
Siang hari saat jam makan siang, Arga menghampiri Sara untuk mengajaknya makan siang diluar.
Melihat Arga datang tentu saja membuat Sara senang, mengingat beberapa hari terakhir sebelum mereka menikah, Arga marah padanya dan tak pernah mengajaknya makan siang bersama lagi.
Tak ingin Arga menunggu lama, Sara segera menyelesaikan pekerjaannya.
"Zil tidak ikut?" tanya Sara saat Ia memasuki mobil dan tidak ada Zil disana.
"Tidak, untuk apa mengajak Zil. Menganggu saja." balas Arga acuh.
Sara berdecak, "Sesekali kita harus mengajak Zil makan siang, apa kau lupa jika Zil yang sudah membantu pernikahan kita kemarin?" Sara mengingatkan.
"Baiklah baiklah, besok aku akan mengajaknya makan siang."
Sara akhirnya diam tak lagi melontarkan protes.
Keduanya sampai direstoran asia yang terkenal menyuguhkan makanan khas asia.
"Apa yang ingin kau makan?" tanya Arga saat membuka buku menu.
"Apapun."
"Baiklah, aku akan memesan menu apapun tapi jika dilihat tidak ada daftar menu apapun." gumam Arga yang saat ini tengah membaca buku menu.
Sara tersenyum geli mendengar candaan Arga, "Pesankan aku tomyam." pinta Sara akhirnya.
"Nah kalau tomyan disini ada, lihatlah tertulis di buku menu ini." ucap Arga sambil memperlihatkan buku menu pada Sara membuat tawa Sara semakin menjadi.
Menunggu pesanan mereka datang, Sara dan Arga membicarakan masalah pekerjaan mengingat perusahaan mereka juga bekerja sama.
"Mbak Sara..." suara Rani terdengar membuat Sara membalikan badan dan melihat Rani bersama dengan Dylan.
"Eh ada adik ipar, gabung sini aja biar rame." ucap Arga.
"Kalian juga mau makan siang?" tanya Sara yang langsung diangguki Dylan dan Rani, "Gabung aja tapi kalau kalian mau berdua nggak apa apa sih." tambah Sara.
"Tapi nanti kamu ganggu nggak Mbak?" tanya Dylan memastikan jika kedatangan mereka tidak menganggu pengantin baru itu.
"Nggak lah, sama sama mau makan ini." kata Sara.
"Kalau dikamar baru ganggu." celetuk Arga membuat Sara gemas hingga memukul lengan Arga.
Rani dan Dylan akhirnya bergabung dimeja Sara.
"Maaf kemarin nggak ikut ke acara ijab kabulnya." ucap Dylan merasa bersalah.
"Santai saja kalau masalah itu yang penting besok kalau acara resepsi kalian harus datang." pinta Arga.
"Siap Bang, pasti aku akan datang."
__ADS_1
"Oh ya, Rani sama Dylan ikut berangkat nanti malam kerumah Bik Sri?" tanya Sara.
Rani dan Dylan mengangguk, "Iya mbak, nanti malam semobil sama Mas Faris." balas Dylan.
"Semobil sama kita juga nggak apa apa." kata Sara yang langsung digelengi oleh Rani.
"Nanti malah gangguin pengantin baru lagi." celetuk Dylan.
"Bener sih soalnya rencana mau nyoba dimobil." celetuk Arga yang lagi lagi langsung mendapatkan cubitan mesra dari Sara.
"Nggak usah ngarang deh mas, malu maluin!" omel Sara.
Arga hanya tertawa.
Pesanan Sara dan Arga sudah datang namun mereka belum memulai makan, menunggu pesanan Rani dan Dylan agar bisa makan bersama.
"Waduh waduh... Ada acara apa ini pada disini." suara seorang pria yang terdengar akrab mendekati meja.
"Eh Pak Wang." Sapa Dylan langsung berdiri dan menyalami pria seumuran Ayahnya itu.
Wang adalah pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Herman dan Wira.
Saat ini Wang tidak datang sendiri, Ia bersama asisten cantiknya yang membuat Rani mendadak kesal saat melihat Asisten itu.
"Yesi, kau juga kenal dengan mereka kan?" tanya Wang ingin memperkenalkan Yesi pada mereka.
"Tentu saja saya sudah kenal Tuan apalagi dengan Pak Dylan, kami sering bertemu diperusahaan." ucap Yesi menatap Dylan lalu tersenyum.
"Mau ikut gabung bersama kami atau mencari meja sendiri Pak?" tawar Arga.
Wang menatap ke arah Yesi, "Bagaimana?"
"Jika bergabung tidak menganggu juga tidak masalah Tuan." ucap Yesi.
"Baiklah kita bergabung saja," kata Wang akhirnya.
Mereka kini sudah berada disatu meja, Raut wajah Rani berubah badmood, Ia tak ingin satu meja dengan Yesi namun juga tak bisa mengajukan protes.
"Nanti setelah jam makan siang saya harus ke kantornya Pak Dylan Tuan untuk mengambil beberapa berkas." ucap Yesi pada Wang yang bisa didengar semua orang.
"kalau begitu nanti kamu bareng saja sama Dylan." pinta Wang.
"Maaf Pak, saya datang membawa motor bukan mobil jadi sepertinya tidak bisa." tolak Dylan.
"Bukankah ada mobil dari perusahaan kenapa tidak digunakan?" tanya Sara pada Dylan.
"Baru beberapa hari jadi Ceo rasanya masih sungkan mbak." balas Dylan.
Sara berdecak, "Pakai saja."
__ADS_1
"Nggak mbak, lebih enak naik motor." tolak Dylan.
"Kalau begitu nanti kau ku antar ke kantornya Dylan." ucap Wang.
Rani tersenyum mengejek ke arah Yesi yang gagal menganggu mereka lagi.
"Oh ya Pak Dylan ini katanya nggak mau datang ke pesta Tuan." Adu Yesi.
"Kenapa tidak datang? Kau ini sudah menjadi orang penting sekarang jadi harus bergaul dengan kami juga." kata Wang.
"Mungkin Dylan masih belum siap Pak." bela Arga.
"Maaf Tuan, dari perusahaan ada Mbak Sara dan Mas Faris yang jabatan nya lebih tinggi dan lebih pantas datang dibandingkan saya." kata Dylan.
Wang mengangguk seolah bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Dylan.
Rani kembali tersenyum mengejek ke arah Yesi yang lagi lagi gagal.
"Ran... Antarkan aku ke kamar mandi." ajak Sara yang langsung diangguki oleh Rani.
Sara dan Rani berjalan memasuki kamar mandi wanita yang ada direstoran itu.
"Apa kau merasakan sesuatu yang janggal dari Yesi?" tanya Sara saat keduanya sedang mencuci tangan.
"Seperti apa mbak?"
"Entah perasaanku saja, aku merasa jika Yesi tertarik dengan Dylan." kata Sara.
Rani tersenyum, sedikit tak menyangka jika Sara juga bisa merasakan apa yang Ia rasakan saat ini.
"Terlihat sekali ya mbak?"
Sara mengangguk, "Wajahnya memang terlihat gatal. Hati hati Ran." ucap Sara mengingatkan.
Rani menghela nafas panjang, "Aku sudah menjaga Mas Dylan dengan baik mbak dan jika Mas Dylan masih tertarik dengan wanita lain, aku juga tidak bisa melakukan apapun, semua terserah Mas Dylan saja." ucap Rani dengan nada pasrah.
"Kamu benar Ran... Kita memang tak bisa memaksa perasaan seseorang." kata Sara, "Lalu apa rencanamu Ran?"
Rani menggelengkan kepalanya, "Aku juga nggak tahu mbak."
Pintu kamar mandi terbuka, tampak Yesi memasuki kamar mandi dengan senyuman tipisnya, "Apa kalian sedang membicarakanku?" tanya Yesi ikut bergabung dengan Sara dan Rani.
"Ya, kami memang sedang membicarakanmu. Apa masalahnya?"
Yesi menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, ku pikir kalian akan mengelak."
Baru ingin menjawab lagi, Sara menahan tangan Rani, "Sudahlah Ran, jangan diladeni, percuma hanya membuang buang tenaga." ucap Sara lalu mengajak Rani keluar.
"Jika dibandingkan dengan mereka, aku jauh lebih cantik tapi kenapa mereka lebih beruntung memiliki pria tampan disampingnya tidak seperti aku yang hanya menjadi selingkuhan pria tua!" gumam Yesi lalu mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaa