
Dylan mengejar Rani, beruntung Ia bisa segera menggapai tangan Rani yang hampir saja memasuki taksi yang ada disekitar kedai nasi goreng.
"Yank..." panggil Dylan dengan suara lembut berharap Rani bisa luluh dan tak kesal lagi.
"Pulang sama aku ya?" pinta Dylan.
"Ngapain keluar? Bukannya enak makan nasi goreng sama Yesi?"
Dylan menghela nafas panjang, Ia mengajak Rani duduk dibawah pohon.
"Aku nggak suka sama Yesi, nggak akan suka. Apa kamu masih nggak percaya?"
"Kalau nggak suka kenapa nggak belain aku?"
"Karena kamu yang salah." ucap Dylan membuat Rani melotot tak terima dengan ucapan Dylan.
"Dengerin aku dulu, aku juga tahu kalau Yesi suka sama aku, selama ini coba godain aku tapi aku sama sekali nggak ada niat buat ngrespon dia. Apapun yang aku lakuin itu karena memang profesionalime orang kerja aja, nggak lebih." jelas Dylan memberi pengertian pada Rani namun gadis itu masih saja memanyunkan bibirnya, "Tadi kamu yang minta dia buat makan bareng kita trus giliran dia mau kenapa kamu marah?"
Rani berdecak, "Aku cuma basa basi karena kesal sama dia tapi ternyata dia malah mau, bener bener nggak punya malu!"
Dylan tersenyum, "Kalau udah tahu gini besok besok jangan basa basi lagi, aku cuma nggak mau kamu ngambek gara gara masalah ini lagi, aku beneran nggak suka sama dia."
Rani menghela nafas panjang, kini akhirnya Ia menyadari jika apa yang terjadi memang salahnya. Seharusnya Ia tak menawari Yesi, seharusnya Ia percaya dengan Dylan.
"Maaf."
Dylan tersenyum lalu memeluk Rani, "Sekarang pulang yuk." ajak Dylan.
"Tapi masih laper mas." keluh Rani membuat Dylan tertawa.
"Siapa suruh ngambek nasi gorengnya nggak dihabisin." omel Dylan yang akhirnya bisa membuat Rani tersenyum malu.
Dylan mengantar Rani pulang setelah mengajak Rani membeli beberapa cemilan.
"Pacaran teross." cibir Faris saat Rani baru saja sampai rumah.
"Ya gimana dong mas, dulu pas Mas Faris sama Mbak Vanes juga gini kan?"
Faris tersenyum malu mengingat Ia dulu juga begitu saat awal awal bucin dengan Vanes.
"Kok sepi mas pada kemana?"
"Vanes istirahat dikamar kalau Papa nggak tahu deh belum pulang dari tadi, mungkin lagi ngerjain Sara sama Arga." kata Faris.
Rani tersenyum geli, "Kenapa harus dikerjain? Pengantin baru malah dikerjain."
__ADS_1
"Biasalah Papa sama Om Herman memang sama sama usil." kata Faris mencoba membayangkan apa yang saat ini dilakukan oleh Wira.
Dan tebakan Faris benar jika saat ini Wira dan Herman memang tengah mengerjai pengantin baru saat ini.
Sepulang dari Kua, Wira dan Herman tak membiarkan pasangan pengantin baru pulang. Mereka malah mengajak Arga dan Sara pergi ke pemancingan untuk menemani mereka memancing.
Awalnya Arga protes tak ingin menemani namun karena Wira memintanya dengan nada lembut dan penuh ancaman akhirnya Arga terpaksa menemani dua pria tua itu memancing.
"Seharusnya kita sudah berada di dalam kamar berduaan tapi lihatlah, kita malah terjebak disini bersama dua pria tua itu!" omel Arga pada Sara dengan suara pelan karena takut Wira dan Herman mendengar.
"Aku dengar ada yang mengomel." Gumam Wira.
"Tidak ada Pa... Mungkin Papa salah dengar." ucap Arga lalu tertawa hambar.
Sara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan suaminya itu.
"Sudah sore, apa kalian masih ingin disini?" protes Arga melihat arlojinya sudah pukul 6 petang hampir 5 jam mereka ada disini tanpa melakukan apapun. Hanya duduk, makan sembari menemani kedua orangtua itu memancing.
"Kami masih belum bosan duduk disini." kata Herman.
"Tapi kami sudah bosan Yah!" protes Arga.
Wira menghela nafas panjang, "Setelah hari ini Sara akan tinggal dirumahmu, kami akan sangat jarang bertemu dan kamu tega memisahkan kami secepat itu?"
Arga berdecak, mendengar keluhan Wira tentu saja membuatnya tak bisa melakukan apapun selain menuruti dan tak lagi protes.
"Ya sudah tapi aku capek. Aku akan menunggu dimobil saja." ucap Arga lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Sara.
Arga memasuki mobilnya dimana ada Zil didalam mobil, "Kenapa Tuan hanya sendiri? Dimana Nona?" tanya Zil.
"Dua pria tua penganggu itu tak membiarkan aku dan Sara pulang lebih awal padahal hari ini adalah malam pengantin kita tapi mereka malah menjadi penganggu!" curhat Arga.
Sontak Zil tersenyum geli, "Padahal Tuan sudah tidak sabar ya?
"Kau tahu sendiri Zil kalau aku sudah menantikan hari ini sangat lama, aku benar benar kesal!"
"Tuan Wira dan Tuan Herman memang usil." gumam Zil kembali tertawa geli.
Sementara di pemancingan...
"Dimana suamimu?" tanya Herman saat berbalik hanya melihat Sara tanpa Arga.
"Istirahat di mobil Yah... Katanya capek."
Wira dan Herman tertawa bersamaan, "Sepertinya sudah cukup membuat Arga kesal."
__ADS_1
"Apa Papa dan Ayah sengaja mengerjai Mas Arga?" tanya Sara.
Wira dan Herman kembali tertawa, "Ya kami memang sengaja."
Sara menghela nafas panjang, "Sudah gelap Pa... Nanti Mbak Vanes sama Mas Faris khawatir" ucap Sara pada Wira.
"Ya sudah kita pulang sekarang."
Sara mengangguk dan berjalan lebih dulu meninggalkan Wira dan Herman.
Saat membuka pintu mobil, Sara melihat senyuman lebar di bibir Arga.
"Pulang?" tanya Arga memastikan.
Sara mengangguk yang langsung membuat Arga bersorak gembira.
"Pulang sekarang Zil, ngebut!" pinta Arga.
"Siap Tuan."
Zil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti permintaan Arga namun baru setengah jalan Zil menghentikan mobilnya dengan mendadak.
"Ada apa Zil?"
Zil tak menjawab dan langsung keluar dari mobil. Arga dan Sara melihat Zil menghampiri seseorang, berbicara dengan orang asing lalu kembali memasuki mobil.
"Tuan maafkan saya tapi ini gawat, wanita hamil itu akan melahirkan namun tak punya uang untuk memanggil taksi maupun ambulan, suaminya meminta tolong supaya kita mengantarkan mereka ke rumah sakit, bagaimana ini Tuan?"
Arga berdecak, Ia merasa pagi tadi beruntung mendapatkan surprise dari Sara namun siang hingga malamnya merasa sial dengan gangguan dari orang orang.
"Bagaimana Tuan kita sudah tidak punya waktu lagi." desak Zil.
Arga masih saja tak menjawab hingga Sara kesal dan akhirnya yang menjawab, "Suruh masuk Zil, kita anterin sekarang." pinta Sara.
Arga menatap Sara penuh protes, "Cuma sebentar mas, apa salahnya bantuin orang?"
Arga menghela nafas panjang, Ia tak lagi bisa protes jika Sara yang berbicara.
Arga pindah duduk dibangku paling belakang agar wanita hamil itu dan suaminya bisa duduk ditengah bersama Sara.
"Sakit mas... Sakit... Rasanya sudah mau keluar sekarang." teriak wanita hamil itu.
"Sabar sayang, sabar... Sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit." hibur suaminya.
Dibangku belakang, Arga terdiam membayangkan jika Sara berada di posisi wanita hamil itu. Rasanya Arga tak tega jika membiarkan Sara harus menjerit kesakitan seperti itu.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komennn