
Ken baru saja diberitahu oleh rekannya jika melihat Sara keluar meninggalkan hotel menggunakan salah satu mobil milik Tuan Wira. Karena khawatir, Ken pergi menyusul Sara yang entah kemana gadis itu pergi.
Ken akhirnya ingat jika Ia memasang alat pelacak diponsel Sara tanpa diketahui oleh Sara dan lokasi Sara saat ini ada di kantor polisi.
Deg... Seketika jantung Ken terasa berhenti berdetak melihat Sara pergi ke kantor polisi.
"Apa dia mau melaporkan ku?" batin Ken lalu melajukan mobilnya menuju kantor polisi.
Sampai disana, Ken masuk ke kantor polisi dan Ia tak melihat Sara ada disana, bahkan diluar kantor pun tidak ada mobilnya Sara.
Ken kembali masuk ke mobil, Ia melacak lagi lokasi Sara dan masih tetap ada dikantor polisi.
Ken mengacak rambutnya frustasi hingga matanya tak sengaja melihat mobil Tuan Wira berada dipinggir taman samping kantor polisi.
Ken kembali keluar, berjalan memasuki taman dan melihat Sara duduk disana sambil melamun.
Ken menghela nafas lega karena Sara berada ditaman yang artinya Sara tidak melaporkannya ke polisi.
Ken berjalan menghampiri Sara dan langsung duduk disamping Sara.
Tentu saja kedatangan Ken membuat raut wajah Sara berubah kesal.
Tanpa mengatakan apapun, Sara beranjak dari duduknya dan berniat pergi namun Ken malah menahan tangannya, "Nona... Maafkan saya." pinta Ken sekali lagi.
"Aku tidak mau disentuh oleh pria brengsek sepertimu!" ucap Sara dengan tatapan marah membuat Ken melepaskan tangan Sara.
Karena sudah tak ditahan lagi oleh Ken, Sara pergi dari taman, berjalan memasuki mobilnya dan segera melajukan mobilnya.
Ken tak tinggal diam, Ia mengikuti mobil Sara dari belakang karena Ken tak mau terjadi sesuatu pada Sara mengingat Sara sangat tempramental membuat Ken takut jika Sara nekat dan melakukan sesuatu yang berbahaya.
Ken menghentikan laju mobilnya saat mobil Sara berhenti didepan club malam yang masih tutup.
Sara tak keluar dari mobil dan Ken pun juga tak keluar dari mobil hingga pukul 5 sore, Club sudah mulai buka, Sara tampak keluar dan memasuki club diikuti Ken secara diam diam.
...****************...
Acara pernikahan selesai, semua tamu sudah pulang. Beberapa keluarga Faris ada yang langsung pulang ke kampung namun ada juga yang masih tetap disana menemani Asih menginap dihotel yang sudah disediakan oleh Wira. Rani yang tadinya ingin ikut pulang pun mengurungkan niatnya, memilih menginap dihotel bersama Asih.
Saat makan malam bersama, Rani tampak celinggukan mencari seseorang namun sejak sore tadi Ia melihat masuk ke mobil, Rani belum melihatnya lagi sekarang.
__ADS_1
"Kemana dia? Jika dia anak buahnya Tuan Wira bukankah dia seharusnya disini?" gumam Rani yang ternyata mencari Ken.
"Siapa yang kau cari nduk?" tanya Asih yang ada disamping Rani.
"Tidak ada Budhe, cuma lihat situasi aja."
"Ohh kirain kamu sudah dapat pacar tadi."
Pipi Rani memerah malu mendengar ucapan Asih apalagi mengingat saat Ken mengatakan jika Rani manis, membuat Rani makin mabuk kepayang dengan pria itu.
Selesai makan malam bersama, semua orang masuk ke kamarnya masing masing termasuk Faris dan Vanes.
"Mau mandi duluan?" tawar Faris.
"Mas saja yang duluan, Aku mau bersihin make up dulu."
"Oh oke." ucap Faris lalu memasuki kamar mandi.
Saat ini mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri namun entah mengapa rasanya aneh untuk mereka berdua. Faris sendiri pun merasa canggung dan juga gugup karena jujur Ia belum pernah melakukan apapun pada Gadis, hanya berciuman dan itu pun dengan Vanes.
Selesai mandi, Faris keluar dan giliran Vanes yang masuk ke kamar mandi.
Vanes keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan jubah mandi namun didalam jubah mandi itu Vanes tak mengenakan apapun, tubuhnya polos bahkan tidak ada bra dan ****** ***** disana.
Vanes menghampiri Faris yang duduk, terlihat sedang asyik dengan ponselnya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Vanes.
"Membalas pesan dari temanku yang mengucapkan selamat." ucap Faris terdengar gugup.
Faris meletakan ponselnya, Ia menatap ke arah Vanes yang terlihat sangat segar setelah mandi. Rambutnya dicempol membuat leher putih mulus milik Vanes terlihat mengoda Faris.
Faris mengangkat tangannya untuk mengelus pipi Vanes. Saat ini Vanes sudah menjadi miliknya dan Ia bisa melakukan apapun tanpa takut dosa.
Faris mulai mendekatkan wajahnya, mencium bibir Vanes perlahan namun semakin lama ciuman Faris semakin memburu bahkan tangan Faris yang sedari tadi hanya diam kini mulai menjelajahi tubuh Vanes.
Faria tersenyum kecil saat mengetahui Vanes tidak mengenakan dalaman. Faris membuka ikat jubah mandi hingga terlepas dan memperlihatkan tubuh polos Vanes.
Faris melepaskan ciumannya, Ia mengajak Vanes berdiri agar bisa melihat keindahan tubuh Vanes.
__ADS_1
"Jangan melihatku seperti itu." ucap Vanes tersipu malu.
"Aku hanya ingin menikmati keindahan tubuh istriku yang selama ini tersembunyi." kata Faris lalu melepaskan jubah mandi Vanes hingga kini Vanes benar benar polos tanpa sehelai benangpun.
Faris memandang dari atas hingga bawah yang semakin membuatnya kagum bahkan tidak hanya dirinya namun juga adiknya yang ada dibawah pun sudah bangun sedari tadi, seolah tak sabar ingin menjelajahi gua yang akan dimasuki.
Faris membawa Vanes ke ranjang, membaringkan tubuh Vanes. Bibirnya mulai menjelajahi setiap inchi tubuh indah milik Vanes hingga membuat gadis itu mengeluarkan suara indah yang belum pernah didengar oleh Faris.
Faris semakin mengebu dan tak sabar, Ia pun melepaskan bajunya dan memulai menyatukan miliknya ke gua Vanes.
Vanes menjerit bahkan hingga mencakar punggung Faris namun tidak membuat Faris berhenti. Faris tetap memaksa menerobos masuk.
Rasanya tak tega melihat Vanes kesakitan namun Ia juga merasa sudah separuh jalan, tidak mungkin dihentikan sekarang.
Setelah beberapa menit kesulitan memasuki Vanes kini Faris akhirnya berhasil menerobos gawang Vanes yang terjaga selama 25 tahun itu bahkan saat status Vanes yang sudah janda pun tidak merusak gawang itu sedikitpun.
"Sakit." keluh Vanes.
"Aku akan berhenti sekarang." ucap Faris yang akhirnya tak tega meskipun saat ini Ia tengah merasakan kenikmatan surga dunia yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya.
"Tidak, jangan! Lanjutkan saja tidak apa apa."
Faris tersenyum tipis, "Aku akan melakukan dengan perlahan sayang." bisik Faris.
Faris kembali memompa dan masih dengan tempo yang perlaham hingga Ia mencapai puncak dan langsung memuntahkan susu putih ke dalam rahim Vanes.
Faris berbaring disamping Vanes, keduanya sama sama tengah mengatur nafas.
"Rasanya benar benar membuat gila." ucap Faris lalu mengecup kening Vanes.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah menjaganya untuk ku."
Bersambung....
Hay hay... Gimana nihh malam pertamanya huehehe...
Maaf ya kalau nggak sesuai sama ekspetasi kalian karena ada banyak larangan kata2 vulgar yang ngga boleh ditulis ...
Semoga kalian tetep syukaaaaa... Jangan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1