TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
177


__ADS_3

Rani yang tadinya hanya diam dan menunduk kini langsung mendongak saat Dylan mengatakan akan menunggunya.


Rani masih tak percaya jika Dylan akan menjalin hubungan sangat serius dengannya.


"Menunggu dalam hal apa?" tanya Romli seolah masih belum jelas dengan ucapan Dylan.


"Sampai Tante mau merestui hubungan kami, sejujurnya saya berniat melamar Rani hari ini namun karena Tante masih belum setuju jika Rani menikah, saya akan menunggu." ungkap Dylan.


Romli tersenyum, Ia sangat menyukai Dylan, pria gentle seperti Dylan tidak boleh di sia siakan begitu saja karena tak semua pria sama seperti Dylan contohnya mantan kekasih Rina yang langsung kabur saat tahu Rina hamil. Romli tidak ingin mengulang masa lalu yang pahit, Ia ingin semua putrinya bahagia.


"Nanti biar Bapak ngomong lagi sama Ibunya Rani, kalau Ibunya sudah setuju apa kamu siap langsung menikahi putriku?" tanya Romli.


Dylan mengangguk, "Siap Pak, saya sangat siap." ucap Dylan sambil tersenyum lebar.


"Dan untuk ucapan Ibunya Rani yang mungkin menyakitimu, saya mewakili Ibunya Rani minta maaf, tolong jangan dimasukan dalam hati." kata Romli yang kembali diangguki oleh Dylan.


"Ya sudah, kalian ngobrol lagi, biar Bapak ngomong lagi sama Ibu." kata Romli beranjak dari duduknya meninggalkan Dylan dan Rani.


"Kenapa?" Tanya Dylan saat Rani menatap ke arahnya dengan tatapan tak biasa.


"Kamu beneran mau ngajakin aku nikah?"


Dylan mengangguk lalu tertawa, "Aku udah sering bilang sama kamu, kenapa masih kaget?"


Rani menggelengkan kepalanya, "Ya aku tahu tapi masih nggak nyangka aja kamu menyanggupi permintaan Bapak."


"Padahal rencanaku hari ini aku ngelamar kamu, minggu besok lamaran resmi dan minggu depannya lagi kita nikah." ungkap Dylan sambil tertawa, "Tapi karena kendala Ibu kamu yang masih belum setuju jadi ya nunggu dulu deh." tambah Dylan.


Rani merasa tak enak, "Maaf ya mas, kamu nggak apa apa kan? Ibuku memang gitu."


Dylan menggelengkan kepalanya, "Nggak masalah, aku bisa ngerti kok. Orangtua juga punya hak buat ngelarang anaknya kan, apalagi mungkin kamu harapan ibu buat bantuin kebutuhan jadi aku bisa ngerti banget." kata Dylan membuat Rani sedikit tenang, tak merasa bersalah lagi.


Sementara didalam kamar, Romli mencoba berbicara dengan Siti namun sepertinya gagal lagi. Siti tak mau mendengar apapun, Ia sama sekali tidak menyetujui pernikahan Dylan dan Rani. Bagi Siti, Rani harus bekerja, membantu perekonomian keluarga lebih dulu dalam jangka waktu yang entah sampai kapan.


"Kalau kamu mau egois gini, jangan salahkan Rani jika Rani bernasib sama seperti Rina. Kau yang membuatnya seperti itu!" ucap Romli dengan geramnya.


"Lalu apa Bapak bisa mencukupi kebutuhan kita kalau Rani menikah?" tanya Siti dengan sinis.


"Bapak usahakan, Bapak pasti usahakan. Dylan itu pria baik, jarang jarang ada pria seperti Dylan, pikirkan lagi Bu. Jangan egois." ucap Romli yang membuat Siti terdiam.


"Tapi Ibu tetap nggak setuju kalau Rani nikah sekarang, setidaknya setahun lagi." ucap Siti akhirnya.


Romli tersenyum, "Jadi Ibu setuju?"

__ADS_1


"Karena Ibu nggak mau Rani seperti Rina!"


Romli menepuk bahu Siti, "Rani itu anaknya pengertian Bu, meskipun sudah menikah pasti dia tetap memikirkan kita." ucap Romli.


Siti mengangguk, kembali berbaring diranjang.


"Ibu nggak mau nemuin Dylan?"


"Nggak sekarang! Kalau besok nggak tahu." ucap Siti lalu memejamkan matanya.


Romli tersenyum dan menghela nafas lega mendengar ucapan Siti. Romli segera keluar dari kamar dimana Dylan dan Rani menunggunya.


"Ibu setuju semisal kalian menikah." ucap Romli seketika membuat Dylan dan Rani tersenyum lega, "Tapi tidak sekarang, Ibu maunya setahun lagi." tambah Romli membuat senyum Dylan dan Rani memudar bersamaan.


"Kalian pasti kecewa ya?"


Dylan tersenyum, "Nggak apa apa Pak, mungkin memang kami harus bersabar lagi." ucapnya dan menatap Rani seolah mengatakan jika semua baik baik saja.


"Yang penting sudah mendapatkan lampu hijau, saya juga akan lebih semangat memantaskan diri untuk Rani." tambah Dylan.


"Syukur Alhamdulilah kalau kalian mau mengerti, Bapak ikut lega." kata Romli.


Setelah cukup lama berbincang dengan Romli, Dylan dan Rani keluar untuk mencari makan siang karena Siti tidak masak lauk.


"Kalau Mas Dylan nggak sabar mau cari yang lain, Rani nggak apa apa kok." ucap Rani saat keduanya sudah berada diwarung mie ayam.


Rani menunduk, tak menjawab ucapan Dylan.


"Aku cintanya sama kamu, pengen nikahnya sama kamu jadi jangan paksa aku buat cari yang lain tapi semangati aku biar aku bisa sabar nunggu kamu." ucap Dylan seketika membuat Rani meleleh mendengar ucapan Dylan.


"Gombal."


Dylan berdecak, "Serius sayang, aku susah jatuh cinta tapi sekalinya jatuh cinta pengennya langsung nikah." ungkap Dylan.


"Jadi udah pernah dong ada rencana nikah sama cewek lain?" tuduh Rani.


"Pernah tapi gagal karena dia nggak bisa nerima aku apa adanya setelah aku ajak kerumah dan tahu kondisi Ibu aku." cerita Dylan.


Rani memanyunkan bibirnya, cemburu mendengar pengakuan Dylan.


Dylan mengenggam tangan Rani, "Itu hanya masa lalu sayang, sekarang masa depanku hanya sama kamu." ucap Dylan membuat Rani tersenyum.


2 porsi mie ayam pesanan mereka datang. Rani dan Dylan segera menikmati mie ayam.

__ADS_1


...****************...


Sara melihat jam tangan, sudah hampir setengah hari Ia berada diresort dan Ia mulai bosan apalagi melihat Arga sibuk bermain game diponselnya.


Sara berdecak, berharap Arga peka dan beruntungnya Sara melihat Arga langsung peka, menghentikan permainan gamenya.


"Bosen?" tebak Arga yang langsung diangguki oleh Sara.


"Mau pulang?"


Sara mengangguk, "Tapi gimana sama Bapak bapak?"


Arga berdecak, "Mereka bakal mancing sampai sore."


Mata Sara langsung melotot, "Tahu gitu tadi pulang aja."


Arga tertawa, "Orang mancing kok ditemenin, udah ayo aku antar pulang." Ajak Arga.


"Tapi aku bawa mobil sendiri."


"Kalau gitu mobil aku tinggal biar nanti dibawa pulang sama Ayah dan kamu anterin aku pulang." kata Arga yang langsung diangguki setuju oleh Sara.


Setelah memberikan kunci mobilnya pada Herman, Arga segera memasuki mobil Sara dimana gadis itu sudah menunggunya disana.


"Pulang kan?" tawar Rani.


"Kalau mau jalan jalan dulu nggak apa apa." balas Arga.


"Nggak langsung pulang aja." kata Rani.


Arga mengangguk setuju.


Suara ponsel Arga berbunyi, ada beberapa pesan masuk. Arga membuka pesan pesan itu lalu tersenyum dan Sara melihat senyuman Arga.


"Kamu punya pacar?"


"Enggak." balas Arga acuh.


Sara terdiam hingga Arga kembali bertanya, "Kenapa? Cemburu?"


Sara menggelengkan kepalanya, "Dari semalam kamu baca pesan sambil senyum aku pikir kamu punya pacar apa gimana."


"Semalam? dimana kamu lihat aku senyum semalam?" tanya Arga yang seketika menyadarkan Sara.

__ADS_1


"Bodoh! Ketahuan kan kalau semalam ngintip." batin Sara mengomeli dirinya.


Bersambung...


__ADS_2