TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
48


__ADS_3

Tantri menatap Wira penuh protes begitu juga dengan Wira yang menatap Tantri tak terima karena sudah mengatainya pembunuh padahal Ia sudah bertanggung jawab memberi nafkah keluarga Tantri.


Kedua orang tua itu saling menatap sengit.


"Anda tidak bisa melakukan ini pada putra saya!" tegas Tantri.


"Lalu apa putramu bisa ku percaya setelah apa yang terjadi?" tanya Wira mencoba santai tidak emosi.


"Semua sudah berlalu, lagipula Rizal juga sudah berubah." balas Tantri tak ingin putranya disalahkan.


"Tapi tetap saja Rizal sudah bersalah dan saya sudah tidak mau mempercayakan putri saya pada putramu yang brengsek itu!"


Tantri tersenyum sinis, "Jika anda membantu Vanes bercerai, saya akan melapor pada polisi atas kasus kecelakaan waktu itu dimana suami saya sudah mati karena anda." ancam Tantri.


"Silahkan saja lakukan jika itu membuat Anda puas . Saya akan menunggu panggilan polisi." kata Wira lalu mengenggam tangan Vanes dan mengajaknya pergi dari sana.


"Sialan!" umpat Tantri lalu menghentak hentakan kakinya.


Tantri menatap Rizal dengan tajam, "Semua hancur karena kebodohanmu, kita hampir saja menguasai hartanya!"


Rizal menunduk, Ia benar benar sudah menyesali kebodohannya. Ia hancur karena Mira.


"Jika saja sejak awal kau tidak mengkhianati Vanes, semua ini tidak akan terjadi, kau lihat sekarang, kita sudah tidak memiliki apapun lagi!" omel Tantri.


"Berhenti terus menyalahkan ku Ma!" sentak Rizal akhirnya melawan karena tak sanggup mendengar omelan Tantri.


"Jika Mama ingin menyalahkan seseorang, seharusnya Mama menyalahkan Faris karena semua berawal dari pria brengsek itu!"


"Apa maksudmu? Faris tidak ada hubungannya dengan keluarga kita!" tegas Tantri "Disini kaulah yang bodoh!"


"Stop mengatakan aku bodoh, aku juga sudah mengusahakan yang terbaik Ma! Jika saja Faris tidak membuat Vanes jatuh cinta mungkin semua ini tidak akan terjadi, mungkin Vanes masih bersamaku!" ungkap Rizal dengan nada marah.


"Apa maksud ucapanmu?"


Rizal akhirnya menjelaskan tentang hubungan gelap Faris dan Vanes. Tampak sekali jika Tantri marah dan tak terima.


"Apa Asih tidak bisa mendidik putranya? Bagaimana bisa dia membiarkan Faris menyukai Iparnya sendiri!" omel Tantri.


Rizal terlihat lega karena Tantri tak lagi menyalahkan nya.


"Mama harus berusaha melakukan sesuatu, jangan sampai keluarga Faris menerima Vanes."

__ADS_1


"Tentu saja Mama akan melakukan itu, Vanes itu berlian untuk kita dan Mama tidak akan membiarkan keluarga Faris mendapatkannya." kata Tantri.


Rizal kembali tersenyum hingga akhirnya senyumnya kembali memudar mendengar Tantri masih saja menyalahkannya, "Semua juga salahmu, jika saja kau tidak membiarkan Faris tinggal dirumahmu, semua ini tidak akan terjadi."


Rizal hanya bisa menghela nafas panjang, tak lagi protes karena Ia sadar jika semua ini salahnya.


Sementara itu Vanes dan Wira sudah berada didalam mobil. Mereka masih sama sama bungkam, tidak ada yang berbicara hingga Wira yang memulai pembicaraan lebih dulu, "Bagaimana kau bisa bertahan dengan rasa sakit itu sendirian sayang." Wira terlihat mengelus kepala putrinya penuh sayang.


"Awalnya karena aku mencintai mas Rizal dan aku pikir Mas Rizal akan berubah namun ternyata..." Vanes tersenyum, "Mas Rizal tidak akan pernah berubah."


"Seharusnya kau menceritakan padaku."


"Aku takut membuat Papa sakit." ungkap Vanes.


"Maafkan Papa sayang, karena Papa kau harus menderita seperti ini."


Vanes langsung mengenggam tangan Wira, "Tidak Pa... Tidak. Semua bukan salah Papa, jangan menyalahkan diri seperti ini."


Wira menghela nafas panjang, "Jika saja Tantri tidak meminta perjodohan ini, tidak mungkin Papa akan memberikan putri Papa pada pria seperti Rizal." ungkap Wira.


Waktu itu, Wira merasa jika Tantri mencoba mendekatinya. Meskipun Tantri masih terlihat cantik namun Wira sama sekali tidak tertarik karena Wira tahu alasan Tantri mendekatinya karena harta bukan tulus mencintainya. Wira menolak Tantri secara terang terangan. Setelah beberapa tahun, Tantri meminta Wira menjadi besannya. Waktu itu Wira langsung menolak namun karena Tantri kembali mengungkit kematian suaminya dan melihat Vanes juga menyukai Rizal, akhirnya Wira tak memiliki pilihan lain selain menyetujui perjodohan itu.


"Kau ini memang persis seperti Mama mu, sangat baik hati." kata Wira membuat Vanes tersenyum. "Papa yakin nanti pasti ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus."


Vanes menganggukan kepala, "Sudah ada Pa... Mungkin sudah ada orangnya saat ini." batin Vanes masih belum berani mengungkapkan tentang Faris.


Niatnya Vanes ingin menyelesaikan urusannya dengan Rizal lebih dulu setelah itu Ia akan mengatakan pada Papanya jika ada seseorang yang sudah Ia sukai.


Mobil yang membawa keduanya sudah sampai dirumah mewah milik Wira.


"Mulai sekarang kau tinggal disini lagi bersama Papa."


Vanes mengangguk, "Apa Papa tidak malu jika semua keluarga tahu kalau aku menjadi janda?"


Wira berdecak, "Papa lebih malu jika membiarkanmu tersiksa disana."


Vanes tersenyum, "Terima kasih Pa."


"Non Vanes sudah pulang?" suara Bik Sri terdengar membuat Vanes terkejut karena melihat Bik Sri berada disini.


"Bik Sri..." Vanes langsung memeluk Bik Sri, "Kok bisa ada disini?"

__ADS_1


"Papa yang minta Bik Sri kerja disini mulai sekarang karena Bik Sri sudah memberikan banyak informasi pada Papa."


Vanes kembali terkejut, "Jika Bik Sri menceritakan semuanya berarti Papa sudah tahu tentang..."


"Ya Papa sudah tahu tentang pria itu, siapa namanya emm..." Wira tampak sedang mengingat.


"Faris Tuan."


"Ah iya Faris," akhirnya Wira ingat setelah dibantu oleh Bik Sri. "Tapi jangan harap Papa akan melepaskanmu pada pria lain dengan mudah kali ini, tidak Vanes mulai sekarang Papa akan lebih berhati hati lagi."


Vanes langsung memanyunkan bibirnya, "Artinya Papa tidak akan memberi restu untuk ku dan Faris?"


"Papa tidak tahu, Papa akan pikirkan lagi setelah melihat orangnya." kata Wira lalu memasuki rumah lebih dulu, melewati Bik Sri dan Vanes.


Vanes berdecak, "Lihatlah Bi, jika sudah seperti itu, Papa pasti tidak akan memberikan restu untuk ku dan Faris."


Bik Sri tersenyum, "Masalahnya Tuan belum mengenal Den Faris, nanti kalau sudah kenal dan tahu kebaikan Den Faris pasti Tuan akan memberi restu untuk Nona."


Vanes mengangguk setuju, "Benar juga kata Bik Sri."


Dan ditempat lain...


Faris baru saja pulang dari tempat futsal. Sepulang bekerja tadi, salah satu teman Faris sesama dosen mengajaknya futsal.


Karena sudah lama tidak bermain Futsal Faris pun setuju untuk ikut.


Tepat pukul 11 malam, Faris baru sampai rumah.


Faris membuka pintu rumah, Ia melihat Slamet dan Asih duduk dikursi ruang tamu seolah tengah menunggunya.


Mata Asih terlihat sembab seperti habis menangis.


"Ada masalah apa Bu?"


"Faris, kami harap mulai sekarang lupakan tentang Vanes."


Faris merasa hancur setelah mendengar permintaan kedua orangtuanya.


Bersambung....


Jan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2