
Setelah berhasil menyimpan rekaman suara di flashdisk dan laptopnya, Faris memutuskan untuk pulang karena tak ada lagi yang harus Ia kerjakan dikampus.
"Apa kau yakin dia tidak berbahaya?" tanya Vanes merasa khawatir dengan Faris setelah mendengarkan video rekaman suara pak Kades. Menurut Vanes, Pak Kades orang yang licik dan Vanes takut jika Pak Kades memiliki rencana jahat pada Faris.
"Aku pikir dia akan melakukan sesuatu padaku setelah ini tapi jangan khawatir, aku akan baik baik saja." kata Faris meyakinkan Vanes.
"Tapi tetap saja, kau harus berhati hati."
Faris tersenyum lalu merangkul Vanes, "Baiklah, aku akan berhati hati."
Keduanya keluar dari ruang kerja Faris, berjalan menuju tempat parkir motor.
"Kau ingin makan dulu?" tawar Faris.
Vanes menggelengkan kepalanya, "Mungkin sebaiknya kau segera pulang, aku benar benar mengkhawatirkan dirimu."
Faris tersenyum dengan perhatian Vanes, "Aku akan baik baik saja sayang, tenanglah."
Vanes menggelengkan kepalanya, "Pulanglah." pinta Vanes yang akhirnya dituruti oleh Faris.
Setelah mengantar Vanes, Faris kembali melajukan motornya untuk pulang kerumah. Langit sudah mulai gelap meskipun ini masih pukul 5 sore karena hari ini cuaca sangat mendung.
Faris menyusuri jalanan menuju kampungnya dengan tenang hingga disatu jalan sepi ada beberapa anak muda yang nongkrong sampai memenuhi separuh jalan.
Faris menghentikan motornya karena tak bisa lewat.
Ia menatap 3 anak muda yang tidak Ia kenali itu.
"Kasih duit bang!" pinta salah satu anak muda sambil mengebrak motor Faris.
"Nggak ada duit." balas Faris dengan tenang dan santai.
"Alah nggak usah alesan bang, mana kasih duit!" pinta anak muda lainnya dengan sedikit memaksa.
"Dibilang nggak ada duit, ngeyel!"
"Ya udah ponsel Abang siniin."
Faris menatap satu persatu anak muda itu, Ia sangat yakin jika mereka pasti orang suruhan Pak Kades karena wajah mereka tampak asing.
"Punya ponsel jadul, nggak bakal laku dijual." ucap Faris tidak mengeluarkan ponselnya yang Ia simpan di kantong celana.
__ADS_1
"Alah alesan aja Bang, kasih ponsel mu atau mau mati!" ancam Mereka yang terlihat tak sabar.
Faris tak mengubris, Ia kembali menyalakan motornya namun salah satu anak muda itu langsung merebut kunci motor Faris hingga motor Faris kembali mati.
"Turun Lo Bang!" anak muda lainnya menarik kerah baju Faris.
Baru ingin memukul Faris namun dengan cepat Faris menangkis pukulan itu dan malah memukul balik hingga membuat anak muda itu tersungkur.
Tak terima temannya dipukul, 2 pria muda lainnya ikut menyerang Faris bersamaan. Beruntung Faris bisa menghindar dan langsung memukul 2 pria itu bergantian hingga ketiga anak muda itu jatuh tersungkur ditanah.
Namun ternyata tak cukup sampai disitu, ketiga anak muda itu bangun bersamaan dan kembali menyerang Faris.
Faris sedikit kewalahan namun akhirnya Ia bisa melawan ketiga anak muda itu satu persatu hingga mereka benar benar tak lagi melawan. Ketiga anak muda itu langsung kabur dari tempat itu. Mereka tak menyangka jika Faris jago karate.
Faris berdecak lalu kembali menaiki motornya. Faris melajukan motornya dan pulang kerumah.
Sementara itu dirumah Pak Kades, tampak Pak Kades memarahi ketiga anak muda yang wajahnya babak belur karena tak berhasil melawan Faris.
"Kalian ini bertiga dan jago karate, bagaimana bisa kalah melawan Faris yang sendirian!"
Salah satu anak muda mendongak dan menatap Pak Kades, "Tapi karate mas Faris jauh lebih hebat dari kami pak, kami tidak bisa melawannya padahal sudah menyerang bersama."
Pak Kades memeganggi kepalanya yang mendadak berdenyut pusing. Gagal sudah rencananya untuk merebut ponsel milik Faris. Kini Ia sudah tidak ada alasan untuk melawan Faris.
Ketiga anak muda itu akhirnya pergi meninggalkan rumah Pak Kades.
"Gagal pak?" tanya Bu Kades yang baru saja dari luar rumah.
"Iya, mereka gagal melawan Faris!"
"Aduh, udah mendingan nyerah saja pak, kita cari pria lain buat Ani lagian banyak juga yang suka sama Ani dikampung kita ini." Saran Bu Kades.
"Memang benar banyak yang suka sama Ani tapi Bapak maunya sama Faris. Kalau Faris itu dia sudah jadi dosen sementara yang lainnya hanya pengganguran, Bapak nggak mau!"
"Trus Bapak masih belum menyerah? Gimana kalau nanti Faris malah buka suara, bilang sama orang orang kalau Ani hamil?" tanya Bu Kades terlihat takut.
"Tidak, Bapak yakin dia tidak berani. Bapak mau kerumah juragan jagung dulu agar tidak ngambil jagung ditempatnya Slamet, dengan begitu Faris tidak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan kita." kata Pak Kades mantap.
Bu Kades menyerah, Ia memilih pasrah saja dengan rencana Pak Kades yang sudah mantap tetap memilih Faris.
Pak Kades bersiap untuk pergi, Baru sampai didepan rumah beberapa warga tampak berlari ke rumah Pak Kades.
__ADS_1
"Pak gawat pak, gawaaat..." teriak Fanis salah satu teman Ani yang juga tetangga samping rumah.
"Gawat kenapa Nis?" tanya Bu Kades.
"Mbak Ani pingsan."
Pak Kades dan Bu Kades terkejut dan saling bertatapan.
"Memang dia kemana?" tanya Pak Kades yang bahkan tidak tahu jika Ani berada diluar rumah.
"Tadi pamit sama Ibu, katanya mau jalan jalan."
"Ibu kasih ijin?" Pak Kades menatap kesal Bu Kades.
"Iya habis anaknya maksa lagian kasihan pak."
Pak Kades berdecak, benar benar kesal dengan Bu Kades yang sembarangan mengizinkan Ani keluar rumah padahal dirinya sudah mengatakan berkali kali agar Ani jangan sampai keluar rumah apalagi bertemu dengan teman sebayanya mengingat kondisi Ani masih belum baik.
Kehamilan awal membuat Ani sering muntah dan tidak bisa makan sembarangan, itulah yang membuat Pak Kades khawatir jika berada diluar rumah, gejala hamil Ani kumat bisa bisa semua orang curiga dan tahu tentang kehamilan Ani.
"Sekarang dimana Ani?" tanya Pak Kades.
"Dibawa ke klinik sama warga pak."
Rasanya jantung Pak Kades ingin copot saat ini juga. Dengan langkah kaki gemetar, Pak Kades memasuki mobilnya, mengabaikan orang orang yang mengajaknya bicara termasuk Bu Kades.
Pak Kades melajukan mobilnya menuju klinik yang dimaksud oleh Fanis.
Sesampainya di klinik ada 5 orang yang membawa Ani, 3 pria dan 2 wanita, mereka semua adalah tetangga dari Pak Kades.
"Neng Ani pingsan jadi saya langsung bawa kesini karena takut terjadi sesuatu sama Neng Ani." ucap salah satu pria yang membawa Ani dengan nada bangga seolah menunggu pujian dari Pak Kades.
"Aku tidak meminta kalian membawa Ani kesini!" sentak Pak Kades dengan wajah marah membuat kelima orang itu terkejut dan menatap satu sama lain.
"Jika yang kalian inginkan adalah pujian dariku, ingat aku bahkan tidak akan memberikan itu!" tambah Pak Kades benar benar membuat kelima orang itu bingung, tak mengerti apa salah mereka.
Dokter keluar dari ruangan, membuat semua orang berhamburan mendekat, "Pasien mengalami pendarahan ringan, beruntung janinnya bisa diselamatkan."
Sontak ucapan Dokter itu membuat semua orang terkejut dan menatap ke arah Pak Kades.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeennn