Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Mulai Tak Nyaman


__ADS_3

Karena tak tahan, Mega langsung menuju ke dapur. Rambut basah malah membuat Bu Lastri bahagia. Itu tandanya sebentar lagi dia akan mendapatkan cucu. Cucu dari anak kandungnya.


"Kalau capek gak usah bantuin ibuk, nak," ucap Bu Lastri begitu perhatian pada Mega.


"Mega gak sibuk buk," dusta Mega. 'Hanya hati dan ************ Mega yang sakit,' lanjutnya dalam hati.


"Kamu betah kan tinggal di sini?" tanya Bu Lastri tiba-tiba.


"Betah Buk," bohong si Mega. Sebenarnya apa yang membuatnya betah? Tidak ada. Di sini Mega malah menderita. Bukannya bertemu Jo, tapi malah jadi tawanan Wawan. Dia juga punya tempat tinggal sendiri. Tapi Wawan yang keras kepala itu, membuatnya harus tinggal di sini.


"Oya Buk," ucap Mega tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Bu Lastri penasaran.


"Hubungan Dinda sama Aris itu sebenarnya gimana sih Buk?" tanya si Mega ingin tahu. Sebab Wawan sempat menyuruhnya untuk mendekati Aris. Namun sampai sekarang Mega tak berminat menggoda Aris. Karena dalam hatinya hanya ada Jo. Bukan Wawan ataupun Aris yang notabene adalah suaminya Dinda.


"Ibuk sendiri kurang tahu. Cuma anak yang dikandung Dinda itu adalah anak Aris. Dulu Dinda juga sempet nikah sama pacarnya."


Kedua orang ini ternyata malah asik ngerumpi. Berawal dari pertanyaan Mega hingga tak terasa keduanya malah menjelekkan Aris.


"Masa sih Buk? Aris pernah di penjara?" tanya Mega yang makin kepo.


"Bener, ibuk baru tahu semalam dari ayah," terang Bu Lastri begitu semangat.


Sementara itu, Dinda baru saja makan camilan dari Aris. Dia kehausan, jadi ia putuskan untuk mengambil air di dapur. Tapi dia sangat kecewa saat suaminya dijelek-jelekkan seperti itu.


Jujur, Dinda memang sangat benci sama Aris. Tapi kenapa kalau ada orang lain ikut menjelekkannya, hati Dinda tak terima?


"Aku gak nyangka, ternyata mereka sama aja. Ngomongin kejelekan orang lain dari belakang," batin Dinda sambil menyandarkan diri di tembok. Dia mengatur nafasnya yang memburu akibat emosi.


Tapi yang di dapur makin menjadi. "Kok Dinda mau ya Buk, menikah sama bekas penjahat kayak gitu?"


Mendengar itu, Dinda langsung menampakkan batang hidungnya. "Ehm," dehemnya yang membuat kedua orang itu terdiam seketika.


Bu Lastri merasa tak enak. Dia takut Dinda mendengar semua obrolannya tadi dengan Mega. Kalau sampai Dinda ngadu, Bu Lastri tidak tahu lagi gimana nasib pernikahannya nanti dengan pak Bambang.

__ADS_1


"Eh Nak Dinda, mau buat apa itu?" tanya Bu Lastri penuh perhatian. Tapi jantungnya sudah berdetak tak beraturan.


"Mau ambil minum Buk. Haus," jawab Dinda seolah-olah dia tidak mendengar apa-apa.


"Perkiraan emang kapan Din?" tanya Mega tiba-tiba. Soalnya kehamilan Dinda sudah terlihat begitu besar. Kayak makin sulit buat berjalan. Itu hanya pertanyaan semata. Karena dalam hati si Mega, dia masih kesal akan kedekatan Dinda dan Wawan. Si Wawan bukannya minta disalimi istri, malah minta salim sama orang lain.


Ditanya seperti itu, Dinda belum menjawab. Dia malah asik menikmati minumnya. Baru setelah minumannya habis, Dinda langsung buka suara.


"2 Minggu lagi Mbak. Ku doain mbak Mega cepet nyusul," doa Dinda yang kini langsung beranjak pergi dari dapur.


Ternyata Mega sama Bu Lastri tak berhenti berkasak-kusuk. Sekarang makin menjadi. Si Mega sepertinya ingin menjelek-jelekkan Dinda di depan Bu Lastri.


"Dinda emang kayak gitu ya Buk? Pergi tanpa bilang," ucap Mega dan Bu Lastri menanggapi.


Di sini Dinda malah seperti tak nyaman dengan rumahnya. Padahal ini rumah ayah dan ibunya Dinda sebelumnya. Tapi sekarang? Suasana di rumah ini tak lagi damai. Mungkin benar kata orang Jawa, kalau satu rumah itu tidak baik kalau di huni 3 kepala keluarga.


"Huft, sabar Dinda. Ini kan rumahmu, kamu gak boleh merasa terkucilkan di sini," gumamnya sambil menyemangati dirinya.


Karena dia gabut, bingung mau berbuat apa. Jadi Dinda mencoba main ponsel. Tak disangka, Aris sudah mengiriminya 2 pesan.


Aku udah sampai. Kamu jangan lupa sarapan


2 pesan dari Aris itu membuat Dinda tersenyum senang. Aris begitu perhatian padanya. Gimana kalau Dinda menaruh hati pada Aris?


'Aku emang suka sama caranya, tapi aku takut membuka hatiku buatmu,' batin Dinda yang masih belum yakin dengan perasaannya.


***


Malam hari. Tak ada hal yang istimewa malam ini. Malah Dinda merasa terkucilkan. Padahal pak Bambang terdengar sedang guyonan sama Bu Lastri. Tapi Dinda sedikitpun tak tertarik. Dia malah ingin berduaan dengan Aris, tapi egonya terlalu besar.


Dinda tadi sudah mengusir Aris dari kamarnya. Jadi mana mungkin Dinda tiba-tiba menyuruh Aris buat masuk ke kamarnya lagi. Toh mereka berdua juga sudah melaksanakan sholat isya, jadi tak ada hal penting lagi buat mereka. Aris juga pasti udah tidur, pikirnya.


Sementara Aris, dia masih melamun sambil menatap pintu kamar Dinda. Mendadak perasaannya tak enak. 'Sebenarnya Dinda kenapa sih? Kenapa dia gak mau cerita sama aku? Apa yang sebenarnya dia sembunyikan dariku?' batin Aris menduga-duga.


Tak lama kemudian, Aris melihat Wawan yang baru pulang. Tapi anehnya... saat Wawan masuk kamar, si Mega malah keluar kamar.

__ADS_1


Aris mendelik curiga. Padahal mereka berdua sudah sah mau berbuat apa saja. Beda dengan dirinya yang masih ada larangan tertentu.


'Padahal semalam pamer, sekarang malah kayak musuhan. Benar-benar cewek, susah dimengerti,' batin Aris menyalahkan Mega.


Tapi siapa sangka, setelah Wawan masuk kamar. Si Mega malah menghampiri Aris. Aris celingukan, bingung harus berbuat apa. Tapi dia bukan pria yang bisa digoda. Jadi dia bersikap biasa aja.


"Ada apa mbak?" tanya Aris lebih dulu. Kemudian Aris merubah posisinya jadi duduk.


"Kamu belum tidur?" tanya Mega sambil duduk di samping Aris.


Aris memberikan tatapan tak suka pada Mega. Mata sehitam jelaga nan menakutkan saat didekati oleh orang yang tak disukainya.


"Seperti yang mbak lihat," sahut Aris begitu dingin.


Dinda yang masih mondar-mandir di kamarnya tak sengaja mengintip mereka dari lubang kunci.


"Ngapain si mbak Mega? Terus mas Aris? Ngapain mereka berduasn?" gumam Dinda yang mulai terbakar api cemburu.


Dinda terus mengintip. Dalam hatinya sudah menyumpahi serapah ke Aris. Aris gak tahu aja, tadi pagi si Mega ngejelek-jelekin mereka berdua. Dan sekarang?


'Aku gak terima kalau mbak Mega caper ke Aris,' batin Dinda.


"Ow, mau kopi gak?" tawar Mega lagi.


Kali ini Aris merasa aneh. Harusnya Mega nawarin suaminya. Kenapa malah Aris yang ditawarin?


"Gak deh mbak. Aku mau tidur," tolak Aris yang pura-pura bersiap. Mau tak mau, Mega akhirnya berdiri dari kursi panjang tadi.


"Maaf mbak, aku udah ngantuk," ucap Aris yang kini pura-pura menutup mata.


Di dalam kamarnya, Dinda merasa senang dengan sikap Aris. Tapi tidak dengan si Mega. Hatinya makin dongkol, Aris lebih susah didekati ketimbang Jo. Tatapan Jo begitu teduh dan nyaman menurut Mega. Tapi si Aris? Mirip banget dengan tatapan iblis. Menakutkan.


'Ini kalau bukan permintaan Wawan gak akan aku turuti,' batin Mega dongkol 7 turunan.


Bersambung...

__ADS_1


Rekomendasi novel hari ini, mampir ya...



__ADS_2