Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Mega Meninggalkan Wawan


__ADS_3

...****************...


Setelah sampai di rumah lamanya. Aris segera memarkirkannya di halaman rumah. Rumah itu sudah ditumbuhi ilalang. Tapi sebagian sudah dibersihkan. Berarti masih ada yang singgah di rumah itu? Atau ini hanya pekerjaan orang yang mencari rumput.


'Ah, gak mungkin,' batin Aris. Dan dia mencoba berjalan setapak demi setapak untuk menuju ke teras rumahnya. Memang masih terlihat bersih. Diperkirakan baru disapu 2 atau 3 hari yang lalu.


"Berarti Lia atau ibuk masih sering main ke rumah ini," gumamnya. "Ya, ibuk gak mungkin pergi begitu saja. Rumah ini peninggalan ayah, pasti ibu akan sering ke sini untuk menengok rumah ini," lanjut Aris lega.


Kalau sudah tahu kenyataannya seperti ini. Aris akan sering-sering melihat rumah ini. Siapa tahu dia akan dipertemukan dengan ibunya di sini.


Untuk sementara, inilah info yang Aris dapatkan. Jadi dia boleh pulang, mungkin sambil mencari pekerjaan sampingan. Biar dia tak terlihat sangat nganggur saat berada di rumah pak Bambang. Mana enak, udah numpang, nganggur lagi. Takutnya Dinda yang akan tertekan gara-gara Aris gak berpenghasilan.


...****************...


Mega menghampiri Bu Lastri yang tengah menonton televisi.


"Buk," panggil Mega dengan sopan.


"Eh, sini nak. Nonton TV bareng ibuk," ajak Bu Lastri sambil menggeser tempat duduknya.


"Iya Buk. Omong-omong, Mega ke sini mau ijin sama ibuk," kata Mega yang membuat Bu Lastri langsung menatapnya.


"Ijin kemana?"


"Ijin pulang bentar Buk. Mega mau lihat keadaan nenek, soalnya sejak tinggal di sini, Mega belum sempat nengokinnya," jawab Mega jujur tapi ini juga alasan yang tepat buat dia.


"Tapi Wawan?" tanya Bu Lastri setengah tak rela ditinggalkan Mega.


"Mega titip ke ibuk ya? Lagian cuma bentar kok Buk," kata Mega yang kali ini berbohong.


"Bener ya cuma bentar?" Bu Lastri memastikan.


"Iya Buk. Ya udah Mega pamit dulu ya? Mas Wawan dia lagi bobok Buk," kata Mega sambil berpamitan pada Bu Lastri.


"Hati-hati Nak."


"Iya Buk," jawab Mega dan dia segera berjalan keluar rumah. Sebelumnya dia mengambil sepeda motornya yang beberapa hari ini dipakai oleh Wawan. Dan sekarang Mega baru bisa mengendarainya lagi.


'Sorry Wan. Gue harus ngelakuin ini. Kalau lu serius, lu pasti akan nyari gue,' batin Mega sambil menatap teras pak Bambang sebelum dia tancap gas.


Di dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Mega sempat berkali-kali meneteskan air mata. Dia tidak menyesal menikah dengan Wawan. Tapi dia tidak suka dengan sikap Wawan yang tak pernah menghargainya sebagai seorang istri. Lagian mereka berdua juga tak ada perasaan, jadi Mega rasa dia tak bersalah jika dia meninggalkan Wawan.


...****************...

__ADS_1


Siang harinya. Zahra menangis dan itu membuat Dinda terpaksa keluar dari kamarnya. Tempat ternyaman selama dia menikah dengan Aris. Berhubung Zahra rewel gak mau diem, jadinya Dinda mengajak Zahra keluar.


"Kenapa nak?" tanya Bu Lastri sambil menghampiri Dinda.


"Gak tahu nih Bu. Mungkin engap gara-gara di kamar terus-terusan."


"Ya udah sini, biar ibu gendong ya?" ijin Bu Lastri dan Dinda pun mengijinkannya.


Dinda menatap sekeliling rumahnya. Sepi. Mungkin si Mega lagi di kamar ngurusin Wawan, pikir Dinda dan dia menuju ke dapur.


"Titip Zahra ya Bu? Dinda mau buatin susu," katanya.


"Iya nak, biar sama ibu aja," kata Bu Lastri sambil menimang-nimang Zahra.


"Ututu, kamu itu emang mirip sama ayahmu ya?" kata Bu Lastri setengah berbisik.


'Semoga kelak, kamu gak jahat kayak ayahmu,' batin Bu Lastri penuh harap. Ternyata di hatinya masih memendam rasa benci terhadap Aris. Dan bayi mungil tanpa dosa itu langsung menangis kejer. Sampai Dinda yang di dapur pun kaget. Tak hanya Dinda, Bu Lastri sendiri juga kaget dengan tangisan Zahra yang begitu melengking.


"Kenapa Bu?" tanya Dinda khawatir.


'Kurang ajar bayi ini. Padahal aku cuma ngomong dalam hati, tapi dianya langsung ngadu,' batin Bu Lastri sambil menatap wajah Zahra dengan gemas.


"Gak tahu nih Din. Padahal udah ibu timang-timang," kata Bu Lastri memberitahu.


"Ya udah, ibu aja yang buatin susunya," katanya dan berlalu begitu saja.


Saat Dinda tengah asik menimang Zahra di depan kamar Wawan. Gak tahunya Wawan keluar kamar dan menatap Dinda.


"Kenapa sama keponakanku?" tanya Wawan sok akrab.


"Mungkin haus mas," jawab Dinda tanpa menatap Wawan. Sebab matanya masih sibuk menatap anaknya.


"Udah diminumin?" tanyanya sambil menyandarkan lengannya di dinding pintu.


"Masih dibuatin ibu," jawab Dinda santai.


"Lihat mbak Mega gak?" tanya Wawan kemudian. Karena Dinda diajak ngobrol gak ada asik-asiknya. Jadi lebih baik dia mencari Mega, buat pelampiasan mungkin.


"Enggak. Bukannya di kamar ya?" Dinda balik bertanya.


Wawan mengerutkan keningnya. Curiga ada yang gak beres dengan Mega.


"Gak ada kok di kamar," jawab Wawan sedikit malas. Dia tengah kelaparan, harusnya Mega udah nyiapin makan dan minuman buat dia. Tapi apa? Ini hari Mega benar-benar tidak memperdulikannya.

__ADS_1


'Kemana tu orang? Enak aja gak ngurusin aku,' batin Wawan yang mulai tersulut emosi.


"Dinda gak tahu mas," jawab Dinda enteng.


"Aku laper Din," keluh Wawan tiba-tiba.


Dinda menatap Wawan dengan tajam. Bisa-bisanya dia mengeluh lapar di depan Dinda. Dinda aja sekarang sedang kerepotan mengurusi anaknya.


"Terus?" selidik Dinda penasaran.


"Ambilin makanan buat mas Wawan dong?"


Dinda menganga. Benar-benar si Wawan. Dinda bukan istrinya. Lagi pula kalau Mega gak ada, masih ada ibunya buat dimintai tolong. Bukannya Dinda gak mau, tapi posisinya sekarang tengah menimang si Zahra agar tenang.


"Wawan!" panggil Bu Lastri yang melihat Wawan sudah bangun.


"Mega mana Buk!" serang Wawan tanpa menjawab panggilan Bu Lastri tadi.


"Oiya, ini susunya Din!" kata Bu Lastri sambil menyodorkan susunya buat Dinda.


Dinda langsung merasa kepanasan saat botol yang dari tangan Bu Lastri pindah ke tangannya.


"Ibu Lastri gak nambahin air dingin kah?" tanya Dinda memastikan.


"Ibu gak tahu cara bikinnya," jawab Bu Lastri tanpa bersalah. Bukan apa-apa, untung Dinda tadi memegangnya sebelum ngasih ke Zahra. Gimana kalau langsung diminumkan? Apa gak kepanasan mulut Zahra gara-gara susu buatan dari Bu Lastri tadi.


Segera Dinda menuju ke kamarnya dan meletakkan Zahra kembali. Dinda harus membuat ulang, karena Bu Lastri gak bisa diandelin dalam hal sepele kayak gini.


Sementara itu, Bu Lastri sedang menanggapi pertanyaan Wawan tadi mengenai Mega.


"Kok nanya ibuk? Emang Mega gak ada ijin ke kamu apa?"


Dan baru saja Bu Lastri berucap seperti itu. Zahra kembali menangis, dan disusul oleh kedatangan Aris. Aris yang tengah kecapekan langsung berlari menuju ke kamar dan menggendong anaknya.


'Padahal ada orang di rumah, tapi mereka kayak gak peduli sama anakku,' batin Aris. Sebenarnya ini bukan salah paham. Hanya saja Bu Lastri lagi sibuk menanggapi Waean, dan dia takut buat kesalahan lagi gara-gara dia yang gak fokus. Sementara Wawan, dia sakit. Jadi dia enggan mendekat ke arah Zahra.


"Mas, ini susunya," ucap Dinda sambil menutup pintu kamarnya.


"Kok Bu Lastri gak mau gendong Zahra ya?" celetuk Aris tiba-tiba.


Dinda langsung bungkam. Kalau Aris tahu kebiasaan Bu Lastri yang emang jarang perduli terhadap anaknya bagaimana?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2