benar menyesal." kata Rizal lalu meneteskan air matanya. Lagi lagi Vanes dibuat terkejut melihat Rizal menangis karena merasa menyesal.


Rizal mengapai tangan Vanes lalu mengenggamnya, "Aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku, aku janji akan menjadi suami terbaik untukmu."


Vanes menunduk, rasanya tak sanggup melihat Rizal menangis apalagi karenanya. Biar bagaimanapun Vanes pernah sangat mencintai Rizal.


Vanes akhirnya mengangguk karena tak ada pilihan lain dan tangis Rizal pun berganti senyuman. Rizal merengkuh tubuh Vanes lalu mengelus kepala Vanes.


"Terima kasih, terima kasih sayang sudah memberiku kesempatan." kata Rizal.


Vanes merasa tak nyaman dengan pelukan Rizal namun lagi lagi Ia tak tega melihat Rizal menangis lagi.


Kini Vanes dilanda kegalauan, Ia memberikan kesempatan untuk Rizal namun hatinya sudah tertulis nama Faris.


Pagi harinya...


Mira memasuki kamar mandi dengan membawa dua tespack yang berbeda.


Tampak Nathan kembali masuk ke kamar untuk menunggu hasil tespack.


Dengan tangan bergetar, Mira melihat tespack itu kini bergaris 2.


Mira menggelengkan kepalanya tak percaya, "Tidak mungkin."


Mira mencoba salah satu tespack lagi dan hasilnya sama, garis 2.


Dengan tangan gemetar, Mira membawa hasil tespack itu keluar dari kamar mandi.


"Bagaimana hasilnya?"


Mira memberikan 2 tespack itu pada Nathan dan langsung membuat Nathan tersenyum lebar.


"Aku memiliki anak, sebentar lagi kita memiliki anak."

__ADS_1


Mira menatap Nathan tak percaya, "Apa maksudmu? Ini anaknya Rizal bukan anakmu!"


Bersambung...


__ADS_2