TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
72


__ADS_3

Semalaman Faris merenung di sel tahanan, Ia sama sekali tidak tidur karena memang tidak bisa tidur memikirkan nasibnya yang malang berada dipenjara atas sesuatu yang bukan salahnya.


Faris menghela nafas berkali kali, rasanya baru kemarin Ia semangat mengejar kesuksesan demi bisa menikahi Vanes namun sekarang semua itu hilang begitu saja.


Masa depannya suram, Ia tidak lagi bisa membuat orangtuanya bahagia karena fitnah kejam yang menimpanya kali ini.


Faris mengacak rambutnya, merasa kesal hingga Ia melihat satu polisi berjalan ke arah selnya.


Faris mengira jika ada tamu yang ingin menemuinya dan sudah dipastikan tamu itu Vanes, Ya Faris cukup percaya diri Vanes akan datang lagi namun ternyata Faris salah.


"Ikut aku!" pinta polisi itu dan tentu saja Faris mengikuti apa kata polisi itu.


Faris memasuki ruangan dimana ada kepala polisi yang kemarin membawanya kemari.


Faris menatap kesal ke arah kepala polisi itu, "Sekarang apa lagi!" batin Faris.


"Duduklah." pinta kepala polisi itu dengan suara lebih lembut, tidak sekasar kemarin.


Faris mengangguk lalu duduk, meskipun Ia kesal dengan kepala polisi itu namun baginya adab nomor 1.


"Kau akan ku bebaskan hari ini!" ucap Kepala polisi itu yang langsung membuat Faris terkejut setengah mati, "Bebas tanpa syarat dan aku juga akan membersihkan nama baikmu."


Faris menatap Kepala polisi itu, rasanya masih tak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh kepala polisi itu.


Entah doanya atau mungkin doa orangtuanya yang dikabulkan hingga Ia bisa bebas seperti ini.


"Kenapa aku bisa dibebaskan?"


Roni kepala polisi itu tersenyum, "Tadi ada seseorang yang datang dan menyadarkan aku tentang apa yang sudah ku lakukan ini. Aku sadar aku salah. maafkan aku." ucap kepala polisi itu akhirnya mengakui jika Ia sudah berkomplot dengan Pak Kades.


"Siapa orang baik yang sudah menolongku?" Faris nampak penasaran.


"Kau tidak perlu tahu, yang jelas kau bisa pulang sekarang."


Faris tersenyum lebar, meskipun rasanya penasaran tapi Ia tidak mungkin memaksa. "Terima kasih Pak, terima kasih banyak."


Roni tersenyum, "Kemarin kau mengatakan jika kebenaran itu akan menang dan sekarang kau membuktikan ucapanmu itu."


Faris hanya mengangguk lalu segera keluar dari ruangan Roni.


Sebelum pulang, Faris menyempatkan untuk mengganti pakaian tahanan dengan baju yang Ia pakai kemarin.


Faris pulang dengan berjalan kaki dan membuat warga dikampungnya gempar dengan kepulangan Faris.


"Bagaimana kau bisa bebas? Apa kau setuju untuk bertanggung jawab?" tanya salah satu warga.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, aku bebas karena kebenaran pasti akan menang." balas Faris lalu berjalan dengan santainya hingga Ia sampai didepan rumahnya.


Keadaan rumahnya sangat sepi, bisa dipastikan jika mungkin saat ini orangtuanya masih sedih memikirkan nasibnya.


Faris mengetuk pintu cukup lama hingga saat pintu terbuka, Asih yang tengah membawa sapu seketika menjatuhkan sapunya dan langsung memeluk Faris.


"Kamu pulang nak, akhirnya kamu pulang." ucap Asih sambil menangis karena merasa tak percaya Faris akhirnya kembali kerumah.


"Semua berkat doa Ibu dan Bapak." ucap Faris.


Asih melepaskan pelukannya, "Pak... Bapak... Faris bebas pak." teriak Asih pada suaminya yang ada didalam kamar.


"Ibu ini jangan aneh aneh, mana mung-" ucapan Slamet terhenti saat melihat Faris berdiri didepan pintu rumah sambil tersenyum menatap dirinya.


"Faris , bagaimana bisa..." Slamet segera berlari menghampiri putranya dan ikut memeluk putranya sambil menangis terharu.


"Berkat doa Bapak dan Ibu, polisi itu akhirnya sadar dan membebaskan Faris tanpa syarat hingga nama baik Faris juga dibersihkan." ungkap Faris.


Slamet menggelengkan kelapanya, "Pasti ada orang lain yang membantumu, tidak mungkin polisi itu sadar secepat ini."


Faris mengangguk setuju, "Memang benar pak, tapi Faris sendiri tidak tahu siapa orang itu."


"Aneh sekali mengingat orang sekampung ini lebih percaya Pak Kades, sudah pasti bukan mereka." gumam Slamet.


"Mungkinkah Neng Vanes?" tebak Asih.


Setelah makan siang bersama orangtuanya, Faris meminta izin untuk menemui Vanes. Entahlah Faris merasa Vanes pasti ada sangkut pautnya atas pembebasan dirinya ini.


"Kamu tidak cerita jika Neng Vanes sekarang tinggal disini bahkan satu kampus sama kamu." Protes Asih sebelum Faris berangkat.


"Pasti Ibu nggak suka makanya Faris nggak cerita."


Asih menghela nafas panjang, "Ibu suka sama Neng Vanes, dia wanita yang baik dan sopan tapi Faris kamu harus ingat siapa Neng Vanes itu? Selain kita berbeda bak langit dan bumi, Neng Vanes itu mantap iparmu, apa kata keluarga kita kalau-"


"Ibu tenang saja, Faris bisa menghandle ini semua." potong Faris tak tahan mendengar ucapan Asih yang pasti kembali menyangkut pautkan tentang keluarga besar mereka.


"Jadi kau akan memaksa tetap bersama Neng Vanes?"


Faris tersenyum lalu mengenggam tangan Asih, "Apa Ibu ingin melihatku bahagia?"


Asih mengangguk, "Tentu saja,"


"Kebahagiaanku saat ini hanya Ibu, Bapak dan Vanes, Faris harap Ibu bisa mengerti."


Asih menghela nafas panjang, Faris tidak mengatakan itupun Asih sudah tahu jika Faris sangat mencintai Vanes.

__ADS_1


"Faris pergi sekarang Bu." pamit Faris lalu mencium punggung tangan Ibunya dan segera melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah.


Faris sampai didepan kos Vanes, Ini hari libur bisa dipastikan jika Vanes berada dikosnya.


Faris menekan bel, tak berapa lama pintu terbuka, terlihat Nani yang membuka pintu gerbang dan menatapnya tak suka.


"Vanes pergi!" ucap Nani sebelum Faris bertanya.


"Kemana?"


"Mana ku tahu!"


Faris menghela nafas panjang, "Dengan siapa?"


"Dengan Tuan Wira."


Deg... Seketika jantung Faris serasa mau copot mendengar kata Tuan Wira.


"Tuan Wira ada disini?"


"Ya, kupikir kau tahu untuk apa Tuan Wira kemari."


Faris mengerutkan keningnya, "Untuk apa? Aku tidak tahu apapun."


"Heh kau ini bodoh sekali!" Nani tampak kesal, "Tentu saja untuk membebaskanmu dari penjara."


Faris terkejut dan sangat tidak menyangka, jadi orang baik yang sudah membebaskannya itu Tuan Wira?


Sementara itu Pak Kades baru pulang dari kampung sebelah untuk pertemuan para Kades. Ia segera memasuki mobil karena ingin segera pulang.


Ponselnya berdering, Pak Kades segera menerima panggilan dari salah satu anak buahnya itu.


"Bos, Faris sudah dibebaskan!"


Seketika berita itu membuat Pak Kades terkejut.


Pak Kades mengakhiri panggilan dan berniat memanggil Roni untuk meminta keterangan namun sayang, panggilan dari istrinya lebih dulu masuk.


"Pulang Pak! Jelaskan semua ini atau kita bercerai sekarang!"


Deg... jantung Pak Kades serasa mau lepas mendengar ucapan istrinya.


Tak menunggu waktu lama, Pak Kades segera melajukan mobilnya pulang kerumah.


Ia benar benar penasaran dengan apa yang terjadi dirumahnya saat ini.

__ADS_1


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2