
...****************...
Rumah sakit.
Karena keadaan Dinda dan bayi sehat. Jadi besok sudah diperbolehkan untuk pulang. Jadi malam ini Aris menginap di rumah sakit. Mungkin dia harus libur bekerja untuk beberapa hari ke depan.
Cuti lagi? Ya, mana mungkin Aris tega membiarkan Dinda repot sendirian mengurus bayinya. Kalau dipecat pun gak apa-apa, mungkin belum rejekinya. Sekarang Aris gak mau terlalu mengejar harta, memang benar semuanya butuh uang. Tapi Dinda juga sedang butuh dirinya.
"Udah malam Din, kamu bobo duluan gih!" suruh Aris sambil menyelimuti Dinda.
Sejak tadi Dinda gak bisa tidur, soalnya si kecil mulai rewel. Dan sekarang si kecil sudah tidur, jadi Dinda harus tidur juga.
"Mas," panggil Dinda kemudian.
"Iya sayang, ada apa?" jawab Aris sambil menatap Dinda dengan lekat.
"Orang tua mas Aris masih ada kan?" tanya Dinda sedikit ragu. Entah kenapa, tiba-tiba Dinda berpikiran untuk tinggal bareng keluarga Aris saja. Soalnya kalau Dinda tinggal bareng ayahnya, keadaannya berasa tak nyaman. Benar itu rumah ayahnya Dinda, tapi penghuninya?
Sebenarnya Dinda sendiri juga gak yakin bisa betah dengan keluarga Aris, tapi bertanya apa salahnya? Selama mereka menikah, Aris belum pernah memperkenalkan Dinda dengan keluarganya.
Lia? Itu hanya pertemuan waktu tragedi. Jadi Dinda belum bisa menilai gimana sikap Lia sebenarnya?
"Bapakku udah lama meninggal Din. Kalau ibuk? Ada, tapi aku udah lama kabur dari rumah," terang Aris sedih.
"Kenapa mas Aris kabur?" Dinda penasaran.
"Ada problem gitulah," jawab Aris yang tak mau memberi tahu ke Dinda.
'Gara-gara aku ditangkap polisi Din. Jadi aku mutusin diri buat gak tinggal sama mereka. Tapi sungguh, dalam hatiku aku selalu kangen sama ibukku. Tapi aku gak bisa apa-apa, mereka udah pindah rumah. Ntah di mana mereka, aku belum sempat mencarinya,' lanjut Aris dalam hati. Dia ingin meneteskan air mata, tapi ia tahan.
"Terus mas gak coba nyari mereka? Gimana dengan Lia?" tanya Dinda lagi. Ntah kenapa, semakin sering mereka berduaan, rasanya terasa jauh lebih dekat. Bahkan Dinda mau membuka hati untuk Aris. Tak hanya Aris, Dinda bahkan ingin tahu keluarga Aris itu bagaimana.
"Aku gak tahu Din. Sejak kejadian kemarin itu, emm maaf." Tiba-tiba Aris merasa gak enak membahas soal penculikannya kemarin. Takut kalau Dinda teringat kembali akan kejadian keji beberapa bulan yang lalu.
"Fiuh." Dinda mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Aris dengan lembut. Keduanya kembali menatap begitu dalam dan sangat dalam. Posisi Dinda yang tengah berbaring, sementara Aris, dia tengah duduk di ranjang di samping Dinda. Posisi yang begitu dekat dan mendebarkan.
Entah bisikan dari mana. Nafas mereka saling menerpa. Begitu dekat dan sangat dekat. Beberapa mili lagi mulut keduanya akan menyatu, tapi...
Tok! Tok! Tok!
"Eh!" Aris sadar dan segera menjauh dari wajah Dinda. Malam-malam begini, siapa yang datang? Aris geram, kenapa saat dia ingin bermesraan dengan Dinda, selalu saja ada yang menggangu.
Agak sedikit malas, akhirnya Aris membuka pintu.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Ternyata tamunya Jo dan Nesa. Tapi mana Raskha? Aris bertanya dalam hati.
"Wa'alaikumussalam," jawab Aris kemudian.
"Siapa Mas?" tanya Dinda penasaran, karena dia gak bisa melihat jelas siapa orang yang datang.
"Ini mas Jo sama..." Aris dan Nesa saling menatap malas. Kalau melihat Nesa, dia teringat akan masa lalu dan dendamnya. Tapi dia pura-pura gak ada apa-apa.
"Mbakmu!" lanjut Aris agak kesusahan.
"Mbak Nesa!" teriak Dinda yang tak sabaran ingin bertemu Nesa.
"Masuk Jo," suruh Aris tanpa menyuruh Nesa.
"Iya, kami gak ganggu kan?" tanya Jo sambil menatap wajah Aris yang terlihat kusut. Mungkin kecapekan dan butuh istirahat, pikir si Johan.
"Dinda! Selamat ya," teriak Nesa sambil menyerobot Aris. Bodoh amat, Dinda kan adiknya. Meskipun Nesa gak pernah suka dengan Aris, tapi kasih sayang Nesa pada Dinda gak akan pernah pudar.
"Iya, makasih mbak," sahut Dinda yang hendak duduk. Melihat itu, reflek Aris berlari dan membantu Dinda.
Nesa menatap heran ke Aris. Ternyata Aris perhatian sama Dinda. 'Syukur deh, semoga Dinda bahagia dan langgeng hidup bareng Aris,' batin Nesa mendoakan yang terbaik buat Dinda.
"Maaf ya, mbak baru bisa jenguk kamu. Soalnya kamu tahu kan, di sini gak boleh ngajakin balita," ucap Nesa seraya memberi tahu.
"Din, Mas duduk di luar sama mas Jo ya," pamit Aris pada Dinda. Karena rasanya dia gak enak nimbrung omongan Dinda sama Nesa. Itu masalah perempuan, jadi Aris gak wajib kepo.
"Iya mas," sahut Dinda.
"Bun, ayah duduk di luar ya." Sekarang giliran Jo yang berpamitan.
"Iya ayah."
"Oiya, tadi kamu nanya apa?" tanya Nesa yang kali ini sambil melihat si bayi.
"Raskha mbak. Dia sama siapa?" tanya Dinda penasaran.
"Ow, tadi mbak titipin ke Bu Lastri," kata Nesa yang kini malah fokus ke si kecil.
"Anakmu cewek ya Din. Ih sumpah cantik banget. Gemesnya." Nesa mengelus pipi si kecil dengan pelan. Soalnya Nesa takut kalau bangun nanti.
"Iya mbak, cucu ayah udah pas ya. Cowok sama cewek," kata Dinda sambil terkekeh geli.
"Pengen gendong ih, tapi mbak takut kalau dia bangun," ujar Nesa yang kini nyusul duduk di samping Dinda.
"Agak rewel mbak. Minum asi gak mau, maunya susu dodot terus," curhat Dinda pada Nesa.
__ADS_1
"Pokoknya sering-sering kamu kasih asimu. Nanti lama kelamaan juga mau."
"Iya mbak, pokoknya aku belajarin asi terus kok. Biar si kecil gak formula terus."
"Oya Din, mbak lihat Aris udah banyak berubah ya," kata Nesa setengah berbisik.
"Iya mbak, Alhamdulillah dia sabar ngurusin Dinda," jawab Dinda dengan jujur.
"Baguslah. Mbak seneng lihatnya, moga kalian langgeng sampe kakek nenek ya," doa Nesa lagi.
"Aamiin. Tapi mbak..."
"Iya kenapa? Dia ada nyakitin kamukah?" kepo sudah si Nesa sama perkataan Dinda yang kepotong itu.
"Bukan mbak, tapi Dinda ingin hidup mandiri kayak mbak Nesa," curhat Dinda yang kali ini berasal dari dalam hatinya.
"Kenapa Din? Kalian belum nikah lagi lho? Ayah pasti khawatir nanti." Ingatkan Dinda tentang itu. Kalau mereka udah nikah lagi, ya sah-sah aja buat mereka untuk pisah rumah dari pak Bambang.
"Bukan gitu sih mbak."
"Terus kenapa? Sini cerita sama mbak. Atau ada yang nyakitin perasaanmu?" tanya Nesa curiga.
'Aku cuma ngerasa gak nyaman sama Bu Lastri dan mbak Mega. Aku kayak di anak tirikan,' batin Dinda sedih.
"Din," panggil Nesa karena dia melihat Dinda setengah melamun.
"Emang mbak percaya sama ibu sambung kita?" tanya Dinda setengah memancing. Tentu Nesa akan percaya, soalnya dia gak pernah tinggal bareng. Meskipun pernah, palingan cuma bentar.
"Bu Lastri kenapa Din?" tanya Nesa lagi.
"Gak, maksud Dinda mbak percaya kan kalau Raskha akan baik-baik aja dijaga sama Bu Lastri?"
Ah, rupanya Dinda jadi serba salah. Niatnya mau cerita, tapi omongannya malah merembet ke mana-mana.
"Percaya kok Din. Lagian ada ayah juga kan? Emang kenapa?" tanya Nesa lagi. Dia sudah dibuat kepo setengah mati. Tapi Dinda langsung terdiam mendengar jawaban Nesa yang seperti itu.
Kehadiran Nesa sebenarnya membuat Dinda senang. Tapi Dinda gak bisa menceritakan apa yang ia rasakan ke Nesa. Karena ternyata Nesa sudah ada rasa percaya pada Bu Lastri. Kalau seandainya Dinda cerita, takutnya Nesa gak akan percaya padanya.
Sementara itu...
Raskha sedang dijaga oleh Mega. Soalnya pak Bambang dan Bu Lastri hendak keluar beli makan. Jadi Raskha sekarang sedang bersama Mega.
"Hai setan kecil. Sekarang di rumah ini hanya ada kita berdua," ucap Mega dengan mengumbar senyum liciknya.
Bersambung...
__ADS_1