TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
23


__ADS_3

Rizal berjalan lebih dulu melewati Faris dan Nisa karena tak ingin menganggu keduanya. ada perasaan lega dihati Rizal melihat kedekatan Faris dan Nisa.


Rizal berharap Faris bisa lebih serius menjalin hubungan dengan Nisa agar Ia tidak perlu khawatir dengan kedekatan Faris dan Vanes.


Rizal memasuki ruangannya, seperti biasa sudah ada Mira disana dengan secangkir kopi yang masih mengepul menandakan jika baru saja dibuat oleh Mira.


"Pagi sayang..." sapa Mira penuh kelembutan dan manja namun tidak membuat Rizal tergoda.


Entahlah, Rizal sendiri tidak tahu kenapa perasaannya bisa berubah secepat ini padahal hubungannya dengan Mira sudah terjalin lama.


"Tidurmu nyenyak?" tanya Rizal basa basi meskipun dalam hatinya sudah ada keinginan untuk meninggalkan Mira namun tentu saja tidak sekarang. Ia akan melepaskan Mira secara perlahan.


"Hmm sedikit ada gangguan tapi aku baik baik saja, bagaimana dengan tidurmu?" tanya Mira berjalan mendekat lalu mengalungkan kedua tangannya dileher Rizal.


"Sangat nyenyak."


Mira tersenyum namun dalam hatinya ada rasa sakit yang luar biasa, "Tentu saja nyenyak karena ada wanita lain disampingmu!" batin Mira.


Mira mendekatkan wajahnya lalu bibirnya dan ciuman bibir terjadi diantara mereka namun baru saja merasakan hangatnya bibir Rizal, suara pintu terbuka...


"Shitttt.." bersamaan suara umpatan yang membuat Rizal melepaskan ciumannya.


"Penganggu!" omel Mira dengan wajah kesal.


Rizal tak mengubris omelan Mira, Ia malah berjalan mendekati pintu dan membukanya, "Masuklah." kata Rizal.


Mira menatap kesal ke arah Faris yang juga sempat menatapnya. Rasanya Ia ingin mencabik wajah Faris saat ini juga karena sejak awal, Mira memang tidak menyukai kedatangan Faris dikantor ini.


"Apa ada hal penting Ris sampai tak sempat mengetuk pintu?" tanya Rizal dengan sedikit sindiran.


"Maaf mas kalau saya lancang, saya pikir ini masih pagi dan... Ah sudahlah." Faris tidak melanjutkan ucapannya, Ia akhirnya mengutarakan maksud kedatanganya, "Ini masih setengah bulan kok aku udah dapet gaji mas?" tanya Faris.


"Ya karena ini sudah waktunya gajian jadi aku kirim separuh gajimu."


Faris terkejut, "Ini hanya separuh mas?"


"Kenapa kaget? Memang aku belum mengatakan jika gajimu 10 juta?"


Faris menggelengkan kepalanya, Ia benar benar tak menyangka, pertama kali dirinya bekerja dan mendapatkan uang gaji sebanyak itu.


Rizal akhirnya tertawa melihat wajah bengong Faris, "Sudah Ris, jangan dipikir lagi. Bekerjalah dengan baik agar aku senang dan bisa menaikan gajimu."


Faris tersenyum, "Terima kasih banyak mas." kata Faris lalu keluar dari ruangan Rizal.


Setelah Faris keluar, Mira kembali mendekati Rizal namun kali ini ditolak oleh Rizal. "Sudah waktunya bekerja."

__ADS_1


Mira memanyunkan bibirnya lalu duduk ditempat kerjanya.


Sementara diluar Faris terlihat masih bengong, Ia masih tak menyangka akan mendapatkan gaji sebanyak itu dari Rizal.


Jika setiap bulan Ia mendapatkan 10 juta, Ia bisa menabung lebih banyak dan bisa segera membuat usaha yang Ia impikan.


"Pak, kenapa saya ditinggal!" protes Nisa saat Faris memasuki ruangan dan gadis itu sudah ada disana.


Faris tertawa, "Maaf Nis, buru buru mau keruangan pak bos."


"Ada masalah apa pak?"


Faris menggelengkan kepalanya, "Cuma mau mastiin aja, takutnya pak Bos salah ngirim gaji."


Nisa berohh ria, "Pak karena hari ini sudah gajian bagaimana kalau nanti malam kita jalan jalan trus makan malam?''


Faris terdiam memikirkan ajakan Nisa. sebenarnya Ia tidak terlalu ingin dekat dengan siapapun karena takut menimbulkan gosip namun jika mengingat kebaikan Nisa padanya selama bekerja disini, tidak ada salahnya jika Ia menerima ajakan Nisa.


"Boleh deh Nis, aku juga nggak pernah jalan jalan disekitar sini."


Nisa terlihat girang, "Tapi pakai motor saya nggak apa apa kan pak?"


Faris mengangguk, "Nggak apa apa, malah enak kalau pakai motor. Adem."


Nisa tertawa, "Bapak mau makan direstoran apa dikaki lima?"


Nisa langsung hormat pada Faris, "Siap pak, nanti kita ke penjual nasi goreng kaki lima paling enak."


Faris tertawa lalu mengangguk.


Saat jam pulang kerja, Faris menemui Rizal lebih dulu untuk mengatakan jika Ia tidak pulang bersama Rizal karena ingin pergi makan dengan Nisa.


"Wah kencan nih Ris habis gajian?"


Faris tersenyum, "Enggak mas, cuma mau makan aja diluar."


"Kencan juga nggak apa apa Ris, nggak usah ditutupi lagian kalian cocok ini." kata Rizal.


"Sebenarnya aku takut mas kalau orang ngiranya gitu, aku jalan sama dia karena selama kerja disini, dia udah banyak bantuin aku. Cuma traktir makan buat tanda terima kasih mas." jelas Faris.


Rizal tertawa, "Udah udah, gue juga cuma godain Lo kok."


Faris tersenyum, segera pergi meninggalkan Rizal menuju tempat parkir motor dimana sudah ada Nisa disana.


"Lah kok udah bawa 2 aja helmnya?" tanya Faris melihat ada 2 helm di motor Nisa.

__ADS_1


"Udah rencana mau ngajakin mas Faris jadi persiapan helm 2."


Faris tertawa, "Trus kalau tadi aku nggak mau gimana?"


"Aku bakal maksa lah biar mau."


Faris kembali tertawa, Ia memakai helm yang diberikan oleh Nisa lalu segera menyalakan motornya. setelah Nisa sudah membonceng, Faris melajukan mobilnya keluar dari kantor.


"Lewat jalan sini aja mas, nanti banyak orang jualan cemilan." kata Nisa menjadi petunjuk jalan.


"Ohh oke siap Nis."


Awalnya Nisa membonceng agar berjauhan namun semakin lama, Nisa berani mepet pada Faris membuat Faris merasa tak nyaman karena tertempel gundukan gunung kembar milik Nisa.


"Nis..." panggil Faris.


"Gimana Mas?" Nisa semakin menempel.


"Agar mundur dikit dong."


Faris melirik ke arah spion, wajah Nisa tampak memerah malu namun Nisa menuruti ucapan Faris, kini Nisa tidak lagi menempel ditubuh Faris.


Sesampainya ditempat makan, Nisa segera memesan makanan dan keduanya mencari tempat duduk. Nisa hanya diam tak banyak bicara membuat Faris menebak jika Nisa pasti marah soal tadi.


"Nis soal yang tadi-"


"Stop mas jangan di omongin lagi, aku malu." akui Nisa lalu menutup wajahnya.


Faris tertawa geli melihat tingkah Nisa, "Aku nggak biasa seperti itu jadi rasanya nggak nyaman dan kamu itu cewek harusnya bisa jaga diri jangan pancing cowok kayak gitu, habis kamu Nis kalau mungkin jalannya nggak sama aku." nasihat Faris.


Nisa tersenyum memperlihatkan gigi rapinya, "Iya deh mas, duh emang susah deketin cowok alim kayak mas."


Faris kembali tertawa, "Aku nggak sealim itu Nis, mungkin karena nggak terbiasa kayak gitu jadi nggak nyaman."


Nisa mengangguk paham, tak berapa lama pesanan mereka datang.


Faris dan Nisa segera menikmati nasi goreng yang langsung membuat Faris tak henti hentinya melontarkan pujian.


"Enak Nis, enak."


"Kalau enak besok kesini lagi ya Mas." ajak Nisa.


Faris berdecak, "Modus aja kamu ini Nis."


Nisa tertawa.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2