TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
130


__ADS_3

Faris dan Vanes bisa bernafas lega karena akhirnya mereka bisa bebas dan lagi orang orang yang sudah menjebaknya kini sudah ditangkap satu persatu.


Setelah para penipu itu ditangkap, pagi harinya kantor polisi ramai dengan orang orang bule yang merasa ditipu oleh orang orang itu.


Dan terungkapnya kasus ini membuat polisi yang membantu mereka itu pun akhirnya ikut tertangkap bahkan dipecat secara tidak hormat dari kepolisian.


Mendengar berita itu membuat Faris maupun Vanes merasa senang karena mereka berhasil mengungkap kejahatan yang merugikan banyak orang itu.


"Aku merasa kesal karena waktu kita terbuang 1 hari hanya karena masalah ini." omel Vanes yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Faris tersenyum lalu memeluk istrinya dari belakang, "Kehidupan memang seperti ini sayang."


"Aku benar benar masih tak menyangka, mereka menggunakan gadis muda untuk menipu orang gadis itu pasti tidak bersekolah dan dipaksa cari uang."


Faris mengangguk setuju, "Ya aku pikir juga begitu, terkadang hidup memang tidak mudah."


"Mas aku punya ide." ucap Vanes sambil tersenyum.


Faris dan Vanes kembali ke kantor polisi untuk melihat keadaan gadis muda itu.


"Dia masih dibawah umur jadi kami akan membawanya ke panti asuhan." kata polisi saat Faris menanyakan tentang gadis muda yang menangis itu.


"Memang dimana orangtuanya?" Vanes merasa penasaran.


"Orangtuanya sudah meninggal, dia hidup sebatang kara sejak umur 9 tahun dan dia peralat para penipu itu agar membantu mereka." ungkap polisi itu.


Vanes dan Faris merasa iba mendengar cerita dari polisi itu. Mereka merasa kasihan karena nyatanya menipu bukan keinginan gadis muda itu.


"Apa kami boleh menemui gadis itu?" tanya Faris yang langsung diangguki oleh polisi itu.


Polisi itu memberikan selembar kertas pada Faris, "Ini alamat panti asuhan itu."


"Baiklah terima banyak untuk bantuannya."


Faris dan Vanes keluar dari kantor polisi dan segera mencari taksi untuk pergi ke panti asuhan tempat gadis muda itu berada.


"Apa rencanamu sayang?" tanya Faris saat keduanya sudah berada didalam taksi.


"Aku ingin mengajaknya ke tempat kita, mungkin dia bisa membantu pekerjaan Bik Sri, bagaimana menurutmu?"


Faris tersenyum lalu mengelus kepala istrinya, "Apa kau tidak takut dia akan menipu dirumah kita?" tanya Faris sambil cengengesan.


Vanes ikut tertawa, "Tidak, aku hanya ingin dia menjadi gadis yang baik."


Faris mencium kening Vanes, "Kau benar benar baik hati sayang."


Sesampainya dipanti asuhan, mereka segera masuk dan menanyakan pada Ibu panti tentang keberadaan gadis itu.


"Namanya Alea, dia kena kasus penipuan kan?" tanya Ibu panti memastikan.

__ADS_1


"Kami belum tahu namanya."


Ibu panti itu paham dan segera masuk untuk memanggil gadis bernama Alea itu.


Tak berapa lama Ibu panti keluar bersama Alea namun Alea menunduk malu melihat Faris dan Vanes yang ingin menemuinya.


"Bukankah mereka orang yang kau tipu?" tanya Ibu panti terdengar sedikit kasar.


"Mereka sudah kau tipu tapi masih baik ingin bertemu denganmu." ucap Ibu panti itu, "Cepat minta maaf sekarang!"


"Maaf." ucap Alea dengan suara bergetar menahan tangis.


"Maaf Bu, bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Faris yang langsung diangguki oleh Ibu panti.


Setelah Ibu panti masuk ke dalam, Vanes merangkul Alea dan membawanya duduk bertiga. "Saya benar benar minta maaf, saya melakukan semua itu karena terpaksa." ucap Alea yang kini sudah menitikan air matanya.


"Tidak apa apa, kami mengerti. Kami kesini bukan ingin marah, kami hanya ingin menawarkan sesuatu padamu."


Alea mendongak menatap Vanes, "Menawarkan apa?"


"Berapa umurmu?"


"17 tahun."


"Apa kau mau bekerja?" tawar Vanes.


"Bekerja dirumahku dan kau bisa kembali sekolah jika mau."


Alea menghela nafas panjang, "Mana mungkin bisa, aku sudah tertinggal jauh, aku putus sekolah sejak kelas 5 Sd."


Vanes dan Faris tersenyum, "Kami akan membantu mu jika kau mau melanjutkan sekolah."


Alea menggelengkan kepalanya, "Aku sudah lama menyerah tentang sekolah jadi aku memilih tawaran untuk bekerja saja."


Faris dan Vanes tersenyum lega karena Alea mau ikut dengan mereka. Faris dan Vanes merasa prihatin setelah mendengar cerita tentang Alea, tinggal dipanti asuhan pun tidak menjamin kehidupan Alea lebih baik jadi mereka memutuskan untuk mengajak Alea.


Dibantu Pak Harsa, Vanes berhasil membawa Alea keluar dari panti asuhan tanpa harus menggunakan syarat yang memberatkan keduanya.


"Kau benar benar tidak masalah jika kita pulang lebih awal?" tanya Faris melihat Vanes sudah mengemasi baju baju mereka, mengingat mereka masih memiliki waktu 3 hari untuk honeymoon.


"Tidak mas, aku rasa ini lebih dari cukup. Semoga usaha kita ini membuahkan hasil ya mas."


Faris memeluk istrinya, "Ya aku berharap begitu." ucap Faris lalu memberikan kecupan kening berkali kali, "Aku sungguh beruntung memiliki istri sebaik dirimu sayang."


Vanes tertawa, "Selalu saja melebih lebihkan."


Sementara itu dikantor Ken...


Rani terlalu fokus dengan pekerjaannya hingga tak sadar jika sudah waktunya untuk makan siang.

__ADS_1


"Ayo kita makan siang bersama." ajak Dylan menghampiri ke ruangan Rani.


Beberapa hari bekerja disini, Rani dan Dylan semakin dekat. Rani memang sengaja lebih dekat dengan Dylan karena Ia tak mau baper lagi dengan Ken. Rani benar benar ingin move on dari Ken.


Keduanya berjalan keluar ruangan dan berpapasan dengan Ken.


"Mau kemana kalian?" tanya Ken yang beberapa hari ini sibuk kerja keluar ruangan hingga tak melihat Rani.


"Makan siang bos, udah waktunya ini." ucap Dylan cengegesan.


Ken berdecak, "Aku ikut makan siang kalian saja."


Rani ingin protes dan melarang Ken ikut namun Ia urungkan niatnya itu karena Ia tak ingin dianggap menghindari Ken.


"Apa ada masalah jika aku ikut kalian?" tanya Ken menatap Rani sinis.


"Tidak ada, ikut saja."


"Aku yang masalah bos, menganggu!" omel Dylan namun dengan nada bercanda.


"Apa kalian berpacaran?" tanya Ken.


Rani terdiam, Dylan pun ikut diam. Tak ada satupun dari mereka yang menjawab.


"Jadi kalian benar benar berpacaran?" raut wajah Ken berubah kesal seolah Ia sudah tahu jawaban dari diamnya Rani dan Ken.


"Apa kalian tidak tahu peraturan perusahaan?" tanya Ken berhenti berjalan, menatap Rani dan Dylan.


"Peraturan perusahaan yang mana bos?"


"Dilarang perpacaran dengan rekan kerja!"


Dylan dan Rani sama sama terkejut mendengar ucapan Ken.


"Sejak kapan ada peraturan seperti itu bos?"


"Sejak saat ini!!"


Rani dan Dylan kembali diam, tidak berkomentar apapun.


Ponsel Ken berdering, Ken menerima panggilan ponselnya yang tak lain dari Sara itu.


"Ada apa sayang?"


"Apa kamu mual? Baiklah aku akan segera kesana." ucap Ken lalu mengakhiri panggilan.


"Gue nggak jadi ikut makan siang." ucap Ken pergi begitu saja meninggalkan Rani dan Dylan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2