
...****************...
"Gak ada mas Wawan sama mbak Mega, rasanya plong banget ya mas," curhat Dinda di malam hari. Karena Wawan dan Mega belum juga kelihatan batang hidungnya. Mungkin Wawan menginap di rumahnya Mega.
"Iya, free banget ya? Sampai kita bisa masak berdua di dapur," celetuk Aris senang.
"Iya, terus ibu sama ayah juga gak keluar-keluar kamar tuh." Dinda menanggapi senang.
Ntah kenapa, kepergian Wawan dan Mega dari rumah ini menjadikan sepasang suami istri ini terasa bebas. Mungkin gak ada yang kepo atau ngurusin rumah tangganya. Jadi kalau mereka berdua gak ada, rumahnya jadi aman, tentram dan damai di hati.
"Jadi gimana? Malam ini mas bobok di sini ya?" tanya Aris penuh harap.
"Terserah kamu aja mas, asal gak gitu-gitu," jawab Dinda sambil cengengesan.
"Gitu-gitu apa? Hayo?" ledek Aris sambil menggoda sang istri.
"You know what I mean," (kamu tahu apa yang aku maksud) kata Dinda sambil mengerlingkan matanya.
Sepertinya Dinda salah ambil tindakan. Gara-gara kerlingan matanya itu, Aris jadi bernafsu untuk menerkamnya.
"Ih mas Aris!" protes Dinda saat Aris tiba-tiba menubruk badannya dengan kuat.
"Kamu sih godain mas. Mas jadi pengen kan?" kata Aris sambil berbisik.
"Tanganku masih kotor," protes Dinda lagi. Soalnya Dinda tadi sambil makan snack yang dibelikan oleh Aris.
"Yaaah." Aris cemberut sambil menjauh dari badan Dinda.
"Mmuah!" Tiba-tiba saja Dinda mencium Aris duluan. Ini hal langka yang pernah terjadi. Soalnya ini adalah momen pertama kalinya Dinda mencium pipi Aris.
"Udah ah jangan cemberut. Dinda mau cuci tangan dulu," pamit Dinda sambil berjalan pelan-pelan.
Aris masih tak berkedip. Rasa lelah dan sedihnya sirna seketika. Semua berkat kasih sayang dari Dinda.
"Oweee!"
Aris menoleh. Zahra menangis, mungkin haus. Dengan cekatan Aris menggendong Zahra. "Ututu, cup sayang." Aris menina bobokan si kecil.
"Haus kali mas," kata Dinda yang baru usai dari kamar mandi.
"Iya kayaknya. Mas buatin susu dulu ya?"
"Biar minum asi aja mas, dari tadi rasanya kayak udah penuh," kata Dinda sambil memposisikan dirinya duduk di kasur.
"Iya udah kalau gitu Zahra minum asi dulu ya? Habis itu bobok, soalnya ayah sama ibuk mau..." ucapan Aris menggantung.
__ADS_1
"Apa? Gak usah aneh-aneh," kata Dinda mengingatkan Aris.
Dinda tahu kok, Aris lagi pengen begituan. Sayang banget ya, mereka menikah tapi belum bisa enak-enak. Ya gimana lagi, Aris kudu sabar dulu. Salahnya sih, dia dulu mengambil keperawanannya Dinda. Sekarang Aris baru kena imbasnya. Pas lagi pengen-pengennya, tapi gak boleh. Ngena banget rasanya di jantung.
"Gak sayang... Hoamm!" Aris menguap. Terlihat sekali wajahnya sangat kecapekan.
"Mas ngantuk? Bobo aja gih," suruh Dinda.
Saking ngantuknya, Aris malas pindah tempat dan milih tidur di dekat Dinda. Lalu tangannya melingkar di perut Dinda.
"Eh!" Dinda terkejut sambil melihat tangan Aris yang seperti mengunci pinggangnya. Diliriknya dari samping, ternyata Aris sudah tidur.
Usai menyusui. Zahra yang juga lagi tidur itu, Dinda letakkan di tengah-tengah mereka.
"Agak ke sana mas," suruh Dinda dan Aris menggeser posisinya sambil merem.
"Fiuuh!" Dinda membuang nafasnya sambil membaringkan tubuhnya di dekat Zahra.
Dia menoleh dan menatap wajah Aris yang terlihat begitu tampan di matanya. 'Dulu aku melihatmu seperti monster penjahat. Tapi sekarang, setiap aku menatapmu, hatiku rasanya sejuk banget,' batin Dinda sambil ingin membelai wajah Aris. Namun diurungkannya. Takut kalau Aris jadi terganggu.
Tanpa menunggu lama lagi, Dinda mengikuti jejak keduanya. Tidur menikmati malam ini tanpa gangguan dari tetangga kamar sebelah.
...****************...
Esok harinya. Aris dan Dinda terbangun secara bersamaan. Keduanya saling menatap dan melihat si kecil yang masih tertidur. Semalam Zahra cuma nangis minta disusuin. Jadi sama Dinda cuma dikasih aja langsung pules lagi tidurnya.
Tapi kenapa mereka berubah? Pikir Aris. Tapi dia lega sih, lebih baik kayak gini terus. Biar Aris dan Dinda merasa bebas tak terkekang dengan pernikahannya. Memang benar harus menikah lagi, tapi maksud Aris itu, kalau bisa jangan ada kompor di antara mereka.
"Habis mas sholat, enaknya kita ngapain ya?" tanya Aris minta pendapat sang istri.
"Mau masak bareng gak mas? Kayak semalem?" tawar Dinda sambil membayangkan kejadian semalam.
"Boleh, enaknya masak apa ya?"
"Nasi goreng yuk?" ajak Dinda antusias.
"Ayuk. Kayaknya enak," jawab Aris seneng.
Pagi-pagi nasi goreng? Bener-bener keluarga sederhana tanpa muluk-muluk pasangan yang satu ini.
Saat keluar dari kamar, Aris melihat pak Bambang yang tengah duduk di ruang tengah. Ruang di mana biasanya Aris tidur.
"Pagi Yah," sapa Aris.
"Hem." Hanya deheman yang keluar dari mulut pak Bambang. Soalnya dia lagi asik main ponsel.
__ADS_1
"Oiya Din," panggil pak Bambang saat melihat Dinda.
"Kenapa Yah?" tanya Dinda penasaran.
"Hari ini ayah ada rapat pagi. Ibumu lagi gak enak badan, ayah minta tolong jagain ibu ya? Soalnya mau ijin gak bisa, ini rapat penting yang gak boleh ditunda," kata pak Bambang minta tolong.
'Oh, gak enak badan? Pantes aja gak ngerecokin aku tidur di mana gitu? Tapi ayah juga diem aja, gak ada marah-marahnya,' batin Aris curiga.
'Ah, ngapain dipikirin. Mungkin sekarang ayah udah setuju dengan hubungan kami. Alhamdulillah,' batin Aris merasa lega dan bahagia.
"Iya Yah, tenang aja. Nanti Dinda akan jagain Bu Lastri kok," katanya yang kini langsung pergi ke dapur nyusul Aris.
"Mas, udah siap belum?" tanya Dinda yang ngagetin Aris.
"Siap dong? Mas ngapain ini? Ngupas bawang atau gimana?"
"Mas ngupas bawang ya? Dinda bantuin kok," kata Dinda sambil menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan.
"Kamu jangan capek-capek sayang? Biar mas aja yang kerjain. Mas juga bisa lho?" Aris menyombongkan dirinya.
"Masa? Gak boong?" ledek Dinda sambil ketawa geli.
"Gak sayang. Kamu duduk aja gimana?" suruh Aris merayu Dinda.
"Gak mau!" tolak Dinda.
"Jangan ngeyel. Bikin gemes tahu!"
"Emang gimana gemesnya?" pancing Dinda sambil senyam-senyum menatap Aris.
"Oh mancing?"
"Gak ada ikan, gak ada yang perlu dipancing," jawab Dinda begitu enteng.
"Ada kok. Nih! Mmmuuahh!" Dengan spontan Aris mengecup pipi Dinda.
Dinda langsung menunduk. Malu plus baper. Gila! Digituin Aris saja jantung Dinda udah berdebar-debar gak karuan. Kayaknya Aris harus tanggung jawab karena udah bikin Dinda terbawa perasaan sampai ke ubun-ubun.
"Mas udah buat aku baper loh?" kata Dinda tiba-tiba.
"Emang kenapa kalau baperin istri sendiri?" Aris mengedipkan matanya. Kode keras buat mengajak ehem ke Dinda.
"Ih apaan? Dilihat orang nanti," tolak Dinda setengah merengek.
Niat mereka berdua yang tadinya ingin masak bareng, yang ada malah pacaran di dapur. Bener-bener dua insan yang tengah dimabuk asmara. Dunia serasa hanya milik mereka berdua. Yang lain cuma lewat.
__ADS_1
"Mana orang? Mumpung gak ada orang kan? Jadi kita bebas," kata Aris yang kembali merayu Dinda. Siapa tahu dia dapat jatah sebelum acara masak paginya. Ya begitulah cowok, tak bisa jauh-jauh dari kata mesum. Lagian Dindanya juga mau, gak ada salahnya juga kalau Aris memanfaatkan keadaannya?
Bersambung...