
Faris bersiap untuk mengajar ke kampus pagi ini. Semalaman kedua orangtuanya mendiamkannya karena masalah Vanes dan sekarang pun orangtuanya masih mendiamkan Faris.
Faris menyeret kursi lalu duduk, ikut sarapan bersama kedua orangtuanya. Hening, tidak ada obrolan hangat diantara mereka bertiga. Suasana memang sedang tidak baik baik saja, tidak seperti biasa.
Faris yang merasa tak tahan akhirnya memberanikan diri bertanya pada kedua orangtuanya, "Bapak sama Ibu marah?"
Asih dan Slamet menggelengkan kepalanya.
"Kalau memang nggak bisa ngasih restu buat aku dan Vanes, tidak apa apa." kata Faris.
Slamet menghela nafas panjang, entah mengapa rasanya begitu sulit menjawab Faris hingga Slamet memutuskan untuk diam, begitu juga dengan Asih yang sama sekali tidak berkomentar.
Merasa diacuhkan oleh kedua orangtuanya, Faris memilih pergi tanpa menghabiskan makananya, "Faris berangkat dulu." pamit Faris tetap mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian.
Kini tinggalah Asih dan slamet yang masih berada dimeja makan.
Makanan keduanya pun masih belum habis.
"Gimana pak?" keluh Asih, "Rasanya nggak tega lihat Faris kayak gitu apalagi Pak Wira juga sudah bantuin Faris keluar dari penjara, bisa jadi ini kode pak." kata Asih lagi.
Slamet menghela nafas panjang, "Kalau Ibu yakin, kita kasih restu Faris nanti masalah dengan Tantri kita hadapi berdua."
Asih ikut menghela nafas panjang, "Mbak Tantri itu saudara kandung aku, tapi dia tidak pernah bersikap baik pada kita tapi Rizal... Dulu waktu banyak uang Rizal sering membantu kita meminjamkan uangnya, rasanya nggak tega kalau harus menyakiti Rizal."
Slamet berdecak, "Semua yang terjadi juga karena kesalahan Rizal sendiri. coba Rizal tahu diri dan menerima Neng Vanes dengan baik, pasti tidak mungkin mereka bercerai seperti ini."
Asih mengangguk setuju, "Lalu gimana pak? Apa kita kasih restu saja."
Slamet terdiam cukup lama hingga akhirnya Ia menjawab, "Kalau ini yang terbaik buat kebahagiaan Faris, sepertinya tidak masalah."
Asih tersenyum, "Ibu ngikut Bapak saja."
Sementara itu, Faris kini tengah perjalanan menuju kampus. Dibelakangnya sudah ada Vanes yang membonceng.
Jantung Faris berdegup kencang mengingat kemarin Ia sempat membolos tidak bekerja tanpa mengirimkan surat keterangan namun sampai di kampus, tidak ada yang memarahi Faris apalagi tahu dengan kasus yang menimpa Faris. Faris aman dan masih bisa mengajar, hanya saja ada potongan gaji karena Ia tidak masuk bekerja tanpa keterangan.
Seperti biasa, setelah membuat bahan yang akan digunakan untuk mengajar, Faris bersiap masuk ke kelas.
Dan kelas pertamanya Ia mssuk ke kelas Vanes. Faris sempat menatap ke arah Vanes dimana ada mahasiswa yang duduk disebelah Vanes.
Mahasiswa itu bernama Dion, salah satu cowok populer yang ada dikampusnya.
__ADS_1
Awalnya Faris hanya diam saja, sesekali memperhatikan gerak gerik Dion namun melihat Vanes mulai tak nyaman, mau tak mau Faris pun menegur Dion.
"Jika kau dikelas hanya untuk bercanda, lebih baik keluar!" pinta Faris menatap Dion kesal.
Dion tampak berdecak, Ia akhirnya pindah duduk dibangku paling belakang.
Namun ternyata tak cukup sampai disitu, Saat kelas selesai dan Faris bersiap keluar, Faris sempat melihat Dion kembali duduk disamping Vanes.
Faris mengepalkan tangannya namun Ia juga sadar tidak bisa melakukan apapun.
Faris keluar dari kelas dalam keadaan marah.
Dari rumah Ia sudah badmood karena orangtuanya mendiamkannya dan sekarang Ia malah merasakan cemburu karena Vanes digoda oleh Dion, benar benar menyebalkan.
Saat jam makan siang, seperti biasa Vanes masuk ke ruangan Faris untuk mengajaknya makan siang. Vanes tahu jika Faris sedang berada dalam suasana hati yang tidak baik karena melihatnya didekati oleh Dion namun itu juga bukan salahnya, Vanes sudah berusaha menjauh dan Dion yang tidak menyerah mendekatinya.
"Makan dulu mas." ucap Vanes yang sudah menyiapkan makanan untuk Faris.
Faris mengangguk, beranjak dari duduknya lalu duduk disamping Vanes.
"Aku masak tumis brokoli sama ayam hmmppptt..." ucapan Vanes terhenti saat mendadak Faris menciumnya dengan brutal. Semakin lama ciuman Faris semakin panas hingga Faris juga meraba salah satu gunung kembarnya yang membuat Vanes langsung merinding. Antara rasa panas dan geli yang kini menjalar ditubuhnya.
"Maafkan aku, maaf." ucap Faris mengelap bibir Vanes yang basah.
Vanes menggelengkan kepalanya, Ia hanya terkejut dengan ciuman Faris yang tiba tiba padahal sebelumnya Vanes meminta dicium pun Faris tidak mau.
"Aku tahu suasana hatimu sedang tidak baik, jika dengan ini bisa membuatmu lebih tenang, aku tidak masalah." ucap Vanes.
Faris menggelengkan kepalanya, "Aku hanya kesal dan emosi, maafkan aku sayang, tidak seharusnya aku melakukan ini padamu." ucap Faris dengan perasaan sangat bersalah.
Vanes tersenyum lalu memberikan makanan yang sudah Ia siapkan, "Makan lah, aku harap masakanku bisa membuatmu lebih tenang."
Faris mengangguk, mulai menikmati makan siang buatan Vanes.
"Rasanya masih tidak percaya kau bisa menciumku sebrutal itu." ucap Vanes sambil tersenyum geli disela sela mereka makan.
Faris menunduk malu, "Aku kesal melihatmu didekati pria lain jadi melampiaskan dengan cara itu. Maaf jika menyakitimu."
Vanes menggelengkan kepalanya, "Rasanya tidak sakit, justru panas dingin."
Faris menghentikan kunyahannya, "Apa Mas Rizal sama sekali belum pernah menyentuhmu?"
__ADS_1
"Belum, kau tidak percaya, mau mencobanya?" tawar Vanes yang langsung membuat Faris terbahak.
"Tidak, aku hanya bertanya. Aku percaya padamu."
"Aku benar benar ingin tahu bagaimana rasanya." celetuk Vanes saat keduanya selesai makan.
Faris berdecak, "Jangan memancingku, aku mungkin bisa melakukan hal lebih parah dari tadi."
"Aku bisa membantu untuk membuka baju." ucap Vanes bersiap membuka kancing bajunya namun langsung ditahan oleh Faris.
"Dasar nakal." ucap Faris lalu mencium bibir Vanes. Kali ini hanya dicium tanpa ada *******.
Vanes kembali ke kelas saat makan siangnya sudah usai.
Sejak ciuman panas dengan Faris, pikiran Vanes jadi tidak fokus. Rasanya masih terbayang bayang dengan ciuman bersama Faris.
Hingga jam pulang, Vanes yang menunggu Faris membereskan meja kerjanya tampak memandangi bibir Faris.
"Rasanya manis dan susah dilupakan." batin Vanes.
"Ada apa?" Faris merasa heran dengan Vanes yang memandanginya.
"Tidak apa apa." mendadak Vanes merasa gugup karena ketahuan.
Setelah selesai, Faris merangkul pundak Vanes dan mengajaknya keluar dari ruangan. Namun langkah kaki Faris terhenti karena Vanes juga berhenti.
"Ada apa?" tanya Faris sekali lagi.
"Aku ingin melakukan lebih dari tadi." ucap Vanes lalu menundukan kepalanya.
Awalnya Faris terkejut namun sedetik kemudian Ia tersenyum, "Kita akan melakukannya setelah menikah."
Deg... Jantung Vanes berdegup kencang, rasanya ada kupu kupu yang beterbangan diatas kepalanya.
"Kau mau menikahiku?" tanya Vanes tampak tak percaya.
Faris tak menjawab, Ia tersenyum dan kembali merangkul Vanes mengajaknya keluar dari ruangan.
Bersambung...
jan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1