
Melihat respon Dinda yang berlebihan, Aris diam saja. Toh dia gak merasa bersalah. Lagian Aris bukan mengancam ingin membunuh Wawan. Dia hanya memberitahu Wawan kalau menuduh itu harus dengan bukti. Kan jaman sekarang udah ada HP, kenapa Wawan gak memanfaatkan barang itu jika dia melihat Aris sedang ke dukun? Biar semuanya lebih jelas, dan Aris juga gak kesinggung dengan tuduhannya. Barangkali Aris lupa kalau dia pernah main dukun. Jadi bukti itu perlu, bukan hanya lisan saja yang notabene lebih menjorok ke fitnah.
"Tanya aja sama suamimu!" kata Bu Lastri lagi.
"Mas, emang beneran ya mas Aris ngancem mas Wawan?" tanya Dinda pada Aris saking penasarannya.
Aris tersenyum kecil. "Kenapa harus tanya sama Aris, Bu? Silahkan ibu jelasin ke Dinda sendiri, nanti kalau Aris yang cerita, takutnya ibu gak percaya dengan cerita ku pada Dinda."
Aris menatap Bu Lastri dengan biasa saja. Sebab dia sudah ada bukti khusus soal obrolannya semalem dengan Wawan. Gunanya ya seperti ini, bukti kalau Aris gak ngapa-ngapain tapi udah dituduh macem-macem.
Bu Lastri mencelos, dia kesal dengan sikap Aris yang dirasa gak ada sopan santunnya dengan orang tua.
"Terserah kamu aja Din. Lagian kalau ibu yang cerita, belum tentu kamu percaya sama ibu. Karena ibu yakin, kamu lebih percaya dengan suamimu," jawab Bu Lastri yang ikut-ikutan dengan perkataan Aris. Sejatinya Bu Lastri juga takut salah ngomong. Masalahnya dia gak tahu sendiri dengan kejadian semalam. Bu Lastri hanya dapat kabar dari Mega. Siapa tahu cerita Mega juga belum tentu benar. Jadi bu Lastri cari aman saja, meskipun dia kesal setengah mati sama Aris.
"Dinda gak akan memihak Bu, kecuali pada orang yang benar," sahut Aris dan bu Lastri segera pergi dari sana. Bu Lastri seperti dikeroyok sama 2 orang. Sementara dia hanya sendirian, jadi lebih baik dia segera pergi dari pada masalahnya makin merembet.
Dinda yang sudah dalam mode penasaran langsung menatap Aris. Minta penjelasan maksudnya.
"Iya sayang, mas ceritain kok," kata Aris dengan sabar.
"Nih, dengerin rekamannya. Nanti kalau gak begini, kamu gak akan percaya lagi, hehe." Aris cengengesan sambil menyeruput secangkir kopinya.
Aris begini bukan maksud balas dendam atau gimanapun. Dia hanya sekedar ingin dihargai, bukan selalu dituduh yang enggak-enggak. Bosen rasanya tiap hari selalu dituduh ini itu, sampai rasanya gak betah buat tinggal di rumah ini. Bukan hanya itu saja, gara-gara sikap menuduh mereka juga, tiap hari Aris dan Dinda harus berantem. Sekarang Aris harus antisipasi, biar Dinda gak banyak pikiran soal Aris yang jahat. Biar semua orang tahu, bahwa Aris yang sekarang sudah berubah menjadi baik. Biarkan kisah masa lalunya hanya menjadi rahasia. Karena dia tidak mau kisah masa lalunya terus dibahas dan dikonsumsi publik. Bukan maksud apa-apa, Aris hanya takut istri dan anaknya gak kuat dibully, seperti ibu dan adiknya yang kini hilang entah kemana hanya gara-gara mereka tak kuat dengan bullyan warga yang tiada henti.
'Suatu saat, suatu saat aku akan berusaha membersihkan namaku,' batin Aris dengan yakin.
"Ternyata cuma masalah ini. Lagian kenapa sih mereka masih percaya dukun? Apa mereka gak lihat dari kasus bang Yana ya? Padahal udah viral kemana-mana, katanya dibawa makhluk gaib. Tapi ternyata, dia kabur ke istri mudanya. Sampai paranormal turun pamornya gara-gara bang Yana, hahaha," tawa Dinda pecah sampai nular ke Aris.
__ADS_1
"Wkwkwk, kamu bisa aja Din. Tapi mas beruntung sih punya kamu yang gak percaya hal macam gitu," kata Aris salut pada istrinya. Coba kalau Nesa, pasti sudah lain ceritanya. Ya mungkin Dinda sudah ditakdirkan untuk bersama dengan Aris, meskipun awal jalan yang dilaluinya dengan cara yang sedikit salah.
"Dinda," panggil Mega mengejutkan keduanya. Masalahnya mereka berdua baru tertawa membahas soal dukun itu apa.
"Ya mbak," sahut Dinda sambil merubah ekspresi wajahnya. Begitu juga dengan Aris, yang langsung nampak serius. Bahaya, kata Dinda Aris gak boleh tersenyum atau ketawa di depan orang lain.
"Please bantuin mbak Din. Kali ini aja," mohon Mega sambil meraih tangan Dinda.
Aris memicingkan matanya. "Bantuin apaan?" sahut Aris penasaran. 'Jangan-jangan disuruh bujukin Wawan makan lagi,' batinnya curiga. Firasat Aris kali ini sepertinya benar. Baru saja Aris membatin. Mega langsung mengucapkan permintaan itu.
"Tolong bujuk mas Wawan buat makan Din. Please sekali aja. Aris, tolongin ya. Kali ini aja suruh Dinda ngebujuk Wawan," katanya.
"Bujuk mas Wawan?" tanya Aris sedikit teriak.
Sementara Dinda, dia diam aja. Sekali menyahut, Aris akan cemburu dan mengira Dinda ngeganjen sama Wawan lagi. Jadi demi kebaikan bersama, lebih baik Dinda diam. Kecuali kalau Aris mengijinkan, pasti Dinda akan membujuk Wawan. Lagian Dinda orangnya gak tegaan melihat orang yang sakit seperti itu.
Sebenarnya Mega juga gak mau kayak gini. Ini karena kebentel alias terpaksa. Wawan sih yang aneh-aneh, sakit tapi sikapnya kayak anak kecil. Dibujukin istri gak mau, maunya Dinda. Kalau gak Dinda gak mau makan, kan aneh banget itu? Pikir Mega kesal.
"Ya udah deh, sekali ini aja," jawab Aris mengijinkan Dinda. Bukannya Aris gak cemburu, Aris sangat cemburu. Cuma dia gak tega dengan ekspresi Mega yang terlihat sedih seperti itu. Lagian cuma membujuk, bukan hal lain. Lebih dari membujuk jelas Aris gak akan pernah ngijinin.
Dinda menganga tak percaya. Seenggaknya Aris memang punya hati. Dia masih mau kasihan, padahal tadinya sempat cemburu. Pikir Dinda heran.
"Mas ngijinin aku ngebujuk mas Wawan?" tanya Dinda memastikan.
"Iya, sekali aja. Mas akan lihat kamu dari luar," katanya yang seperti tak tega.
"Yakin?" tanya Dinda lagi.
__ADS_1
"Ayo, takutnya mas Wawan tambah parah!" ajak Aris dan menuntun tangan Dinda.
"Makasih ya Din, Ris," kata Mega setengah malu karena sikapnya yang gak pernah baik pada Aris.
Aris mengangguk saja. Kalau Dinda, dia diam aja. Dinda begini karena Aris yang ngijinin. Kalau gak diijinin juga gak masalah.
Dinda sudah berada di kamarnya Wawan dan Mega. Sesekali Dinda melihat keluar, di mana suaminya tengah menatapnya dari jauh.
Sebelum bicara pada Wawan, Dinda mencoba menarik nafasnya dengan kuat.
"Mas Wawan," panggil Dinda dan Wawan segera membuka matanya.
"Din, lihat mas Din! Mas sakit," ceritanya setengah merengek.
Dinda kembali menatap Aris. Aris hanya mengangguk tanda boleh. Lalu Dinda menatap Mega dan Bu Lastri secara gantian. Dan mereka semua mengangguk tanda lampu hijau.
"Iya mas Wawan. Karena mas Wawan sakit, mending mas Wawan makan. Biar cepet sembuh," bujuk Dinda pada akhirnya.
Wawan kembali merengek. "Gak mau!" katanya.
"Kenapa mas?" tanya Mega penasaran. Karena Mega sadar diri, Aris hanya mengijinkan Dinda untuk sekali saja membujuk Wawan.
"Aku maunya disuapin Dinda," celetuk Wawan yang membuat wajah Dinda pias. 'Apa-apaan sih mas Wawan? Dikasih hati minta jantung,' gerutu Dinda dan Aris dalam hati.
Akankah Dinda mau menyuapi Wawan demi kesembuhan Wawan?
Bersambung...
__ADS_1