TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
134


__ADS_3

Ken menatap ke arah gadis muda yang belum pernah Ia lihat sebelumnya.


Tidak terlalu tinggi, tubuhnya kurus namun dadanya terlihat besar dan menonjol serta hidungnya terlihat mancung. Sangat manis dan cantik menurut Ken meskipun gadis itu terlihat kumal atau tidak terurus.


"Siapa kau?"


Gadis itu tampak takut, "Saya Alea Tuan, pembantu baru dirumah ini."


"Sejak kapan kau bekerja? Aku belum melihatmu." kata Ken yang memang belum melihat gadis itu sama sekali.


"Sejak siang tadi Tuan, saya dibawa oleh Tuan Faris dan Nona Vanes."


Ken berohh ria, "Kenapa belum tidur?" tanya Ken mengeluarkan sebatang rokoknya lalu menyalakan dan mulai menghisapnya perlahan.


"Saya belum mengantuk Tuan."


Ken akhirnya duduk disamping gadis itu namun dengan jarak yang jauh, "Sebelumnya kau bekerja dimana?"


"Saya ... Saya..." Gadis itu seolah tak mau menjawab pertanyaan Ken.


"Baiklah aku mengerti, tidak perlu dijawab." kata Ken kembali melirik ke arah dada Alea yang menonjol dan Ia bisa menebak apa pekerjaan Alea sebelumnya.


Alea berdiri dari duduknya, Ia ingin pergi dari sana namun suara Ken menghentikan langkahnya, "Buatkan aku kopi."


"Baik Tuan."


"Jangan lupa berikan susu, aku suka kopi campur susu." ucap Ken dengan tatapan nakal.


Alea tak berani menatap Ken, Ia hanya mengangguk dan langsung pergi dari taman.


"Sial, apa dia sengaja menggodaku!" umpat Ken lalu membuang rokoknya.


Tak berapa lama, Alea datang membawa secangkir kopi hangat untuk Ken.


Ken segera meneguk kopi susu buatan Alea, "Rasanya pas, kau pintar juga meracik kopi." puji Ken.


Alea hanya tersenyum.


"Apa aku juga pintar membuat pria senang?" entah kenapa Ken tiba tiba menanyakan pertanyaan gila itu pada Alea. Ken merasa dirinya sudah tidak waras.


"Maksud Tuan?"


Ken berdecak, "Kau pasti tahu maksudku." ucap Ken menyentuh gunung kembar Alea yang sedari tadi menggodanya.


"Tuan, saya..."


"Kau ingin uang berapa banyak?" tanya Ken merasa tak tahan, Ia sudah menahan diri agar tidak menyentuh Sara dan kini Ia tak bisa menahan diri lagi. Biarlah, Ken memang gila, Ia akan bermain aman agar tidak ada yang tahu.


"Terserah Tuan saja." ucap Alea terdengar pasrah dan takut.

__ADS_1


Ken tersenyum licik lalu beranjak dari duduknya, "Ikut aku." ajak Ken lalu berjalan menuju gudang yang terpisah dengan rumah Wira.


"Say saya takut Tuan." ucap Alea dengan bibir bergetar saat Ken mengajaknya masuk ke dalam gudang yang gelap itu.


"Jangan takut baby, selama kau tidak berisik semua akan aman." kata Ken memberi penerangan menggunakan senter ponselnya.


Alea melihat digudang itu ada ranjang bekas dan juga selimut yang masih bagus, jelas sekali jika gudang ini mungkin sering digunakan untuk tidur.


Ken yang sudah tidak tahan, membawa Alea berbaring diranjang. Ken mulai mencumbu Alea, menyalurkan hasratnya pada gadis muda itu.


"Kau sudah tidak perawan tapi milikmu sangat legit sayang." rancau Ken memompa Alea lebih kuat dan lebih dalam hingga gadis muda itu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara kenikmatan.


2 ronde permainan sudah cukup membuat Ken merasa puas.


"Kembalilah lebih dulu, jika ada yang bertanya katakan jika kau tidak tahu arah." kata Ken yang langsung diangguki oleh Alea.


Alea kembali memakai piyamanya, Ia hendak keluar dari gudang namun lagi lagi langkah kakinya terhenti saat kembali mendengar suara Ken, "Aku akan membayarmu dengan uang cash besok."


Alea mengangguk,


"Kau minta berapa?"


Alea menatap ke arah Ken seolah tak tahu Ia harus meminta uang berapa, "10 juta? 15 juta? 20 juta?"


Alea membulatkan matanya, Ia belum pernah sekalipun memiliki uang sebanyak itu.


"Katakan berapa orang orang membayarmu?"


Ken terkejut, "Bodoh, lalu apa kau- ah sudahlah, besok aku akan memberikan uangnya padamu tapi ingat kau harus tutup mulut, jika sampai kau mengatakan ini pada orang lain, aku pastikan akan merobek mulutmu."


Alea ketakutan dan langsung menutupi bibirnya menggunakan kedua tangannya, "Tidak Tuan, saya tidak akan mengatakan pada siapapun."


Ken tersenyum puas, "Bagus, kembalilah kerumah."


Alea mengangguk dan langsung keluar dari gudang.


Setelah beberapa menit, Ken juga mengenakan pakaiannya lalu ikut keluar dari gudang.


Ken kembali ke kamar, melihat istrinya sudah terlelap, Ia pun segera pergi ke kamar mandi agar tidak ada bau percintaan yang baru saja Ia lakukan.


"Kenapa mandi lagi?" tanya Sara saat Ken keluar dari kamar mandi.


Ken sempat terkejut namun sedetik kemudian Ia bersikap tenang, "Aku merasa gerah dan ingin mandi."


Sara menatap Ken aneh, "Padahal diluar dingin."


Ken mulai gugup, ""Bagaimana kau tahu jika diluar dingin padahal kau berada didalam."


Sara tersenyum, "Aku hanya bercanda, kenapa harus segugup itu." ucap Sara lalu menepuk nepuk ranjang disampingnya yang kosong, "Cepatlah kemari, aku tidak bisa tidur jika kau tidak memeluk ku."

__ADS_1


Ken tersenyum, Ia merasa lega lalu berjalan menghampiri Sara dan mulai berbaring disampingnya, "Rasanya nyaman sekali, jangan berani keluar lagi.'' ucap Sara terdengar galak.


"Baiklah sayang, aku tidak akan kemanapun."


Keduanya terdiam beberapa menit hingga Ken kembali berbicara, "Sudah tidur?" tanya Ken lalu mengintip Sara yang ternyata sudah memejamkan mata.


"Belum."


"Kenapa memejamkan mata jika belum tidur." protes Ken.


"Sara tersenyum lalu berbalik agar mereka berhadapan, "Ada yang ingin kau katakan?"


Ken mengangguk, "Kau tahu proyek gemilang yang ada diluar kota?"


Sara mengangguk,


"Aku harus melihat lokasinya, jadi mungkin akan menginap selama 3 hari."


Sara menghela nafas panjang, "Apa harus kamu yang berangkat?"


Ken mengangguk, "Dan aku harus mengajak Rani."


Sara kembali menghela nafas panjang, "Baiklah jika memang harus seperti itu."


"Kau mengizinkan sayang?" tanya Ken tampak tak percaya.


"Tentu saja, tentang pekerjaan aku tidak akan bersikap manja. Aku percaya padaku."


Ken menelan ludahnya, entah mengapa dadanya terasa sesak dan Ia merasa malu mendengar ucapan Sara.


Sara mempercayai dirinya padahal Ia bukan orang yang bisa dipercaya, sungguh Ken merasa dirinya sangat Laknat sebagai suami.


"Lakukan pekerjaanmu dengan benar lalu segeralah pulang." ucap Sara.


Ken mengangguk, "Baiklah sayang, tunggu aku dirumah." ucap Ken lalu mengecup kening Sara.


Paginya...


Sara sudah menyiapkan sekoper baju ganti yang akan dibawa oleh Ken.


"Aku hanya disana 3 hari sayang kenapa membawakan banyak barang." protes Ken.


"Ada baju ganti, handuk bersih juga obat jika sewaktu waktu kau sakit."


Ken tersenyum lalu mengelus kepala Sara, "Istriku sangat baik sekali." ucapnya yang seketika membuat Ken merasa bersalah atas apa yang sudah Ia lakukan dibelakang Sara.


Sara tersenyum namun beberapa detik kemudian senyum Sara berganti dengan ringisan sambil memegangi perutnya.


"Ada apa sayang?"

__ADS_1


"Pe perutku sakit sekali mas."


Bersambung .... Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2