
"Aku angkat kaki gak masalah sih Mas. Asal istri dan anakku juga ikut," jawab Aris dengan santai. Toh surga Dinda ada padanya. Kalau Dinda menganggap Aris sebagai suaminya, pasti Dinda akan memilih dirinya.
"Dinda gak bisa ikut sama kamu. Lagian kalian juga belum boleh tinggal bareng, kecuali banyak orang kayak gini," sahut Wawan. Dia benar-benar ikut campur.
"Ya udah, kalau gitu aku tinggal di sini aja. Kan di sini banyak orang," jawab Aris lagi yang gak merasa bersalah.
"Ckckck. Yah, tolong jelaskan ke dia biar dia paham," pinta Wawan menyuruh pak Bambang.
"Kemasin barang-barangmu, Ris!" perintah pak Bambang yang membuat Aris langsung menatapnya.
Apakah gak ada kesempatan buat Aris? Seenggaknya sebulan lagi, setelahnya Aris pastikan dia akan mengajak Dinda pergi dan meninggalkan rumah penuh fitnah ini.
"Aris akan majuin acara ijab kabulnya Yah," kata Aris yang berusaha menghentikan niat buruk pak Bambang.
Bagaimana hidup Aris tanpa Dinda? Dinda adalah nyawanya. Jika dia dipisahkan, lebih baik Aris mati saja di sini.
"Kapan?" tanya pak Bambang.
'Gawat, jangan sampai Aris dan Dinda ijab kabul lagi. Kalau kayak gini, yang ada kesempatanku buat milikin Dinda makin tipis,' batin Wawan gak setuju dengan pertanyaan pak Bambang.
"Berikan waktu seminggu Yah. Aris akan menyiapkan semua keperluannya. Karena Aris ingin menikah secara resmi, bukan hanya agama saja."
Ya, meskipun Dinda sedang nifas. Aris tetap akan menikahinya. Lagian menurut Syaifullah, jawabannya adalah boleh. Tidak mengapa jika seorang perempuan dalam keadaan haid atau nifas dinikahi. Namun perlu menjadi perhatian bahwa laki-laki yang menikahi perempuan yang sedang dalam keadaan nifas atau haid tidak boleh menggauli istrinya hingga sang istri suci dari nifas atau haid. Jadi itu tandanya gak masalah. Toh menikah nanti atau sekarang hukumnya akan sama saja, gak boleh melakukan begituan dulu.
"Apa ayah yakin ngebiarin Dinda masuk ke dalam perangkapnya, Yah? Kasihan Dinda lho Yah. Gimana kalau Dinda diapa-apain sama dia?"
"Sok tahu. Lagian aku mau ngapain aja, Dinda itu istriku. Gak ada sangkut pautnya sama kamu mas," balas Aris gak terima. Enak aja Wawan selalu menudingnya yang macam-macam.
__ADS_1
"Dasar cowok gak bener. Dari dulu sampai sekarang sikapmu gak berubah. Cowok macam apa kamu ini? Mentang-mentang Dinda istrimu, kamu bebas berbuat apa aja gitu? Gak ya, aku sebagai mbaknya Dinda gak akan rela kalau Dinda dianiaya sama kamu," sahut Nesa yang entah kapan tibanya.
Aris memicingkan matanya. 'Di mana Jo?'
Pasti kalau ada Jo, Nesa gak akan mungkin bicara seperti ini.
Huft!
Aris bernafas begitu berat. Kenapa rasanya seperti tengah diadili? Sebenarnya apa kejahatan yang Aris perbuat? Memang benar Aris banyak salah dan dosa, tapi satu persatu kesalahannya sudah ia tebus meskipun belum semuanya. Seperti kasus penganiyaannya terhadap muridnya dulu, Aris tak angkat tangan begitu saja. Aris memang sudah dihukum, tapi sebagai kata maafnya... Kalau Aris punya rejeki lebih, dia pasti selalu mengirimi anak yang sempat ia pukul waktu itu.
Kalau berurusan dengan Nesa, rasanya Aris ingin menyerah. Mulut Nesa begitu tajam. Selain itu, Nesa adalah mantan pacarnya. Yang pasti Nesa lebih banyak tahu tentang kejahatannya di masa lalunya. Meskipun Aris yang sekarang ini sudah berubah, tapi semua orang seperti tak percaya kepadanya.
'Bagus Nesa. Aku akan terus dukung kamu buat misahin mereka berdua. Karena kalau aku yang maju sendiri, pasti gak akan ada seorangpun yang mau nolongin aku,' batin Wawan yang merasa aman. Istilahnya, Wawan ini seperti melempar batu, namun sembunyi tangan. Pengecut, itulah dia. Dia yang berbuat kesalahan, tapi dia gak mau disalahkan.
"Yah! Ayah tahu gak? Bu Lastri, mbak Mega. Semua ketakutan sampai gak mau tinggal di rumah ini lagi gara-gara dia. Sebenarnya Nesa gak pernah setuju dengan pernikahan Dinda dan Aris. Nesa mau menerima dia karena suami Nesa, Yah!" terang Nesa setengah menggebu-gebu.
Wajah itu sudah merah padam. Matanya berkaca-kaca seperti menahan air mata. Tentu Aris tak asing dengan suara itu. Itu suara istrinya, belahan jiwanya. Sampai kapanpun akan begitu, perasaan Aris kepada Dinda gak akan pernah pudar.
"Dinda, kok kamu ke sini? Zahra sama siapa?" tanya Aris yang dengan sigap berdiri dan hendak mendekat ke arah Dinda. Namun dicegah oleh Wawan. Wawan yang posisinya lebih dekat dengan Dinda, segera dia memegang tangan Dinda. Berpura-pura membantu Dinda berjalan.
"Gak usah Mas," tolak Dinda saat tangan Wawan berkali-kali memegang lengannya.
Aris lega. Setidaknya rasa cemburunya sirna karena penolakan yang Dinda lontarkan secara langsung untuk Wawan.
"Udahlah, mas Wawan bantu Din," paksa Wawan yang terus dengan sengajanya memegang lengan Dinda agar Aris marah dan emosinya keluar. Karena Aris adalah orang yang gak sabaran. Sekali emosi, pasti akan menyakiti semuanya. Dan itu akan membuat seisi rumah takut akan sikapnya. Alhasil, Aris terusir dari rumah ini. Itulah harapan Wawan.
"Dinda bilang enggak usah ya gak usah Mas!" bentak Dinda setengah meninggikan suaranya. Sontak Wawan tak berkutik. Dia mati kutu akibat bentakan Dinda barusan.
__ADS_1
"Dinda! Sejak kapan kamu berani membentak mas mu? Jadi begini? Baru beberapa hari tinggal bareng Aris, sikapmu jadi kayak begini? Ayah gak pernah ajarin kamu kayak gini Dinda? Sekarang... minta maaf sama mas Wawan," perintah pak Bambang.
Dinda menangis sejadi-jadinya. Maklum, dia masih labil. Masih kekanakan. Dibentak pak Bambang balik, jiwanya runtuh. Dinda menangis bukan karena sikap kurang ajarnya pada Wawan. Hanya saja, kenapa semua orang menganggap suaminya itu penjahat?
"Mas Aris, cepat kemasi barang-barang kita!" ucap Dinda setengah menyuruh Aris.
Aris tak sanggup menatap Dinda. Tapi Aris mengerti apa yang Dinda maksud. Jadi Aris mengangguk dan pergi dari hadapan mereka.
Jadi sekarang ini Dinda yang menghadapi keluarganya secara langsung. Meskipun Aris pergi ke kamar, tapi hatinya tak tega meninggalkan Dinda sendirian. Dinda masih begitu labil, apalagi posisinya yang baru melahirkan. Aris takut Dinda akan mengalami baby blues. Jadi buru-buru dia mendekat dan menemani Dinda. Aris gak masalah dia dituduh apa saja, yang penting Dinda baik-baik saja.
"Maksudmu apa Din? Menyuruh Aris nyiapin barang-barang kalian? Kamu mau pergi dari rumah?" tanya Nesa yang ingin mendekat tapi dilarang oleh Dinda.
Keluarga yang harmonis, keluarga yang akur, keluarga paling bahagia yang pernah tersematkan dalam keluarga pak Bambang, kini sudah tidak ada lagi. Keluarga ini hancur karena kedatangan orang baru. Dinda, dia sudah tidak percaya lagi dengan keluarganya. Ini bukan kemauan Dinda, ini juga ada ikut campur bawaan bayi. Yang di mana Dinda mengalami sindrom baby blues yang di mana dia akan mudah cemas dan mudah marah seperti sekarang ini.
"Berhenti di situ mbak Nesa! Aku begini karena kalian. Kalau kalian gak mau menerima suami Dinda, jadi lebih baik Dinda pergi dari sini!"
"Dinda, ayah mohon kamu jangan pergi nak!" mohon pak Bambang pada Dinda anak bungsunya.
"Ayah sama aja. Dulu... (Dinda menyeka air matanya). Dulu sebelum pernikahan ini terjadi, siapa yang ngebet biar Dinda cepet-cepet menikah dengan mas Aris? Siapa? Tapi kenapa saat kami udah nikah, kalian malah bersikap kayak gini sama suami Dinda?"
DEG!!
Aris yang sempat ingin keluar kamar jadi terhenti. Dia gak menyangka Dinda akan berkata seperti itu. Padahal Dinda yang sedang berjuang akan keluarganya, tapi kini malah Aris yang menangis tak karuan gara-gara kisah kelam masa lalunya.
"Maafin aku Din, aku benar-benar gak berguna. Kehadiranku di tengah keluargamu justru menghancurkan semuanya," gumam Aris yang kini menyalahkan dirinya sendiri. Aris memukul-mukulkan kepalanya di tembok saking frustasinya.
Bersambung...
__ADS_1