
Sepertinya nasib beruntung sedang berpihak pada Aris dan Dinda. Kenapa tidak? Karena buah hasil dari kata lupanya pak Bambang membawa berkah bagi mereka berdua.
Rumah ini, terasa milik mereka berdua. Sementara Bu Lastri, Bu Lastri sudah di rawat dengan baik oleh Aris dan Dinda. Makanan, minuman, camilan semua sudah Dinda siapkan. Untuk urusan makan atau gak makan, itu urusan Bu Lastri sendiri.
Lagian Dinda dan Aris tak setega itu membiarkan Bu Lastri tersiksa. Ya, kalau dilihat dari sikap Bu Lastri sih beliau masih tersiksa. Tersiksa karena Bu Lastri belum mau buka mata dan mengakui kebaikan mereka berdua. Matanya sudah ditutup oleh rasa dengki dan benci. Dan tanpa sadar, rasa benci itu sudah berangsur hilang. Hanya saja gengsi yang masih tertanam dan sulit buat dihilangkan.
"Makan Bu? Atau mau Dinda suapin lagi?" tawar Dinda sambil duduk di samping Bu Lastri. Sementara Aris, dia menggendong Zahra sambil menemani Dinda juga. Mana tega Aris membiarkan Dinda berhadapan sendirian dengan Bu Lastri. Takutnya kalau perkataan Bu Lastri akan melukai hati istrinya. Meskipun faktanya Bu Lastri tak menyakiti Dinda, tapi namanya juga buat jaga-jaga. Karena Aris dan Dinda sudah hilang kepercayaannya kepada Bu Lastri.
"Ibu bisa makan sendiri Din. Maaf ya, ibu jadi ngerepotin kalian," kata Bu Lastri merasa bersalah.
"Gak masalah Bu. Selagi kami bisa membantu, kenapa tidak?" sahut Aris yang masih menimang-nimang Zahra.
"Iya," jawab Bu Lastri sambil menikmati makanan buatan Aris. Mulutnya lagi makan, tapi pikirannya menerawang jauh di atas sana.
'Punya anak, menantu sama suami gak bisa diandelin. Harusnya aku gak sakit kayak gini, gara-gara kalian aku jadi tersiksa lahir dan batin. Tapi aku mengaku, kalau Aris dan Dinda emanglah anak yang baik. Terus haruskah aku juga menyayangi mereka seperti sebelumnya? Atau ini hanya manipulasi dari Aris biar aku terkecoh dan menyayanginya?' batin Bu Lastri yang mulai terombang-ambing. Di saat seperti ini, dan yang perduli adalah Dinda dan Aris. Sempat-sempatnya dia masih berprasangka buruk?
"Oeeee!" Tanpa angin tanpa hujan, tanpa sebab apapun. Tiba-tiba Zahra menangis kejer.
"Eh, cup sayang. Zahra kenapa ya Din? Padahal habis minum susu," kata Aris bingung.
"Coba bawa ke depan mas," suruh Dinda dan Aris menimang-nimang Zahra di ruan tengah. Dan gak lama kemudian Zahra terdiam.
Bayi itu, dia seperti merasakan aura yang tak sedap saat di kamar Bu Lastri. Makanya dia menangis.
"Gimana mas?" tanya Dinda menghampiri Aris.
"Alhamdulillah, udah diem anaknya."
"Kali aja minta letakin di box mas. Oiya, mas gak nyari ibu dan Lia hari ini?" tanya Dinda mengingatkan suaminya. Emang sih, niat Aris menemani Dinda. Tapi gak tahu kenapa, tiba-tiba Dinda mikirin mereka.
"Mas kan mau nemenin kamu Din. Ibu juga lagi sakit, jadi lebih baik mas di rumah aja," jawab Aris memberitahu.
__ADS_1
"Aku gak pa-pa mas. Lagian bentar lagi ayah pulang. Mereka juga penting buat mas, buat kita. Katanya mas mau halalin hubungan kita, jadi gak?"
"Idih yang gak sabaran dihalalin," ledek Aris yang kini sudah berani menggoda seperti itu pada Dinda. Iyalah, kan sama pacar.
"Biarin. Nanti diambil orang nangis," ledek Dinda yang gak mau kalah.
"Eh, ya jangan dong! Kamu itu milikku Din. Sampai akhir hayat,' ucap Aris sambil membatin.
"Ya udah, biar Zahra sama aku aja. Mas Aris siap-siap cari ibu dan Lia. Terus pulangnya jangan lupa beliin susu buat Zahra. Susunya mau habis," kata Dinda yang sudah mirip banget sama emak-emak berdaster.
"Iya sayangku, cintaku. Ada lagi gak yang mau dibeli? Biar sekalian begitu."
"Ada, aku mau martabak."
"Siap sayang. Ya udah, mas siap-siap dulu ya," kata Aris sambil menoel pipi Dinda.
"Ck, ayahmu. Kelakuannya ada-ada aja," gumam Dinda sambil ketawa kecil.
Pak Bambang terus mencoba menghubungi Wawan. Dan setelah beberapa jam lamanya, akhirnya Wawan mengangkat telepon dari pak Bambang.
"Ya Ayah, ada apa?" tanya Wawan setelah sambil mengucek matanya. Dia kecapekan gara-gara olahraga di siang bolong bareng Mega. Dan sekarang malah Mega yang tidur pulas di sampingnya.
"Kamu bisa pulang hari ini gak Wan?" tanya pak Bambang dari seberang sana.
"Emang kenapa Yah?" Sepertinya Wawan mulai betah tinggal di rumah Mega. Baguslah kalau dia betah, jadi gak akan ada yang gangguin hubungan Dinda dan Aris lagi.
"Ibuk sakit Wan. Kasihan dia, nyariin kamu terus. Kamu bisa kan pulang secepatnya?"
"Sakit? Sakit apa Yah?" tanya Wawan sedikit khawatir.
"Katanya pusing," jawab pak Bambang lagi.
__ADS_1
"Terus ayah di mana?" Wawan mempertanyakan tanggung jawab pak Bambang.
"Ayah kerja Wan," sahut pak Bambang yang sempat ingin emosi. Tapi tidak jadi.
"Ya udah deh. Wawan usahain pulang cepet." Mendadak Wawan seperti tak ikhlas pulang buat ngurusin ibunya. Ya mungkin itulah akibatnya buah dari ajaran yang Bu Lastri tanamkan pada anaknya ini.
"Ck. Mega malah tidur lagi. Tapi gak masalah sih, sakitnya ibuk bisa jadi alasan biar Mega mau pulang dan ngerawat ibuk. Tapi kenapa ayah telepon aku ya? Apa Dinda dan Aris gak perduli sama ibukku?" gumam Wawan yang sudah berprasangka buruk.
"Mega, bangun Meg. Mandi terus kita otewe," panggil Wawan membangunkan Mega.
"Kemana?" tanya Mega yang memegangi kepalanya karena pusing.
"Pulanglah Meg. Kemana lagi?"
Mega menarik selimut buat menutupi badan polosnya. Dia tadi belum sempat mengenakannya, karena sudah dilanda kantuk duluan.
"Bentar lagilah Wan. Kepalaku masih pusing," protes Mega sambil terus memegangi kepalanya. Sepertinya kurang baik.
"Alah gak usah manja. Ibuk lagi sakit tahu, dia butuh kita. Ya kali Dinda sama Aris mau nolongin ibuk," celetuk Wawan kesal. Soalnya dia tahu kalau Dinda sudah terprovokasi sama Aris. Jadi mana mungkin Dinda mau mengurusi Bu Lastri seorang diri.
"Ibuk sakit?"
"Iya sakit. Makanya ayo bangun terus mandi. Kayaknya ini ulah Aris deh, jadinya ibuk sakit. Awas aja, aku mau kasih pelajaran buat dia," ucap Wawan sambil mengepalkan tangannya.
"Gak usah aneh-aneh. Palingan baru bertatap muka aja kamu takut. Lagian ingetin napa, kalau kamu repot Aris yang bantuin kamu. Gak usahlah kamu itu terus berantem kayak gitu sama Aris. Pusing aku lihatnya," kata Mega yang mencoba menyadarkan Wawan.
"Dahlah Meg, jangan banyak omong. Buruan mandi, terus berangkat."
Jika Wawan dan Mega bersiap-siap untuk pulang ke rumah pak Bambang. Berbeda dengan Aris yang kini menatap pekarangan rumahnya dengan mata sembab.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Aris?
__ADS_1
Bersambung.