
Faris kecil berlari menghampiri Slamet yang tengah istirahat digubuk. Slamet baru saja panen jagung, Ia kelelahan dan memutuskan untuk istirahat sejenak.
"Bapak..." suara cempreng Faris langsung membuat Slamet tersenyum.
Slamet langsung membawa Faris ke pangkuannya, "Faris sama Ibu bawain Bapak makan siang." ucapnya sambil tersenyum riang.
Slamet mengangguk, melihat Asih berjalan ke arahnya dengan membawa rantang berisi makan siang untuknya.
"Ibu ditinggal sama Faris." keluh Asih.
Faris tertawa geli, "Ibu lama sih, Faris kan larinya cepet." pamer Faris kecil begitu mengemaskan membuat Slamet tak tahan untuk tidak mencium pipinya.
"Bapak bau!" omel Faris namun tidak menghentikan Slamet dan terus menciumi putra semata wayangnya itu.
"Bapak bau karena carikan kita uang buat makan Faris," ucap Asih yang kini tengah menyiapkan makanan untuk Slamet.
"Iya deh iya, nggak apa apa dicium lagi." Faris mempersilahkan pipinya dicium lagi oleh Slamet.
Faris tersenyum kala memutar memori masa kecilnya. Meskipun Faris hidup serba kekurangan namun Ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari orangtuanya.
"Mas kebablasan..." suara Vanes membuyarkan lamunan Faris, Sadar ternyata kos Vanes sudah terlewat.
"Mikirin apa sih Mas? Ada masalah apa?" tanya Vanes dengan raut kesal.
Vanes tahu jika Faris sedang ada masalah hanya saja Faris enggan bercerita padanya.
"Nggak ada apapun sayang, aku melamun tadi."
Vanes menghela nafas panjang, Ia tak ingin memaksa Faris untuk cerita karena Ia pikir Faris belum siap menceritakan padanya.
"Nanti nggak usah jemput sini, aku biar diantar sama Nani soalnya Nani bilang mau jajan kesana." kata Vanes yang langsung diangguki oleh Faris. "Mas Faris pulangnya hati hati, jangan melamun lagi."
Faris tersenyum lalu mengacak rambut Vanes, "Iya sayangnya aku yang bawel."
Setelah melihat Vanes tersenyum, Faris segera melajukan motornya pulang kerumah.
Dalam perjalanan, Faris kembali melamun mengingat memori masa kecilnya yang kembali terputar.
"Faris anak petani, Faris anak petani. Hahahaha." ejek beberapa teman Faris saat pulang sekolah.
Faris hanya menunduk sedih mendengar ejekan temannya itu, Ia tidak mungkin melawan karena yang mereka ucapkan benar, Faris hanya anak petani.
"Kayak Bapak aku dong jadi guru." pamer salah satu temannya.
__ADS_1
"Bapak aku juga punya toko." teman Faris yang lain ikut menimpali.
"Cuma Bapak kamu aja yang jadi petani Haha."
Faris tetap berjalan sambil menunduk mencoba tak memperdulikan ucapan teman temannya. Waktu itu Faris kelas 3 sd, masih sangat kecil.
"Kalau bapak kamu kerja kayak bapak kita nggak mungkin kamu jalan kaki, pasti kamu punya sepeda kayak kita." ejek teman Faris lagi yang memang saat ini mereka naik sepeda, hanya Faris yang jalan kaki.
"Hey sudah cukup jangan diejek lagi, kasihan." ujar salah satu teman Faris yang sedari tadi hanya diam tidak ikut mengejek.
"Kami nggak ngejek, memang kenyataannya Faris anak orang miskin Hahaha." Tawa teman teman Faris membuncah lalu mengayuh sepeda mereka lebih cepat dan meninggalkan Faris seorang diri.
Air mata Faris mulai terlihat, Faris ingin menangis namun Ia tahan.
"Bapak bilang laki laki nggak boleh cenggeng." gumam Faris meraup wajahnya agar tak jadi menangis.
Sampai dirumah, Faris melihat Asih tengah makan menyiapkan makan siang dimeja makan.
"Eh anak Bapak sudah pulang." ucap Slamet yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Faris tak menjawab, mengacuhkan senyuman kedua orangtuanya dan langsung masuk ke kamar, membuat kedua orangtuanya bingung.
Faris duduk dimeja makan bersama orangtuanya, lagi lagi makan siang hari ini hanya dengan sayur sop dan tempe goreng.
"Apa maksudnya ini Nak? Apa kamu malu?"
"Iya pak, Faris malu. Faris di ejekin sama temen temen karena kita miskin!" ucap Faris setengah membentak lalu pergi meninggalkan meja makan, memasuki kamarnya.
Didalam kamar Faris menangis, Ia masih sangat kecil tapi sudah mengalami hal seperti ini.
Sepulang dari ngaji dirumah pak ustad, Faris tak sengaja melihat raut wajah sedih Slamet yang tengah duduk diruang tamu. Seketika Faris merasa bersalah, Ia segera menghampiri Bapaknya itu.
"Kata Pak Ustad kita nggak boleh menyakiti hati orangtua, dosa." ucap Faris yang langsung membuat Slamet tersenyum, "Faris sudah menyakiti hati Bapak, maafkan Faris."
Terharu dengan ucapan Putranya, Slamet segera membawa Faris ke dalam pelukannya, "Faris anak soleh, Faris anak baik mana mungkin menyakiti Bapak." ucap Slamet.
Lamunan Faris buyar saat Ia hampir menabrak ayam yang akan menyebrang jalan.
"Ck, hampir saja." gumam Faris sambil tersenyum.
Perjalanan pulang kali ini sangat lambat, entah mengapa Faris ingin memutar memori masa kecilnya itu.
Pagi itu setelah berbaikan dengan Slamet, Faris yang baru bangun tidur membalas senyuman hangat kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Kita sholat subuh dulu yuk." ajak Slamet yang langsung diangguki oleh Faris.
Setelah sholat subuh, tiba tiba Slamet membawa Faris ke dalam pelukannya, "Anak bapak sudah besar." gumamnya.
Faris tersenyum, "Kalau sudah besar nggak boleh dicium lagi lho pak." balas Faris.
Slamet tertawa, "Setelah ini paling kamu yang cium Bapak."
Faris menatap Slamet, tak mengerti apa maksud ucapan Slamet, "Ayo keluar sebentar."
Faris menurut dan langsung mengikuti langkah kaki Slamet.
Dan betapa terkejutnya Faris saat melihat ada sepeda baru diluar rumah. Sepeda yang bahkan lebih bagus dari milik teman temannya.
"Ini buat Faris." ucap Asih.
Faris bersorak, Ia tak menyangka akan memiliki sepeda impiannya.
Faris langsung mencium pipi Asih dan Slamet bergantian.
"Kan, apa Bapak bilang. Kamu pasti yang nyium Bapak sama Ibu."
Faris tertawa malu mengingat ucapan Slamet, untuk pertama kalinya Faris kecil mau mencium orangtuanya tanpa ada paksaan.
Semenjak memiliki sepeda, tidak ada lagi yang membully Faris. Semua anak seumuran Faris akhirnya mau berteman dengan Faris.
Semakin bertambah umurnya Faris semakin bersyukur memiliki orangtua seperti Asih dan Slamet.
Teman teman Faris memang kebanyakan berasal dari orang kaya tapi mereka kekurangan kasih sayang dari orangtua mereka berbeda dengan Faris yang mendapatkan kasih sayang berlebih dari orangtuanya meskipun hidupnya hanya pas pasan. Bahkan kini teman teman Faris yang dulu membullynya malah menjadi anak muda berandal yang tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran, tidak seperti Faris yang sudah menjadi Dosen.
Faris sangat menyayanggi kedua orangtuanya, belum pernah sekalipun Faris membantah ucapan kedua orangtuanya. Hanya saat ini ya hanya saat ini saat Slamet meminta Faris untuk memakai uangnya, Faris menolak.
Faris mengerutkan keningnya saat melihat rumahnya ramai banyak orang.
"Yang sabar ya Ris ... Yang sabar." ucap salah satu tetangga yang membuat Faris keheranan.
"Ada apa ini?"
"Bapak kamu sudah tiada."
Faris menjatuhkan helmnya dan Ia kini mendengar suara tangis Asih.
Bersambung....
__ADS_1