TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
102


__ADS_3

Setelah puas berada ditaman, Faris dan Vanes akhirnya memutuskan untuk pulang. Keduanya memasuki mobil, melihat wajah sembab Vanes, Faris pun segera mengulurkan tisu untuk Vanes.


"Bersihkan wajahmu sayang, aku tidak mau orang rumah salah paham dan mengira aku sudah menyakitimu." ucap Faris yang langsung membuat Vanes tertawa.


"Aku tidak menyangka bisa secengeng ini."


Faris tersenyum, "Jika wanita mudah menangis artinya hati mereka lembut dan mungkin karena hatimu lembut jadi kau mudah menangis."


"Jangan melebih lebihkan." protes Vanes.


Faris tertawa lalu segera melajukan mobilnya menuju istana Wira.


Sesampainya disana, mereka disambut oleh Ken.


"Kita akan berangkat besok sebelum subuh, saya harap Nona segera istirahat." ucap Ken tanpa menatap Faris.


"Baiklah Ken, lalu dimana Papaku?" tanya Vanes melihat keadaan rumah sepi.


"Tuan sudah istirahat dikamarnya Nona."


"Lalu Sara?"


"Nona Sara juga sudah istirahat dikamarnya."


Vanes akhirnya mengangguk, "Kau juga harus istirahat." kata Vanes yang langsung diangguki oleh Ken.


Setelah Ken pergi, Vanes mengajak Faris naik ke atas kamarnya. Faris cukup terkejut dengan dekorasi kamar Vanes yang mewah dan sangat bagus. Seperti kamar Tuan putri dalam dongeng.


"Aku tidak yakin kau bisa tinggal dirumahku sayang." ucap Faris.


"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu mas? Aku bisa tinggal dimanapun selama bisa bersamamu." balas Vanes terdengar tak suka dengan ucapan Faris.


"Lihatlah kamarmu, sangat mewah dan bagus tidak seperti kamarku yang terlampau sederhana. Apa kau yakin akan tinggal disana, jika memang tidak bisa kataka saja, kita mungkin akan tinggal dikosan mu." kata Faris merasa minder dengan apa yang Ia miliki.


Vanes tersenyum lalu duduk dipangkuan Faris, "Jika kita tinggal dikosan, bagaimana dengan Ibu? Pasti Ibu kesepian berada dirumah sendiri. Aku benar benar tidak masalah tinggal dirumahmu. Jangan khawatir mas." kata Vanes yang membuat Faris ikut tersenyum dan langsung mencium bibir Vanes.


"Mimpi apa aku bisa memiliki wanita sepertimu."


Vanes berdecak lalu beranjak dari pangkuan Faris, "Selalu saja melebih lebihkan."

__ADS_1


Faris tertawa, tidak membiarkan Vanes pergi. Ia menarik tangan Vanes hingga kembali jatuh ke pangkuannya.


"Ken itu orang kepercayaan Papa?" tanya Faris tiba tiba.


"Ya, dia sangat bertanggung jawab dan loyal membuat Papa menyukai Ken dan memberikan kepercayaan penuh pada Ken. Kenapa?" tanya Vanes merasa heran tiba tiba Faris menanyakan tentang Ken.


"Tidak ada, aku hanya bertanya.'' balas Faris lalu memeluk tubuh Vanes.


Entah mengapa Faris merasa tak asing dengan tubuh kekar Ken. Seolah Ia pernah beradu dengan Ken padahal Ia baru bertemu beberapa kali saja dengan Ken.


Perasaan Faris mengatakan jika Ken tidak menyukainya, Faris sendiri pun tak tahu alasan Ken tak menyukainya karena apa, seingat Faris, Ia tidak pernah memiliki masalah dengan Ken namun pandangan mata Ken mengatakan jika Ken sangat tidak menyukai keberadaan Faris.


"Apa mungkin Ken menyukai Vanes dan menganggapnya sebagai penganggu?" batin Faris mencoba menebak.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Vanes membuyarkan lamunan Vanes.


"Aku sedang memikirkan harus melakukan dengan gaya apa malam ini." kata Faris dengan senyuman nakal.


Tawa Vanes membuncah dan langsung mengalungkan kedua tangannya dileher Faris, "Bagaimana kalau gaya membungkuk? Kita belum mencobanya."


Faris mengerutkan keningnya, "Gaya apa itu dan bagaimana kamu tahu tentang gaya seperti itu?" heran Faris mengingat Vanes masih bersegel dan tidak mungkin melakukan dengan orang lain.


Tanpa berkomentar apapun, Faris mengendong tubuh Vanes membawanya ke ranjang hingga kini Ia sudah berada diatas Vanes.


"Kalau begitu mari kita lakukan gaya membungkuk seperti yang kau inginkan." ucap Faris memulai kegiatan panas mereka hingga hanya suara rintihan kenikmatan yang memenuhi kamar Vanes.


Tengah malam, seperti biasa Faris terbangun dari lelapnya. Ia keluar kamar hanya mengenakan jubah mandi untuk mengambil air minum.


Keadaaan istana Wira sudah sepi bahkan lampu area bawah juga sudah dimatikan, menandakan semua orang sudah terlelap.


Faris berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan meneguknya hingga habis. Haus, Ia kehausan setelah berolahraga dengan Vanes hingga ketiduran, tenggorokannya sangat kering saat bangun.


Faris langsung mencuci gelas yang Ia pakai diwastafel setelah itu Ia berniat kembali ke atas namun saat berbalik Ia dikejutkan oleh Sara yang tengah membuka kulkas. Yang lebih mengejutkan lagi, Sara hanya mengenakan dress satin tipis yang memperlihatkan pakaian dalamnya.


Faris menelan ludahnya, Ia pria normal, jika melihat wanita memakai pakaian seksi tentu saja membuat hasratnya kembali naik.


Faris berjalan melewati Sara tanpa mengatakan apapun membuat Sara tersenyum tipis karena merasa berhasil mengoda Faris.


Sara meneguk segelas susu, Ia tidak bisa tidur malam ini. Pikirannya sedikit kacau membuatnya tidak bisa memejamkan mata.

__ADS_1


Setelah menghabiskan segelas susu hangat, Sara tak langsung kembali ke kamar, Ia malah keluar ke arah taman dan melihat Ken duduk disana.


Awalnya Sara ingin kembali masuk ke dalam namun entah mengapa Ia malah menghampiri Ken yang tengah merokok dan membawa sebotol minuman beralkohol.


Sara menggelengkan kepalanya tak percaya, melihat Ken mabuk di istana Tuannya.


Sara duduk disamping Ken, mengejutkan Ken apalagi Sara hanya memakai dress satin, tentu saja mengoda mata dan juga adik Ken. Sara tak mengubris tatapan nakal Ken, mengambil 1 batang rokok milik Ken lalu menyalakan dan mulai menghisapnya.


Uhuk... uhuk... Sara terbatuk hingga membuat Ken tertawa.


Karena kesal, Sara membuang rokoknya.


"Jika memang tidak bisa menjadi nakal, tidak perlu memaksakan diri Nona." ucap Ken.


Sara menatap Ken kesal lalu merebut minuman Ken dan meneguknya namun belum sampai habis, minuman sudah kembali direbut oleh Ken.


"Jangan mabuk lagi Nona." pinta Ken dengan suara lemah karena saat ini Ken sudah hampir mabuk.


"Kenapa? bukankah kau senang jika aku mabuk dan kau bisa melakukan apapun padaku?" sinis Sara.


Ken tersenyum, "Tapi lebih menyenangkan jika melakukan dalam keadaan sadar."


Sara meletakan botol minuman Ken, Ia beranjak dari duduknya dan berdiri didepan Ken.


"Lalu lakukan apapun yang kau mau sekarang!" pinta Sara membuat Ken terkejut.


"Jangan gila Nona!"


"Kenapa? Bukankah itu yang biasa kau lakukan padaku?"


Ken menghela nafas panjang, "Bukan salahku karena Nona yang lebih dulu mengodaku!" kali pertamanya Ken membela diri.


Sara berlutut didepan Ken lalu menyentuh dada bidang Ken, "Mengodamu seperti ini?"


Ken memejamkan matanya, Ken tidak bisa mengontrol dirinya.


Ken menarik Sara ke pangkuannya lalu menyatukan bibir mereka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2