
Arga membelokan mobilnya, mereka kembali kerumah karena benar benar tidak bisa lewat. Saat mereka sudah sampai, Sara tak langsung keluar, Ia mematung cukup lama hingga dikejutkan oleh Arga yang melepaskan seatbeltnya.
"Ayo turun, bukankah tadi kau bilang lelah dan ingin tidur?" tanya Arga.
Sara mengangguk, Ia tak punya pilihan lain. Tidak ada hotel disekitar sini jadi Ia harus menginap dirumah Arga.
"Sekarang kau percaya?" suara Herman terdengar membuat Sara merasa tidak enak.
"Maaf Om..."
"Tidak apa apa, justru aku senang melihat sikapmu yang seperti itu kau pasti pintar menjaga diri." kata Herman.
"Sudahlah Yah... Kami lelah mau istirahat." kata Arga merangkul punggung Sara dan mengajaknya naik ke atas kamarnya.
"Aku sudah menghubungi Wira, kau tenang saja." teriak Herman.
Sara berbaliks sejenak untuk mengucapkan terima kasih, setelah itu Ia kembali mengikuti langkah kaki Arga.
"Apa tidak ada kamar lain?" tanya Sara saat Arga membawanya ke kamarnya lagi.
"Ada 3 kamar kosong tapi belum dibersihkan. Aku takut kau akan gatal gatal jika memaksa tidur disana."
"Tapi..."
"Aku tidak akan melakukan apapun padamu, kita hanya akan tidur." ucap Arga mengambil kaos big size miliknya lalu diberikan pada Sara.
"Pakai ini untuk tidur." Arga mengulurkan kaos miliknya.
Sara mengangguk, menuruti Arga memakai kaos big size milik Arga yang menutupi tubuhnya hingga paha.
"Kau pendek dan kecil jadi kaos seukuran ku ini bisa menutupi seluruh tubuhmu." ejek Arga.
Sara berdecak, tak merespon ucapan Arga. Ia mengambil bantal lalu meletakan di sofa yang ada dikamar Arga.
"Tidur diranjang." pinta Arga.
"Tidak, aku disini saja tidak apa apa."
Arga berdecak kesal karena Sara tak mau menuruti permintaannya. "Aku tidak akan melakukan sesuatu padamu."
"Aku percaya padamu." balas Sara tak ingin Arga salah paham lagi.
Arga berjalan mendekat, "Kalau kau percaya padaku, kita bisa tidur 1 ranjang. Hanya tidur tidak melakukan apapun." ucap Arga.
Sara menggelengkan kepalanya, "Jangan khawatir, aku baik baik saja disini."
Arga sudah tak sabar lagi, Ia mengendong tubuh Sara lalu membawanya ke ranjang, tak peduli dengan teriakan Sara.
__ADS_1
"Jika kau percaya padaku seharusnya kau menurut." pinta Arga.
Sara hanya diam tak lagi protes, Ia mengambil guling lalu meletakan guling ditengah tengah, "Ini batasnya, jangan sampai melewati batasnya!" pinta Sara.
"Baiklah, aku tidak akan melewati batas kecuali kau yang melewati dan datang padaku."
"Tidak akan!" ucap Sara.
Arga tersenyum, Ia ikut berbaring menghadap ke arah Sara namun sayang Sara malah berbalik memunggungi Arga.
"Kita lihat saja siapa yang akan melewati batas malam ini." gumam Arga.
"Tidak akan!" sentak Sara.
Arga tertawa lalu mulai memejamkan matanya.
Tengah malam, Arga terbangun dan melihat Sara masih berada ditempatnya, sama sekali tidak melewati batas.
Arga yang usil akhirnya menarik tubuh Sara agar melewati batas dan menghadap ke arahnya. Kini Arga bisa menatap wajah cantik Sara lebih dekat.
Arga tersenyum lalu menyentuh hidung Sara dan sentuhan Arga turun ke bibir tipis Sara, "Pasti rasanya sangat manis." gumam Arga mendekatkan wajahnya ingin mencium Sara namun Ia urungkan.
"Tidak, aku tidak boleh kurang ajar." gumam Arga lalu melepaskan diri dari Sara.
Arga kembali memejamkan mata. Ia tersenyum geli membayangkan respon Sara besok pagi saat bangun tidur.
Sara merasakan gerah dipagi hari padahal Ac dikamar dinyalakan. Ia membuka matanya dan terkejut saat melihat wajahnya begitu dekat dengan Arga.
"Kenapa dia bisa disini?" batin Sara lalu ingat jika semalam Ia menginap dirumah Arga.
Deg... Deg ... Deg... Jantung Sara berdecak kencang saat mengetahui Ia sangat dekat dengan Arga, bahkan tubuh mereka pun saling bersentuhan.
"Dimana gulingnya? Kenapa aku bisa melewati batas?" batin Sara lagi.
Sara menggelengkan kepalanya tak percaya, selama ini jika tidur tubuhnya sangat anteng tidak banyak bergerak namun kenapa saat ini... Ah gila, rasanya Sara mau gila.
Sara ingin melepaskan diri dari Arga namun malah membuat pria itu terbangun, "Kau melewati batasmu huh." ucap Arga membuat Sara malu hingga wajahnya merah padam.
"Aku tidak percaya jika aku melewati batas, sebelumnya aku tidak pernah begini." sangkal Sara.
Arga berdecak, "Kau masih menyangkalnya padahal jelas jelas kau melewati batasmu."
Karena malu Sara beranjak dari ranjang, melepaskan diri dari Arga namun pria itu malah menariknya hingga Ia kembali jatuh dan kali ini ke pelukan Arga.
Arga tidak membiarkan Sara terlepas, Ia memeluk erat tubuh Sara, tak peduli dengan omelan Sara.
"Ini hukuman karena kau sudah melewati batas." kata Arga.
__ADS_1
"Lepaskan!"
"Tidak akan!"
Sara berdecak, Ia mencoba memberontak namun tenagannya kalah hingga akhirnya Ia hanya diam menunggu Arga melepaskannya.
Suara ketukan pintu terdengar membuat Sara senang karena Arga akhirnya melepaskan dirinya.
Sara mengambil kesempatan ini untuk kabur dari Arga dan berlari ke kamar mandi.
Arga membuka pintu dan melihat Zil yang mengetuk pintu kamar Arga, "Dasar penganggu!" omel Arga pada asistennya itu.
"Maaf Tuan, bukankah Tuan yang meminta saya datang dan memberikan ini?" tanya Zil memperlihatkan paper bag yang Ia bawa.
Semalam Arga memang menghubungi Zil agar Zil membelikan baju satu set lengkap untuk dipakai Sara dan Arga tak menyangka jika Zil akan datang sepagi ini mengingat hari ini weekend.
"Tapi tidak harus sepagi ini, kau mengangguku!" omel Arga.
Zil tersenyum geli, "Nyonya menginap disini? Apa Tuan sudah unboking dengan Nona?"
Arga menjitak kepala Zil, "Jauhkan pikiran kotormu itu. Sebaiknya kau pulang sana, jangan mengangguku lagi!" omel Arga.
"Siap Tuan." ucap Zil sambil tertawa lalu meninggalkan kamar Arga.
Arga kembali mengunci pintu kamarnya, Ia melihat ke arah adik kecilnya yang sudah lemas lagi padahal tadi adik kecilnya bangun saat Ia memeluk Sara.
"Ck, sial... Aku sudah tak sabar." gumam Arga meletakan paper bag diranjang lalu duduk dipinggir ranjang.
Pintu kamar mandi terbuka namun hanya kepala Sara yang keluar, "Apa kau tidak punya handuk?"
"Tidak ada, tapi aku sudah membelikanmu handuk dan juga baju ganti." ucap Arga memperlihatkan paper bag yang ada disampingnya.
"Bisakah kau mengantarkan kesini?" tanya Sara yang kini sudah mengulurkan tangannya.
"Tidak bisa, kemari saja jika kau menginginkan handuk dan bajumu."
Sara menatap Arga kesal, "Dasar gila!" ucap Sara menutup pintunya kembali.
Arga tertawa, Ia tak sabar menunggu apa yang akan dilakukan oleh Sara setelah ini.
Tak berapa lama pintu kembali terbuka dimana Sara keluar dengan rambut basah dan kembali memakai kaos big size miliknya.
Arga menelan ludahnya karena Sara terlihat sangat seksi bahkan mampu membuat adik kecilnya kembali bangun.
"Tutup matamu, dasar mesum!" omel Sara mengambil paper bag lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yaaa