
Semalaman Herman tidak bisa tidur memikirkan ucapan Wira juga memantapkan hatinya jika apa yang Ia rasakan untuk Asih benar benar tulus dari hatinya.
Herman sudah mendapatkan restu dari Arga dan rencananya Herman juga akan meminta restu dari Faris.
Herman ingin mendapatkan restu dari kedua putra sebelum mengejar cinta Asih.
Meskipun masih ragu untuk menemui Faris namun akhirnya Herman memantapkan diri dan pergi ke kantor Faris pagi ini.
Dan disinilah Herman sekarang, berhadapan dengan putra Asih yang masih diam memikirkan jawaban yang ditunggu oleh Herman.
"Kalau memang sulit, Om nggak akan maksa Faris. Om akan menunggu sampai kamu bisa menjawab." ucap Herman.
Faris menggelengkan kepalanya, "Kalau Faris terserah sama Ibu saja. Kalau Ibu mau menikah sama Om, Faris tidak masalah tapi kalau Ibu nggak mau, Faris harap Om jangan kecewa dan bisa mengerti keputusan Ibu."
Herman tersenyum, "Artinya kamu setuju kan?"
Faris mengangguk, "Faris hanya minta tolong jika Ibu menerima pinangan Om, jaga Ibu dengan baik jangan sampai menyakiti Ibu." pinta Faris.
"Oh itu sudah pasti Faris, kamu bisa percaya sama Om."
"Dan kalau Ibu menolak lamaran Om, Faris harap Om jangan marah ataupun kecewa karena Ibu memang masih belum bisa melupakan mendiang Bapak."
Herman mengangguk, "Om mengerti. Asalkan kamu sudah memberi lampu hijau, Om akan berusaha agar Asih menerima cinta Om meskipun harus menunggu lama."
Faris tersenyum, "Makasih Om."
Herman menepuk pundak Faris, "Om yang terima kasih sama kamu karena kamu percaya sama Om."
Faris mengangguk lalu kembali tersenyum.
"Om itu jatuh cinta pada pandangan pertama sama Dik Asih." ungkap Herman yang langsung membuat Faris tertawa.
"Om bisa saja."
Setelah cukup lama mengobrol dengan Faris, Herman memutuskan untuk pulang karena tak ingin menganggu pekerjaan Faris.
"Gimana Yah?" suara Sara mengejutkan Herman yang sedang menunggu lift terbuka.
"Gimana apanya?" Herman pura pura tak mengerti maksud Sara.
"Dapet lampu hijau nggak dari Mas Faris?"
Herman mengangguk, "Jelas dapet lah, Papa gitu." ucap Herman dengan nada sombong.
"Jiah, jangan seneng dulu Yah, ngejar Bu Asih lebih berat."
Herman menghela nafas panjang, "Kamu bener, perjuangan belum berakhir."
"Fighting Yah." Sara memberi semangat pada Ayah mertuanya.
"Doakan Ayah biar Dik Asih bisa luluh dan menerima lamaran Ayah."
__ADS_1
Sara tertawa, setiap Herman menyebut nama Dik Asih memang mengundang tawa semua orang.
"Dahlah, Sara mau balik kerja dulu." Ucap Sara meninggalkan Herman yang kini sudah masuk ke lift.
Siang harinya Faris keluar kantor untuk menjemput Vanes pulang. Hari ini Vanes hanya memiliki 1 kelas jadi bisa pulang lebih awal.
"Tumben nggak sama Rio?" tanya Faris melihat Vanes berjalan sendiri keluar kampus padahal biasanya ada Rio yang selalu menemani Vanes.
"Rio nggak berangkat mas."
"Kenapa? Sakit?"
Vanes menggelengkan kepalanya, "Pulang kampung mas, saudaranya ada yang nikah."
Faris berohh ria, "Tadi pagi Om Herman ke kantor."
Vanes mengerutkan keningnya, "Masalah kerjaan?"
Faris menggelengkan kepalanya, "Masalah hati katanya."
"Maksudnya gimana mas?" Vanes masih tak mengerti.
"Om Herman naksir sama Ibu."
Uhuk uhuk... Seketika Vanes langsung tersedak saking terkejutnya.
"Pantes saja Om Herman suka caper kalau ada Ibu."
Vanes mengangguk, "Dan aku rasa Ibu nggak ada niat buat move on dari Bapak."
"Bener, kenangan bersama Bapak cukup baik jadi mungkin Ibu nggak mau ada yang menggantikan posisi Bapak." kata Faris.
"Tapi kamu gimana mas?"
"Selama Ibu mau dan bahagia sama Om Herman, aku nggak masalah."
"Jadi Mas Faris merestui?"
Faris mengangguk.
Vanes tersenyum, "Kenapa akhir akhir ini keluarga kita banyak yang nikah ya?"
Faris kembali mengangguk, "Bener, mana gantian lagi nikahnya."
"Musim nikah." celetuk Vanes yang langsung membuat Faris tertawa.
Mobil yang dilajukan Faris baru saja memasuki gerbang. Faris melihat ada mobil Herman juga disana.
"Nah baru di omongin udah ngapel aja." celetuk Vanes lalu tertawa.
"Aku nggak masuk, mau langsung balik ke kantor."
__ADS_1
Vanes mengangguk, "Hati hati ya mas."
Faris mengelus kepala Vanes dan membiarkan istrinya keluar dari mobil.
Vanes masuk ke dalam rumah, benar saja Ia melihat Herman tengah duduk diruang tengah bersama Wira.
"Om Herman... Mau ngapain Om?" goda Vanes lalu tertawa.
"Mau ngapel dong." Wira membalas candaan Vanes.
Herman hanya tertawa mendengar candaan Wira dan Vanes.
"Ibu mana Pah?"tanya Vanes lalu melirik ke arah Herman yang kini menatapnya.
"Ada dikamarnya, coba gih kamu tengok, kasihan ini sudah ada yang nungguin." kata Wira yang langsung diangguki oleh Vanes.
Vanes pergi ke kamar Ibu mertuanya. Ia membuka pintu kamar Ibu mertuanya dan melihat Asih tengah terlelap diranjang.
Vanes tak mau menganggu, Ia kembali menutup pintu kamar Ibu mertuanya itu.
"Ibu lagi tidur siang, kasihan deh Om nggak bisa ketemu." ejek Vanes.
Herman berdecak, "Om tungguin lah, pokoknya Om nggak akan pulang sebelum ketemu sama Dik Asih."
Tawa Wira dan Vanes membuncah saat mendengar Herman memanggil Dik Asih.
"Om ini ada ada saja." ucap Vanes.
Puas menggoda Herman, Vanes naik ke atas kamarnya untuk istirahat siang.
Vanes tertidur dan baru bangun pukul 4 sore. Setelah mandi, Vanes turun ke bawah untuk membantu para Ibu Ibu menyiapkan makan malam. Mengingat tidak ada yang menyukai masakan Bik Tri, Wira memutuskan untuk mengembalikan Bik Tri ke bagian laundry dan karena belum mendapatkan pengganti bagian dapur, Asih dan Sri berinisiatif membantu urusan dapur hingga Wira mendapatkan pengganti asisten di dapur.
"Om Herman sudah pulang?" tanya Vanes pada Asih dan Sri.
"Itu ada ditaman belakang sama Mas Wira." balas Sri.
"Haduh betah amat Om Herman disini." celetuk Vanes sambil melihat respon Asih yang terlihat biasa saja bahkan tak terpengaruh sama sekali.
"Apa mungkin ada Ibu jadi Om Herman betah disini?" Vanes memberikan kode pada Asih.
Asih tersenyum, "Mana mungkin seperti itu. Karena ada Pak Wira jadi Pak Herman datang kesini."
Vanes berdecak, seolah tak setuju dengan ucapan Asih, "Ya siapa tahu saja karena Ibu kan?" Vanes masih memaksa.
Asih menggelengkan kepalanya, "Ibu ini sudah tua, sudah tidak memikirkan hal seperti itu. Bagi Ibu sekarang, melihat kamu sama Faris bahagia saja sudah cukup lagipula pasti banyak wanita muda yang tertarik dengan Pak Herman jadi sepertinya tidak mungkin Pak Herman suka sama Ibu." ungkap Asih.
Tanpa disadari, Ada Herman dibalik pintu yang mendengar ucapan Asih.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaa...
__ADS_1