Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Ketemu


__ADS_3

***


Sementara itu, Lia tengah tergugu pilu. Sudah hampir satu jam lamanya dia tinggal di ruangan kerja pak Wahyu. Pak Wahyu tak menanggapi apapun selain hanya menunggu penjelasan dari Lia. Kenapa Lia mengundurkan diri kerja seperti ini? Padahal pak Wahyu ngerasa, kalau pekerjaan Lia akhir-akhir ini sangat baik.


Setelah perasaan Lia membaik. Lia pun buka suara. Dia menatap pak Wahyu sekilas, kemudian membuang wajahnya ke arah lain. Menatap pak Wahyu membuat hatinya terasa terbelah menjadi dua bagian. Sakit, karena Lia tak bisa memilikinya. Padahal dia mengincar Jo, tapi Jo bukan jodohnya. Jadi sekarang dia mengincar pak Wahyu, tapi semesta tak mengijinkannya juga.


"Saya mau mencari pekerjaan lain pak. Saya udah gak betah di sini," ucapnya menjelaskan.


Sebenarnya yang membuat Lia gak betah itu adalah perasaannya dan juga kecurigaan Aris kepada keduanya.


Pak Wahyu menatap Lia dengan lekat. Dia sudah menganggap Lia sebagai anaknya sendiri. Melihat Lia yang menderita seperti ini membuatnya gak tega.


"Kenapa Lia? Ada masalah apa? Coba kamu cerita!" Pak Wahyu perhatian seperti ini bukan karena ada perasaan cinta pada Lia. Dia hanya berusaha layaknya mengasihi seorang anak.


"Saya gak bisa kerja di sini lagi pak. Semuanya udah kacau gara-gara mas Aris bebas dari penjara," terang Lia dan kali ini pak Wahyu belum paham. Karena penjelasan Lia hanya seperti setengah-setengah.


Lia mengusap kembali air matanya. "Mungkin kita gak ditakdirkan untuk bersama pak. Aku mencintai bapak sejak lama. Namun Lia tunggu-tunggu, bapak juga tak kunjung menyambut cinta yang Lia berikan. Padahal sejauh ini, Lia udah berusaha agar bapak mencintai Lia. Tapi kini semuanya berakhir gara-gara mas Aris. Dia---- dia meniduri Dinda Pak, adik mbak Nesa," jelas Lia panjang lebar. Dia tak ingin menutupi apapun dari pak Wahyu. Kalau pak Wahyu marah, biar marah saja sekalian. Fikir Lia saat ini.


Pak Wahyu syok seketika. "Ya Allah. Astaghfirullah."


"Lia, sebelumnya aku minta maaf. Aku bersikap ini bukan karena aku cinta sama kamu. Tapi selama ini, aku udah anggap kamu sebagai anak saya sendiri," terang pak Wahyu menjelaskan.


Kembali pak Wahyu menatap ke arah Lia dengan tajam. "Kenapa mas mu sekeji itu Lia? Kenapa dia berbuat hal itu pada Dinda? Cobaan apalagi yang masmu itu berikan kepada anakku?" Kini pak Wahyu emosi. Aris tak pernah berhenti mengganggu ketenangan hidup Jo. Sebagai ayah, dia akan marah jika kebahagiaan anaknya diusik seperti ini. Apalagi Dinda adalah anak sahabatnya.


Lia meringkuk ketakutan. Dia tak tahu, kalau pak Wahyu hanya menganggapnya sebagai anak. Jantungnya terasa berhenti. Hatinya sudah patah, dan kini ditambah dengan kemarahan pak Wahyu tentang kakaknya.


"Mas salah paham pak, salah paham dengan hubungan kita. Mas fikir, Lia sudah tidur dengan---- bapak," cicitnya lirih saat menyebut kata bapak di sana.


"Ya Allah anak itu. Pikirannya udah gak waras. Udah gila apa ya? Bapak gak nyangka fikiran masmu serendah itu Lia. Kayaknya saya harus ke rumah besanku sekarang." Pak Wahyu segera beranjak dari kursinya. Lia menghentikan langkah pak Wahyu ingin minta maaf.


"Pak!" cegah Lia.


"Maafkan Lia pak, udah lancang cerita kayak gini ke bapak. Lia gak kuat menahannya sendiri." Tubuh Lia condong ke depan. Pak Wahyu mengerti maksud Lia. Akhirnya pak Wahyu memberikan pelukannya untuk Lia. Lia menangis haru dipeluk oleh pak Wahyu. Meskipun dia sedang dirundung masalah, tapi di balik bibirnya itu tercetak sebuah senyuman bahagia. Ya meskipun pelukan ini untuk yang pertama dan terakhir baginya. Tapi Lia sudah sangat bahagia.


"Ya sudah Lia, gak apalah. Saya sudah menganggapmu sebagai anak," balas pak Wahyu menenangkan.


"Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir Pak. Tapi Lia janji, Lia akan membayar hutang Lia pada bapak," ujar Lia sambil terisak di dada berisi pak Wahyu.


"Sssst, gak usah dibalikin. Ambil aja untuk Lia, saya ikhlas. Dan jangan ngomong ini pertemuan yang terakhir, karena kita gak pernah tahu takdir Allah. Dan asal Lia tau, pintu rumah saya akan selalu terbuka lebar untuk Lia. Dan Lia, mulai hari ini kamu adalah anak angkatku. Panggil aku bapak saat kita bertemu lagi nanti. Bapak gak bisa lama-lama, bapak mau ke rumah besan bapak," ujar pak Wahyu yang langsung membuat Lia kecewa. Habis diterbangkan, langsung dijatuhkan. Tapi untung jatuhnya enak, di atas kasur. Alias dijadikan anak angkat. Pacar gak jadi, anak angkatpun bolehlah. Mungkin lebih baik seperti ini. Dijadikan anak angkat oleh seorang bos.


***


Balik ke Dinda.


"Mas Jo," panggil Dinda tak tenang.


"Iya, kenapa Din?" tanya Jo heran.


"Em, gak mas. Gak jadi," balas Dinda was-was. Mungkin dia hanya kefikiran yang bukan-bukan.


Lalu keduanya keliling pasar. Namun sayang, mereka berdua tak mendapatkan mangga yang dipingini oleh Nesa.


"Kita cari kemana ya Din?" tanya Jo dengan penat.


Dinda hanya menggeleng tanda tidak tahu. Aris yang melihat wajah lesu dan kecapekan dari Dinda jadi tak tega. Aris ingin membantu mereka.

__ADS_1


Aris langsung berpura-pura berjalan di samping mereka. Dan dia dengan sengaja menabrak Jo.


"Eh!" spontan Jo kaget.


"Maaf-maaf, gak sengaja," ucap Aris pura-pura gak tahu.


"Aris ngapain loe!" tuding Jo.


Mendengar nama Aris disebut, membuat tangan Dinda gemetaran. Dia segera mencengkeram ujung bajunya sendiri. Jantungnya berdetak saking takutnya.


"Dinda, kamu gak apa-apa kan?" tanya Jo khawatir.


"Din... Jangan takut. Aku gak akan ngapa-ngapain kamu." Kali ini Aris ikut bicara.


"Pergi!" usir Dinda.


"Mending kamu pergi deh Ris!" suruh Jo.


Aris merasa kasihan melihat kondisi Dinda yang sangat kacau seperti ini.


"Enggak Jo!" Aris menolaknya.


"Gue mohon, jangan keras kepala!" ucap Jo yang mulai terpancing emosi.


"Gue lihat, kalian lagi cari sesuatu. Boleh gue bantu?" tawarnya dengan sungguh-sungguh.


Nafas Dinda naik turun tak beraturan. Dia kaget setengah mati dengan Aris. Tapi melihat sikap Aris yang baik seperti ini, membuatnya sedikit melupakan ketakutannya.


"Minum dulu Din." Jo menyerahkan sebotol air mineral untuk Dinda.


"Gue butuh mangga muda Ris," ucap Jo kemudian. Terlihat Jo begitu frustasi dan ingin menyerah tapi tidak bisa. Sebab, istrinya sedang ngidam. Dan otomatis harus dituruti.


Aris sempat menampakkan wajah berfikirnya. Kemudian dia tahu, di mana ada pohon mangga yang berbuah.


"Mangga muda?" tanya Aris memastikan.


"Iya, loe tahu gak yang jualan mangga muda tuh di mana?" tanya Jo dengan antusias.


"Ada Jo. Di dekat rumah sohib gue. Tapi gak dijual. Biar gue mintain nanti ke dia."


"Bisa gak kalau sekarang aja, Ris," pinta Jo. Karena dia butuh cepat.


Terlihat Dinda yang masih ketakutan. Pertemuannya yang tak terduga ini, membuat jantungnya berhenti berdetak. Dinda teringat akan semua perbuatan kasar Aris padanya.


"Dinda, jangan khawatir ya. Percaya sama mas Jo. Kalau Aris berani nyentuh Dinda, mas Jo akan ngebunuhnya saat itu juga," ucap Jo menenangkan Dinda.


Dinda POV


Sumpah aku gak nyangka. Di saat aku mulai tenang. Tiba-tiba bajingan itu muncul dihadapanku. Kalau bukan karena mbak Nesa. Mungkin aku udah lari dari sini.


Dan sialannya, bujukan mas Jo tak bisa ku elak. Mau gak mau, aku pun nurut padanya. Terlihat sekali, kalau si Aris kadang-kadang curi pandang ke aku. Aku risih dan jijik banget. Tapi ku coba gak perduli kan. Ku anggap aja dia gak ada, meskipun sebenarnya aku sangat ketakutan.


Author POV


"Ayo Jo, gue antar atau kalian tunggu di sini," ucap Aris dengan lembut. Tapi kelembutan Aris tetap belum bisa meluluhkan hati Dinda padanya.

__ADS_1


"Kami ikut aja Ris. Karena kami buru-buru. Kalau udah dapat, kami langsung cus pulang," ujar Jo.


"Ya udah, ayo!" Aris tersenyum senang. Setidaknya dia bisa membantu Jo dan... ah, ketemu sama Dinda tentunya.


Tak berapa lama kemudian. Setelah ini dan itu, akhirnya Aris berhasil membawakan beberapa buah mangga muda.


"Nih Jo. Moga anaknya gak ileran ya?" canda si Aris.


Aris menengok Dinda yang masih stay duduk di dalam mobil. 'Bahkan menatapku aja dia gak mau,' batin Aris sedih. Karena Dinda seperti menghindarinya sedari tadi.


Jo menerima mangga itu dengan senang. "Thanks Ris. Btw, titip ini buat yang punya rumah ya?" Jo memberikan beberapa bahan dapur untuk pemilik rumah.


"Gak perlu Jo," tolak Aris. Namun Jo memaksanya. Tapi ternyata si pemilik rumah gak mau barang itu.


"Saya maunya barter sama pisang pak," kata si pemilik mangga.


Dinda menatapnya dengan serius. Tapi dia tak bisa melakukan apapun selain hanya diam.


"Oh pisang. Ya udah, aku ke pasar dulu ya buk. Beli pisang," kata Jo.


"Biar gue aja Jo!" Aris menawarkan diri.


"Gak Ris. Ini buat anak gue. Jadi biar gue aja." Jo pun balik ke pasar bareng Dinda.


Rupanya Dinda kepo juga. Di tengah jalan dia mencoba mengajukan pertanyaan pada Jo.


"Kenapa sama ibunya, mas?" tanyanya penasaran.


"Ow, dia mau mangganya diganti sama pisang."


"Oh." Si Dinda ber-oh ria. Sebenarnya dia juga penasaran dengan sikap baik Aris. Tapi dia urungkan.


Selang beberapa menit kemudian. Urusan pun beres. Jo berniat mentraktir Aris dan Dinda.


"Ris, ngebakso dulu yuk?" ajak Jo.


"Ah, gak Jo. Gue ada urusan," tolak Aris. Sebab Aris tahu. Jika dia berlama-lama dengan Dinda, yang ada Dinda makin ngebencinya nanti.


"Yakin?" tanya Jo memastikan.


"Iya Jo, gue balik duluan ya?" pamitnya pada Jo.


"Jaga dirimu ya Din. Jangan lupa makan," kata Aris pelan.


Seolah-olah Dinda tak punya telinga. Jadi dia hanya diam saja meskipun dia mendengarnya.


Setelah kepergian Aris. Penilaian Dinda terhadap Aris kini jadi berbeda. Monster jahat yang ia kenal kemarin tak lagi terpatri pada diri pria bejat itu. Sikap dan kelembutannya tadi sempat membuat Dinda merasakan getaran aneh. Dinda tak tahu pasti, apakah Aris sedang memeletnya sekarang? Pelet perhatian dan sikap perduli Aris pada Jo membuat iman Dinda sedikit goyah.


'Pelet apa yang ia gunakan sekarang? Kenapa aku jadi mikirin dia?'


Bersambung...


Apakah benar Aris menggunakan pelet untuk menarik perhatian Dinda?


Gimana kisah selanjutnya? Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentarnya ya. Makasih

__ADS_1


__ADS_2