TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
194


__ADS_3

Jam istirahat, Nanang pergi ke kantin untuk makan siang. Ia melihat ada Arka yang juga ada dikantin. Nanang menghampiri Arka lalu duduk disamping Arka.


"Lagi ada masalah?" tanya Nanang melihat sejak pagi Arka tidak masuk ke kelas alias bolos jam pelajaran.


Arka menggelengkan kepalanya, "Kaga ada."


"Jangan bohong, tadi pagi emak Lo nyariin." ungkap Nanang.


Arka berdecak, "Gue berangkat pagi dan emak gue belum bangun."


Nanang tersenyum, "Kalau Lo mau cerita, gue tunggu di rooftop." ucap Nanang lalu pergi meninggalkan Arka sambil membawa sebotol air minum dan sebungkus batagor.


Arka terdiam cukup lama hingga akhirnya Ia beranjak dari duduknya dan pergi mengikuti Nanang.


"Emak gue dilamar orang lagi." Ucap Arka akhirnya menceritakan pada Nanang sahabatnya sejak kecil.


"Bagus dong, Lo jadi punya bapak."


Arka menggelengkan kepalanya, "Prinsip gue masih sama, enggak mau Bapak gue tergantikan."


Nanang tersenyum lalu menepuk bahu Arga, "Orang mana yang nglamar emak Lo?"


"Majikan emak gue katanya."


Nanang terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia berbicara, "Emang Lo nggak kasihan sama Emak Lo?"


"Kasihan gimana?"


"Ya setiap hari emak harus kerja banting tulang sampai Ldr sama Elo,"


"Ya kasihan, cuma bukan berarti emak gue harus nikah. Gue mau kok gantiin emak gue kerja, biar gue aja yang kerja." ungkap Arka.


"Mampu belum? Kita aja belum lulus sekolah dan kalaupun Lo ada kerjaan sampingan juga nggak akan cukup untuk biaya hidup sama sekolah." kata Nanang yang entah mengapa langsung masuk ke dalam pikiran Arka.


"Kalau calon suami Emak Lo itu kaya, seegaknya Emak Lo nggak harus kerja dan Lo punya masa depan cerah tapi kalau calon suami Emak Lo cuma orang biasa yang mengharuskan Emak Lo masih kerja, Baru deh Lo nggak setuju nggak apa apa."


Ucapan Nanang lagi lagi membuat Arka terdiam, apa yang Nanang ucapkan ada benarnya juga. Jika Ibunya menikah dengan orang kaya mungkin masa depannya akan terjamin.


"Tapi gimana, gue nggak mau almarhum Bapak gue jadi dilupain." kata Arka.


Nanang menepuk bahu Arka, "Nggak mungkin dilupain Ka... Pasti emak Lo masih nyimpen Bapak Lo didalam hatinya cuma versinya sudah beda soalnya Bapak Lo udah meninggal, nggak mungkin kan Emak Lo sedih terus mikirin kenangan sama Bapak Lo."


Arka mengangguk setuju, apa yang Nanang ucapkan memang banyak benarnya. hidup harus bangkit dan terus berjalan meskipun kita sudah kehilangan orang yang disayang tapi bukan berarti kita harus berhenti ditengah jalan.


"Thanks Nang." ucap Arka sembari tersenyum, Ia merasa lega karena akhirnya bebannya pikirannya sejak semalam sudah terangkat.


"Coba aja ketemu sama calon suami Emak Lo... ntar juga ketauan dia orang baik atau bukan dan setelah Lo ketemu baru lah bisa mutusin mau ngasih restu atau nggak."

__ADS_1


Arka mengangguk, "Tapi jujur, dalam hati gue ada sedikit rasa nggak rela Nang."


Nanang tersenyum, "Coba bayangin gini, emak Lo nggak nikah sampai Lo lulus kuliah abis itu Lo kerja dan nggak lama Lo nikah, Lo akan fokus sama istri Lo dan gimana nasib emak Lo? Bakal kesepian, merasa sendiri." kata Nanang memberi perumpamaan yang membuat Arka serasa dipukul kepalanya.


"Ya udah kalau gitu gue mau ketemu sama calon suami emak gue."


"Nah gitu dong, nggak ribet." kata Nanang dan Arka hanya tersenyum.


...****************...


Setelah selesai pemakaman, Wira pergi ke kantor polisi untuk menanyakan perkembangan kasus Ken.


Wira langsung menemui polisi yang menangani kasus kematian Ken.


"Kami menemukan rekaman cctv Ken sewaktu dirumah sakit, Apa Tuan mengenal gadis yang keluar dari ruang rawat ini?" tanya polisi memperlihatkan rekaman cctv dimana Ken keluar dari ruang rawat inap sambil mengenggam tangan gadis itu.


Wira mengangguk karena jelas Ia tahu jika gadis itu adalah Alea, selingkuhan Ken.


"Ya, dia pernah bekerja dirumahku." kata Wira.


"Kami sedang mencari wanita ini untuk menjadi saksi karena Ken terakhir terlihat bersama wanita ini."


Wira kembali mengangguk, "Putri dan menantuku yang membawa gadis itu setelah bulan madu, dia tidak mempunyai keluarga."


"Apa mungkin gadis itu memiliki hubungan dekat dengan Ken?"


"Pak kami sudah menemukan gadis itu." ucap polisi lain yang baru saja datang ke kantor.


"Bagus, bawa gadis itu ke ruang pemeriksaan."


"Baik pak."


"Tuan Wira saya harus menyelidiki gadis itu." kata polisi itu.


"Apa saya boleh ikut kesana?"


Polisi itu menatap Tuan Wira sejenak sebelum akhirnya Ia mengangguk, "Tidak masalah, anda bisa ikut."


Polisi dan Wira segera memasuki ruang pemeriksaan dimana ada seorang gadis yang tertunduk lemas di kursi dengan pandangan mata kosong.


"Siapa namamu?" tanya polisi itu memulai pertanyaan.


"Alea."


"Kau mengenal Ken? Pria yang kemarin dibunuh dirumahnya?"


Alea mengangguk, "Ya, aku mengenalnya."

__ADS_1


Wira yang juga ada disana terlihat menyimak sambil menatap ke arah Alea.


"Kamera cctv rumah sakit memperlihatkan kau keluar ruangan bersama Ken dan Dokter mengatakan jika seharusnya kau masih dirawat disana, kenapa kau pergi?"


Alea tersenyum tipis, "Ken yang memaksa ku pergi."


"Lalu kemana kalian pergi setelah itu?"


"Kami pulang kerumah."


Polisi itu menatap Alea tak percaya, semua pertanyaan dijawab dengan tenang oleh Alea dan sama sekali gadis itu tak terlihat berbohong.


"Apa yang kalian lakukan dirumah?"


"Dia memperkosaku."


Polisi dan Wira sangat terkejut dengan pengakuan Alea.


"Memperkosa? Bukankah kau baru saja keguguran?"


Alea mengangguk, "Rasanya menyakitkan, sangat menyakitkan. Dia memperkosaku seperti psikopat tanpa belas kasihan sedikitpun." ungkap Alea.


Wira yang sedari tadi mendengarkan, menggelengkan kepalanya tak percaya jika Ken bisa berlaku sekejam itu pada Alea.


"Lalu apa kau membunuhnya?"


Alea menatap polisi itu lalu bergantian menatap Wira dan tersenyum tipis, "Maafkan aku, karena aku sudah membunuhnya Tuan." akui Alea masij tersenyum.


"Aku menusuk 1 kali di bagian perut karena dia sudah membunuh calon anak ku."


"Apa? Dia membunuh calon anak mu?" tanya polisi itu.


Alea mengangguk, "Aku hamil dan dia tak senang lalu membuatku keguguran." balas Alea, "Aku menusuk 1 kali di bagian dada karena dia sudah menyakiti hatiku dan terakhir aku menusuk 1 kali di bagian leher karena dia suka mencekik ku." akui Alea.


"Mengapa kau mengakuinya?"


"Karena memang aku yang sudah membunuhnya. aku memberikan cinta dan seluruh hidupku untuk Ken tapi pria brengsek itu menghancurkan hidupku tanpa belas kasihan. Setiap kali dia marah aku selalu menjadi sasaran hingga akhirnya hal seperti itu terjadi."


Polisi itu menghela nafas panjang, "Jika kau mengakui semua kau juga harus siap untuk dipenjara kan?"


Alea mengangguk, "Aku sudah siap dengan segala resiko yang akan terjadi termasuk jika aku dipenjara." kata Alea.


"Aku memang mencintainya tapi bukankah kesabaran ada batasnya?" tanya Alea menatap ke arah polisi dan Wira secara bergantian lalu tersenyum.


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komen yaaa

__ADS_1


__ADS_2