
Suara deburan ombak ditambah semilir angin membuat suasana malam ini semakin romantis. Tautan bibir masih terjalin diantara Faris dan Vanes, entah sudah berapa menit namun bibir mereka enggan terlepas hingga Vanes akhirnya melepaskan bibirnya lebih dulu.
Faris tersenyum, memandangi wajah ayu Vanes yang kini tampak memerah malu dan sedikit menunduk.
"Dingin." gumam Vanes seolah ingin menghilangkan rasa gugup.
Faris membawa tubuh Vanes ke dalam pelukannya, Kini Faris bisa merasakan suara degup jantung Vanes yang berdetak kencang.
"Begini masih dingin?"
Vanes tertawa, "Tidak."
"Bilang saja minta dipeluk." goda Faris.
Vanes memukul lengan Faris, "Bukan seperti itu, memang dingin rasanya!"
Faris tersenyum, "Baiklah, aku akan memeluk lebih erat lagi."
Cukup lama keduanya berpelukan, udara semakin dingin hingga menembus jaket yang dipakai keduanya.
Faris akhirnya mengajak Vanes kembali ke Villa.
"Padahal aku masih ingin disana." protes Vanes.
"Sudah terlalu malam dan udara dingin tidak baik untuk kesehatan lagipula masih ada waktu besok seharian untuk bermain lagi dipantai." kata Faris lalu mencubit pipi Vanes.
"Baiklah baiklah."
Sebelum masuk ke villa, keduanya menyempatkan membeli jagung bakar untuk cemilan karena mereka berencana begadang menonton film malam ini.
"Berbaringlah disini." ajak Vanes melihat Faris memilih melihat dari sofa sementara dirinya berada diranjang.
"Tidak Mbak, aku disini saja."
Vanes berdecak dan akhirnya Ia yang beranjak dari ranjang lalu menghampiri Faris duduk dikursi.
Faris tersenyum melihat tingkah Vanes, Ia merangkul tubuh gadis itu hingga mereka sangat dekat.
"Begini lebih nyaman." gumam Vanes.
Keduanya fokus menonton film romantis komedi, sesekali tawa terdengar dan Faris juga mencuri kesempatan untuk menciumi pipi Vanes tanpa ada penolakan dari Vanes hingga Film berakhir dan kantuk menyerang membuat keduanya memutuskan untuk tidur.
"Tidurlah disini." pinta Vanes menepuk ranjang kosong yang ada disampingnya.
"Tidak mbak, aku disini saja."
Vanes berdecak, "Apa aku bau hingga tidak mau berdekatan denganku?"
Faris tersenyum, "Tidak juga mbak, sudah tidur saja jangan pikirkan hal aneh lagi." ucap Faris.
Vanes memanyunkan bibirnya namun sedetik kemudian Ia pun terlelap disusul oleh Faris karena keduanya memang sudah sama sama mengantuk.
Dan paginya, Faris dibangunkan dengan bau kopi yang baru diseduh. Faris membuka matanya dan dimeja samping sofa sudah ada secangkir kopi hangat lengkap dengan sepotong kue.
__ADS_1
Faris mengedarkan pandangan hingga matanya menemukan yang Ia cari.
Vanes, wanita itu tampak berdiri didepan cermin sedang menyisir rambut.
Saat ini Vanes memakai jubah mandi, Faris pikir Vanes baru saja selesai mandi namun ternyata Faris salah.
"Aku ingin berenang." ucap Vanes menunjuk ke arah kolam renang pribadi yang menjadi fasilitas villa itu.
"Minum kopinya lalu ikutlah berenang." ajak Vanes.
Faris menggelengkan kepalanya, "Tidak mbak, aku tidak bisa berenang."
Tawa Vanes membuncah, "Bagaimana mungkin seorang pria tidak bisa berenang."
Faris tersenyum, "Memang itu kenyataannya."
Vanes akhirnya memutuskan untuk berenang sendirian.
Faris sempat melihat Vanes membuka jubah mandinya, Vanes mengenakan celana pendek yang menutupi setengah paha dan perutnya serta kaos yang menutupi tubuhnya. Faris merasa lega karena Vanes tidak memperlihatkan area sensitif tubuhnya, Vanes masih berpakaian sopan jadi Ia bisa leluasa dan tenang melihat Vanes berenang.
Faris duduk dipinggir kolam renang, bajunya ikut basah karena Vanes memberi cipratan air ke arahnya.
Faris gemas dan akhirnya ikut turun ke kolam untuk mengejar Vanes.
Vanes tertawa puas melihat Faris ikut turun ke kolam renang. Mereka bermain air seperti anak kecil namun membuat keduanya tersenyum bahagia.
Cukup lama mereka berada dikolam renang, beruntung airnya hangat jadi tidak membuat keduanya mengigil.
"Ayo sudah." ajak Faris naik ke atas lebih dulu lalu mengulurkan tangannya agar Vanes ikut naik.
"Jangan bandel mbak."
Vanes memanyunkan bibirnya, Ia tak lagi bisa menolak Faris.
"Mbak mandi duluan." kata Faris.
"Aku mandinya lama, nanti kamu keburu dingin. Mandi bareng aja." ajak Vanes sambil tertawa menggoda.
"Enggak mbak, aku bisa ganti baju dulu biar nggak kedinginan."
Vanes berdecak, rasanya malu sekali karena lagi lagi Faris menolak, "Ya sudah."
Faris menggelengkan kepalanya melihat Vanes sudah masuk ke kamar mandi. Faris tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka masuk kekamar mandi bersama.
"Tidak Ris, Lo harus bisa nahan. Jangan bikin kecewa Bapak Ibu lagi." gumam Faris.
Vanes baru saja selesai mandi kini gantian Faris yang masuk ke kamar mandi.
Faris keluar dari kamar mandi, Ia langsung menatap ke arah Vanes yang tampak cantik mengenakan dress floral dengan rambut terurai.
"Ada apa?" tanya Vanes melihat Faris menatapnya tanpa kedip.
Faris menggelengkan kepalanya, "Tidak apa apa mbak."
__ADS_1
"Bajunya jelek?" tanya Vanes memastikan.
Faris kembali menggelengkan kepalanya, "Mbak Vanes cantik pakai baju itu."
Seketika pipi Vanes merona mendengar pujian Faris.
Keduanya keluar untuk sarapan dan setelah itu keduanya berjalan jalan ke pantai.
Hanya jalan jalan dan mengambil beberapa foto bersama tanpa bermain air lagi karena mereka sudah puas bermain air selama 2 hari ini.
Sore harinya, Faris dan Vanes bersiap untuk pulang ke kota.
"Tidak ada barang yang tertinggal mbak?" tanya Faris memastikan.
"Tidak ada, semuanya sudah masuk ke dalam tas."
"Ya sudah kita check out sekarang."
Vanes mengangguk dan mengikuti langkah Faris masuk ke dalam mobil.
Faris merasa sedikit aneh dengan sikap Vanes sore ini karena Vanes banyak diam tidak bawel seperti tadi pagi.
"Ada apa mbak? Kenapa hanya diam saja, apa aku ada salah?" tanya Faris sebelum melajukan mobilnya.
Vanes menggelengkan kepalanya, "Aku hanya penasaran, ada banyak kesempatan tapi kamu sama sekali tidak melakukannya."
Faris mengerutkan keningnya, sama sekali tidak mengerti maksud Vanes, "Maksudnya apa mbak?"
"Ada banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu yang lebih dari ciuman tapi kau tidak menggunakan kesempatan itu." kata Vanes memperjelas.
Faris tersenyum, kini Ia mengerti maksud Vanes, "Rasanya ingin sekali melakukannya, pasti sangat indah karena melakukan bersama orang yang kita cintai." kata Faris membuat Vanes menatap ke arahnya.
"Namun sekarang belum waktunya melakukan itu mbak. Aku tidak mau melampaui batas karena aku ingin semua berakhir baik."
Mata Vanes berkaca kaca mendengar ucapan Faris.
Bagi Vanes hanya Faris pria yang benar benar tulus dan baik.
Vanes akhirnya memeluk Faris, tadinya Ia pikir Faris tidak menyentuhnya karena merasa jijik dengannya namun ternyata Vanes salah karena Faris hanya ingin menjaga Vanes sampai waktunya tiba.
Setelah pembicaraan yang penuh haru, Faris mulai melajukan mobilnya. Perjalanan kali ini sangat hening tidak ada obrolan lagi diantara keduanya, hanya suara musik romantis yang menemani perjalanan mereka sambil sesekali Faris mengenggam tangan Vanes.
Setelah melewati perjalanan beberapa jam, mereka tiba dirumah pukul 9 malam.
Saat mobil melewati pagar rumah, Faris dan Vanes terkejut melihat ada mobil Rizal disana dan keduanya kembali terkejut saat Rizal berdiri didepan pintu rumah, seolah menunggu kepulangan mereka.
Faris tahu akan ada masalah besar setelah ini namun Ia juga harus berani bertanggung jawab karena Faris juga merasa sudah salah.
Faris keluar dari mobil, menghampiri Rizal dan...
Bugh... Satu pukulan dari Rizal menghantam pipinya bersamaan dengan suara jeritan Vanes.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yaaa