Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Benarkah Bu Lastri?


__ADS_3

"Mas Wawan masih sensi sama aku ya?" kata Aris sambil menatap ke arah ke luar kamar.


"Iya, karena dia juga bukan kakak kandungku. Jadi biarin ajalah mas, yang penting dia gak ngusik hubungan kita lagi," kata Dinda menenangkan Aris.


"Ya udah deh, mumpung dia gak di rumah jadi kita bisa atur rencana pernikahan kita," kata Aris memberikan ide.


"Ide bagus itu mas. Ya udah, Dinda langsung ngasih tahu ke ayah aja ya?" kata Dinda yang segera keluar dari kamar.


Sepergian Dinda, Aris langsung bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Wawan kayak gak tahu apa-apa soal kecelakaanku. Terus siapa yang melakukan semua ini? Aku butuh bantuan Jo," gumam Aris yang segera mengambil ponselnya.


"Wa'alaikumussalam. Jo, apa ada perkembangan?" tanya Aris penasaran.


"Aku gak mau nuduh Ris, lebih baik kamu cek di kantor polisi soal kebenarannya," kata Jo dari seberang sana.


"Jadi gak ada titik terang ya Jo?" tanya Aris yang akhirnya pasrah. Lagi pula dia gak lumpuh, ya udahlah dari pada masalah makin merembet. Akhirnya Aris menutup kasus penasarannya itu. Lagian percuma kalau cuma dia sendiri yang bertindak. Orang lain gak akan mau percaya. Jadi dari pada terus memendam penasaran yang gak pasti, lebih baik pura-pura tidak tahu aja.


"Mas, mikirin apa?" tanya Dinda yang mengejutkan Aris.


"Gak sayang, aku lagi mikirin pernikahan kita nanti," dusta Aris.


'Maafin aku ya Din, kali ini aku gak bisa cerita sama kamu. Takutnya aku dituduh memfitnah kalau gak ada buktinya,' batin Aris sambil pura-pura tersenyum.


"Mikirin pernikahan kita? Yakin?" tanya Dinda gak percaya. Soalnya terlihat sekali kalau Aris tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Kalau membahas pernikahan, harusnya Aris bahagia. Tapi ini terlihat sangat gelisah. Dinda jadi tak percaya dan ingin mencari tahunya sendiri.


"Em, yakin Sayang. Besok kita ajukan surat-suratnya. Dan harinya, kamu yang nentuin," kata Aris dan Dinda masih berusaha mencari jawaban dari kesungguhan ucapan Aris.


"Kenapa? Kok natapnya gitu banget sih?" tanya Aris pada sang istri.


"Ada yang mas sembunyiin dari aku," celetuk Dinda tiba-tiba. Niat hati ingin pura-pura gak tahu, tapi namanya wanita. Pasti rasa penasarannya begitu tinggi.


'Kenapa Dinda peka banget sama perasaanku? Padahal aku udah bersikap gak terjadi apa-apa dari tadi.'


"Iya kan mas, jawab jujur!" paksa Dinda pada Aris.


"Iya, lupakan itu Din. Ini cuma rasa cemas yang ku rasakan. Oh iya, apa ayah ngerestuin pernikahan kita?" tanya Aris berusaha mengalihkan obrolan mereka.

__ADS_1


'Kenapa mas Aris susah banget buat cerita ke aku ya?' batin Dinda lagi. Jiwa penasarannya semakin menjadi. Dia gak bisa tenang kalau Aris gak cerita. Tapi ya sudahlah, Dinda akan bertanya langsung pada Jo. 'Semoga mas Jo mau memberitahuku,' harap Dinda dalam hati.


"Dinda, kok kamu yang jadi melamun?" tanya Aris, posisinya sekarang masih duduk di kursi roda. Soalnya mereka belum sah, jadi mau menutup pintu kamar rasanya tidak mungkin.


"Enggak apa-apa. Soal ayah, dia setuju asal aku bahagia," kata Dinda yang kali ini terlihat jutek.


"insya Allah, yang jelas aku akan berusaha bahagiain kamu," kata Aris sungguh-sungguh.


"Dan Dinda harap, gak ada kebohongan dalam rumah tangga kita. Karena aku gak mau ada kegagalan lagi dalam rumah tanggaku," kata Dinda sambil berbalik arah. Dia mengambil ponselnya dan pergi meninggalkan Aris sendirian.


"Dinda kenapa ya? Huft, semua salahku. Harusnya aku berterus terang. Tapi aku takut dugaanku gak terbukti. Yang ada masalah makin bertambah nanti." Aris bimbang, ingin menyusul Dinda sepertinya tak mungkin. Badannya juga masih sakit semua, lebih baik dia tidur istirahat.


Hampir saja Aris berdiri, eh tak tahunya ada Bu Lastri di depan pintu.


"Eh ibu Lastri," kata Aris sambil deg-degan. Semoga Bu Lastri tak melihat aksinya tadi.


"Gimana keadaanmu Ris?" tanya Bu Lastri yang sekarang terlihat berbeda.


"Alhamdulillah lumayan baik Bu," jawab Aris yang kini jadi curiga dengan sikap aneh Bu Lastri.


"Dinda mana ya Ris?"


"Enggak, ibu lagi pengen ngomong sesuatu. Oh iya, ibu dan adikmu menginap di sini gak? Biar ibu siapkan tempatnya," kata Bu Lastri yang terlihat perduli dari biasanya.


"Kayaknya ibuk dan Lia akan pulang Bu. Jadi ibu Lastri gak perlu repot-repot menyiapkan tempat tidurnya," jawab Aris lagi.


" Oh gitu, ya udah kamu istirahat aja. Ibu mau mencari Dinda dulu," kata Bu Lastri dan Aris makin berfikir yang bukan-bukan.


Lalu Aris menjalankan kursi rodanya sampai depan pintu kamar. Kemudian dia menutup rapat pintu kamarnya.


Tak sabaran, Aris langsung berdiri dan mendorong kursi roda itu dekat tempat tidurnya.


Karena masih kurang sehat, jadi Aris membaringkan tubuhnya ke kasur.


"Apa mungkin ibu Lastri yang udah memotong kabel rem motorku?" gumam Aris bertanya-tanya.


Kalau dari pernyataan Johan, kabel motornya memang seperti dipotong menggunakan gunting. Jadi tak menutup kemungkinan, Bu Lastri juga bisa melakukannya.


"Oweee! Oweee!"

__ADS_1


Aris langsung menepis pikirannya tadi. Dia jadi kepikiran anaknya.


"Zahra, kenapa dia nangis? Aku kangen banget sama dia, pengen gendong. Tapi..." Aris sedih, dia lagi pura-pura lumpuh saat ini. Jadi sangat tidak mungkin dia menggendong Zahra. Karena semua orang tahu, tangan kirinya Aris sedang tak berfungsi.


"Cup cup!"


Terlihat Dinda menggendong masuk Zahra ke dalam kamar.


"Sayang, jangan lupa tutup pintunya ya?" pinta Aris.


Setelah dipastikan Dinda menutup pintu dan menguncinya, Aris langsung berdiri dan mengambil alih Zahra dari gendongan Dinda.


"Ayah kangen banget sama kamu Zahra. Mmuah! Miss you," ucap Aris sambil mengecup kening Zahra.


"Jadi cuma sama Zahra aja kangennya?" tanya Dinda iri. Gimana gak iri? Aris terlihat sangat perhatian pada Zahra ketimbang dirinya.


"Uluh uluh, sini kiss!" ajak Aris dan dia langsung mengecup bibir Dinda tanpa permisi.


"Apaan ih," protes Dinda pura-pura gak suka.


"Oh kurang?" ledek Aris tapi dia sungguhan.


"Sini Zahranya, mau ku susuin," kata Dinda sambil mencoba mengambil alih Zahra dari gendongan Aris.


"Ayahnya juga mau lho," kata Aris sambil menaikkan turun alisnya.


"Halalin dulu, baru boleh," kata Dinda menggoda balik si Aris.


"Ihh, awas aja nanti. Aku gak akan beri ampun." Aris mengancam si Dinda.


"Apa? Aku gak mau ya kasar-kasar lagi," protes Dinda yang kini sambil memberikan ASI pada Zahra.


"Gak akan lagi. Percaya sama mas," kata Aris dengan sungguh-sungguh.


Dinda tersenyum.


'Aku tahu apa yang kamu rahasiakan dariku mas. Kalau sampai aku tahu pelakunya, aku gak akan pernah memaafkannya. Tega banget dia mau mencelakai suamiku. Apa dia senang aku jadi janda dan anakku jadi yatim?' batin Dinda yang kini jadi tak terima atas perbuatan orang yang telah mencelakai suaminya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2