
Hari ini Ken ditugaskan untuk mengawal Tuan Wira menghadiri acara besar yang diselenggarakan oleh negara.
Ken dan pengawal pengusaha lainnya berkumpul dibagian katering untuk memastikan makanan yang akan diberikan pada Tuan mereka aman, tidak ada masalah atau mungkin racun mengingat pengusaha terkadang memiliki banyak musuh.
Sejak berada dibagian dapur hotel, Ken mencurigai satu pelayan wanita. Wajahnya tampak tak asing namun Ken tidak ingat siapa dia. Diam diam Ken melihat gerak gerik pelayan itu hingga tanpa disadari oleh pelayan itu, Ken melihat jika pelayan itu menaruh racun di salah satu cangkir kopi.
"Siapa targetnya?" batin Ken terus mengawasi pelayan itu hingga Ia terkejut saat cangkir kopi berisi racun itu diberikan pada Tuannya, Wira.
Ken tidak tinggal diam, Ia nekat menerobos masuk ke dalam ruangan dan mengambil cangkir dari tangan Wira yang hampir saja diminum oleh Wira. Ken tidak peduli dengan tatapan sinis Wira, Ia hanya ingin menyelamatkan Wira dari racun.
"Apa yang kau katakan itu?" sentak Wira.
"Ada racun di kopi Tuan." kata Ken sekali lagi yang kembali membuat semua orang terkejut termasuk pelayan yang kini berdiri disamping Ken, tampak bergetar ketakutan.
"Jangan bercanda ditempat seperti ini Ken!" ucap Wira setengah berbisik.
"Jika memang benar ada racun dikopi itu, kita serahkan saja pada ahlinya." kata salah satu pengusaha teman Wira.
Wira memberikan kopi itu pada petugas yang juga berjaga disana untuk dites.
Pelayan pembawa kopi yang tak lain adalah Tantri itu sudah pucat dan bergetar ketakutan. Ia ingin kabur dari sana namun Ken mencegahnya.
"Kau mau kemana? Tunggu sampai kopi itu selesai diperiksa." ucap Ken dengan tegas.
Seolah tak peduli dengan ucapan Ken, pelayan itu nekat keluar dari ruangan membuatnya harus ditangkap oleh petugas dan semua orang kini sudah curiga pada pelayan itu.
Rapat di undur hingga 1 jam lamanya karena menunggu hasil dari kopi yang belum keluar. Hingga akhirnya yang mereka tunggu keluar, salah satu petugas datang membawa hasil kopinya.
"Positif, ada racun didalam kopinya." ucap Ken memperlihatkan kertas yang menyatakan hal itu.
"Brengsek! Siapa yang sudah menyuruhmu melakukan ini!" Sentak Wira pada pelayan yang masih belum Ia kenali itu.
Tantri tampak diam, Ia benar benar ketakutan saat ini.
"Cepat jawab!" ucap Ken ikut kesal karena Tantri tak kunjung menjawab.
"Sebaiknya kita bawa saja ke kantor polisi, biar polisi yang mengurus kasus ini." kata salah satu petugas yang langsung membuat Tantri berteriak menolak dibawa ke kantor polisi.
__ADS_1
Mendengar suara teriakan Tantri seketika membuat Wira dan Ken langsung mengenali suara itu.
Ken menarik rambut Tantri yang ternyata adalah wig.
Semua orang terkejut karena ternyata pelayan itu menyamar.
Dan banyak pengusaha teman Wira yang terkejut setelah tahu jika pelakunya Tantri, mantan besan Wira.
"Kau..." Wira menatap Tantri tak percaya.
"Ya ini aku, apa kau terkejut?" tanya Tantri memberanikan diri padahal dalam hatinya Ia ketakutan setengah mati.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?" Wira masih tak percaya.
"Kau sudah membunuh suamiku dan aku juga ingin membunuhmu."
Semua orang diruangan itu tampak terkejut dengan kenyataan yang baru saja mereka dengar.
"Tuan Wira tidak membunuh, itu hanya kecelakaan dan kita sudah sepakat damai." kata Ken membela Tuannya.
"Bawa wanita itu keluar, jangan biarkan dia kemanapun. Dia sangat menganggu!" ucap salah satu pejabat pada petugas disana.
Tantri mulai panik karena tak ada yang membelanya, "Dia pembunuh, dia itu pembunuh." teriak Tantri menunjuk Wira sebelum dirinya diseret oleh petugas.
Kini suara Tantri sudah tak terdengar lagi. Wira merasa sudah dipermalukan didepan teman dan pejabat negara apalagi di acara yang penting seperti ini.
"Kau terlalu baik pada orang yang tak tahu diri, seharusnya kau biarkan saja mereka kelaparan." ucap salah satu pejabat yang mengetahui kasus Wira.
"Aku hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahanku dan aku tak menyangka akan berakhir seperti ini." ucap Wira terlihat menyesal.
"Sudah, kau selesaikan urusanmu setelah ini dan sekarang kita mulai rapatnya." kata pejabat itu yang langsung diangguki semua orang.
1 jam lamanya Wira berada diruang rapat hingga rapatnya selesai dan Ia bisa keluar sekarang. Tak menunggu lama, Wira segera pergi ke ruangan dimana Tantri diikat dan dijaga oleh Ken dan beberapa petugas.
"Lepaskan aku tua bangka brengsek!" pinta Tantri saat Wira memasuki ruangan.
"Kau itu yang brengsek, dasar tidak tahu malu!" Sentak Ken tak terima mendengar ucapan Tantri.
__ADS_1
"Sudah, lebih baik bawa saja ke kantor polisi. Aku sudah muak dengannya." pinta Wira.
Mata Tantri melotot tak terima, "Tidak, kau tidak bisa memenjarakan aku, seharusnya kau yang dipenjara!"
Wira menghela nafas panjang, "Bukankah kau senang melihat suamimu mati dan kau mendapatkan santunan setiap bulan?"
Seketika Tantri terdiam mendengar ucapan Wira.
"Jangan kau pikir aku bodoh! selama ini aku hanya diam dan menuruti semua keinginanmu karena aku benar benar menyesali kesalahanku dan kau malah semakin menjadi seperti ini!"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu!" balas Tantri tak berani menatap Wira.
"Dulu sebelum suamimu mati kau selalu minta cerai padanya karena tak mampu membiayai hidupmu dan setelah suamimu mati kau merasa senang mendapatkan uang santunan dan jatah bulanan dari ku, kau merasa tidak cukup hingga menjodohkan anak anak kita tanpa kau sadari anakmu berbuat bodoh karena telah menyiakan putriku. Lalu sekarang apa lagi ini? kau malah kau membunuhku?"
Tantri terdiam tak berani menjawab lagi karena apa yang dikatakan oleh Wira memang benar.
"Aku sudah berencana mewariskan separuh hartaku untuk mu dan Rizal jika aku mati namun melihatmu seperti ini, lebih baik aku sumbangkan separuh hartaku untuk orang lain." tegas Wira.
Sontak mata Tantri melotot tak percaya, separuh harta milik Wira hampir 1 trilyun. jika Rizal mendapatkan itu semua mungkin Rizal tidak perlu bekerja dengan keras lagi untuk hidupnya.
Tantri langsung berlutut dikaki Wira "Maafkan aku, maafkan aku Tuan."
"Sudah terlambat, aku sudah tak mempercayai mu lagi."
Tantri menggelengkan kepalanya, "Ku mohon maafkan aku Tuan, aku benar benar tak sadar melakukan hal bodoh itu. Aku kesal karena anda menyembunyikan Vanes. Aku hanya ingin Rizal kembali dengan Vanes."
"Dengan cara membunuhku dan kau berencana menguasai putriku?" sinis Wira.
Tantri kembali menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan, tidak seperti itu. Ku mohon maafkan aku. Jangan berikan hartamu pada orang lain berikan padaku dan Rizal, ku mohon."
Wira menatap ke arah Ken, "Bawa dia ke kantor polisi sekarang!"
"Tidak Tuan... Tidaaakkkkk"
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1