
Faris dan Vanes baru saja sampai rumah bersama Alea yang juga ikut pulang bersama mereka. Alea tampak kagum dan senang melihat rumah mewah milik Wira. pertama kalinya Alea berada dirumah mewah seperti ini.
"Kalian sudah pulang?" tanya Sara yang baru saja keluar dari kamarnya.
Faris dan Vanes tampak terkejut melihat Sara ada dirumah padahal ini masih siang bolong.
"Kau libur?" tanya Vanes.
Sara menggelengkan kepalanya, "Aku baru saja pulang diantar Ken. Perutku mual dan kepala ku pusing."
"Kau sakit? Sudah periksa ke dokter?" Vanes terlihat khawatir.
Sara tersenyum, "Kau harus mengucapkan selamat padaku karena sebentar lagi akan memiliki keponakan."
Lagi lagi Vanes terkejut dan kali ini Ia langsung memeluk Sara, "Kau yakin? Tidak bercanda kan? Aku senang sekali mendengarnya." ucap Vanes masih memeluk Sara.
"Ya dokter mengatakan jika aku hamil, sayang sekali aku tidak harus bulan madu seperti kalian."
Vanes tersenyum, "Tidak apa apa, mulai sekarang kau harus banyak istirahat agar bayi dalam kandunganmu sehat."
Sara mengangguk setuju, Ia menatap ke arah Alea yang ada disamping Faris.
"Dia Alea, kami ingin memperkerjakan disini." kata Faris seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Sara.
"Ohh pembantu baru, baiklah aku mengerti." kata Sara, "Sebaiknya kalian segera istirahat, aku tahu kalian pasti lelah menghabiskan waktu diperjalanan." tambah Sara yang langsung diangguki oleh Vanes dan Faris.
"Dan kau, siapa namamu tadi, Alea kan? Ikut aku, akan ku tunjukan kamarmu." ajak Sara yang langsung diikuti oleh Alea.
Vanes dan Faris memasuki kamar mereka, "Kita mandi lebih dulu dan setelah itu kita harus menyapa Papa." ajak Faris.
Vanes hanya diam saja, tidak merespon ucapan Faris.
"Kau baik baik saja sayang?" tanya Faris memeluk istrinya dari belakang.
"Kita yang lebih dulu menikah tapi Sara yang lebih dulu hamil."
Faris tersenyum, "Lalu kau akan marah pada Tuhan? Kau ingin protes?"
Mendengar ucapan Faris sontak membuat Vanes tertawa, "Tidak, bukan seperti itu maksudku."
"Lalu apa?"
"Aku hanya sedikit iri mas."
Faris tersenyum lalu mengelus kepala istrinya penuh sayang, "Jangan iri, jika Tuhan belum mempercayakan kita memiliki momongan mungkin Tuhan ingin kita menikmati waktu berdua."
Vanes tersenyum berbalik agar bisa memeluk suaminya, "Baiklah mas, aku tidak akan berpikir buruk lagi apalagi protes dengan ketetapan Tuhan."
"Nah, begitu baru istriku." ucap Faris mempererat pelukannya.
Setelah keduanya mandi, keduanya pergi keruangan Wira dimana Wira masih terbaring lemas belum sadar.
"Papa... Kami sudah kembali dari honeymoon." sapa Vanes sambil menciumi punggung tangan Wira, "Sebentar lagi keinginan Papa untuk memiliki cucu akan terkabul tapi bukan dari Vanes melainkan dari Sara, dia sudah hamil Pa." ucap Vanes lagi yang langsung membuat Faris mengelus punggung Vanes seolah memberi semangat untuk istrinya.
"Meskipun begitu, Papa pasti senang." tambah Vanes.
__ADS_1
"Papa cepat sadar ya, Vanes kangen." tanpa sadar Vanes meneteskan air matanya. Ia benar benar sudah rindu dengan Wira.
Selesai berbicara dengan Wira, Vanes dan Faris keluar dari ruangan. Mereka pergi ke dapur untuk melihat keadaan Alea.
Faris dan Vanes melihat Alea tengah membantu Bik Sri memasak didapur.
"Bagaimana dengan kamarmu Alea? Apa kau suka?" tanya Vanes mendekati Alea dan Bik Sri.
"Suka Nona, sangat bagus dan nyaman."
Vanes tersenyum, "Baiklah, semoga kau betah tinggal disini." kata Vanes, "Dan jika kau butuh sesuatu, katakan saja pada Bik Sri."
"Baik Nona."
...****************...
Ken terlihat murung diruangannya. Ia masih kesal dengan ucapan Rani.
Ken mengacak rambutnya, rasanya Ia ingin memukul kepalanya ditembok agar tidak lagi mengingat Rani yang selalu berputar dikepalanya.
"C'mon Ken, istrimu sedang hamil, seharusnya kau bahagia saat ini." ucap Ken kembali mengacak rambutnya.
Pintu ruangan diketuk, membuyarkan lamunan Ken, tampak Dylan memasuki ruangan Ken dengan senyuman tengil khasnya.
"Kau bahagia sekali." sinis Ken.
"Bukankah kita harus bahagia setiap hari pak." balas Dylan masih tersenyum tengil.
Ken berdecak bersamaan dengan Dylan yang memberikan berkas untuknya.
"Hanya kau dan aku saja?"
Dylan mengangguk, "Biasanya memang hanya kita berdua pak."
"Aku ingin bersama Rani, kau tidak perlu ikut."
Sontak saja Dylan terkejut dengan keputusan Ken, "Tapi pak..."
"Jangan membantah, lakukan seperti yang aku perintahkan!" omel Ken yang akhirnya diangguki oleh Dylan.
Dylan keluar dari ruangan Ken dengan wajah murung, Ia segera pergi ke ruangan Rani untuk memberitahu Rani jika Rani harus pergi bersama Ken besok.
"Kenapa harus aku?" Rani pun ikut terkejut.
"Mana ku tahu, itu keputusan dari Bos Ken." Dylan terlihat kesal.
"Berapa hari?"
"Mungkin 2 sampai 3 hari karena diluar kota."
Rani berdecak, "Benar benar menyebalkan!"
"Kau pikir hanya kau saja yang kesal, aku juga kesal, kenapa harus bersamamu dan lagi hanya berdua, seandainya saja aku bisa ikut."
Rani terdiam, Ia merasa jika Dylan cemburu melihatnya harus pergi dengan Ken dan hanya berdua.
__ADS_1
Rani sendiri pun merasa gelisah, Ia takut jika pergi berdua dengan Ken membuatnya susah move on dari pria itu.
"Aku hanya ingin berpesan sesuatu." ucap Dylan menatap Rani khawatir.
"Apa?"
"Jangan sampai tergoda dengan Bos Ken, ingatlah jika Bos Ken itu sudah memiliki istri."
Rani tersenyum, "Ya aku tahu, Sara adalah saudara ipar sepupuku, aku juga akan menjaga diriku agar tidak menyakiti sesama wanita."
Senyum Dylan mengembang, "Kau memang yang terbaik." ucap Dylan sambil mengacungkan jempolnya.
Jam pulang tiba,
Dylan menyalakan motornya lalu menatap ke arah Rani.
"Naiklah.''
"Apa tidak merepotkan?" Rani terlihat sungkan.
"Tentu saja tidak, mulai sekarang aku akan mengantar jemput mu setiap hari."
"Ta tapi-"
"Sudah, jangan protes lagi. Cepat naik."
Rani mengangguk dan langsung naik ke motor. Saat Dylan akan melajukan motornya, terdengar klakson mobil dari belakang membuat Dylan menghentikan motornya.
"Kita searah, lebih baik kau masuk ke mobilku." suara Ken terdengar dari mobilnya.
"Tidak, saya diantar Dylan saja." tolak Rani.
Tak ingin sesuatu terjadi, Dylan kembali menyalakan motornya, "Duluan ya Bos." Dylan segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Rani sampai lebih dulu kerumah karena Ia melihat mobil Ken belum terparkir di pekarangan.
Saat memasuki rumah, Rani berpapasan dengan Sara.
"Kau pulang sendiri? Tidak bersama Ken?" tanya Sara yang langsung diangguki oleh Rani.
"Aku pulang bersama temanku, oh iya ku dengar kau sakit?" Rani melihat wajah pucat Sara.
Sara tersenyum, "Ternyata aku hamil, mungkin ini efek dari kehamilanku."
Deg... Seketika jantung Rani berdegup kencang.
"Hamil?"
"Ya, kau tidak mengucapkan selamat?" tanya Sara penuh harap.
Rani akhirnya tersenyum, "Selamat atas kehamilanmu."
Bersambung ...
Jangan lupa.like vote dan komen yaaa
__ADS_1