TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
46


__ADS_3

Rizal masih sangat shock mendengar aduan dari para karyawannya tentang Mira yang saat ini sudah menguasai perusahaan miliknya.


padahal kemarin Ia sudah mengusir Mira dan semua saham serta aset perusahaan itu atas nama Rizal jadi bagaimana bisa Mira menjadi penguasa perusahaannya?


"Kalau begitu saya permisi pak." pamit Nisa merasa dirinya sudah salah bicara dan keadaan menjadi canggung.


"Apa apaan ini Rizal! Apa yang mereka katakan itu benar jika kau memberikan perusahaan pada wanita ****** itu?" tanya Tantri dengan emosi setelah semua karyawan Rizal keluar dari ruangan.


Vanes yang berada disana pun langsung mendekati Tantri dan mengelus punggung Ibu mertuanya itu agar lebih tenang lagi.


"Kau sudah gila Rizal!" ucap Tantri melihat Rizal hanya diam saja.


"Tenanglah dulu Ma, aku juga sedang bingung saat ini." kata Rizal mengambil ponselnya yang ada di meja samping ranjangnya untuk menghubungi pengacaranya.


"Kemarilah, kita harus bicara." pinta Rizal lalu mengakhiri panggilan.


"Wanita gila itu!" geram Rizal mengepalkan tangannya.


"Lihatlah apa yang kau dapat sekarang Hah?" sentak Tantri lagi.


Rizal benar benar Frustasi, dirinya sedang sakit dan mendapatkan kabar buruk tentang perusahaan, Tantri Mama kandungnya bukan menghibur dirinya malah membuatnya semakin frustasi.


"Lebih baik kita keluar sekarang Ma, mungkin Mas Rizal butuh waktu untuk menenangkan diri." ajak Vanes melihat wajah frustasi Rizal, jujur Ia tak tega.


"Tidak Vanes, Mama masih belum puas sebelum memastikan jika perusahaan masih milik Rizal." kata Tantri.


Vanes menghela nafas panjang, Ia akhirnya memilih keluar agar tak menganggu jika Tantri ingin berbicara lebih intim lagi dengan Rizal.


"Sekarang katakan pada Mama, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Tantri dengan suara lebih lembut.


"Aku juga tidak tahu Ma, aku sama sekali tidak memberi Mira apapun bahkan sepeser saham pun tidak jadi bagaimana bisa dia menguasai perusahaanku." balas Rizal dengan kesal.


"Coba kau ingat ingat lagi!" pinta Tantri.


Rizal terdiam, mencoba mengingat sesuatu namun tidak ada yang dia dapatkan. Rizal benar benar sangat yakin jika dirinya tidak memberikan apapun pada Mira.


"Jangan jangan wanita itu menggunakan cara licik." tebak Tantri.


Rizal berdecak, "Sekarang bukan itu masalahnya Ma... Rizal takut jika Papa ke kantor dan tahu segalanya, bisa habis aku Ma."


Raut wajah Tantri berubah khawatir, "Tidak Rizal, Mama tidak mau jadi miskin lagi. Kau telepon Papa mertuamu agar tidak datang ke perusahaan. Pastikan perusahaan kembali milikmu lebih dulu." pinta Tantri.


Rizal mengangguk setuju, Ia segera menghubungi Wira melalui panggilan telepon.

__ADS_1


"Ada apa? Tidak biasanya kau meneleponku seperti ini?" tanya Wira saat sudah menerima panggilan dari Rizal.


"Begini Pa... apa Papa sudah datang ke kantor ku hari ini?" tanya Rizal dengan jantung berdegup kencang bersamaan Tantri yang juga tak sabar menunggu jawaban Wira.


"Ohh masalah itu, aku belum sempat kesana karena tadi aku sibuk mengurus sesuatu, mungkin bes-"


"Jangan Pa... Sepertinya Rizal bisa menghandle dari sini." potong Rizal lalu tersenyum lebar diikuti oleh Tantri yang juga tersenyum karena merasa lega.


"Apa kau yakin? Kau sedang sakit."


"Sangat yakin Pa, Rizal pasti bisa menghandle semuanya dengan baik." balas Rizal.


"Baiklah jika memang seperti itu. Jika terjadi sesuatu jangan sungkan untuk mengatakan padaku." kata Wira.


"Baik pak."


Rizal menutup teleponnya dan kembali tersenyum lebar karena merasa lega setelah mendengar Wira belum datang ke perusahaannya.


Rizal kembali membuka ponselnya, kali ini Ia ingin menghubungi Mira namun hingga 3 kali mendial nomor Mira tak ada satupun yang diangkat oleh Mira.


"Sial, wanita itu benar benar!" umpat Rizal.


"Bukankah dulu Mama juga sudah melarangmu agar tidak dekat dekat dengan wanita itu?" protes Tantri lagi.


"Biar, biar kamu sadar dan tidak melakukan hal bodoh lagi! Mama nggak mau tahu, kamu harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum Papa mertuamu tahu!" tegas Tantri.


"Iya Ma... Iya!"


Tak berapa lama pintu kamar terbuka, nampak Hendra pengacara dari Rizal sudah datang kerumah sakit untuk menemui Rizal.


"Masalah kecelakaanmu sudah beres, tidak ada korban jiwa lain dan polisi sudah menutup kasusnya." kata Hendra yang mengurus kasus kecelakaan Rizal.


"Aku tidak ingin mendengar tentang itu, apa kau tahu jika perusahaan ku sudah diakui oleh Mira?"


Hendra mengangguk, "Aku mendengar siang tadi dari para pemilik saham lainnya yang ikut meeting pagi tadi."


"Sial, ada masalah sepenting ini dan kau tidak memberitahu ku tentang ini?" Rizal terlihat emosi.


Hendra berdecak, "Aku sedang mengurus masalah kecelakaanmu dan tak mau diganggu masalahmu yang lain lagipula kau juga belum mentransfer bayaranku bulan ini jadi aku bekerja santai."


Rizal mengepalkan tangannya sementara Tantri yang ada dibelakang Hendra langsung memukul lengan Hendra dengan keras.


"Dasar sialan, bisa bisanya kau melakukan ini pada putraku yang sudah banyak membantumu!" omel Tantri.

__ADS_1


Hendra menatap Tantri sebal, "Baiklah baiklah, Mira mungkin berbuat licik untuk mendapatkan perusahaanmu. Sekarang coba kau ingat apa kau pernah memberi tanda tangan dikertas kosong?"


Rizal kembali diam, mengingat sesuatu dan akhirnya dia ingat jika sering memberikan tanda tandanya padahal Mira memberinya kertas kosong.


"Dia meminta tanda tangan untuk berkas yang belum dibuat. Itu sudah biasa terjadi diantara kami."


Hendra tersenyum sinis, "Dia menggunakan tanda tangan itu untuk pengalihan semua aset dan saham."


Rizal yang emosi pun melempar gelas yang ada dimeja hingga pecah berceceran dilantai.


"Tidak bisa dibiarkan, kita harus tuntut dia!" kata Tantri.


"Kita bisa melakukan itu tapi aku tak yakin cara ini akan berhasil."


"Lakukan apapun yang bisa membuat perusahaanku kembali!" pinta Rizal.


Hendra menghela nafas panjang, "Lalu jika gagal, kau akan membayarku dengan apa? Apa kau lupa jika kartu kredit dan rekening bankmu semua berada ditangan Mira, wanita itu mungkin juga sudah mengambil alih semua uangmu."


"ARGHHHH, BENAR BENAR SIAL." Teriak Rizal penuh emosi.


Tantri yang mendengar pengakuan Hendra pun terjatuh dilantai karena tak kuat menopang tubuhnya.


"Bagaimana bisa aku memiliki putra sebodoh ini." Gumam Tantri.


Sementara itu,


Wira tampak banyak melamun malam ini, Matanya menerawang menatap ke langit langit rumahnya.


Hati Wira merasa hancur saat ini apalagi setelah mendengar jika Mira tengah hamil anak Rizal. Benar benar tidak bisa ditoleransi lagi. Rizal sudah sangat keterlaluan.


Selama ini Wira tahu kedekatan Rizal dan Mira namun Ia masih diam saja, berharap Rizal bisa berubah namun sepertinya semua tidak sesuai harapan Wira.


Pintu ruang kerja Wira terbuka, nampak Ken masuk membawa seorang wanita paruh baya.


"Tuan saya sudah membawa orangnya, Bik Sri asisten rumah tangganya Nona Vanes."


"Selamat malam Tuan." sapa Bik Sri dengan wajah pucat karena tahu siapa Wira itu.


"Tidak perlu takut padaku, aku memanggilmu kesini karena aku ingin tahu seberapa banyak putriku menderita dirumah itu."


Kepala Bik Sri langsung saja menunduk.


Bersambung...

__ADS_1


Jan lupa like vote dan komenn


__ADS_2