TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
140


__ADS_3

Ken menatap Sara yang kini terlelap setelah makan malam. Ia mengambil ponselnya lalu membuka beberapa pesan dari Rani dan Dylan yang Ia abaikan selama beberapa hari ini.


Pesan yang memperlihatkan hasil kerja mereka selama berada diluar kota.


"Besok mereka pulang?" gumam Ken lalu tersenyum sinis, "Mari kita lihat apa yang mereka bawa setelah keluar kota berdua selama beberapa hari."


Ken tidak membalas pesan keduanya dan meletakan ponselnya di meja. Ia memilih ikut tidur dengan Sara karena merasa lelah setelah permainannya dengan Alea siang tadi.


Sementara itu dikamar sebelah,


Faris dan Vanes baru saja selesai bercinta. Vanes menarik selimutnya agar bisa menutupi tubuh polos keduanya namun ternyata Faris memilih bangun dan pergi ke kamar mandi.


Beberapa menit berada dikamar mandi, Faris keluar dengan rambut basahnya, menandakan jika Ia baru saja selesai mandi.


"Nggak tidur mas?" tanya Vanes melihat Faris tak kunjung berbaring disampingnya dan malah duduk dimeja rias sambil membuka laptopnya.


"Bentar sayang, mau check cctv."


Vanes tersenyum, "Kan kita bisa check besok pagi mas."


Faris berdecak, "Kalau sekarang kita bisa menangkap basah mereka kenapa harus menunggu besok?"


Vanes menggelengkan kepalanya, Ia ikut beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri, Vanes ikut duduk disamping suaminya.


"Sepi tuh nggak ada orang keluar." gumam Vanes melihat di layar laptop keadaan belakang rumah sangat aman, tidak ada satu orang pun yang keluar, baik Ken maupun Alea.


"Apa kamu yakin sayang kalau Alea dan Ken tidak tahu rencana ini?" tanya Faris memastikan.


"Sangat yakin mas, siang tadi mereka keluar saat aku pasang cctvnya."


"Apa mungkin mereka sudah melakukan diluar?" tebak Faris yang langsung mendapatkan pukulan dilengannya.


"Nggak usah aneh aneh deh mas, nggak mungkin lah."


Faris tersenyum geli dengan pemikiran liarnya namun entah mengapa rasanya sulit sekali mempercayai Ken.


"Ya kan aku cuma nebak aja."


Vanes menggelengkan kepalanya, kembali menatap layar laptopnya, "Beneran nggak keluar mas, kita tidur aja yuk ngantuk." ajak Vanes.


Faris menghela nafas panjang, Ia masih ingin melihat laptopnya namun melihat jam dinding sudah pukul 10 malam, sepertinya Ia harus menyerah malam ini.


"Jika malam ini aku gagal menangkap basah mereka, besok aku tidak akan gagal." gumam Faris akhirnya menutup layar laptopnya dan segera pergi tidur.

__ADS_1


Rasanya baru beberapa jam Faris terlelap namun sudah mendengar adzan subuh berkumandang diponselnya.


Faris bangun, tak lupa membangunkan istrinya agar mereka bisa sholat subuh berjamaah.


Selesai sholat subuh, Faris kembali membuka layar laptopnya untuk melihat rekaman cctv semalam.


"Ada nggak mas?" Vanes ikut penasaran.


Faris menggelengkan kepalanya karena tak menemukan apapun disana, "Aneh sekali."


Vanes tersenyum lalu mendekati suaminya dan mengelus bahu suaminya, "Kita sudah salah sangka mas."


Faris menggelengkan kepalanya, "Aku yakin tidak."


Vanes menghela nafas panjang, "Baiklah kita lihat saja nanti dan besok, jika tidak ada artinya kita sudah salah sangka dan harus minta maaf."


Faris ikut menghela nafas panjang, "Baiklah, masih ada waktu nanti dan besok untuk menangkap basah mereka!"


Vanes menggelengkan kepalanya, Ia tak menyangka Faris akan begitu yakin dan tetap kekeh menyelidiki tentang Ken dan Alea.


Setelah mandi dan mengenakan baju kantornya, Faris dan Vanes bersiap turun untuk sarapan bersama dimana Ken dan Wira sudah menunggu dimeja makan.


Wira menatap ke arah Faris yang mengenakan kemeja dan jas kantoran, ada sedikit rasa bangga pada Faris karena Faris terlihat tampan dan berwibawa.


"Papa bosan, lagipula banyak kursi yang kosong pasti kalian akan kesepian jika hanya makan bertiga." balas Wira.


"Apa Rani belum pulang?" tanya Faris pada Ken.


Ken menghentikan kunyahannya untuk menjawab Faris, "Seharusnya hari ini mereka pulang, tapi tidak tahu jika mereka masih ingin berlibur gratis disana."


"Siapa Rani?" tanya Wira yang memang belum mengenal Rani.


"Sepupu saya dikampung Pa... dia baru saja wisuda dan aku mengajaknya ke kota untuk bekerja diperusahaan, maaf jika Faris lancang." balas Faris dengan sopan.


Wira tertawa, "Sebentar lagi kau akan menjadi pemilik perusahaan jadi apapun yang kau lakukan bukan suatu kelancangan."


Faris terkejut mendengar ucapan Wira, "Bukankah Faris hanya menggantikan Papa selama koma saja?"


Wira menghela nafas panjang, Ia kini ingat jika menantunya itu sangat keras kepala, "Papa sudah Tua Faris, kini waktunya Papa istirahat. Papa tidak mungkin kembali ke kantor."


Faris terdiam, Ia sudah tahu jika hal seperti ini akan terjadi dan Ia tak mungkin menolak keinginan Papa mertuanya.


"Baiklah Pa... Faris akan berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan perusahaan Papa."

__ADS_1


Kini giliran Wira yang terkejut, tak menyangka jika Faris akan mengiyakan permintaannya dengan mudah mengingat sebelum Koma, Faris bahkan tidak mau menuruti permintaannya.


"Kau benar benar..." Wira terlihat bangga dan bahagia menatap Faris membuat Vanes ikut senang sementara Ken? Pria itu terlihat kesal dan tak terlalu senang mendengar pujian yang dilontarkan oleh Wira pada Faris.


Selesai sarapan, Vanes dan Faris ke depan untuk berangkat ke kantor dan kuliah, sementara Ken kembali ke kamarnya dengan membawa nampan berisi semangkok bubur untuk Sara.


"Kau tidak ke kantor?" tanya Sara yang kini sudah diperbolehkan bangun dan berjalan meskipun hanya untuk pergi ke kamar mandi.


"Tentu tidak, aku akan ke kantor jika kau benar benar sudah sembuh."


Sara tersenyum, berkali kali Ia merasa bahagia memiliki suami seperti Ken yang sangat perhatian dan penyayang.


"Pergi saja tidak apa apa mas, aku baik baik saja dan lihat, aku sudah diperbolehkan berjalan oleh dokter."


"Apa kau yakin?" Ken menatap Sara penuh harap karena jujur, Ken merasa bosan hanya dirumah dan tidak melakukan apapun.


Sara menganggukan kepalanya, "Pergi saja mas. Aku pasti baik baik saja."


"Baiklah jika begitu, aku akan pergi sekarang." pamit Ken segera berganti pakaian dan bergegas pergi meninggalkan kamar.


"Kau ke kantor?" tanya Wira saat melihat Ken turun dengan pakaian kantor, "Bagaimana dengan Sara?"


"Sara sudah baik baik saja Pa... Ada banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan dikantor."


Wira tersenyum, "Kau memang pekerja keras, membuatku selalu bangga padamu." puji Wira.


Ken tersenyum dan segera pergi meninggalkan Wira. Ken keluar dan tak sengaja berpapasan dengan Alea yang akan masuk ke dalam rumah.


"Tuan..." panggil Alea dengan suara pelan.


Ken menatap Alea dengan malas,


"Obatnya... Obatnya yang kemarin tidak bisa saya minum."


Sontak Ken terkejut, "Dasar bodoh, bagaimana bisa-" ucapan Ken terhenti saat melihat Wira akan keluar rumah.


Takut ketahuan, Ken meninggalkan Alea begitu saja.


Bersambung....


Haloo gaysss...


Banyak yang komen cerita ini muter2 pdhl author udh berusaha semaksimal mungkin agar jalan ceritanya tidak berputar2...

__ADS_1


Sabarr ya yang ingin ken ketahuan, pasti sesegera mungkin Ken akan ketahuan dan ditendang dari rumah Wira.


__ADS_2