
Faris berada dikosan Vanes hingga sore. Mereka mengobrol dan bercanda hingga tak terasa waktu sudah sore hari.
Faris pamit untuk pulang karena takut orangtuanya khawatir mengingat Ia baru saja keluar dari penjara.
"Bagaimana tanggapan orangtuamu saat kemarin aku datang kesana?" tanya Vanes sebelum Faris melajukan motornya.
"Mereka terkejut ternyata kau tinggal disini." balas Faris lalu tersenyum.
Vanes pun ikut tersenyum, "Aku pikir orangtuamu tak akan memberikan restu pada kita." ucap Vanes raut wajahnya berubah khawatir.
Faris mengelus kepala Vanes, "Jangan pikirkan apapun yang membuat khawatir, apa yang kita pikir buruk belum tentu juga buruk."
Vanes kembali tersenyum dan mengangguk, "Hati hati dijalan."
Faris mengangguk lalu segera melajukan motornya meninggalkan kosan Vanes.
Sampai dirumah, Faris kembali terkejut saat melihat banyaknya warga yang datang kerumahnya lagi.
"Ada apa lagi ini!" sentak Faris langsung emosi mengingat para warga ini yang kemarin menyeretnya dipenjara.
"Jangan salah paham dulu Faris, masuklah dulu ada perwakilan warga yang mau bicara padamu." ucap Asih yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Faris tak lagi protes, Ia menuruti ucapan Ibunya, masuk ke dalam rumah dimana ada beberapa warga yang duduk diruang tamu.
"Jadi begini Faris, niat kami datang kesini karena ingin meminta maaf padamu secara langsung, maaf karena sudah percaya dengan fitnah Pak Kades." ungkapnya membuat Faris terkejut karena tak menyangka mereka akan tahu secepat ini.
"Saat ini Pak Kades sudah menerima balasan karena ditangkap oleh aparat atas kasus pemerkosaan." tambah Slamet yang baru tahu kasus Pak Kades dari warga yang datang.
Lagi lagi Faris dibuat terkejut, "Pemerkosaan? Siapa yang sudah diperkosa?" tanya Faris penasaran.
"Kembang desa dari kampung sebelah, si Fatima. Kenal kan?"
Faris mengangguk mengingat Fatima adalah adik kelasnya saat sekolah menengah ke atas.
"Sekarang anaknya lagi hamil, bener bener biadab Kades kita." ucap salah satu warga.
"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi yang penting sekarang semua warga sudah tahu kalau bukan Faris yang menghamili Ani." ucap Slamet yang langsung membuat raut wajah warga menyesal.
"Sekali lagi maafkan kami ya Ris." ucap Salah satu warga yang langsung diangguki oleh Faris.
"Tidak apa apa Mas, saya sudah melupakan semuanya."
Semua warga yang ada disana akhirnya bersalaman dengan Faris sekalian berpamitan untuk pulang.
Kini tinggalah Faris dan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Sudah lega sekali Ibu ngeliat warga nggak salah paham lagi sama Faris." kata Asih tersenyum bahagia.
Slamet pun juga ikut tersenyum, "Bapak juga Bu, ini mungkin buah dari kesabaran kita."
"Mungkin Bapak sama Ibu perlu tahu ini." ucap Faris tiba tiba.
"Ada apa?"
"Yang sudah bebasin Faris itu Pak Wira, papanya Vanes."
Asih dan Slamet terkejut, "Bagaimana bisa?"
"Pak Wira itu kenal sama kepala polisi disini dan mereka itu tunduk sekali pada Pak Wira, sudah pasti sangat mudah bagi Pak Wira untuk membebaskan Faris." jelas Faris membuat kedua orangtuanya terdiam.
"Kita jadi punya hutang budi sama Papanya Neng Vanes." celetuk Asih yang langsung diangguki oleh Slamet.
"Apa nggak bisa Bu kalau aku sama Vanes menikah?" tanya Faris memberanikan diri.
Asih langsung beranjak dari duduknya, diikuti oleh Slamet. Keduanya orangtua Faris masuk ke kamar mereka tanpa menjawab pertanyaan Faris.
Faris hanya bisa menghela nafas panjang, dadanya terasa sesak mengingat begitu sulit jalannya bersama Vanes.
Sementara itu ditempat lain...
Wira baru saja sampai rumah setelah perjalanan panjang menuju kampung halaman Faris.
"Ada tamu Tuan..."
Wira mengerutkan keningnya, "Siapa?" Wira merasa tidak memiliki janji bertemu dengan siapapun.
"Nyonya Tantri Tuan."
Seketika Wira berdecak, "Untuk apa lagi dia kemari? bukankah uang bulanan sudah ku transfer."
Wira berjalan menuju ruang tamu dimana memang benar ada Tantri disana, menatapnya dengan tatapan marah.
"Kau tidak bisa melakukan ini Tuan!" protes Tantri.
"Apa yang sudah ku lakukan?" balas Wira santai.
"Dimana kau menyembunyikan putrimu!"
"Putriku? Vanes? apa sekarang kau juga akan ikut campur dengan keluargaku?" sinis Wira.
"Dia menantuku, tentu saja aku harus tahu." Tantri tak mau kalah.
__ADS_1
Wira tertawa, "Apa aku tidak punya malu? Putramu bahkan sudah mencampakan putriku jadi untuk apa lagi kau mencarinya."
"Putraku memang bersalah tapi dia sudah menyadari semuanya!" tegas Tantri.
"Sayangnya sudah terlambat jadi sebaiknya jangan ganggu atau mencari Vanes lagi."
Tantri menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa begitu, kau sudah membunuh suamiku dan kini kau juga akan membuang putraku begitu saja?" protes Tantri tak terima.
"Suamimu meninggal karena kecelakaan dan aku sudah bertanggung jawab membiayai hidupmu setiap bulannya, lalu kau meminta menjadi besanku, aku pun langsung menuruti keinginammu dan sekarang kau kembali protes atas kesalahan yang dibuat oleh putramu? Apa kau tidak malu?"
Tantri menggelengkan kepalanya, "Tidak, putraku sudah menyadari kesalahannya dan mencintai Vanes, seharusnya kau memberi kesempatan pada Rizal."
Wira menghela nafas panjang, rasanya emosi mendengar ucapan Tantri, "Jika kau bersikap seperti ini, aku pastikan tidak akan memberikan uang bulanan lagi padamu!" tegas Wira lalu beranjak dari duduknya.
"Aku akan melaporkanmu ke polisi karena sudah menabrak suamiku hingga mati." ancam Tantri.
Wira tersenyum sinis, "Lakukan saja apapun yang kau mau tapi saranku jangan melapor karena polisi tidak akan mempercayai orang miskin sepertimu." ucap Wira lalu pergi meninggalkan Tantri.
Tantri mengepalkan tangannya, Ia tak menyangka Wira akan mengucapkan kata kata kejam itu padanya.
Tantri akhirnya keluar dari rumah Wira, Ia tak mendapatkan apapun yang Ia inginkan disini. Wira sudah tidak lagi ada dipihaknya.
Sampai dirumah, Tantri melihat Rizal juga sudah pulang.
"Mama tidak masak makanan untuk ku?" tanya Rizal melihat Tantri baru saja memasuki rumah.
"Apa hanya makan saja yang kau pikirkan? Kita sudah tidak mendapatkan kepercayaan dari Pak wira, seharusnya kau takut!"
Rizal berdecak, Ia kembali mengingat tentang Vanes. Sampai saat ini Ia masih belum bisa menemukan keberadaan Vanes.
"Lalu aku harus bagaimana Ma? Aku saja tidak tahu dimana keberadaan Vanes."
"Kau benar benar bodoh Rizal, jika saja kau tidak menyiakan Vanes, sudah pasti kita tidak seperti ini!" Tantri kembali menyalahkan Rizal.
"Nasi sudah menjadi bubur Ma... Sekarang kita pikirkan saja bagaimana cara agar Vanes bisa kembali pada kita."
Tantri terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia menjawab, "Hanya ada satu cara Rizal."
"Katakan bagaimana caranya Ma?"
"Wira harus mati." ucap Tantri lalu tersenyum.
Rizal yang awalnya terkejut kini ikut tersenyum seolah setuju dengan rencana Tantri.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeennn