
Faris melihat arloji dipergelangan tangannya, sudah pukul 7 malam, waktunya untuk pulang kerumah.
Faris menutup laptopnya, bersiap memakai jasnya lalu keluar dari ruangannya.
"Mau pulang sekarang?" tawar Faris pada Sara yang terlihat masih sibuk menatap laptop di ruangan Sara.
"Pekerjaanku masih kurang banyak, pulanglah lebih dulu dan aku akan naik taksi." kata Sara.
Faris berdecak, "Bagaimana bisa begitu, aku akan menunggumu sampai selesai." kata Faris namun langsung digelenggi kepala oleh Sara.
"Tidak Mas, pulanglah lebih dulu. Mbak Vanes pasti menunggumu dirumah." kata Sara yang akhirnya diangguki oleh Faris.
"Baiklah baiklah, aku pulang sekarang. Jika butuh dijemput hubungi saja aku atau sopir dirumah."
"Siap Bang."
Faris tersenyum dan keluar dari ruangan Sara. Faris sudah berada diluar, Ia melihat ada Arga yang menunggu didepan kantor.
"Kenapa disini?" tanya Faris berjalan mendekati Arga.
"Aku menunggu Sara, apa dia sudah pulang?" tanya Arga mengerutkan keningnya tak mengerti dengan maksud Arga.
"Kenapa harus menunggu Sara?"
Arga tersenyum tipis, "Aku tahu kau kakak iparnya dan sepertinya aku harus meminta izinmu. Aku tertarik dengan Sara."
Faris terkejut, tak menyangka jika Arga akan mengatakan itu padanya, tadinya Ia pikir Arga menunggu Sara untuk masalah pekerjaan.
"Bagaimana bisa kau mengatakan tertarik padahal baru tadi pagi kau bertemu dengannya?" Faris terlihat tak percaya.
"Kami sudah bertemu sebelumnya." balas Arga santai.
"Tapi apa kau yakin mengatakan itu? Apa kau tahu jika Sara..." ucapan Faris terhenti karena Ia merasa tak memiliki hak untuk memberitahu status Sara pada siapapun.
"Sara kenapa?"
"Lupakan, aku hanya berpesan jika kau tertarik pada Sara tidak masalah tapi jangan sampai kau memberi luka padanya karena jika itu sampai terjadi, aku mungkin tidak akan tinggal diam." kata Faris memperingatkan.
"Oh baiklah kakak ipar, aku tidak akan mempermainkan Sara." kata Arga.
Faris mengangguk, "Masuklah keruangannya, dia masih bekerja disana. Jangan lupa antar dia pulang dengan selamat." ucap Faris sambil menepuk bahu Arga lalu meninggalkan Arga.
Arga tersenyum tipis memandangi punggung Faris dan Ia segera masuk ke kantor Wira hingga sampailah Ia didepan ruangan Sara.
Arga mengetuk pintu Sara dan mendengar Sara menyuruhnya untuk masuk namun Arga tidak kunjung masuk, masih mengetuk pintu hingga mungkin Sara merasa kesal dan membuka pintu.
"Kau? Bagaimana bisa kau disini?" sentak Sara raut wajahnya terlihat kesal.
Arga tersenyum tipis, "Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa masih disini sementara semua orang sudah pulang, lihatlah disini bahkan terlihat menyeramkan. Apa kau tidak takut hantu?"
__ADS_1
Sara berdecak, "Aku tidak takut hantu justru kehadiranmu itu menakutkan." omel Sara.
Arga menghela nafas panjang, "Jadi kau tidak ingin aku menemanimu?"
"Tidak, pergilah saja!"
"Baiklah baiklah, aku akan pergi sekarang." kata Arga lalu berjalan meninggalkan Sara.
"Dasar menyebalkan!" omel Sara lalu menutup pintu.
Sara kembali melanjutkan pekerjaan hingga tanpa Ia sadari sudah pukul 9 malam. Sara bersiap untuk pulang karena jika tidak mungkin tidak ada lagi taksi yang lewat.
Sara keluar dari ruangannya dan gelap karena semua orang sudah pulang.
"Apa apaan ini, kenapa aku harus takut!" omel Sara pada dirinya sendiri mengingat ucapan Arga yang berusaha menakutinya.
Sara terus berjalan hingga Ia kini sudah berada didepan lift. Sara menunggu pintu lift terbuka dan Ia mendengar suara cekikikan seorang perempuan.
"Siapa? Apa masih ada yang dikantor?" teriak Sara namun tidak ada yang menjawab.
Sara kembali mendengar suara cekikikan dan kali ini Ia merinding takut karena saat Ia mencari asal suara tidak ada siapun disana.
Sara kembali menekan tombol lift, berharap pintu lift segera terbuka hingga Sara merasa terkejut setengah mati saat ada yang menepuk pundaknya.
Sara menjerit ketakutan dan berbalik malah memeluk seseorang yang berdiri dibelakangnya.
Hanya beberapa detik hingga Sara sadar dan melihat siapa yang Ia peluk.
Buru buru Sara melepaskan pelukannya dan menjauh dari Arga, "Apa kau takut?" tanya Arga sambil memperlihatkan ponselnya dan ternyata suara cekikikan itu berasal dari ponsel Arga.
"Sialan, apa kau mengerjaiku?" ketakutan Sara berubah menjadi amarah.
Arga tertawa, "Tidak aku hanya ingin membuktikan ucapanmu yang mengatakan jika tidak takut apapun tapi kenyataannya kau takut dan memeluk ku." ejek Arga.
Sara menunduk malu, tak menatap wajah konyol Arga.
Ia memilih masuk lift yang sudah terbuka disusul oleh Arga.
"Setelah sekian lama tidak ada yang memeluk ku kini akhirnya..."
Plak ... plak... Plak... Sara memukuli lengan Arga, "Dasar mesum, dasar pria mesum!"
"Hey kenapa kau marah, kau yang mesum karena memeluk ku!" kata Arga sambil cengengesan.
"Itu karena kau mengerjaiku! Dasar mesum! Menjauh dariku!"
"Tidak akan."
Sara mendengus sebal dan berjalan lebih dulu meninggalkan Arga saat pintu lift terbuka.
__ADS_1
"Masuk ke dalam mobil dan aku akan mengantarmu." teriak Arga karena Sara berjalan cepat meninggalkannya.
"Tidak akan!"
Sara hendak menghentikan taksi namun tangannya ditahan oleh Arga. Pria itu memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Apa yang kau lakukan!" sentak Sara namun Arga malah mengunci pintu membuat Sara tidak bisa keluar.
"Kau gila, kau benar benar gila!"
"Aku hanya ingin mengantarmu pulang, apa masalahnya?" tanya Arga mulai tersulut emosi.
"Aku tidak mau."
"Dan aku akan memaksa." kata Arga santai.
Sara akhirnya diam, tak lagi protes dan memberontak meskipun Ia bingung dengan maksud Arga melakukan ini padanya.
Mobil yang dilajukan Arga sudah sampai didepan rumah Wira. Sara segera keluar tanpa mengatakan apapun bahkan tidak meminta Arga untuk mampir.
"Apa aku tidak boleh masuk?" teriak Arga namun Sara tak menjawab dan malah berlari agar tidak dikejar oleh Arga.
Arga tersenyum geli lalu kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Wira.
Arga menghentikan mobilnya didepan istana milik Herman. Ia segera keluar dari mobil dan melihat Zil berada didepan menunggunya.
"Saya pikir Tuan tidak akan pulang." ucap Zil terlihat lega melihat Arga datang.
"Tentu saja aku pulang jika tidak aku kasihan padamu pasti akan mendapatkan omelan dari Papa."
Zil tersenyum, "Terima kasih atas pengertian Tuan."
"Lagi pula aku juga lelah Zil setiap malam harus berlari menghindari kejaran anak buah Papa." ungkap Arga.
"Jika Tuan menurut, kejar kejaran tidak akan terjadi dan Tuan juga tidak akan lelah."
"Dan kau juga akan senang kan?" tanya Arga menepuk bahu Zil lalu masuk kerumah dimana Herman sudah menunggunya diruang tamu.
"Aku harap ada kabar bagus Ayah." ucap Arga tak sabar.
"Pergilah mandi dan makan malam." pinta Herman.
"Tidak sebelum Ayah memberikan jawaban untuk permintaanku."
Herman menghela nafas panjang, "Aku tidak tahu apa kau masih menerima Sara setelah tahu status Sara."
Arga mengerutkan keningnya tak mengerti, "Katakan apa itu Ayah?"
"Sara itu janda."
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen