
Ken berada didalam mobil yang menjadi saksi kebiadaban atas apa yang sudah Ia lakukan pada Sara. Ia kini tengah membersihkan bercak darah perawan milik Sara yang mengotori bangku mobilnya.
Ken menyesal, Ia menyesal karena sudah melakukan ini pada Sara.
Ia masih tak menyangka jika Sara adalah gadis baik baik tidak seperti yang Ia pikirkan.
"Aku harus melupakan Nona Vanes dan setelah ini aku harus bertanggung jawab penuh pada Nona Sara, ini adalah konsekuensi dari apa yang sudah ku perbuat." gumam Ken meyakinkan dirinya.
Paginya...
Sara bangun setelah mendengar suara kicau burung. Ia merasakan kepalanya pening dan ingat jika semalam Ia mabuk.
Sara beranjak dari ranjang, hendak memasuki kamar mandi namun baru melangkahkan kakinya satu langkah, Sara merasa miliknya sakit dibawah sana.
"Apa ini? Apa yang terjadi?" gumam Sara merasa heran karena semalam Ia masih baik baik saja.
Sara mencoba mengingat apa yang terjadi namun nihil, Ia sama sekali tak ingat apapun.
Sara akhirnya memasuki kamar mandi, saat Ia buang air kecil, lagi lagi miliknya terasa sakit hingga membuatnya meringgis.
Sara yang penasaran akhirnya mengecek apa yang terjadi pada salah satu bagian penting dari tubuhnya itu.
"Kenapa seperti ini, biasanya tidak seperti ini. Jangan jangan...."
Setelah membersihkan diri, Sara keluar dari kamar masih mengenakan baju yang semalam Ia pakai ke club.
"Mau sarapan bersama?" tawar Wira namun tak digubris oleh Sara.
Sara melewati Wira dan pergi keluar mencari Ken. Pria itu semalam mengantarnya dan pasti tahu apa yang terjadi padanya.
"Apa kau tahu apa yang terjadi semalam?" tanya Sara pada Ken yang tengah mencuci mobil.
"Apa maksud Nona?" Ken bersikap tenang apalagi melihat raut wajah Sara yang shock, sudah pasti Sara tak sadar apa yang semalam mereka lakukan.
"Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku pagi ini dan aku tidak ingat apapun, apa kau tahu yang terjadi semalam?"
"Nona mabuk dan saya membawa Nona pulang."
"Hanya itu?" Sara tampak curiga, "Apa kau tidak melihat ada yang melecehkanku?"
Ken diam cukup lama, Ia ingin mengatakan kebenaran pada Sara namun ada sedikit ketakutan dalam hatinya. Ken takut Sara tidak bisa menerima dirinya dan malah mengadukan pada Tuan Wira.
"Sial, pasti benar ada yang sudah melecehkanku. Ohh damn Sara, kau bodoh, baru sehari disini kau sudah kehilangan kesucianmu!" omel Sara lalu pergi meninggalkan Ken.
"Padahal aku ingin jujur, dia malah tidak mau mendengarkan." gumam Ken menatap punggung Sara yang berjalan masuk.
"Mau sarapan bersama Paman?" tawar Wira saat melihat Sara kembali masuk.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak ingin makan apapun hari ini, jangan ada yang mengangguku!" ucap Sara lalu masuk kembali ke kamarnya.
Wira hanya bisa menghela nafas panjang melihat keponakannya belum bisa menerimanya sebagai keluarga.
Sementara itu dikampung...
Hari ini adalah weekend, kampus libur dan Faris tidak ke kampus untuk mengajar.
Namun sejak subuh tadi, Faris sudah mandi dan bersiap untuk pergi lagi.
"Kau mau menyatakan pada Neng Vanes hari ini?" tanya Asih.
Faris mengangguk, "Doakan Faris ya Bu."
Asih tersenyum, "Tentu saja, hati hati dijalan dan segeralah pulang jika sudah selesai." ucap Asih yang langsung diangguki oleh Faris.
Faris mengerti, Ibunya masih tidak ingin ditinggal sendiri dirumah. semenjak Slamet meninggal, Asih lebih sering murung, mungkin karena Ia merasa kesepian dirumah.
Faris segera melajukan motornya menuju kosan Vanes. Sampai disana, Faris disambut raut wajah curiga Vanes.
"Kau terlihat bahagia, siapa yang kau temui kemarin?" tanya Vanes.
"Bersiaplah, aku ingin mengajakmu pergi hari ini."
"Katakan dulu siapa yang kau temui kemarin? Aku tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan itu!" omel Vanes.
Tanpa protes lagi, Vanes kembali masuk dan keluar lagi setelah mengenakan baju rapi, siap untuk pergi.
"Kita mau kemana?" tanya Vanes saat sudah membonceng Faris.
"Tempat yang tidak akan pernah kita lupakan nantinya."
Mata Vanes langsung saja melotot dan berbisik, "Apa kita akan ke hotel?"
Faris tertawa, entah mengapa pikiran Vanes selalu saja negatif padanya, "Kau mau kita kesana, baiklah aku akan mengajakmu kesana."
"Tidak mau! Dasar mesum!"
Faris kembali tertawa lalu kembali berkata, "Dihotel ada restoran dan makanan disana sangat enak, kita bisa kesana untuk makan."
Seketika Vanes terdiam, wajahnya merah bak kepiting rebus karena malu sudah menuduh Faris dengan pikiran kotornya.
"Apa benar hanya makan?"
"Tentu saja tapi jika kau ingin melakukan hal lain, aku tidak masalah." ucap Faris yang langsung dihadiahi pukulan oleh Vanes.
"Sekali mesum tetap saja mesum!"
__ADS_1
Faris menggelengkan kepalanya, terkadang Ia gemas dengan tingkah Vanes.
Vanes yang memulai obrolan mesum namun malah dirinya yang disalahkan oleh Vanes. Aneh memang tapi itulah yang membuat Faris semakin menyukai gadis itu.
Setelah melewati perjalanan hampir 2 jam lamanya, Faris dan Vanes akhirnya sampai tujuan.
"Pantai? waahh kita kesini lagi." ucap Vanes dengan senyum mengembang mengingat Ia sudah pernah kesini bersama Faris.
Waktu itu Ia pergi ke pantai ini bersama Faris dan membuatnya memiliki masalah dengan Rizal.
Vanes terdiam sejenak setelah mengingat Rizal, mantan suaminya yang kini sudah tiada.
"Kenapa langsung diam? Tidak suka?" tanya Faris merangkul Vanes dan mengajak Vanes berjalan mendekati pantai.
"Aku ingat kita pernah kesini lalu pulangnya kita mendapatkan masalah." ungkap Vanes yang membuat Faris tersenyum.
"Waktu itu kita memang salah, aku yang salah karena mengajak liburan iparku sendiri tapi kali ini tidak akan lagi jadi masalah, aku ingin membuat kenangan indah disini."
Vanes mengerutkan keningnya tak mengerti, "Kenangan seperti apa?"
"Nanti kau juga tahu."
Vanes berdecak, "Selalu saja teka teki, kenapa tidak katakan saja sekarang."
Faris tersenyum, melepaskan rangkulannya lalu mencipratkan air pantai ke arah Vanes.
"Hey jangan begitu, aku tidak bawa baju ganti." teriak Vanes lalu membalas Faris, mencipratkan air pada Faris hingga baju keduanya hampir basah rata.
"Sudah cukup, aku tidak mau besok kita jadi masuk angin." ucap Faris kembali merangkul Vanes dan mengajak Vanes duduk dihamparan pasir.
"Kau yang memulainya!" omel Vanes.
"Kau senang sekali mengomeliku." ucap Faris lalu menoel hidung Vanes.
"Apa kau tidak senang ku omeli?"
Faris tersenyum,"Aku senang melihatmu mengomel, kau terlihat mengemaskan." ucap Faris lalu mengacak rambut Vanes.
"Kalau begitu aku akan mengomelimu setiap hari." ancam Vanes.
Faris beranjak dari duduknya diikuti oleh Vanes "Lihatlah ada angsa terbang." teriak Faris sambil menunjuk ke arah langit.
"Mana ada angs-" ucapan Vanes terhenti saat berbalik dan melihat Faris sudah berlutut sambil membawa kotak berisi cincin.
"Will you marry me?"
Bersambung....
__ADS_1